Aku menderita sakit keras yang mengharuskanku untuk lebih banyak beristirahat di rumah dan belajar dengan cara home schooling. Aku siswi SMA yang masih duduk di kelas XI. Waktu aku masih kelas X aku sempat sekolah reguler di sebuah sekolah SMA swasta, SMA Galaksi namanya. Tapi beberapa bulan belakangan kondisiku memburuk, dan dokter yang menangani ku selama ini menyarankan agar aku belajar di rumah saja yaitu dengan cara home schooling. Mama, Papa ku menyetujui saran dokter meskipun sebenarnya aku agak keberatan. Berada di rumah terus-menerus dan tak bisa bersua dengan teman-teman, pastilah sangat membosankan.
Karena merasa bosan berada di dalam rumah teeus selama beberapa Minggu. Akhirnya aku meminta izin sama Mama untuk keluar rumah rumah sebentar untuk mencari udara segar.
"Cuma ke taman dekat sini kok, Ma! Boleh ya!" Kataku memohon sambil menangkupkan kedua tanganku di depan dada. "Lagian cuma sebentar aja kok, masa' ga boleh? Cleo pingin belajar di luar sambil menghirup udara segar." Sambung ku seraya merengek, wajahku ku buat terlihat sesedih mungkin, tujuannya agar mama merasa iba dan mengizinkanku.
Ku lihat mama terdiam, ia menggit bibir bawahnya ragu. Matanya terlihat seolah sedang berpikir dan menimang-nimang. Sedangkan aku terus berdo'a semoga mama mengizinkanku.
Tak lama, ku lihat mama menganggukkan kepalanya meskipun dengan raut wajah berat hati. Aku pun langsung menghambur ke pelukannya dan mencium pipi beliau kilas. "Makasih Ma."
"Tapi kamu perginya di temani Bi Wati ya!" Pinta Mama yang membuat senyum di wajahku seketika memudar.
Kenapa harus di temani segala, memangnya aku anak TK! Dengusku dalam hati sedikit kesal. Tapi aku terpaksa mengiyakan daripada Mama nanti berubah pikiran dan tidak jadi membiarkanku ke luar rumah.
***
Aku seprti seekor burung yang baru lepas dari sangkarnya. Sudah lama sekali rasanya aku tidak melihat pemandangan luar, langit biru cerah, angin yang berhembus lembut. Semuanya. Aku merindukan suasana di luar rumah. Aku segera berlari-lari kecil menuju taman di dekat perkomplekan rumahku. Di sana terdapat banyak pohon rindang dan sebuah gazebo. Kebetulan keadaan taman sedang sepi. Jadi aku bisa menguasai gezebo tersebut seorang diri.
"Non Cleo jangan lari-lari, nanti jatuh!" Seru Bi Wati yang tertinggal jauh di belakangku. Ia berlari tergopoh-gopoh untuk mengejarku.
"Non... jangan lari-lari non. Nanti non kumat lagi!" Ucapnya dengan nafas yang masih tersengal akibat mengejarku. Aku hanya tersenyum tipis. Tapi dadaku sebenarnya sedikit merasakan sesak. Namun karena hari ini aku sedang senang, jadi aku tak terlalu ingin merasakannya.
"Bibi kalo mau belanja dulu nggak apa-apa, aku pingin belajar sendiri di sini supaya bisa konsentrasi." Kataku sambil menunjuk tukang sayur di ujung kompleks. Tadi aku dengar Mama menyuruh Bi Wati belanja kebutuhan dapur sembari menemaniku ke taman.
Bi Wati mengikuti arah jari telunjukku. "Emang nggak apa non kalo saya tinggal?" Sahutnya saat sudah memutar kepala dan melihat kembali ke arahku.
Aku tersenyum seraya menggeleng. "Udah, ngga apa-apa, udah gih sana." Aku justru merasa senang saat Bi Wati sudah berlalu. Dengan begini aku tidak merasa seperti anak TK yang sedang di asuh baby sister nya.
Sementara Bi Wati sedang sibuk berbelanja sembari bergosip dengan ibu-ibu yang ada disana. Tiba-tiba seseorang datang menghampiriku.
Tuk....
Sebuah botol air mineral mendarat di atas meja tempatku sedang sibuk belajar. Reflek kepalaku mendongak untuk melihat siapa yang datang.
Malaikat....
Pekikku dalam hati saat aku mendapati seorang anak cowok berpawakan tinggi sudah menjulang di hadapanku. Dan di balik punggungnya seolah ada cahaya yang berkilauan menerpanya. Aku sampai harus menyipitkan mataku karena kesilauan. Sembari memastikan mahluk di depanku ini, Malaikat atau manusia?
