Patah hati berkali-kali membuatku tidak percaya lagi dengan yang nama cintanya. Bagiku itu semua hanyalah omong kosong dan bualan semata. Namun keyakinan ku itu berubah saat aku mengenal sosok baru, ya dia adalah laki-laki yang baik. Dia bahkan tak segan-segan memarahi ku jika aku tidak makan atau terlambat mengabari nya. Mungkin banyak yang bilang kalau dia itu lebay, tapi tidak bagiku. Dengan sikap dia yang seperti itu aku merasa sangat dicintai dan diprioritaskan, tidak ada kata yang bisa aku ucapkan selain aku mencintainya.
" Sayang " Panggilnya, namun aku sama sekali tidak bergeming dan melepaskan pelukan ku dari tubuhnya.
" Ada apa denganmu? Tidak biasanya sangat manja " Dia mempererat pelukan kami, sesekali mencium pucuk kepala ku.
" Aku hanya merindukanmu, apa kau tidak merindukan ku hm? " Aku mendongakkan kepala ku agar bisa menatap wajah tampan nya. Namun bukan jawaban yang aku dapatkan melainkan ciuman lembut yang ia berikan.
" Aku sudah pasti merindukan mu, bohong kalau aku bilang tidak " Dia kembali memeluk tubuh ku, bahkan rasa nya pelukan itu begitu nyaman.
" Apa kau lapar? " Tanyanya, aku hanya tersenyum dan mengangguk.
" Baiklah kalau begitu, mari kita membuat makanan kesukaan mu " Dia menarik lembut tangan ku menuju dapur, kemudian memasang celemek nya dan mulai memotong sayuran. Sementara aku hanya diminta nya duduk untuk melihat nya memasak. Ya Tuhan, aku benar-benar bersyukur memiliki kekasih seperti dirinya. Dia sangat sempurna, bahkan dia memperlakukan ku layak nya seorang tuan putri.
Tidak perlu waktu lama, beberapa hidangan sudah tersaji di meja makan. Dengan hati-hati ia mulai menyuapi ku, begitupun sebaliknya.
" Apa makanan nya enak sayang? " Aku hanya mengangguk, kemudian mengambil makanan yang ada didalam piring dan menyuapinya.
Setelah selesai makan siang, dia mengajak ku keluar sekedar jalan-jalan untuk membuang rasa jenuh.
" Pegangan sayang, ntar jatoh loh " Dia menarik tangan ku, kemudian melingkar kannya di pinggangnya.
" Modus doang ih " Dia hanya membalas ucapan ku dengan tersenyum kecil, sesekali meraih tanganku dan mengecupnya.
Pemandangan disore itu benar-benar indah, hingga tidak terasa sudah 2 jam lama nya kita berkeliling di sekitaran kompleks. Bosan? Sungguh rasa itu tidak kutemui saat aku bersama nya. Bahkan jarum jam berputar seakan lebih cepat dari biasanya.
Ia menghentikan motornya di bawah pepohonan, pohon itu cukup rindang hingga membuat ku merinding saat melihatnya. Mengerti akan aku yang ketakutan, dia menggenggam tangan ku dan meyakinkan ku bahwa tidak ada apa-apa disana.
" Sayang, ada aku disini, lalu kenapa kau harus takut? " Aku hanya tersenyum menanggapi nya, kemudian kembali berjalan mengikuti langkah nya.
Aku sempat berpikir yang tidak-tidak tentang nya, bagaimana bisa dia membawa ku ketempat semak-semak seperti ini. Tapi diluar dugaan, dia sudah menyiapkan semuanya. Aku menatap takjub pada hamparan pantai yang tak jauh dari tempatku berdiri. Disana bahkan sudah tergelar sebuah karpet kecil, makanan dan juga minuman.
Dia menarik tangan ku, dan membawa ku duduk di atas karpet yang sudah ia siapkan.
" Apa kamu suka dengan suprise nya? " Aku mengangguk cepat, kemudian berhambur memeluknya.
