Hari ini tepatnya tanggal 10 Desember. Aku dan ke-5 temanku yang lain berjanji untuk bertemu kembali setelah 4 tahun kami tidak bertatap muka. Untungnya grup chat WhatsApp menjadi penyelamat tali persahabatan kami.
Aku menjadi orang pertama yang datang ke Cafetaria malam ini, tempat yang sudah kami sepakati untuk menjadi tempat reunian kami hari ini. Cukup sepi, hanya aku pelanggan yang mampir. Abang-abang yang mengantarkan minumanku memintaku untuk menjaga Cafetaria ini sebentar karena persediaan gulanya habis, ia akan membeli gula sebentar. Aku pun mengiyakannya.
Rizal dan Ayu datang bersama setelah aku. Mereka berpakaian serba rapi sesuai profesinya sekarang, yakni Guru.
"Ayu!" panggilku berdiri melambaikan tangan. Ayu segera berlari menghampiriku. Rizal berjalan santai mengikutinya.
"Unch Beb, sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana keadaanmu?" tanya Ayu. 'Unch Beb' salah satu kalimat absurd yang sering Ayu ucapkan.
"Baik, aku sedang sibuk menulis akhir-akhir ini. Om Rizal bagaimana kabarmu?" tanyaku pada Rizal yang wajahnya sudah semakin dewasa.
"Om? Apa aku terlihat setua itu?" Ia menimpali ucapanku.
"Apa yang lainnya belum datang, Beb?" tanya Ayu.
"Belum, untungnya kalian segera sampai, jika tidak mungkin aku sudah di culik om-om," candaku.
"Iya, om-om seperti aku pun akan menculikmu jika kau sendirian di sini. Apa tubuhmu tidak mendapat nutrisi lebih, Jen?" ejek Rizal padaku. Ya, tubuhku tidak bertambah tinggi maupun gemuk. Masih sama dengan Jeni yang dulu.
Sekitar 15 menit kami berbincang ini itu mengenai pekerjaan kami yang sekarang. Gita, Ridho, dan Angga pun sampai bersama di Cafetaria. Aku masih mengenali wajah mereka. Meski sudah sedikit berbeda.
"Gita!" panggilku. Mereka menghampiri kami dan menarik kursi di dekatnya lalu menduduki kursi tersebut membentuk lingkaran bak mengerjakan kerja kelompok.
"Rizal," panggil Ridho dan melakukan salam ala pria jantan. Lalu menubrukkan dada mereka.
"Jika kita seperti ini di kantin sekolah. Mungkin Mbak Ateng sudah berteriak agar duduk dengan rapi dan tidak menggeser kursinya haha!" Ridho memulai flashback terlebih dahulu. Yang lain pun ikut terkekeh mendengarnya.
Mbak Ateng yang selalu menjaga kebersihan dan kerapian kantin terlalu populer di sekolah pada saat itu. Sayangnya ia harus mati mengenaskan di tempat yang ia jaga itu.
Isu yang beredar kala itu ialah, Mbak Ateng meninggal dibunuh saat pagi hari sebelum ada siswa-siswi yang datang ke sekolah.
"Mbak Ateng..." ucap Rizal pelan. "Kira-kira siapa yang membunuhnya?" tanya Rizal.
Kami terdiam mendengar pertanyaan itu.
"Mungkin anak-anak yang suka menggeser kursi saat makan di kantin hehe!" Ridho masih berkelut dalam candaan.
"Jika dia mati dalam keadaan di bunuh, tidak ada bekas luka di tubuhnya..." ucap Gita terpotong.
"Sudahlah Beb, ngapain juga bahas Mbak Ateng. Orangnya saja sudah tidak ada. Kalau di bahas, ntar malah datang orangnya! Ihh seram." Ayu bergelinjang menarik kursinya mendekat ke arahku. Tiba-tiba ia terdiam kaku. Matanya terbelalak.
"Jangan bermain-main!" teriaknya secara tiba-tiba membuat kami semua terkejut.
"Ada apa, Yu?" tanyaku.
