Aku yang tengah mengenang mu, semua TENTANG KAMU masih ku ingat dengan jelas.
🍁🍁🍁
Hembusan angin pagi ini begitu terasa damai. Aku memandang namamu saat ini. Menyebut namamu dalam hatiku. Aku tersenyum.. walau air mata kembali membasahi wajahku. Ku hapus dengan cepat kemudian. Aku tak ingin kamu melihatnya, karena ku telah berjanji, untuk terus bahagia agar kau juga bahagia.
Seandainya waktu bisa terulang, aku ingin kembali di saat pertama kali aku mengenalmu. Aku ingin membuat semua kenangan yang indah untukmu. Aku ingin tau TENTANG KAMU lebih dan lebih dari yang ku tau saat ini.
Tapi aku tak bisa mengulangnya, TENTANG KAMU menjadi cerita tersendiri dalam ingatanku. TENTANG KAMU menempati ruang tersendiri dalam hatiku. TENTANG KAMU akan ku ingat selalu.
.
.
.
.
Suara tepuk tangan terdengar begitu keras pagi itu. Semua mengucapkan selamat untukku. Ini tahun ke tiga ku di sekolah tingkat menengah ini. Aku kembali dinobatkan menjadi siswi berprestasi kembali. Namaku Inka, aku dikenal sebagai siswi yang pintar, baik dan ramah.
Saat itu semua siswa maupun siswi berkumpul di lapangan. Mengikuti upacara yang setiap seninnya dilaksanakan. Ada sekelompok siswa yang datang terlambat, dan akhirnya berbaris di tempat yang berbeda menunjukan kesalahan yang mereka buat. Aku menatap mereka satu persatu dan aku tak pernah menyangka bahwa salah satu dari mereka akan menjadi orang yang sangat berarti buatku kelak.
Agra ya Agra namanya. Aku tak cukup mengenalnya. Aku hanya tau dia siswa yang suka membolos, siswa yang suka terlambat, siswa yang suka berkelahi. Bertubuh tinggi, berkulit bersih dan memilik wajah yang tampan. Banyak yang memuji ketampanannya, tampak gagah dan keren. Itu pendapat mereka yang mengaguminya. Bertolak belakang sekali dengan diriku. Itulah yang akhirnya membuat banyak orang menentang hubunganku dengannya nanti.
Saat jam istirahat, aku melangkah ke ruang guru dengan membawa beberapa buku untuk dinilai dan diletakan di meja wali kelasku berada. Ku mengetuk pintu itu perlahan dan membukanya. Ku lihat ada Agra di sana, duduk bersama dengan salah satu guru dengan wajah yang begitu kecewa dan marah. Aku tak ada niat untuk mendengar pembicaraan mereka, tapi aku mesti melewati ruang mereka untuk bisa sampai di meja wali kelasku berada. Mau tak mau akupun mendengarnya.
Setelah ku meletakan semua buku yang ku bawa, akupun melangkah pergi. Namun ada suara yang memanggil namaku. Pak Jono, guru yang sedang bersama Agra saat itu memangil namaku untuk bertemu dengannya.
"Inka, bisa bantu bapak?"
"Bantu apa ya pak?" Tanyaku dengan sedikit melirik ke arah Agra.
"Setelah pulang sekolah nanti, bantu Agra untuk menyelesaikan tugas-tugasnya di perpustakaan."
"Hah.." Ucapku terkejut dan kali ini aku menatap dengan jelas Agra yang juga menatapku.
"Saya bisa menyelesaikan sendiri pak, terima kasih." Ucap Agra akhirnya dan berlalu pergi meninggalkan kami.
Aku terdiam melihat sikapnya. Pak Jono pun tak menghalangi Agra pergi saat itu. Ku melihat Pak Jono yang menghela nafas dengan kening yang berkerut.
"Huft.. anak itu, jika masih belum bisa menyelesaikan tugasnya, mungkin akan sulit untuk lulus." Ucap Pak Jono akhirnya dan berhasil membuatku berfikir saat itu.
Aku hanya diam, dan kembali ke kelas, mengikuti pelajaran selanjutnya.
.
.
.
.
Waktu ternyata cepat berlalu. Aku keluar kelas perlahan, melangkah melewati banyak ruang di sekolah ini. Langkahku pun terhenti saat ku melihat satu ruang dimana aku teringat dengan kejadian tadi di ruang guru. Perpustakaan, aku hendak melewatinya. Namun ada rasa penasaran untuk menengok ke arah dalam.
Akhirnya aku memutuskan untuk masuk. Ku tatap sekelilingku, dan apa yang kucari, aku menemukannya. Aku melihat Agra di sana, aku melihat ia duduk dengan beberapa buku tergeletak di atas meja. Wajahnya tampak berfikir, dengan jari yang terlihat memijat di keningnya.
Melangkah melewatinya dengan sengaja, lalu menuju ke arah rak buku, seolah ku mencari sesuatu di sana. Berdiri sambil membaca kemudian. Lalu terkejut saat sosok Agra sudah ikut berdiri di hadapanku.
