“Pagi Si”
“Pagi juga nay,”
“Pagi banget sih kamu, Si”
“Iya dong. Namanya juga murid teladan, gak kek kamu yang entah ngapain aja selama ini, kadang datang awut-awutan, kadang kamunya juga selengekan, huh, bikin pusing jadinya deh kamu Nay...”
“Murid?” Naya memandangi Sisi dengan tatapan yang cukup aneh. Namun sisi tetap melakukan kegiatannya seperti biasa karena menurut sisi, apa yang tengah ia lakukan jauh lebih penting ketimbang memerhatikan kelakuan temannya.
“Udah selesai mandangin aku?” Sisi tersenyum setelah ia menyelesaikan pekerjaannya.
“Gak. Masih terus aku pandangin sampai aku puas.”
“Puas gimana sih kamu?”
“Ya pokoknya sampai aku puas aja gitu...”
“Ok deh Naya, suka-suka kamu aja. Dadah...”
*******
Bel berbunyi pertanda pelajaran usai, Sisi beserta teman-temannya berhamburan menuju ke kantin yang terletak cukup jauh dari tempat dimana Sisi dan teman-temannya berada. Ketika ia tengah duduk, ia memerhatikan Naya tengah sibuk memegang perangkat pintar yang ada di tangannya. Biasanya Sisi cukup memerhatikan kelakuan Naya dengan cuek dan santai, namun entah mengapa kali ini Sisi menyadari bahwa aura yang ditampilkan oleh si Naya begitu berbeda ketimbang biasanya. Namun Sisi agak sedikit urung untuk membicarakan hal tersebut kepada Naya, sehingga ia memutuskan untuk mengambil tempat duduk yang paling dekat yang bisa ia jangkau untuk memantau kelakuan Naya.
Tampak sesekali Naya terdiam, kadang juga Naya menampilkan tampang senyum, namun itu terjadi secara singkat, setelah itu kembali ia menampilkan aura sedikit muram. Hingga tak terasa sudah makanan dan minuman yang disantap oleh Sisi sudah habis juga waktu istirahat mulai menunjukkan sisa yang tidak sedikit sehingga mau tidak mau Sisi berkata Naya, “Nay, ini bentar lagi jam istirahat sudah mau selesai loh. Yuk buruan ke kelas.”
“Nyusul deh aku, Si. Sekalian isi presensi atas namaku seperti biasa, bisa kan?”
“Ya semoga sih. Soalnya kadang kan belum tentu semua guru bisa tuh aku kibulin.”
“Thanks ya, Si. Kamu emang teman yang paling pengertian.” Sisi tersenyum meninggalkan Naya yang tampak masih berkutat dengan perangkat pintar yang ia pegang.
******
Sisi sedikit terkejut ketika jam pulang berbunyi, ia melihat sebuah sosok yang tidak ia kenal menghampiri serta mengajak bicara kepada Naya ketika ia melihat Naya berjalan pulang dan Sisi ingin sekali untuk mengejutkan Naya. Terlihat bahwa Naya juga sedikit terkejut dengan kehadiran sosok tersebut, lalu ia meneguhkan hati sehingga kemudian ia pun terlihat berjalan mengikuti orang asing tersebut. Sisi yang tampaknya dikuasai oleh rasa penasaran berusaha untuk membuntuti kemana Naya dibawa pergi oleh orang yang sama sekali belum pernah Sisi kenal. Hingga kemudian ketika mereka berjalan menuju gang sempit yang cukup padat, Sisi berusaha untuk mengikuti dari jauh. Ternyata setelah ia mengikuti sampai ke balik jalan yang ditutupi oleh beberapa tanaman liar dan dinding, jalan tersebut buntu dan tidak ada jalan masuk ataupun pintu lain. Sehingga Sisi pun menyerah untuk mengikuti mereka karena kehilangan jejak.
******
“Apakah benar kamu yang bernama Sisi?”
“Benar, kenapa? Bisa dipersingkat, karena saya sedang terburu-buru saat ini.”
“Tidak akan waktu banyak kok, malah justru waktumu yang akan tersita, Sisi.”
Nampak Sisi merasa kurang nyaman karena pria tersebut tahu namanya tetapi Sisi sendiri tidak mengenal dengan baik orang tersebut, namun didorong oleh rasa penasaran, iapun bertanya, “Maksud bapak apa ya?”