"Siapa yang memegang kakiku? Aaarghhhhh! Aaarghhh! Siapa yang memegangiku? Jangan bermain-main!" teriak Ayu terus menerus tubuhnya kaku tidak bergerak sedikitpun.
"Tangan kami di atas meja semua!" bentakku. Rizal mengangkat kakinya ke atas kursi. Yang lain mengikutinya.
Kami semua berdiri di atas kursi. Tinggallah Ayu sendiri yang duduk tak bisa bergerak.
"Anak nakal kembali bertemu!" Suara bergema itu beririangan dengan teriakan kami semua yang terkejut sekaligus takut. Ayu kesurupan, ia tertunduk di atas kursinya.
"Jangan takut! Aku hanya ingin mengungkap siapa yang membuat ku tak bisa pergi hingga saat ini hihi!" Ia bercekikikan semakin membuat bulu kudukku berdiri tegap.
"Jawab saja pertanyaanku. Maka kalian akan pulang dengan selamat," ucapnya dengan nada menggeram.
"Siapa kau?" tanya Ridho dengan pita suaranya yang bergetar.
"Hihihi!" Cekikikan itu kembali menakuti kami semua. "Mbak.. Ateng..." ucapnya dengan sedikit beban di lidahnya.
"Aarrghhhh! Ngga! Angga! Tolong aku Ngga!" teriakku mencoba menggapai lengan baju Angga. Tiba-tiba Ayu menoleh ke arahku. Aku ketakutan setengah mati. Kakiku melemah. "Anggaaa!" teriakku.
"Tenang, Jen! Jeni! Tenanglah!" perintah Angga.
"Apa yang kalian lakukan sehari sebelum aku meninggal? Hihihi" Ayu menaruh tangannya di atas meja. Jari jemarinya bergetar bergantian dari kelingking berlanjut hingga jempolnya, lalu berbalik ke kelingking.
***
06 Juni 2015 [14:21]
[SMK AKUNTANSI]
Kami semua memainkan permainan yang sebenarnya sedikit gila untuk dimainkan. Kami tidak bermain dengan hal mistis apapun. Kami hanya bercanda dengan kertas keinginan. Gita lah yang mengajak kami bermain dengan kertas itu. Tidak ada niat jahat dari permainan itu, kami hanya berharap keinginan yang kami tuliskan di sana bisa menjadi kenyataan.
***
10 Desember [Cafetaria]
"Jeeee-Jeeeni!" panggil Ayu dengan suara bergetar.
"Anggaaa!" teriakku ketakutan. Darahku seketika berhenti mengalir tiap kali dia menoleh ke arahku.
"Apa yang kau tulis?" tanyanya.
"Aku takut," gumamku mulai menangis.
"Aku hanya ingin mencari siapa yang membunuhku?" ucapnya.
Apa maksudnya salah seorang dari kami menulis agar Mbak Ateng mati?
"Aku menulis..." ucapku mengumpulkan keberanian. "Aku... Menyukai salah seorang temanku!" jawabku menelan air liur berkali-kali.
***
06 Juni 2015 [14:54]
[KANTIN SEKOLAH]
Hari itu kami duduk melingkar di kursi kantin dan mulai menulis keinginan kami di kertas keinginan.
'Aku ingin Angga menyukaiku'
Setelah menulis kalimat itu, segera ku lipat kertas tersebut dan menyimpannya rapat.
***
10 Desember [Cafetaria]
"Apa keinginanmu sudah terpenuhi?" tanya Ayu lagi.
"Tidak," jawabku terus memalingkan wajahku agar tak menatapnya.
Ayu memutar lehernya menatap Angga. Angga bergedik terkejut menatap mata Ayu yang terlihat penuh dendam.
"Hihi," ia kembali cekikikan. "Apa yang kau tulis?" tanya Ayu menggeram.
"Aku menulis, aku ingin menjadi Pilot. Aku sudah mendapatkan keinginan itu!" jawab Angga pasti.
"Hihihi, ada yang lain kau tulis," Ayu mengungkap apa yang coba Angga sembunyikan.
"Iya, aku ingin Jeni menjadi istriku," ucapnya membuat jantungku hampir melompat ke luar.