"Mau minum? Kamu kelihatanya haus tuh!" Anak laki-laki itu mendorong botol minuman ke arahku seraya duduk di bangku di seberangku, Kilauan cahaya di punggungnya tiba-tiba sirna. Ternyata tadi hanyalah cahaya matahari yang lolos dari celah-celah dedaunan rimbun dan tanpa sengaja menerpa badan bagian belakangnya.
Sejenak aku menghela nafas lega. Sedetik sebelumnya Aku sempat berpikir bahwa dia malaikat yang akan menjemput ajalku. Jantungku pun seolah hampir terloncat dari tempatnya. Tapi saat ia mulai menyapa dengan suaranya yang lembut, saat itu juga aku tersadar bahwa mahluk yang ada di hadapanku ini adalah manusia. Ya... Manusia berjenis kelamin cowok dengan wajah putih bersih bak malaikat.
"Hello..., kok malah bengong...." Anak laki-laki itu mengibas-ngibaskan tangannya ke udara tepat di hadapan wajahku. Aku pun terkesiap dan mencoba kembali menjejak ke dunia nyata.
"Eh... A--pa?" Kataku terbata. Jujur aku sangat gugup waktu itu. Tapi detik berikutnya aku malah melihatnya terkekeh kecil.
"Kamu lucu ya...." Ucapnya masih dengan terkekeh. Entah kenapa tiba-tiba saja wajahku terasa memanas saat melihat senyuman manis di wajahnya.
"Lucu apanya, memangnya aku badut." Kataku sambil berusaha sebisa mungkin mengontrol ekspresiku agar tidak terlihat bahwa aku sedang tersipu malu. Bukannya malah berhenti terkekeh, sekarang ia malah tampak tertawa kegelian. Aku jadi berpikir, apanya yang lucu? Tapi melihatnya tertawa aku jadi ikut tertawa. Aku tak menyangka ternyata ternyata tertawa seseorang itu menyenangkan.
***
Itulah awal pertemuanku dengan anak laki-laki bernama Sam. Lebih tepatnya nama panjangnya adalah Samuel. Jadi untuk mempermudah mengingatnya aku panggil dia dengan nama Sam. Dan ia tak merasa keberatan. Usianya dua tahun lebih tua dariku. Harusnya aku memanggilnya kakak ya? Hehe... Tapi aku lebih tertarik ingin memanggilnya dengan sebutan Sayang. Eh....
Hampir setiap pagi aku selama seminggu ini aku bertemu dengannya di taman tempat pertama kali kami bertemu. Sekarang secara tidak langsung dia jadi guru privat ku. Aku jadi semangat belajar karena di temani cowok ganteng. Dan sakit di tubuhku seakan-akan menghilang ketika aku bisa selalu menatap wajah itu.
Tuk....
Sebuah ketukan pelan mendarat di kepalaku. "Aduuuh...." Aku pura-pura meringis kesakitan.
"Ah... maaf, memangnya sakit ya, coba ku lihat!" Wajah Sam langsung terlihat panik. Dia tidak tahu kalo aku hanya modus agar bisa mendapat perhatian lebih darinya.
"Maaf ya... Tadi aku gemas sama kamu, kamu masa' ngerjain soal gitu doang aja nggak bisa." Sungutnya yang seolah sudah hampir lelah mengajariku. Sebenarnya aku bisa-bisa saja mengerjakan soal mate-matika itu, tapi aku hanya pura-pura saja tidak bisa agar aku bisa lebih lama lagi berduaan dengannya. Hehe... aku modus lagi.
"Kalo kamu nanti ulangan dan dapat nilai bagus, aku akan kembali kesini untuk nemuin kamu dan kita...."
Aku menunggu dengan seksama akhir kalimat yang akan di ucapkan oleh Sam. Aku berharap dia akan bilang kalo kita bisa mulai "Pacaran." Hehe....
"Kita...., ah nanti saja. Biar supries." Ucapnya kemudian dengan terkekeh. Sedangkan aku hanya bisa memanyunkan bibirku karena harus menanggung rasa penasaran.
***
Aku tak menyangka itu adalah hari pertemuanku yang terakhir dengan Sam. Saat itu aku datang ke taman untuk memberitahukan padanya lembar kertas hasil ulangan ku yang bagus. Aku kira ia akan datang untuk menemui janjinya. Aku sudah sangat yakin ia juga memiliki perasaan yang sama denganku. Kalo tidak, kenapa hari itu, Sam mencium pipiku?
