Sudah sekitar empat bulan aku menjalani statusku sebagai seorang mahasiswa. Aktivitas yang kulakukan tak jauh berbeda dari SMA, berangkat ke kampus naik angkot, belajar, bergaul dengan teman, pulang ke rumah dan belajar lagi. Maklum, aku masih mahasiswa baru, jadi kegiatanku masih sebatas itu saja. Aku tinggal sendiri di sebuah rumah kecil yang dibelikan oleh orangtuaku, karena rumah asliku sangat jauh dari kampus.
Suara alarm handphone-ku berbunyi yang menandakan ini adalah awal dari rutinitasku. Kubuka pintu rumah dan kuhirup udara segar pagi ini.
“Ahh, senangnya hari ini cerah ”
Dengan semangat, aku bergegas ke kamar mandi. seperti biasa, setelah mandi, aku menyiapkan sarapan dan bersiap-siap untuk berangkat ke kampus.
seperti kebanyakan temanku, yang ke kampus naik motor sendiri ataupun dijemput sang pujaan hati. Aku memilih diantar oleh angkot untuk ke kampus. Sementara dalam perjalanan, aku teringat sesuatu.
“Oh iya, hari ini kan mau beli bahan untuk mading” lalu seketika aku tersentak teringat seseorang.
“Ahh, mana aku sekelompok lagi sama dia” keluhku, yang sekelompok dengan cowok yang ku sebut bad boy itu.
Cowok itu memang tidak seburuk yang dipikirkan. Dia tampan, tinggi, dan sebenarnya tidak begitu banyak bicara. Terkadang dia bersikap konyol saat di kelas. Tapi, kusebut dia bad boy karena dia smoker dan kadang dia suka menggombal, tidak di kelas ataupun di sosmed.
Sesampaiku di kampus, aku bertemu dengan ketua tingkatku yang kebetulan anggota mading juga.
“yusron, hari ini jadi beli bahan mading kan?” Jujur aku semangat dengan mading ini, karena sebelumnya aku tidak ikut kompetisi mading.
“Jadi kok, lin. Nanti sehabis kuliah, kita ke toko bareng-bareng” aku berharap bunga bawa motor hari ini.
Jam kuliah pun berlalu. Dengan penuh harapan, aku menghampiri bunga dan bertanya pada dia.
“bunga, kamu hari ini bawa motor?” tanpa basa-basi, aku langsung menanyakannya.
“Nggak. Soalnya, yusron yang memboncengku” seketika aku tak bergeming.
“Trus, aku perginya sama siapa?”
“Ya, pasti sama Reza dong” skak mat.
Percuma saja aku bertanya lagi, kenyataannya kita hanya ada empat anggota, yusron sama bunga dan aku sama Reza.
Entah berapa menit aku bergelut dengan pikiranku dan tak menghiraukan ajakan bunga.
“melin!!!” teriakannya memecah lamunanku.
“Ahh, sorry. Jadi gimana?” dengan polosnya aku bertanya.
“Ya udah, kita cari mereka berdua. Ini udah sore loh” dengan melupakan pikiranku tadi, aku mengikuti ajakan bunga untuk mencari yusron dan Reza.
Ternyata mereka sedang menonton akustik. Kucoba untuk mengalihkan pandanganku dari si bad boy itu. Aku tidak mau dia mengira kalau aku benar-benar mau dibonceng sama dia. Langkah kami semakin mendekati mereka.
“yusron, Reza, udah hampir sore nih. Kalian nggak lupa kan, kalau kita mau beli bahan?” kata bunga.
hanya diam. Kubiarkan bunga yang memanggil mereka. Akhirnya yusron dan Reza beranjak dari tempat mereka. Sialnya, si bad boy itu jalan lebih dulu dan dia sekarang tepat di depanku.
“Ayo” dengan wajahnya yang sok cool atau kenyataannya memang cool, dia hanya mengatakan hal singkat itu padaku.