" Aku bahkan sempat berpikir buruk tentangmu, bagaimana bisa kau mengajakku ke semak-semak seperti tadi. Tapi ternyata kau menyiapkan ini semua untuk ku " Dia hanya tertawa kecil dan mengacak gemas rambut ku.
" Sayang, aku hanya ingin menghabiskan seluruh hidup ku hanya bersamamu " Dia menatap ku intens, kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah ku. Sapuan nafas nya sudah terasa dikulitku, bahkan benda kenyal itu sudah menyentuh bibirku. Aku mulai memejamkan mata ku, membiarkan apa yang saat ini dia lakukan.
Aku pun terhanyut dalam ciuman yang ia berikan, jika saja masih bisa bernafas maka aku akan tetap membiarkan ciuman itu berlangsung. Dia menyandarkan kepala ku dipundaknya, sedangkan tangannya terus saja menggenggam tangan ku, sesekali mengecupnya.
Sunset dipantai itu seolah menjadi saksi bisu cinta ku dan dirinya. Karna hari menjelang senja, dia pun segera mengajakku pulang.
Satu minggu setelah kejadian itu, dia tidak pernah lagi menemuiku, atau hanya menanyakan kabarku. Aku hanya berpikir dia sibuk dengan pekerjaan nya hingga tidak sempat menemui ku atau pun mengabari ku. Namun kenyataan pahit harus aku terima, aku bertemu dengan nya disebuah mall. Dia bahkan tertawa renyah bersama seorang wanita yang terlihat begitu manja padanya.
Dengan penuh keyakinan, aku pun menghampiri mereka berdua yang tengah duduk tak jauh dari tempatku berdiri.
" Maaf jika aku mengganggu kalian " Ia pun menoleh ke arah ku dengan tatapan yang sulit diartikan.
" Bisa aku bicara dengan Azriel? " Wanita itu mengangguk dan tersenyum simpul.
Aku menghela nafas dengan berat, menahan gejolak amarah yang sudah menguasai diriku. Namun sebisa mungkin harus ku tahan, karna saat ini aku berada di tempat umum.
" Azriel, gue gak pernah maksa lo buat selalu ada dan stay sama gue. Tapi lo bisakan jujur ke gue kalau lo gak ada rasa apa-apa lagi? " Dia menatapku datar, tidak ada rasa bersalah yang ia perlihatkan.
" Iya lo benar, perasaan gue ke lo itu semakin hari semakin terkikis dengan hadir Nancy di hidup gue. Maaf jika ini buat lo sakit, tapi perasaan memang gak bisa dipaksakan. Gue harap lo ngerti dan nemuin orang yang bisa mencintai lo lebih dari gue " Aku mengangguk dan tersenyum getir, begitu mudahnya ia mengatakan semuanya tanpa mempedulikan sedikit pun perasaan ku.
Dengan hati yang remuk redam, aku memutuskan untuk pulang. Setibanya di rumah, aku segera menuju kamar ku. Disanalah aku menumpahkan segalanya, aku kembali menangis saat dia tertawa renyah bersama orang lain. Dadaku berdenyut nyeri saat mengingat kebersamaan kami yang terus berputar-putar di kepala ku.
" Azriel... hiks...hiks " Aku menekuk kedua kakiku, memeluk lutut ku, dan menyembunyikan wajah ku disana. Kini aku kembali di hancurkan lagi dengan orang yang dulunya menawarkan sejuta bahagia, namun pada akhir nya tetap berakhir luka.
" Rasa cinta yang selalu kau agungkan dan rasa sayang yang selalu kau bangga-banggakan, haha itu semua hanya omong kosong!! Kau tidak jauh berbeda dengan orang yang ada di masalalu ku. Kau yang membuat ku percaya bahwa cinta itu tidak selalu berakhir sama, tapi kenyataannya? Kau sama saja menggoreskan luka, bahkan teramat dalam dari orang yang pernah hadir di masalalu ku " Aku tersenyum getir, menahan rasa sakit yang terus menghantam dadaku.
