Kicauan burung mulai berbunyi menyambut pagi, mentari mulai tampakan diri dengan malu - malu di sela bukit yang berkabut. Seolah merasa kali ini enggan untuk menghangatkan dedaunan yang tertimpa hujan semalam.
Jalanan masih tampak becek di tepian jalan yang sedikit berlubang, sedikit yang berlalu untuk mengais rijki di pagi yang sedikit mendung.
Dengan semangat pagi, kau keluar dari rumah menuju tempat yang kemarin kamu janjikan dengam seseorang tuk bersua.
"Ayo semangat Mel," gumammu disertai sedikit senyuman.
Dalam benakmu mungkin kau membayangkan suatu hal yang indah, hingga pagi ini saat kau melangkah terlihat sumringah.
"Mau kemana kamu Mel, tumben mau pergi sepagi ini?" Kata Mamamu bertanya.
"Amel ada janji dengan teman Ma," jawabmu sambil menghampiri sang Mama yang sedang menyiapkan sarapan pagi di meja makan.
"Temen apa temen? Atau jangan - jangan emang temen?" Tanya mamamu sambil tersenyum.
"Ih… Mama…, beneran temen koq," jawabmu dengan sedikit rona merah menghiasi wajah tirusmu.
"Ya udah mama percaya koq itu temanmu," jawab mamamu sambil terkikik.
"Gak percayaan amat sih Ma sama anak sendiri," katamu sedikit bersungut.
"Aneh aja sih Mel, seorang bidadari mama yg seorang introvert, yang lebih memilih diam dikamar daripada diajak jalan, koq bisa tiba-tiba bangun pagi hanya untuk bertemu seseorang," panjang kali lebar mamamu berkata tanpa jeda.
"Udah ah Ma, Amel mau sarapan," katamu lalu mengambil sesedok nasi goreng dengan telor mata sapi setengah matang sebagai lauknya.
Mamamu pun menghentikan introgasinya di pagi itu, walau sedikit terbersit rasa heran dalam hati. Ia pun berlalu kembali menuju dapur.
Segera setelah usai sarapan, kamu bergegas merapihkan kembali meja makan, piring bekas makanmu kemudian dibawa ke dapur dan di taruh di tempat pencucian piring.
Lalu menghampiri sang mama yg asik mencuci sayuran untuk dimasak siang hari.
"Ma, Amel berangkat dulu ya, assalamu alaikum," katamu
"Wa alaikumus salaam, hati - hati dijalan ya Mel," jawab mamamu yang hanya sekilas melirik keeradaanmu.
"Iya, tenang aja Ma, Amel hati - hati koq, lagian kan deket," katamu lagi.
Kamu pun berjalan keluar dari rumah, dengan mengenakan celana jeans serta baju casual yang jauh dari ketat namun tampak elegant saat orang memandang, rambut hitam legammu sengaja kau urai, sedikit terlihat riak gelombang saat kau menjejakan tapak kaki di trotoar jalanan.
Dengan perasaan sumringah, kau telusuri jalanan menuju taman di sudut kota, yang tak jauh dari tempat kamu tinggal.
Tak nampak ramai lalu lalang kendraan yang melintas, entah karena hujan semalam yang membuat basah jalanan, atau bahkan mereka enggan keluar karena masih terasa dingin karena cuaca pegunungan.
Dengan sedikit bersenandung, kamu berjalan perlahan, sesekali melihat chat dari pesan Whatsapp yang sesekali berdering, menandakan ada pesan masuk dari seseorang.
Kamu kemudian berbelok ke kanan, menuju sebuah taman kota yang seminggu kemarin kamu janjikan untuk bersua, terlihat pintu masuk taman yang berhias pohon mawar merah dan biru tertata rapi dalam jambangan.
"Akhirnya sedikit lagi sampai," katamu lirih, sambil terus melangkahkan kaki menuju tempat yang dijanjikan untuk bertemu.
Disudut kiri taman kota, tampak berdiri pohon beringin tua, yang masih kokoh menjulang, daun rindangnya memberi keteduhan bagi mereka yang berada dibawahnya. Dibawah pohon itu tampak kursi yang terbuat dari besi bercat warna hijau muda, sepanjang dua meter, disediakan pengelola taman bagi mereka yang ingin sejenak singgah.
Kamu berdiri di depan pohon itu, sambil memandang sudut pohon, tampak sedikit garis coretan yang mengukir dua nama masih membekas dari masa lalu, yang mulai pudar tertutup kulit tebal sang pohon.
Senyum tampak terukir disudut bibirmu, perlahan tanganmu mengusap ukiran tersebut, sambil bergumam lirih,
"Sepuluh tahun sudah berlalu, kurasa penantian kita tak sia - sia selama ini," ujarmu pelan yang cukup terdengar oleh telingamu sendiri.
"Permisi…."
Tiba - tiba terdengar suara seorang lelaki mengagetkan dirimu, segera mungkin kamu menengok ke arah suara itu berasal.
Tampak sesosok lelaki berdiri tegap, dengan tampilan elegant mengenakan t-shirt warna hitam dibalut jaket warna biru, rambut yang tertata rapi, menambah pesona yang dipancarkan.
"Iya…" jawabmu sedikit gugup, sambil terus memandang wajah si penanya, seolah menelisik apakah benar wajah itu yang selalu membuat hari - harimu selalu terusik.
"Maaf, kamu Amelya kan?" Tanya si pemuda kepadamu untuk menegaskan.
"Iya, aku Amelya, kamu Ferdy kan?" Kamu menjawab sambil bertanya balik padanya.
"Iya Mel, aku benar Ferdy," jawab pemuda itu sumringah.