Aku terdiam beberapa saat. Menatapnya tanpa merespon apapun dari ajakannya. Tapi, aku kembali sadar dan mengikutinya dari belakang. Sampai di parkiran kampus, aku pun naik ke motornya.
“Jangan lupa pegangan” tanpa berpikir panjang, aku memegang punggung tasnya.
Selama perjalanan, tak satupun dari kami yang mengeluarkan kata apapun. Keheningan terjadi sepanjang perjalanan. Hanya hembusan angin yang membawa aroma parfum yang dipakai si bad boy ini.
Aku memikirkan, bagaimana bisa aku berada tepat di belakangnya. Seseorang yang selama ini hanya membuatku berdecak melihat style-nya yang menyerupai seorang bad boy
Hingga kami berempat tiba di toko itu, suasananya tak berubah sedikitpun.
“Helm-mu” aku memberikan helmku tanpa menatapnya.
bunga menghampiriku dan tersenyum, seolah-olah sedang terjadi sesuatu padaku.
“lin, gimana rasanya?” pertanyaan aneh tiba-tiba dilemparkan bunga padaku.
Maksudnya?” aku balik bertanya, seolah tak mengerti maksud pertanyaannya.
“Ya… gimana rasanya naik motor bareng Reza?” aku hanya berdecak mendengar pertanyaan itu.
“Tau ah” dia hanya tidak tahu kalau selama perjalanan tadi, rasanya seperti hanya ada aku dan jangkrik di sekelilingku.
Di dalam toko tersebut, kami berempat mencari bahan-bahan untuk mading. Aku fokus mencari bahan ini dan itu, berputar kesana-kesini sampai aku terhenti dan melihat kekonyolan yang dilakukan si bad boy itu. Dengan tangannya yang penuh bahan untuk mading, dia bermain dengan atribut-atribut natal. Aku tersenyum melihatnya. Begitupun dengannya, yang tersenyum balik padaku.
Ahh.. apaan sih. Sadar melin” aku langsung mengalihkan pandanganku dan kembali mencari bahan yang lain.
“Aku rasa, kita akan butuh ini” si bad boy itu menghampiriku dan menyarankan suatu barang yang dibutuhkan.
“Oh iya” aku hanya mengarahkan pandanganku pada bahan yang dipegangya.
Entah kenapa aku tidak berani menatapnya. Aku hanya takut, sesuatu yang tidak kuharapkan terjadi saat aku menatapnya.
Setelah semua bahan yang kita butuhkan sudah ada, kita pun kembali untuk pulang. Aku merasa suasana di perjalanan sebelumnya kembali menghiasi perjalanan pulang kami. Kalau dibandingkan dengan yusron dan bunga, ibarat susu dan kopi. Manisnya mereka berdua dan pahitnya aku dan Reza. Ya.. maklumlah mereka berdua kan sedang in relationship. Sementara aku dan si bad boy ini bukan apa-apa.
Perjalanan kami berempat sudah terpisah, karena beda arah. Aku berpikr untuk diturunkan di jalan saja sama Reza. Karena kebetulan, rumah dia cukup jauh dari rumahku.
“Mmm, Reza, kamu bisa turunkan aku di sini. Aku bisa pulang naik angkot” biar bagaimanapun, aku tidak mau menyusahkan orang lain.
“Jangan. Biar aku antar sampai rumah saja” kupikir dia bakal setuju untuk menurunkanku, ternyata dia mau mengantarku pulang.
Mendekati jalan ke rumahku, tiba-tiba hujan turun. Reza tetap melajukan motornya. Aku juga berharap dia tidak akan berhenti, soalnya hari pun sudah petang.
Tapi, entah keberanian dari mana aku bertanya pada si bad boy ini.
“Reza, kamu bawa jas hujan kan?” aku bertanya seolah aku sedang mengkhawatirkannya.
“Iya” dia menjawab dengan singkat.
Aku pun sampai di rumah. Saat itu pula aku berterima kasih padanya dan di sana aku mulai berani menatapnya.