" Sania aku mencintaimu "
" Sania, aku sangat menyayangi mu "
" Aku tidak akan pernah meninggalkan mu "
" Kau adalah hidupku, lalu bagaimana bisa aku meninggalkan mu? "
Semua kata yang pernah ia ucapkan seolah kembali terngiang-ngiang ditelinga ku. Aku menutup rapat kedua telingaku berharap agar aku tidak lagi mendengar suaranya. Rasanya sungguh sakit jika harus kembali mendengar ucapannya yang tidak sesuai dengan kenyataan.
Aku berjalan menuju lemari, mencari sebuah buku yang sudah lama tidak aku sentuh. Setelah mendapatkan apa yang kucari, aku mulai menulis bait demi bait kata yang aku rangkai dengan iringan tangis.
Tentang dia
Orang yang aku pikir berbeda dari orang yang pernah hadir di masalalu ku. Namun ternyata kau sama saja, kau bahkan pergi hanya sebuah rasa bosan. Tidakkah kau berpikir bagaimana perasaan ku? Tidakkah kau ingat pada janji-janji mu? Semudah itu kau berpaling dan melupakan apa yang sudah kita bangun dan perjuangkan selama ini.
Entah apa yang kau cari dari jiwa yang pernah hancur oleh masalalu nya, bahkan untuk berjalan pun teramat sulit dan tertatih-tatih.
Bahagia yang dulu kau tawarkan kini sudah berubah menjadi luka. Tawa hangat yang kau ajarkan, kini berubah menjadi tangis sendu. Disaat aku sudah mempercayai mu dengan sangat, kau justru menghancurkan nya tanpa bersisa. Lantas harus bagaimana lagi aku menyembuhkan luka ini? Kau hanya tahu perasaan mu yang memudar kemudian memutuskan pergi. Apa kau tidak melihat bahwa si pincang ini baru saja sembuh dari luka masalalu nya? Lalu kenapa kau harus mengulang nya?
Setidaknya dengan perginya kau, aku mengerti satu hal. Tidak ada janji yang bisa dipercaya, tidak ada cinta yang bisa menjamin bahagia. Aku kembali memahami arti kehidupan, bersikap biasa-biasa saja dan sesuai takaran mungkin itu adalah solusinya.
Selamat atas dirimu yang kembali berhasil membawa ku ke sebuah jurang yang curam dan dalam. Kemudian pergi tanpa menoleh ke belakang. Hahaha... aku harap kau selalu bahagia tanpa harus membayar karma yang sudah kau lakukan padaku.
Aku menutup buku ku, menghapus air mata ku yang terus mengalir deras membasahi pipi. Aku harap malam ini adalah malam terakhir aku menangisi nya. Semoga saja besok ada kebahagiaan yang menanti ku, dan seiring berjalannya waktu aku harap aku bisa menerima serta ikhlas akan pergi nya.
Aku membaringkan tubuhku, menarik selimut hingga hanya menampakkan kepalaku. Tangis ku terus saja luruh memani malam ku, mungkin karna aku lelah hingga akhir nya aku tertidur.
THE END
Note : Cintai apa yang harus kamu cintai, tapi ingatlah!! Sebuah cinta tak selalu berakhir manis. Tapi itu juga bukan berarti cinta selalu berakhir pahit. Ikhlaskan apa yang sudah pergi darimu, belajar lah lebih dewasa lagi. Sambut yang datang tanpa harus terburu-buru menggunakan perasaan.
•••
Jangan lupa berikan like kalian wkwk. Btw aku ikut lomba nulis cerpen, aku gak berharap bahwa aku bakal menang. Aku cuma berharap kalian mau membaca dan memberikan like dikarya ku, bagi ku itu sudah lebih dari cukup. Love you all and jangan lupa bahagia 😘💖