"Ikut gua." Pintanya.
"Ngapain?"
Agra langsung menarik tanganku tiba-tiba tanpa menjawab apa yang ku pertanyakan. Ingin berteriak tapi ku sadar diri sedang di mana, dan rasanya tak mungkin Agra akan melakukan hal yang tidak baik. Akhirnya aku mengikuti langkahnya dengan pergelangan tangan yang masih di genggam olehnya.
"Duduk." Pinta dia lagi dan akupun menurut dengan memasang muka cemberut.
Agra ikut duduk tepat di sampingku, menggeser buku yang awalnya di hadapannya ke hadapanku akhirnya.
"Gua enggak ngerti, bantu Gua yang ini." Ucapnya dan berhasil membuatku tertawa kecil saat itu.
"Kenapa ketawa?" Tanyanya yang tampak tak suka melihat ku.
"Minta tolong kayak preman." Ucapku akhirnya sambil melihat ke wajahnya.
Akupun mulai menjelaskan perlahan. Ia menyimak setiap kata yang ku ucap. Aku merasa tubuhnya seakan mendekat ke arahku saat itu. Bahkan aku dapat mencium aroma tubuhnya.
Kami hanya duduk bersama saat itu, namun itu menjadi awal mula aku mengenalnya.
.
.
.
.
Sebotol air mineral mengarah padaku secara tiba-tiba. Aku masih terengah setelah menyelesaikan lariku pagi itu.
"Nih buat Lo." Ucap seorang pria dan ku lihat Agra yang ada di hadapanku saat itu.
"Oh.. tapi Gua punya minum sendiri." Tolakku akhirnya.
"Ambillah, Gua udah beli buat Lo, dan Lo harus minum." Ucapnya lagi sambil meletakan botol air mineral itu ke tanganku dan berlalu pergi.
Aku tak terlalu memikirkannya, aku pun ikut melangkah pergi kembali ke kelas lagi dengan botol air mineral di genggamanku akhirnya.
Hari-hari berikutnya Agra selalu hadir, selalu ada saja yang ia berikan dan ia lakukan. Kehadirannya membuat banyak pertanyaan bagi siswa maupun siswi yang lain.
"Perasaan Agra jadi sering dateng ke kelas ini." Ucap Silvi teman sekelas ku.
"Lo pacaran sama Agra, Ka?"
"Hah.. enggak." Jawabku cepat.
"Syukurlah, mending cari yang lain Ka, ganteng tapi bandel buat apa." Ucapnya menjelaskan dan aku hanya mengangguk dan berkata ya.
Sore pun tiba, aku sedang melangkah ke luar menuju pintu gerbang sekolah. Melewati lapangan dan pandanganku tak lepas dari sosok Agra yang sedang bermain basket sore itu. Langkahku melambat menatap sosoknya.
"Agra sebenarnya baik." Ucapku tiba-tiba.
Aku terdiam, dan Agra menyadari kehadiranku saat itu. Ia melangkah memanggil namaku dan mendekatiku.
"Ikut main yuk."
"Gua mau pulang."
"Sebentar saja." Bujuknya dan langsung menarik tanganku ke tengah lapangan.
Dia melempar bola ke arahku, dan memintaku memasukannya ke dalam ring. Gagal berkali-kali membuatku kesal dan penasaran. Ku coba lagi dan akhirnya berhasil.
Aku tampak bahagia, tanpa disadari melompat dan tertawa di hadapannya dengan bebas. Akupun melihat dirinya yang tersenyum menatap diriku, membuatku malu sendiri akhirnya.
"Kamu hebat." Puji Agra dengan menyentuh kepalaku dan mengusapnya dengan lembut.
Rasa nyaman hadir tanpa di sadari saat bersamanya.
.
.
.
.
Jam sudah menunjukkan waktu pulang saat itu. Aku melangkah keluar dan berdiri di sisi jalan menunggu bus datang.
Suara klakson terdengar, aku mengubah pandanganku ke arah datangnya suara itu. Ku mengenalinya, itu Agra.
"Gua antar ya."
"Oh.. enggak usah."
"Ada yang ingin Gua ingin omongin sama Lo."
"Ngomong aja sekarang."
"Naek lah dulu." Bujuknya lagi dan aku hanya diam berfikir apa yang harus ku putuskan.
"Ayolah." Pintanya lagi dengan pergelangan tanganku yang sudah digenggam olehnya.
Entah apa yang membuatku akhirnya memutuskannya untuk ikut pergi bersamanya saat itu. Tapi mungkin memang ini jalannya, sampai akhirnya aku bisa mengenalnya.
Kami tiba di sebuah rumah yang ternyata itu rumahnya Agra. Agra mengajakku untuk masuk ke dalam. Agra memintaku untuk duduk dan menunggunya untuk mengambil sesuatu.
Aku menurutinya saat itu, ku tatap sekelilingku. Sepi tak ada orang lain selain kami. Tak berapa lama kemudian Agra datang.
"Ini buat Lo." Ucap Agra dan duduk tepat di sampingku.