Tapi nyatanya ia tak pernah datang. Sudah berhari-berhari bahkan berminggu-minggu. aku tak pernah melihatnya datang lagi untuk menemui ku. Aku ingin mencarinya, tapi aku tak tahu dimana rumahnya, dan bodohnya, aku tak pernah menanyakannya. Sampai akhirnya kesehatanku kembali memburuk. Aku merasa sangat kehilangan Sam. Yang menurutku dia hanyalah cowok yang suka PHP(Pemberi Harapan Palsu).
Aku drop dan langsung di larikan ke rumah sakit.
Selang beberapa bulan kemudian, keadaanku kembali membaik, bahkan sangat baik. Hingga aku bisa kembali ke sekolah secara reguler, tentu saja di SMA GALAKSI.
Aku senang datang bersua kembali dengan teman-temanku. Dan ku lihat di kelasku kedatangan anak baru. Cowok. Wajahnya mengingatkanku pada seseorang yang masih sangat sulit ku lupakan. Tapi aku buru-buru menepisnya. Aku rasa itu cuma kebetulan saja. Ya... begitu pikirku.
Nama cowok itu adalah Arya. Ia adalah cowok yang periang. Entah kenapa ia suka sekali menggodaku. Meskipun aku sering bersikap ketus padanya tapi ia seolah tak pernah menyerah. Karena kegigihannya aku menjadi luluh dah akhirnya kita jadian.
"Aku mau kasih tau kamu satu rahasia, tapi kamu jangan marah ya?" Ucapnya suatu ketika saat kami pulang sekolah.
Entah kenapa perasaanku jadi merasa tidak enak. Tiba-tiba jantungku berdenyut dengan sangat cepat. Aku juga tidak tahu kenapa.
"Rahasia apa?" Tanyaku ragu.
"Ayo ikut aku, nanti kamu juga tau!" Ujar Arya sembari menyuruhku naik ke belakang motornya. Meski dengan perasan campur aduk akhirnya aku menurut.
Tak lama kami sampai di sebuah pemakaman umum. Dan saat itu juga jantungku kembali berdetak sangat cepat. Aku memegang sebelah dadaku. Ada apa ini sebenarnya? Aku hanya bisa menerka-nerka saja tanpa bisa menemukan jawabannya.
Arya sejak tadi juga lebih banyak diam. Tanpa banyak bicara ia meraih tanganku dan menggandeng tanganku memasuki area pemakaman. Kemudian langkah kami terhenti di sebuah makam.
Sejenak aku melihat wajah Arya yang tampak dingin. Lalu kemudian pandanganku ku alihkan ke batu nisan di hadapanku. Mataku seketika terbelalak tak percaya. Seketika aku pun membeku di tempat. Di batu Nisan tertulis nama Samuel... Mungkinkah....? Tanpa terasa air mataku sudah menuruni pipi tanpa bisa ku bendung. Inikah firasat tidak enak yang ku rasakan sejak tadi?
"Dia kakakku. Samuel. Dia nggak pernah ingkarin janjinya ke kamu. Dia nggak pernah ninggalin kamu. Justru dia pingin kamu bisa tersenyum lebih lama lagi. Dia sengaja nggak nemuin kamu karena di kecelakaan, dan dia donorin jantungnya buat kamu. Dia pesan ke aku buat selalu jagain kamu dan buat kamu tersenyum." Mendengar pernyataan Arya air mata makin deras mengalir.
Ternyata Sam nggak PHP. Ternyata Sam tepatin janjinya.... Bodoh. Rutukku dalam hati pada diri sendiri. Sekali lagi aku meletakkan tanganku di sisi kiri dadaku. Merasakan detak jantung Sam yang kini berdetak di tubuhku. Itu yang membuatku sadar. Sam tidak pernah sedikitpun untuk ingkar janji ataupun ninggalin aku. Dia justru hidup bersama dengan setiap hembusan nafasku.
***
"Apa aku penghianat? Karena sekarang aku sama kamu sekarang?" Kataku suatu ketika pada Arya. Aku masih merasa bersalah pada Sam.
Arya menggeleng dan mengukir senyum lembut di bibirnya. "Jangan bilang begitu, karena kak Sam sendiri yang nyuruh aku buat jagain kamu."
Aku tersenyum mendengar jawabannya. Aku merasa bersyukur ada dua malaikat yang menjagaku di dunia ini.
Pertama Sam... dan kedua adalah Arya....
Mereka berdua adalah My guardian Angel....
Tamat....
Jangan lupa kasih like yg banyaaaaaakkkk ya.........😂😂