“Makasih ya!” entah kenapa aku merasa berbeda saat melihat matanya. Tapi, dia hanya membalasku dengan anggukannya.
Tanpa mengeluarkan kata apapun, dia langsung pergi. Anehnya dia masih saja menerobos hujan.
“Dasar bad boy…” kataku.
Di kamar, aku mengingat kembali saat awal pergi dan pulang dengan Reza. Terlebih saat dimana aku mulai memberanikan diri untuk menatapnya. Aku sempat berpikir, ternyata dia punya sisi good boy juga.
“Ahh… nggak nggak. Ayolah Lin, dia itu bad boy yang nggak kamu suka” aku coba untuk melupakan hal yang tidak perlu kupikirkan itu.
Tiba-tiba handphoneku berbunyi, yang menandakan ternyata ada chat line yang masuk. Aku tidak tahu dari siapa. Kupikir itu bunga, tapi ternyata…
“Hah… Reza?” mataku langsung melek melihat nama pengirim chat itu.
"Kamu baik-baik aja” awalnya, aku tidak mengerti maksud pertanyaannya.
“Iya. Kenapa?” jawabku.
“Sebenarnya, tadi aku nggak bawa jas hujan. Jadi kupikir kamu kenapa-kenapa karena kena hujan” sudah kuduga dia tidak bawa jas hujan.
“Trus, kenapa kamu bilang bawa?”
“Aku nggak mau kamu khawatir sama aku”
Demi apa dia bilang begitu?. Siapa juga yang bakalan khawatir. Tapi, benar juga sih. aku pasti merasa bersalah, kalau tahu dia kehujanan. Lagian dia sudah berbaik hati mau mengantarku pulang.
“Apaan sih, siapa juga yang khawatir?”
“Jadi, kamu nggak bakalan khawatir?. Kalau aku sakit gimana?”
Seketika, aku merasa kalau pipiku panas saat membaca chat dari si bad boy ini. Aku tidak tahu harus balas apa, jadi kumatikan saja handphoneku.
Aku memilih untuk menumpahkan semua yang telah terjadi hari ini dalam noteku. Selama menulis semuanya, aku juga berpikir…
“Perasaan selama di jalan tadi, tak satupun kata yang dia katakan. Kenapa di chat dia seperti ini. Apa dia sedang mabuk?” aku mengoceh sendiri dalam kamar dan tanpa sadar tersenyum mengingat dia.
“Nggak, aku rasa, aku yang mabuk”
Merasa mulai error, aku memilih untuk tidur dan berharap semoga besok aku bisa sadar sesadar sadarnya.
Kebetulan hari ini adalah hari sabtu. Tidak ada perkuliahan setiap hari sabtu di kampusku. Tapi, jangan pernah berpikir untuk free time dan bersantai. Sebaliknya, aku harus mengerjakan mading bersama anggota lainnya.
Tapi ada masalah…
“Kenapa harus mengerjakannya di rumah si bad boy itu!” keluhku dipagi yang cerah ini.
Tiba-tiba ada dua chat line yang masuk…
“Huftt, mereka berdua kompak banget. Bahkan untuk hal seperti ini”
Ternyata dua line tersebut dari yusron dan bunga yang mengingatkan aku untuk ke rumah si bad boy itu.
“Lebih baik aku beres-beres rumah, trus siap siap ke rumah Reza, alias si bad boy”
Jam menunjukkan pukul 8 pagi. Kebetulan rumahku juga sudah bersih. Sekarang, saatnya aku yang membersihkan diri.
“Ahh segarnya..” aku merasa segar dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Setelah mandi dan berpakaiaan seperti biasa, aku ke dapur untuk membuat sarapan.
Karena rumah si bad boy itu searah dengan kampus, jadi aku naik angkot seperti biasa ke sana.
“Kok motornya yusron nggak ada?” aku mulai khawatir melihat tak ada motornya yusron yang bertengger di depan rumah Reza.