"Apa ini?"
"Bukalah." Pintanya kemudian.
Akupun membukanya, ku lihat sebuah syal berwarna marun tergeletak dalam sebuah kotak yang telah diberikan Agra untukku. Ku menatapnya kemudian, seakan meminta penjelasannya akan hadiahnya ini.
"Gua enggak ulang tahun." Ucapku dan dia malah tersenyum mendengarnya.
"Gua tau, Gua cuman mau kasih hadiah aja buat Lo." Ucap Agra lagi dan meraih syal itu dan tanpa di minta ia memakaikannya di leherku.
Aku terkejut dengan sikapnya, saat dia melilitkan syal itu aku dapat menatap wajahnya begitu dekat, senyumnya yang terlihat indah. Bahkan aku ingin terus bisa menatapnya seperti ini.
Tangannya berhenti bergerak saat itu, mungkin ia menyadari diriku yang tengah menatap dirinya sejak tadi. Dia ikut menatap diriku sekarang. Saling diam dan saling pandang. Jantungku tiba-tiba berdetak begitu cepat, rasa gugup menyelimutiku. Tapi aku masih terus menatapnya tak memalingkan wajahku sedikitpun.
Hingga akhirnya ia mendaratkan bibirnya tepat di bibirku. Ia mencium ku dan tanpa ku sadari aku memejamkan mataku akhirnya.
Aku tersadar, aku mengatur nafasku begitupun dengan dirinya. Rasa gugup menyelimuti kami berdua. Aku membuang pandanganku ke arah yang berbeda dengan cepat.
"Ka, Gua mau Lo jadi pacar Gua." Pinta Agra dan membuatku diam membisu.
"Kenapa Gua harus jadi pacar Lo?"
"Karena Gua suka sama Lo."
Deg.. rasanya jantung ini berdebar begitu kencang. Mendengar dia berkata demikian berhasil membuatku terdiam lagi. Aku bingung harus berkata apa, jelas aku tak menolak saat dia menciumku tadi, tapi.. banyak yang berkata bahwa ia bukan sosok yang baik buatku.
Keheningan pun berakhir saat terdengar getaran handphone milik Agra.
"Ada apa?" Tanya Agra pada seseorang yang tengah meneleponnya.
"Oke, Gua ke sana sekarang." Ucap Agra dan tampak cemas terlihat di wajahnya.
"Gua antar Lo pulang." Ucap Agra dan lalu berdiri cepat dan melangkah ke luar.
Timbul kecemasan pada diriku saat itu. Apa yang terjadi sebenarnya. Situasi berubah dengan cepat. Dia baru saja menembaku dan sekarang dia mau mengantarku pulang. Kenapa dia tak mau mendengar jawabanku terlebih dahulu.
"Ayo cepat." Ucapnya menghentikan lamunanku.
"Ada apa memangnya?"
"Ada yang perlu bantuan."
"Bantuan apa?" Tanyaku bingung.
"Ada yang cari masalah dengan geng kami."
"Maksudnya mau berkelahi."
"Ya.."
"Jangan pergi Gra." Bujukku.
"Gua tetap harus pergi."
"Terserah Lo, Gua bisa pulang sendiri." Agra langsung menarik tanganku menghalangiku pergi.
"Gua anter Lo."
"Geng Lo lebih penting dari Gua."
"Enggak seperti, Ka. Nanti Gua jelaskan semuanya. Gua antar dulu Lo pulang. Tunggu Gua datang nanti malam."
Aku menurut saat itu, SEHARUSNYA aku tak menurutinya. SEHARUSNYA aku bisa lebih keras melarangnya untuk pergi. SEHARUSNYA...
"Tidaaaakkkkkk.." Teriakku saat ku mendengar kabarmu di malam itu.
Kamu terluka parah, kondisimu begitu buruk. Aku berlari tiada henti dengan air mata yang terus membasahi pipiku menemuimu di rumah sakit.
Aku menanti kedatangan mu, tapi kau tak datang. Kau malah membawa kabar duka dan penyesalan yang tak kunjung reda hingga saat ini.
Saat sebuah pintu terbuka, saat itulah ku tahu bahwa TENTANG KAMU telah berakhir malam itu. Kamu pergi.. pergi untuk selamanya.
Seluruh tubuhku lemas mendengar kabarmu. Rasanya aku membenci diriku sendiri. Aku bahkan belum sempat membalas cintamu. Aku bahkan belum sempat bilang kalau aku juga mencintaimu.
"Kenapa Lo pergi.. kenapa Lo harus pergi ninggalin Gua. KENAPA?" Ucapku dan berteriak dengan rasa sesak yang tak kunjung pergi.
Aku mengenang semua hal TENTANG KAMU. Ku tatap namamu yang terukir pada batu nisan yang saat ini sedang ku usap perlahan. Sudah setahun berlalu dan aku masih setia untuk tetap datang menemui mu.
TAMAT
🍁🍁🍁
Semangat membaca, dan SEMOGA SUKA😘
MOHON DUKUNGANnya Kakak semua
Terima kasih🙏