"Keinginanmu sudah terpenuhi hihihi." Aku selalu merinding mendengarnya bercekikikan.
Ayu memutar kepalanya dan berhenti menatap Gita yang duduk di sebelah Angga. "Kau? Aku sudah tahu hihihi," Ayu menatap tajam wajah Gita. "Murahan!" tegasnya.
Dia berlanjut menatap Ridho. "Kau idiot sekali! Hihihi" ejeknya pada Ridho.
Ia tak memberitahu kami apa yang Gita dan Ridho tulis. Ia hanya mengejek mereka berdua.
"Apa yqng kau tulis?" tanyanya pada Rizal.
Rizal cukup tenang. Ia duduk di kursinya, menatap Ayu yang sedang kesurupan arwah Mbak Ateng. "Aku menulis, aku ingin Ayu menjadi istriku. Aku sudah melamarnya minggu kemarin. Aku ingin menyampaikan berita bahagia ini untuk teman-temanku. Kenapa kau malah datang kemari dan merusak acara kami?" jelas Rizal.
"Aku merusak? Bukankah kalian yang memanggilku? Kenapa kalian membunuhku?!" teriak Ayu berdiri dari duduknya. Kakinya lemah namun ia tetap berpegang dengan meja.
Ya, Mbak Ateng mati dalam keadaan tulang kakinya patah tanpa bekas luka luar.
"Siapa yang membunuhku?!" teriaknya lagi dan lagi terus bertanya.
"Aku tahu kertas itu bertuliskan kau ingin aku mati tanpa kaki agar aku tak bisa berdiri dari dudukku! Kau juga menulis bahwa jika aku menggerakkan kursi seperti laranganku padamu! Aku akan mati! Kenapa kau ingin aku mati?! Heeegh heeegh!" Ayu menangis setelah berteriak-teriak. "Aku juga akan membuatmu mati! Aku sudah memiliki jawabannya. Kau lah! Kau!" teriaknya menatap kami satu persatu.
Ayu jatuh pingsan, tergeletak di atas lantai. Rizal segera menopang kepala Ayu dengan pahanya. Kami pun turut turun dan mencoba membangunkan Ayu.
***
Sebulan setelah kejadian itu, kami semua kembali bertemu di acara pernikahan Ayu dan Rizal. Aku terus di hantui rasa ketakutan akan ancaman Mbak Ateng yang merasuki Ayu tempo hari.
Pada saat sesi Rizal dan Ayu melempar bunga untuk jodoh selanjutnya, aku menangkapnya bersama Angga. Kami hanya bisa tersenyum malu. Sedangkan semua orang bercia-cie ria.
Tiba-tiba Ayu kembali pingsan dan kesurupan. Semua tamu undangan menjadi panik. Aku kembali ketakutan menarik tangan Angga agar menjauh dari sana. Namun, Angga menahanku untuk menghindar.
"Ayu lah yang menulis kertas itu!" ucap Angga memegangi tanganku.
"Hahahaha haaaahaaa!" Ayu tertawa kencang. Rizal memegangi tangan Ayu yang mencoba untuk menggapai tusuk konde yang ada di kepalanya.
"Hahaha haaa haaa! Mati mengenaskan! Haaa haaa!" ia terus tertawa.
Ayu mendapatkan tusuk konde itu dan menancapkannya tepat di lehernya, seketika darah memancar deras seperti air mancur daei nadinya yang sobek.
"Aaarggghhhh!" teriakku terkejut menyaksikan hal itu. Angga menarikku mendekat ke arahnya. "Ayu, Ngga!" ucapku menangis menyaksikan kematian sahabatku sendiri dengan cara mengenaskan.
"Ayuuu, Angga!" ucapku terus menangis.
"Dia membunuh seseorang yang tak bersalah. Itulah bayaran yang impas untuknya!" ucap Angga.
Lantas apa alasan Ayu ingin Mbak Ateng? hanya Ayulah yang tahu jawabannya dan kini mulutnya terkatup kaku bersama nyawanya yang meninggalkan raganya.
Ia membiarkan alasan itu masih menjadi suatu misteri.