“Kalau Rio belum ada, Nadine juga pasti belum ada”
“Trus aku harus gimana? haruskah kubuka pagarnya saja?”
Aku masih berdiri di depan pagarnya Reza. Mungkin saat ini aku terlihat konyol sambil memegang gagang pagarnya. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana.
“Buka… tidak… buka… tidak… buka… tidak ya?”
Lalu tiba tiba…
“Glek… drrrr…”
“Hah?” pagarnya terbuka.
Aku langsung balik membelakangi pagar itu.
“melin?”
“Ohh iya?” itu Reza
“Kamu sudah lama di luar?”
“Ah?… ah nggak kok, baru aja”
Di dalam rumahnya aku melirik ke setiap sisi dan mencari bunga dan yusron.Tapi, mereka berdua sepertinya belum datang.
“yusron sama bunga belum datang?”
“Mereka udah datang, tapi keluar lagi. Katanya, ada yang mau mereka beli”
“Ahh… mereka ini” aku menggerutu dalam hati.
Di ruang tengahnya, aku melihat semua bahan-bahan mading sudah siap. Sebelum suasananya tambah awkward, aku langsung mencari kesibukan dengan mulai mengerjakan beberapa bahan.
“Reza, tolong bantuin potong karton ini. Kayaknya terlalu besar” aku berusaha bersikap profesional.
“Oh, yang mana?” tanyanya
“Dari sini sampai sini”
“Kamu tahan bagian sana” aku mengikuti apa yang dia katakan.
Ketika dia mulai menggeser cutter dan memotong karton itu, tidak sengaja terjadi skinship antara tanganku dan tangannya. Dan karena itu, kami saling menatap.
“Wow… pemandangan apa ini?”
Sontak kami berdua tersadar karena suara itu.
“Kalian berdua dari mana sih?” itu bunga dan yusron.
“Cuci foto kita kok”
“Oh ya udah, langsung kerja aja, supaya bisa cepat kelar” kataku
Sekitar empat jam kami mengerjakan mading iiu, akhirnya semua terselesaikan dengan baik. Aku pun memutuskan untuk pulang lebih dulu.
“Mmm, aku pulang duluan ya, udah sore juga?”
“Mau aku antar?” Reza menawarkan diri untuk mengantarku pulang.
“Ehmm,” tiba-tiba yusron dan bunga berdehem.
“Mmm, nggak usah, makasih. Aku pulang sendiri aja ”
“Ya udah… hati-hati ya!” kata Reza.
Di rumah, aku langsung melemparkan diriku ke atas tempat tidur.
“Ahh lelah juga. untung besok nggak ada jadwal”
Hari ini adalah hari minggu. Sebenarnya tidak ada jadwal apapun, hanya saja aku mau ke toko buku.
Aku mencari buku novel yang menarik. Ya.. aku suka membaca novel, apalagi yang bergenre romance. Itulah sebabnya, aku sedikit bawa perasaan orangnya.
“Ah.. kayaknya novel ini menarik” aku mengambil salah satu novel romance yang dari sinopsisnya terlihat menarik.
Aku pun keluar dari toko itu. Novel yang menurutku bagus ini, sudah kudapatkan. Judulnya…
“Aku Jatuh Cinta” tiba-tiba sesseorang mengagetkanku dari belakang.
“Reza?” dia sedang apa di sini?.
“Jadi, kamu suka baca novel romance juga?”
“Kamu, ngapain di sini?” tanyaku penasaran.
“Ini!” dia memberiku sebuah note yang ternyata…
“Hah.. note-ku. Kenapa ini bisa…”
“Tertinggal di rumahku” dia menjawab sebelum pertanyaanku selesai.
“Trus, kok kamu bisa tahu, kalau aku di sini?” tanyaku lagi.
“Menurut kamu?”
Dia benar-benar aneh. Aku bertanya, dia malah balik bertanya juga.
