Kiara's life journey, itu sedikit membosankan menurutku. Ini adalah salah satu novel yang kuangkat menjadi buku. Yah, itu adalah kisah-kisah ku.
••••
Dimulai dari hari yang membosankan, hingga hari terasik dan kejadian yang tak pernah aku inginkan pun terjadi...
Mamahku sudah tiada, dan aku hanya tinggal bertiga dengan ayah serta kakakku. Namun anggota baru pun datang.
Dia adalah keluarga pamanku, awalnya sangat baik sekali. Namun seiring berjalannya waktu, ada niat terselubung dari dirinya.
Aku tau, itu semua hanyalah topeng. Di depan memuji, di belakang membenci. Aku tak suka pada mereka, namun rasa itu selalu ku sembunyikan.
Hingga disaat itupun aku sudah muak dengan mereka.
'Tok..tok..tok...'
“Masuk aja,” sebuah suara di balik pintu menyautku.
'Ceklekk....kriettt...'
“Kak...!!” panggilku.
“Hmmm....,” jawabnya.
“Ishhh, kakaaaakk....” rengek ku manja, “jawab apa kak, kan dedek lagi manggil.”
“Ckk..., apa sih dek. Jangan bikin kakak pusing lah,” mencubit pipiku gemas.
“Isshh, kakakkkk!!!” bibirku ku manyunkan, “sakit tau kakkkk,” candaku kepadanya.
“Kenapa??” tanyanya lembut.
“Kak, aku mau ngomong serius.”
“Hmmm??” memicingkan sebelah alisnya.
“Itu om Ardi sama tante Dina kayaknya punya niat jahat deh kak sama keluarga kecil kita.”
“Tahu dari?? bukti??” tanyanya.
“Sebenarnya udah satu bulan yang lalu aku tahunya. Aku punya buktinya kak, ini,” ucapku menyerahkan pulpen perekam.
Dia, kak Rian mendengarkan semuanya dengan seksama. Matanya terbelalak mendengar percakapan itu. Tangannya terkepal sangat kuat meremas kertas yang digenggam.
“Berengsek,” umpatnya.
“Kita ngga boleh geegabah kak, kita haru usir mereka dari sini secara halus.”
“Ya, kamu benar dek.”
2 bualan telah berlalu
Kini aku tengah menyusun strategi untuk mengusir mereka. Aku mendengar mereka ingin membunuh ayah untuk memudahkan jalan. Namun...
'Brakk...'
“Sial,” gumamku.
Dari arah dalam, mereka dengan cepat menuju pintu depan kamar. Cepet-cepet aku berlari, namun langkah mereka lebih cepat dariku.
“Ehhh, Kiara!! kamu sedang apa nak??” tanya tante Dina tersenyum dengan muka palsunya.
“Aduhh..., gimana nih??” pikirku, “ini tan, tadi aku lewat sini buru-buru mau ke sekolah,” ucapku sambil tersenyum.
“Ouhh, iya.”
“Jangan lupa yang rajin ya belajarnya, itu Tiara juga di ajak sekalian sama kamu berangkatnya. Biar bareng,” ucap Paman.
“Siap, om. Ya sudah, Kiara berangkat dulu ya. Babay,” ucapku berpamitan sambil mengalami mereka.
Aku bergegas meninggalkan mereka, namun aku masih ingin mendengar apa yang ingin mereka ucapkan lagi.
“Mah, kayaknya dia udah dengar percakapan kita.”
“Iya, seperti begitu. Kita harus menyingkirkan dia terlebih dahulu atau kita bunuh saja sekalian.”
'Degg...'
Sekejam itu mereka kepada keluargaku?? bahkan karena harta sampai ingin menghabisi nyawa seseorang.
🎉🎉
Malam ini adalah acara party teman sekolahku, dan besok adalah hari kelulusan.
• Hotel Marina
“Hai, selamat ya. Ini hadiah buat kamu,” ucapku menyalami Lisa yang berulang tahun.
“Thanks, ya.”
Dari kejauhan, dia Tiara memperhatikanku. Ia meminum segelas Vodka sambil berbincang dengan teman-teman lainnya.
Aku tak mengerti, tiba-tiba ia mendekatiku dengan segelas Vodka di kedua tangannya. Lalu...
“Untukmu,” menyerahkan kepadaku.
“Aku alergi sama minuman keras, maaf ya.”
“Ouhh, ya sudah. Bagaimana kalau kau minum jus mangga ini??”
“Baiklah," jawabku dan langsung berpura-pura meminumnya.
“Aduhhh, rasanya sedikit asam ternyata. Mau coba??” lanjutku.
“Asam??” tanyanya mengernyitkan dahi.