“Jadi begini... Sudah beberapa hari ini Naya tidak pernah lagi datang ke tempat ini, padahal sudah kami pastikan bahwa segala yang akan dilakukan maupun apa yang akan terjadi berikutnya akan ka...saya tanggung, namun hingga saat ini nampaknya kawan anda, si Naya entah bagaimana ceritanya sudah beberapa hari tidak juga muncul ke sini. Apakah mungkin ada kaitannya kehilangan Naya dengan anda, barangkali?”
“Jadi bapak menuduh saya, begitu?”
“Tidak juga sih. Cuma dari pemantauan kami...” Tampak pria tersebut mengambil sesuatu dari balik jas coklat dengan warna krim. Sebuah kertas gambar diperlihatkan kepada Sisi sehingga mampu mengubah raut muka Sisi dari yang tenang namun curiga menjadi tenang namun aura kaget terpancar begitu saja dari tubuh Sisi. “Meyakini bahwa anda, Sisi, bukanlah wanita biasa. Karena baik dari cara kamu untuk membuat kehadiran Naya menjadi nyata di kelas, hingga membuntuti kami sepanjang perjalanan ketika kami membawa Naya merupakan sebuah potensi besar bagi kami, apabila ada kemungkinan dari kamu, Sisi, untuk bergabung bersama kami, sehingga mungkin saja kamu tahu dimana keberadaan teman anda.” Jawabnya sembari memunculkan beberapa gambar terkait dengan kegiatan Sisi selama ini membuntuti pria tersebut.
Sebelum Sisi membuka mulut, pria tersebut berkata, “Janganlah takut karena potensi anda begitu besar, sayang apabila peluang untuk gabung bersama kami sia-sia begitu saja karena kamu membuat laporan kepada pihak yang berwajib, maka saran saya adalah, silakan hubungi pada secarik kertas yang akan saya berikan kepadamu,” pria tersebut memberikan sebuah kertas warna coklat kecil dari saku depan untuk diserahkan kepada Sisi. “Dan jangan lupa untuk mengambil keputusan untuk tetap membawa kawan anda bersama kami atau sangat mungkin informasi yang telah saya kumpulkan bisa jadi sangat berguna bagi pihak tertentu. Mungkin saja polisi, mungkin saja sekolah, atau saja orang lain yang mungkin saja kedepannya mengancam hidup anda...” Kekehnya sembari meninggalkan Sisi. Setelah kepergian pria tersebut, Sisi cuma bisa terdiam berusaha untuk mencerna akan apa yang akan terjadi berikutnya, namun hal itu tidak berlangsung lama karena Sisi melihat jam yang ada sehingga iapun buru-buru pergi meninggalkan tempat dimana ia dan pria tersebut berada.
******
"Bagus sekali kamu telah membawa Naya kemari."
"Tapi tunggu dulu. Sebelum saya menyerahkan Naya, ada yang perlu aku ketahui." Sisi menahan pria tersebut.
"Sisi. Jangan..."
"Jangan kuatir, nay. Semua pasti akan berjalan baik-baik saja kok." Sisi menahan Naya sekaligus berusaha untuk mengerti apa yang tengah terjadi antara Naya dengan pria tersebut.
"Tentu akan aku jelaskan setelah kamu berminat untuk melanjutkan penawaran yang sebelumnya kamu berikan namun terpotong..." Pria tersebut nampaknya tertarik dengan penawaran yang dilakukan oleh sisi sebelum mereka bertemu saat ini.
"Berarti kita sudah sepakat, bahwa naya bebas untuk menjalani kehidupannya sebagai ganti aku menjadi jaminan kebebasan Naya."
"Aku suka dengan keteguhan juga penawaranmu, Sisi. Kali ini kamu tidak akan menyesal dengan penawaran ini." Pria tersebut memberikan isyarat kepada Naya agar ia segera pergi melepas Sisi dari pelukan Naya.
"Si... Kalau tahu begini, mungkin sebaiknya aku tidak melakukannya, daripada aku harus kehilanganmu selamanya ditangannya..." Naya berusaha untuk tidak pecah tangisnya ketika ia melihat sisi pergi bersama pria tersebut.
"Kalau aku boleh tahu, siapa namamu?"
"Namaku? Oleh naya aku disebut dengan nama Jack. Mungkin kamu bisa memanggilku dengan nama Jack juga." Iapun mengulurkan tangan kepada Sisi lalu Sisi menyambutnya.
Tamat.