Dia adalah Dimas Felix Jakson. Seorang siswa paling kaya, tampan, populer, dan menakutkan di Red Diamond High School.
Rumor mengatakan bahwa, ia seringkali terlibat tawuran antar geng-geng di seluruh kota.
Penampilan dan damagenya yang tidak biasa, membuat banyak gadis enggan untuk mendekati apalagi mengganggunya.
Sedangkan aku?
Hanya seorang siswi biasa, yang tiba-tiba ditantang untuk membuatnya tersenyum.
“Tantangan macam apa ini?! Lihat wajahnya! Sangat datar dan pucat! Apa dia hantu?” Ucapku pada Ani, sahabatku.
“Hei, kau mau tiket konser Bangtan Boys tidak?” Sahut Ani menggodaku.
Aku yang tadi terlihat sangat marah, langsung berubah menjadi gadis imut ketika mendengar kata Bangtan Boys, boyband favoritku.
“Hehehe, baiklah. Aku akan melakukannya.”
Dasar aku.
Tapi, semua ini kulakukan demi tiket konser yang belum sempat aku dapatkan, karena langsung sold out hanya dalam waktu satu jam.
Hiks.
Nasib.
Aksiku pun dimulai!
.
.
.
.
.
Saat proses belajar mengajar berlangsung, aku sengaja menoleh kearah Felix.
Yang benar saja?
Kini, kedua mata kami saling bertatapan.
Aku dengan centilnya, mengedipkan mata dengan diselingi senyum manis ala-ala Bae Suzy padanya.
Reaksinya sesuai dengan dugaanku.
Ia membalas keramahanku dengan tatapan penuh amarah.
“Hiks, aku pasti bisa! Ini demi tiket konser! Huuu, andai saja tidak telat memesan tiket itu, pasti aku tidak berbuat hal memalukan seperti ini.” Batinku.
Bel istirahat sekolah berbunyi.
Semua murid berhamburan keluar, sedangkan aku masih stay di kursiku, sambil memikirkan sebuah siasat untuk membuat Felix tersenyum.
Aku pun tenggelam dalam lamunan.
Bruk!
Felix memukul meja dengan wajahnya yang sudah memerah.
“Kau! Ikut denganku!” Ucapnya.
“Ohh! Tidak. Aku dapat durian runtuh dari anak mafia terkuat di kota X.” Batinku.
.
.
.
Dia membawaku ke atap gedung sekolah.
“Apa yang kita lakukan disini?” Ucapku dengan santai.
Felix perlahan-lahan maju ke arahku. Sedikit demi sedikit, aku mundur kebelakang. Sehingga membuat tubuhku bersender di dinding.
“Kau! Kenapa kau tersenyum padaku?!” Sambung Felix dengan kedua tangan menghalangi jalanku untuk kabur dari cengkeramannya.
“Haduh, benar kata orang-orang. Kau memang sangat pemarah dan sensitif.”
Felix mengerutkan keningnya.
“Ma-maksudmu?”
“Baiklah. Baiklah. Aku mengaku salah. Maaf, ini kulakukan demi tiket konser Bangtan Boys. Kau tau tidak? Ani memang sahabat karibku. Tapi dia malah menyuruhku untuk mengganggumu. Benar-benar penghianat, hiks.”
Raut wajah Felix berubah. Ia menghela nafas panjang.
“Kau kenapa tidak takut padaku?”
“Takut? Hahaha. Kita sama-sama manusia. Kita juga makan nasi. Hanya derajat yang membedakan. Sudahlah aku mau pergi. Aku menyerah.” Ucapku menepis tangannya.
“Apa yang kau inginkan?” Tanya Felix.
“Aku? Tentu saja senyumanmu. Jika kau tersenyum sekarang juga, tiket konser itu akan jadi milikku. Tapi, sudahlah. Kurasa kau tidak bisa diajak kerjasama.”
Felix terdiam.
Bruk!
Saking sedihnya, aku tanpa sengaja menabrak dinding. Kepalaku langsung benjol. Aku pun menangis.
“Kau! Kalau jalan lihat-lihat!” Ucap Felix yang membantuku berdiri.
“Hiks, selesai sudah. Aku tidak bisa menonton konser Bangtan Boys.” Sambungku.
“Hahahaha.”
Felix tertawa terbahak-bahak.
Aku tidak menyangka. Bagaimana bisa lelaki sedingin dia tertawa dengan wajah tampan seperti ini?
“Berikan handphonemu.” Ucap Felix mengulurkan tangannya padaku.
Aku memberikannya.
Cekrek!
Betapa terkejutnya aku ketika mengetahui bahwa, handphoneku digunakannya untuk memotret dirinya sendiri. Bahkan ia tersenyum.
“Kau gadis yang unik. Setelah menunjukkan foto ini, kau akan mendapatkan tiket konser itu. Jika Ani mengingkarinya, kau lapor saja padaku.”
Aku sangat senang.
Saking senangnya, aku sampai memeluknya.
Sungguh seorang bad boy yang menarik.
End~
Jangan lupa like and coment ya para readers.
Hwaiting!
Sangkyuu.