"Isna, ini ada jamur. Tolong sayur ya, buat buka puasa nanti." ujar Nek Rebo. Ibu dari suaminya. Nek Rebo mendapatkan jamur dari kebun belakang.
"Loh. Ini 'kan jamur racun Mak. Dapat dari mana? Dibuang aja, ya. Kita sayur pakis aja," Isna menyahut. Dilihatnya jamur yang ada di baskom. Kemudian dibuang. Tanpa sepengetahuan Nek Rebo.
Tidak semua jamur bisa disayur. Isna hapal betul jenis-jenis jamurnya. Maklum Isna suka blusukan. Apalagi Kalimantan banyak perkebunan kelapa sawit. Jangkos bekas buah kelapa sawit kalau sudah mati akan ditumbuhi jamur.
_________
Jarum jam menunjukkan pukul empat sore. Semua menu buka puasa sudah tersedia. Sayang nya minyak kompor Isna habis dan mengharuskan ke warung untuk membeli.
Jarak warung dari rumah sekitar satu kilo. Ditempuh dengan berjalan kaki. Tak punya kendaraan sendiri. Ya, harus jalan kaki.
Isna memiliki bayi berumur empat bulan. Satu anak perempuan yang sedang sekolah di luar kota, dua laki-laki.
Karena jarak warung agak jauh, pulang ke rumah sudah azan magrib dan berbuka puasa.
Denting sendok dan piring bersahutan di dapur. Nek Rebo, Kakek Da'an, suami dan anak kedua sedang berbuka puasa.
"Astaghfirullah Mak! Ini sayur apa?" tanya Isna terkejut. Setau Isna jamur sudah dibuang. Tapi yang Ia lihat sudah di dalam wajan.
"Jamur lah Is. Kamu mubazir amat jadi orang. Capek-capek nyari, taunya dibuang. Ya, aku ambil lagi. Sayang-sayang dibuang". Nek Rebo merepet kesal.
"Ini beracun Mak! Bukan jamur biasa yang bisa disayur!" Isna marah. Apalagi empat orang yang sudah memakan sayur jamur nya.
Isna tak jadi makan. Ragu mau menyendok nasi ke mulutnya, dibuang nya nasi sepiring dan sayurnya.
_______
Semuanya sholat magrib berjamaah di masjid kecuali Isna dan bayinya.
Tidak ada tanda-tanda keracunan. Waktu berjalan hingga sholat isya. Malam ini terakhir bulan Ramadhan.
Tiba-tiba suami, Kakek Da'an, dan Anak Isna tumbang. Mulutnya mengeluarkan buih, badan menggigil, matanya melotot putih terbalik.
Seisi masjid panik dan berhambur. Ada yang meneruskan sholat ada yang membatalkan sholat. Menolong yang sedang menggelepar.
Inisiatif warga ketiganya di bawa ke rumah sakit menggunakan mobil PJR (polisi jalan raya).
Jarak ke rumah sakit memerlukan waktu satu jam lamanya.
Selaju apapun mobil, naas nyawa Kakek Da'an tak tertolong. Kakek Da'anmenghembuskan nafas terakhirnya di perjalanan, menuju rumah sakit.
Suami dan anak Isna dirawat intensif. Sementara itu, selang setengah jam Nek Rebo mengalami hal serupa. Seluruh tubuhnya dingin, mengeluarkan buih tak hentinya.
Nek Rebo menolak untuk dibawa ke rumah sakit. Ia meminta di rumah saja. Ajal menjemput sudah dekat ujarnya.
"Astaghfirullah... Isna, maafkan mamak ya. Nggak dengar apa yang kamu bilang. Jamurnya beracun. Sakit semua Is. Is kalau pada pulang nanti, bilang ya. Mamak minta maaf. Mamak nggak sengaja nyayur jamurnya. Maafin mamak ya. Kamu jaga anak-anak kamu. Mamak mewakili Orangtua suamimu meminta maaf, dan banyak-banyak sabar ya. Belum bisa bahagiakan anak dan kamu. Is, maaf yaa.. astaghfirullah... Laa ila ha illallah. Astaghfirullah.. astaghfirullah! Asyahadu ala ilaa ha illallah, wasyahadu Anna Muhammaddar Rasulullah..." ucapan terakhir Nek Rebo. Menghembuskan nafas. Seraya memegang jari jemari Isna.
Isna kemudian mengusap wajah Nek Rebo.
"Astaghfirullah...! Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un.. Mak, maafkan Isna Mak! nggak buang jamurnya jauh-jauh. Mak bangun! Mak..!" Isna meraung dan meratapi kepergian Nek Rebo. Memeluk tubuhnya yang dingin.
"Allahuakbar...! Allahuakbar ! Laa ila ha illallah Wallahu Akbar. Allahuakbar walilla Ilham." Takbir berkumandang di seluruh penjuru desa.
__________
Sirene ambulans terdengar di luar rumah. Jenazah kakek Da'an tiba.
Isna semakin rapuh dan histeris. Bagaimana tidak, kedua mertuanya telah tiada untuk selama-lamanya. Hancur hati Isna berkeping-keping.
Malam ini pelayat berbondong-bondong mengunjungi rumah Isna. Yang sedang berkabung.
Isna, ambruk tak kuasa menahan kepedihan. Akan tetapi Ia harus tegar. Sebab ada bayi yang harus disusui pula.
Bahu membahu warga dan tetangga bergotong royong. Sebagian orang takbiran di masjid. Sebagian lagi mengurus keperluan mandi dan makam untuk esok pagi. Dua liang lahat sekaligus yang akan diurus.
________
Pagi pukul lima, jenazah telah selesai dishalatkan dan di makamkan secara berdampingan.
Suami Isna dan anak laki-lakinya sudah kembali. Dalam keadaan masih lemah. Terpukul lah hati suaminya. Mengetahui bahwa kedua Orangtua terkasih telah pergi meninggalkan selama-lamanya.
Tamat