*Aku jatuh cinta padamu
Sejak pertama kita bertemu
Dia menghuni relung hati
Kau tak pernah peduli
*Tuhan mengapa kau anugerah kan
Cinta yang tak mungkin tuk bersatu
Kau yang telah lama kucintai
Ada yang memiliki
*Cinta sejati
Tak akan pernah mati
Selalu menghiasi ketulusan cinta ini
*Jalan hidup telah membuat kita
Harus senantiasa bersama
Lewati segala suka duka
Tiada cinta bicara
*Cinta sejati
Tak akan pernah mati
Selalu menghiasi ketulusan cinta ini
*Cinta sejati
Tak akan pernah mati
Selalu menghiasi ketulusan cinta ini
*Dan kau selalu
Hanya diam membisu
Meskipun kau tahu
Betapa dalam cintaku
Aruna mendengarkan lagu dari Ari Lasso yang berjudul cinta sejati itu dengan menggunakan headset dan sambil tengkurap di tempat tidurnya dan melihat ke arah jendela.
Aruna selalu bisa tersenyum ketika melihat Hujan yang turun dan bulir-bulir air membasahi kaca jendela kamarnya.
Bukan tanpa alasan, dia memang sedang jatuh cinta.
Flashback On.
Aruna Safitri, gadis berusia 17 tahun itu berlari menuju pintu gerbang sekolahnya di SMA Budi Pekerti. Dia hampir saja terlambat.
"Astaga neng, bapak sampai bosan lho. Lihat setiap hari yang tepat tuh si eneng terus!" tegur Pak Rosadi satpam penjaga gerbang sekolah.
Sambil terengah-engah, Aruna masuk ke dalam gerbang sebelum di tutup oleh pak satpam. Aruna memberi hormat kepada pak Rosadi.
"Lapor pak, angkotnya mogok lagi!" ucap Aruna beralasan. Sebenar dia juga berbohong.
"Heleh, neng. Gak kreatif banget seminggu alasannya cuma tiga, angkot mogok, keserempet motor, salah pake baju seragam terus balik lagi pulang! kan gak kreatif neng!" protes Rosadi.
Aruna malah terkekeh.
"Bapak udah tahu pake nanya!" serunya sambil berlalu dan bergegas masuk ke ruang kelasnya.
Untung saja saat Aruna masuk ke dalam ruang kelasnya, gurunya belum datang.
Aruna meletakkan tasnya dan duduk di kursinya.
"Hei, nonton drakor lagi?" tanya Hesti teman sebangku Aruna yang sudah hafal betul tingkah Aruna.
Aruna hanya tertawa kecil.
"Tahu aja lo, dah kayak pak satpam!" jawab Aruna santai.
"Lo tuh ya kebiasaan, pasti belom ngerjain tugas juga kan?" tanya Hesti.
Aruna membulatkan mulutnya dan meletakkan kedua tangannya di bawah dagu.
"Uh, Hesti sayang... love you banget tahu gak. Lo tuh hafal banget gue!" ucapnya dengan nada manja dan lebay maksimal.
Hesti bergidik ngeri melihat tingkah konyol dan absurd Aruna. Segera dia mengeluarkan buku PR Bahasa Inggris nya dan meletakkan nya di atas meja Aruna.
"Tuh, sebelum lo tambah alay..." ucap Hesti yang memang sudah tidak sanggup menghadapi sikap alay Aruna.
Aruna tersenyum lalu menyalin tugas milik Hesti.
Semua berjalan seperti biasanya, mereka belajar lalu saat bel istirahat mereka pun ke kantin dan membeli camilan. Setelah itu mereka kembali ke kelas. Dan belajar kembali.
Bel pulang telah berbunyi, semua orang bergegas karena cuaca sudah sangat mendung.
Melihat Aruna yang masih santai, Hesti menegurnya.
"Eh, Miss alay buruan, dah mau hujan!" kata Hesti.
"Ya elah, hujan air ini!" balas Aruna.
Hesti memutar bola matanya lalu meninggalkan Aruna sendirian.
Setelah merapikan tas dan bukunya Aruna keluar dari kelas.
"Astaga mendung, gelap, tidakkkkkk..." gumamnya penuh dengan ke alay an.
Aruna menghela nafas dan berjalan santai, dia bahkan menyapa pak Rosadi.
"Pulang dulu pak, sampai ketemu besok!" teriak Aruna sebelum keluar gerbang.
"Jangan telat lagi!" balas Rosadi berteriak.
Jeger....
Suara petir membuat Aruna kaget hingga refleks berjongkok, Aruna menutup telinganya. Dan rintik hujan pun mulai membasahi Aruna.
Aruna masih tidak mampu berdiri, dia terlalu takut. Sampai dia merasa ada tangan yang memegang kedua lengannya dan menuntunnya untuk bangun.
"Ayo berteduh, kamu bisa sakit!" ucap seorang cowok.
Aruna menoleh
'Astaga, Aliando Syarif...' batinnya lebay.
Ya, karena yang baru saja bicara dengannya memang cowok tampan, tapi bukan Aliando Syarif. Dia Anton, kakak kelas Aruna yang memang tampannya sebelas dua belas dengan Aliando Syarif.
Anton melepas jaketnya dan menutupi kepala Aruna.
"Ayo kita berteduh!" ajak Anton.
Mereka berteduh di halte bus. Dan kebetulan disana hanya ada mereka berdua saja.
"Kamu Aruna kan?" tanya Anton.
Aruna sangat senang, seniornya yang tampan itu mengenalinya.
'Mimpi apa gue semalem?' batinnya.
Flashback Off.
Dan mulai saat itu Aruna sangat menyukai hujan, dia selalu tersenyum saat hujan turun.