“Iya, asam memang. Tapi ini sangat bagus untuk kulit dan dapat memutihkan serta membuat tubuh lebih ideal,” ucapku, “sepertinya tubuhmu kurang idela, dan putih sepertiku tentunya,” ucapku tersenyum penuh arti.
“Iya kah??”
“Tentu benar, cobalah. Nanti pasti Sadewa akan menyukaimu,” ucapku memanasi.
Ia mengambil minuman di tanganku dengan kasar dan langsung diteguknya hingga kandas.
“Enak bukan??” tanyaku sambil tersenyum.
“Sial aku lupa jika minuman itu sudah kumasukkan obat,” batinnya.
“Wahh, sepertinya kamu sangat mabuk. Ahhh, biar kuantar kamu ke kamar.”
Party sangatlah berbahaya, banyak permainan berbahaya yang aku sudah mengerti sedari dulu. Termasuk ini...
Sebulan telah berlalu. Kini mereka sangat dendam kepadaku, sebab akulah yang membuat Tiara hamil. Bukan karena ku, tapi karena permainannya, aku hanya mengikuti alurnya saja.
“Tenang, kakak sudah tau bagaimana cara menyingkirkan mereka. Semua sudah kakak siapkan matang-matang,” senyumnya smirk.
“Kak, kalau suatu saat terjadi apa-apa akibat mereka. Tolong Kaka pertahankan semua rencana kita,” ucapku.
“Maksudmu??”
“Entah, aku punya filing buruk yang akan terjadi.”
Tengah malam pun tiba, saat itu juga Tiara menyisipkan sebuah benda pipih bergaris dua itu di dalam bilik lemariku, di saat aku tengah terlelap dalam mimpi.
Pagi hari tiba, kini aku berada di meja makan berkumpul bersama mereka semua. Seperti biasa, kak Rian yang selalu ramah hanya padaku dan ayah. Tidak untuk selain kami, dengan sikap dinginnya.
“Eumhhh, Kiara!!” panggil Tiara.
“Ya??”
“Aku boleh minjam baju kamu kah??”
“Boleh kok. Kamu mau pinjam yang mana??” tanyaku tanpa menaruh rasa curiga.
“Boleh pilih??”
“Pilih aja', lagian aku juga nggak tau mana yanh kamu suka.”
Tiara membuka lemari bajuku, mengobrak abrik mencari baju yang ia inginkan. Namun ia menjatuhkan benda itu.
“Ehhh?? ini kan??” matanya memandangku.
“KIARAAAA!!!!!!! LO HAMILLL????” teriaknya kencang.
Aku terperanjat dari posisi dudukku. Mereka semua menghampiri kamarku akibat teriakan keras dari sang empunya.
“Ada apa sih??” tanya Ayah.
“Ini loh paman, si Kiara hamil,” ucapnya memfitnahku.
“Benar kamu Kiara?? Ayah kecewa sama kamu. Gagal sudah Ayah mendidik mu.”
“Sial, aku di jebak,” umpatku.
“Usir saja kak dari rumah ini, dari pada memalu-malukan keluarga kita,” ucap om Ardi.
“Cihhh..., munafik sekali mereka,“ umpatku.
“Kiara, kamu pergi dari rumah ini!!!!” teriak ayah keras.
“Tapi, yah??”
“K-E-L-U-A-R!!!!!!!“ ucapnya berteriak keras penuh penekanan.
“Iya, aku bakal pergi dari sini. Ingat, buat lo bertiga suatu saat akan habis di tangan gue,” ucapku dengan emosi yang sudah memburu menunjuk mereka.
Aku menatap kak Rian dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Lalu aku tersenyum, dan menggeleng pelan melihatnya. Membereskan barang-barangku dan membawa perbekalan sedikit.
Tak apa, bagiku bila aku keluar dengan tidak terhormat. Tapi suatu hari nanti semua itu akan tergantikan dengan matahari yang bersinar lebih cerah dari terangnya bulan.
Pergi meninggalkan mereka dan merantau kekota lain. Bila dikatakan rindu?? pastilah rindu. Rindu yang amat berat dan besar.
3 tahun berlangsung begitu cepat.
Hingga suatu hari aku tak akan pernah bisa lagi menemui sang ayah. Dia sudah pergi menemui mamahku, pergi pada pangkuan sang pencipta.
“Tuhan, terima kasih sudah memberikan kakak yang baik serta kedua orang tua yang menyayangiku dulu,” doaku disela tangis ku.
Kadang kala aku masih tak percaya dengan semua ini, namun aku masih mencoba untuk mengikhlaskan mereka berdua.
The and
Huffffff, gimana nih ceritanya?? garing ya pastinya?? aku nggak pernah tau kalian suka atau enggak sama ceritaku. Yang pasti, aku cuman mau hibur kalian, juga hibur diriku sendiri :(
Semoga suka deh, sepertinya banyak typo mungkin.. :)
Lagi galau, merana....