“Ya..nggak tau lah. Kok kamu malah balik nanya?” keluhku
“Bercanda kok. Sekarang, kamu mau ke mana?” dia bertanya padaku.
“Pulang” jawabku singkat.
“Ya udah, aku antar kamu pulang” untuk kesekian kalinya, dia menawarkanku untuk diantar pulang olehnya.
“Nggak usah. Aku bisa pulang sendiri” tapi, lagi-lagi aku menolak.
“Lihat tuh!. Ini mendung banget. Sebentar lagi pasti bakalan hujan”
Benar juga sih. lagian, aku juga tidak membawa payung.
“Ya udah, makasih ya!” akhirnya aku pun setuju untuk diantarnya pulang.
Kita pun sampai di rumahku. Seketika hujan turun sangat deras.
“Hujannya deras. Pakai jas hujan pasti tetap basah. Lebih baik, kamu tunggu hujannya reda dulu” aku merasa kasihan kalau dia pulang dalam keadaan seperti ini.
“Iya. Makasih”
Kami menunggu hujan berhenti di teras depan rumahku. Tak ada pembicaraan yang terjadi. Hanya suara derasnya hujan yang terdengar oleh kami.
“Jadi, karena itu kamu menyebutku bad boy?” Reza tiba-tiba bersuara dan menanyakan hal yang diluar pikiranku.
“Mmm… maksud.. kamu?”
“Karena aku smoker dan suka menggombal, membuat kamu tidak suka sama aku”
Aku pikir, dia sudah membaca isi note-ku. Gawat!. Isinya kan sebagian tentang dia.
“Jadi kamu sudah baca?”
“Sebenarnya aku tidak niat untuk membacanya. Aku hanya mau tau pemilik note ini. Tapi, aku malah melihat namaku dalam note itu. Trus, aku penasaran, jadi kubaca saja” dia menjawab dengan jujur.
“Maaf. Aku hanya tidak suka dengan cowok yang merok*k. Bagiku, itu menggambarkan seperti seseorang yang tidak baik” ungkapku.
“Kamu tahu?, aku sudah berhenti merok*k dari sebulan yang lalu. Aku merok*k, karena terpengaruh sama teman. Tapi sekarang, aku udah sadar dan akhirnya aku memilih untuk berhenti”
“Hah.. syukurlah”
“Kenapa?”
“Eum…nggak kok. Baguslah kalau kamu udah sadar”
Entah kenapa aku sangat senang mendengar hal itu. Apa aku mulai…
“Eum… tapi, kenapa kamu bisa tau, kalau tadi aku ada di toko buku?” tanyaku yang masih penasaran.
“Karena cinta”
“Maksud kamu?. Aku nggak punya teman yang namanya Cinta”
“Berarti cinta yang lain”
"Maksud kamu apa sih?” aku semakin tidak mengeri omongan si bad boy ini.
“Cinta aku ke kamu yang ngasih tahu, kalau kamu ada di sana”
Deg…
Seketika aku seperti jadi snowman. Aku tidak bisa berkata apapun. Jantungku berdebar. Apa dia serius?
“melin, aku jatuh cinta sama kamu. Aku merasakan itu saat pertama kali kita jadi teman kelas. Selama ini aku terlalu gugup saat melihat kamu. Karena kupikir, kamu tidak menyukaiku. Tapi, sertelah aku baca note itu, aku jadi yakin untuk mengungkapkan perasaanku, kalau aku benar-benar jatuh cinta sama kamu”
Dia mengungkapkan perasaannya padaku. Orang yang selama ini ku sebut bad boy, ternyata dia menyukaiku.
Setelah kejadian confess itu, aku sama si bad boy, ah maksudku Reza sekarang semakin dekat. Kita tidak berpacaran, tapi masih menjadi teman dekat. Walaupun aku tahu, kalau aku juga menyukainya. Dia pun tahu itu. Hanya saja… kita tidak mau hubungan kita kenapa-kenapa hanya karena pacaran.