"Akhirnya kita bertemu lagi ya Fer, setelah kita sepuluj tahun terpisah," katamu sambil terus menatap sosok pria di depannya.
"Kita duduk yu Mel, gak baik kita ngobrol sambil berdiri begini," kata Ferdy untuk mengajakmu duduk dibangku bercat hijau muda tersebut.
"Maaf harusnya yang ngomong begitu aku lho Fer, secara kan yang pertama datang itu aku, hehehehe,' jawabmu sambil terkekeh ringan.
Kamu dan Ferdy pun segera duduk di bangku yang ada didepanmu tersebut.
Sejenak kamu terdiam, tuk menenangkan hatimu yang kian berkecamuk, pergulatan rasa rindu dengan kegembiraan bertemu.
"Gimna kabarmu Mel?" Tanya Ferdy sambil memandang raut wajahmu yang nampak tetsipu.
"Kabarku sangat baik Fer, seperti yang kau lihat sekarang," jawabmu disertai senyuman ringan.
Tak lama berselang, kamu dan ferdy semakin asyik mengobrol, tentang masa kecil, sekolah, bahkan selama sepuluh tahun mereka berpisah, tak lupa untuk diceritakan, serta diselingi kekehan ringan Ferdy dan tawa lepasmu.
Kamu seperti terjerambab dalam lorong waktu, kembali menceritakan keadaan sepuluh tahun terakhir saat kamu terpisahkan dengan seseorg yang kamu anggap berarti.
"Oh iya Mel, ada sesuatu yang ingin ku kasih ke kamu, sebagai orang paling special di hidupku" ujar Ferdy di sela obrolan ringan tersebut.
"Apa itu Fer?" Tanyamu dengan sedikit penasaran dan dag dig dug jantungmu gak karuan.
"Sebentar, gak sabaran amat sih Mel, sepertinya sifatmu yang itu tak pernah berubah dari dulu ya," kata Ferdy sambil sedikit membuka jaket birunya, tangannya di masukan ke saku dalam jaketnya, tak lama kemudian tanganya menggenggam seecarik kertas.
"Apa ini Fer?" Sedikit kaget kamu menerima secarik kertas tebal bersulam emas yang Ferdy sodorkan padamu.
"Itu undangan pernikahanku, kamu temen spesialku lho, jadi kamu yang pertama ku undang," jawab Ferdy lugas seraya tersenyum memandang wajahmu.
"Nikah…? Teman…?" Kamu bergumam pelan seraya tangan bergetar pelan memegang surat undangan pernikahan.
"Iya kamu adalah teman terbaikku Mel, dan kamu layak tahu yang pertama kali soal pernikahanku dengan Lia," kata Ferdy seraya menyentuh tanganmu pelan.
Pandanganmu mulai mengabut, nanar tampak samar yang terlihat, menggelayut setitik air di sudut mata beningmu.
"Kamu kenapa Mel? Kamu menangis?" Tanya Ferdy yang sedikit syok melihat perubahan di raut wajahmu.
"A-aku gak papa koq Fer, aku bahagia mendengar berita pernikahanmu, dan … dan pasti aku akan datang ke pesta sakralmu itu" Jawabmu sambil tersenyum palsu di depan Ferdy.
"Kirain ada paan, aku kaget melihat perubahan wajahmu," kata Ferdy sedikit tenang, "Oh iya, karena sudah siang, aku pamit pulang dulu ya, ada janji feeting baju dengan Lia siang ini," lanjutnya. Ferdy pun beranjak bangkit seraya pamit kepadamu.
"O-oh i-iya Fer, hati - hati dijalan ya, titip salam buat calon istrimu," ujarmu pelan seraya menahan tangisan yang semakin lama makin tak tetbendung untuk tumpah.
"Iya, nanti aku sampaikan padanya, sampai jumpa lagi Mel," Ferdy pun beranjak pergi setelah sedikit melambaikan tangannya padamu.
Kamu hanya mampu mengangguk pelan, tak mampu berkata apa - apa lagi, seraya menatap sosok yang perlahan makin jauh berjalan meninggalkanmu, hingga hilang di belokan pintu keluar dari taman kota.
"Hiks… hiks… hiks…"
Dengan tak terbendung lagi, suara tangisan lirih mulai terdengar dari mulutmu, menggambarkan hati yang sudah ringkih menahan gejolak rasa yang membuncahkan kekecewaan pada sebuah harapan yang sia - sia.
"Bodoh kamu Mel, sangat - sangat bodoh, membuang waktu dengan sepuluh tahun menunggu dia datang untuk memberikan sebuah undangan pernikahan," runtukmu dengan pelan. Kau tangkupkan dua tanganmu ke muka, untuk menutupi wajah yang penuh kekecewaan terhadap yang diharapkan.
Terpekur menatap ujung kaki, badanmu sedikit terguncang melampiaskan sejuta kekecewaan.
Langit tiba - tiba menurunkan sisa - sisa hujan semalam, gerimis kembali membasahi bumi, seolah turut berduka akan nasib cintamu, yang tak tergapai bahkan belum terucapkan.
Genangan gerimis mengalir bersama tetesan air mata kekecewaan, membaur jadi satu menuju selokan rasa yang terabaikan.
Kamu dengan rasa enggan, mulai beranjak tuk pulang, tak peduli dengan baju yang kau kenakan basah, mengaburkan tetesan air mata yang menimpa. Perlahan kamu berjalan dengam rasa penyesalan, sesali diri yang telah berjudi dengan menunggu hal yang tak pasti.
Ya, sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar, selama itu pula kau memupuk sebuah bunga rasa dalam jambangan emas tertutup kaca, namun saat bunga waktu itu tiba, bunga itu mati sebelum dipetik, dengan kaca dan jambangan emas retak tanpa tahu siapa yang merusak.