Tinggal bersama berbeda kamar. Cia, dan aku mengandalkan rasa saling percaya bahwa kami akan membangun hubungan sehat.
Semua bermula tiga bulan lalu, ketika satu-satunya orang tua perempuan malang itu tiada dalam kecelakaan bus, tanpa meninggalkan satupun harta yang dapat di wariskan pada putri angkatnya.
Cia, dia adalah sahabat terbaik ku. Teman masa kecil, sekaligus sosok pendamping yang senantiasa menjagaku 12 tahun lalu.
Di Panti Asuhan Distrik 3.
Ketika seorang anak laki-laki dipungut dari kehidupan gelap kolong jembatan. Hanya Cia lah satu-satunya anggota panti yang berani menyapaku.
Aku sendiri masih ingat kalau sambil tersenyum, gadis itu tidak ragu mengulur tangannya bahkan setelah tahu tubuhku diserang penyakit menular, saat itu.
Cia si pemberani. Itulah julukan yang ku beri.
Waktu pun berlalu.
Kemudian dengan ajaibnya membawa seorang wanita berhati malaikat yang mau mengadopsi, dan merawat ku dalam semua kemewahan yang ia miliki.
Sungguh aku sangat bersyukur...
Namun memperoleh kenyamanan, masa depan terjamin, juga warisan berlimpah. Aku terpaksa meninggalkan sahabat terbaik ku di balik pagar panti asuhan.
Untuk selanjutnya menjalani hidup dengan apa yang ku miliki, menikmatinya sendiri, menjadi lebih baik dari hari ke hari.
Entah mengapa.. Ada rasa bersalah dalam hatiku ku mengingat jika bukan karena uluran tangan Cia. Aku mungkin takkan menemui takdir yang begitu indah sekarang.
Sedangkan waktu tidak mengenal jeda.
Pada akhirnya, sembari menyimpan kekosongan akan sosok Cia yang tidak pernah tergantikan. Tak ku sangka kami berdua kembali dipertemukan.
"Cia !!"
Hanya saja dengan kondisi diluar duga. Aku terkejut mengetahui selama ini kehidupan Cia jauh dari kata mampu.
Seakan tenggelam dalam permainan roda dunia. Cia yang dahulu ku kenal sehangat mentari pagi, kini berubah tak mengenal rasa sakit.
Aku pun bertekad akan menjaga nya apapun yang terjadi.
Aku.
Cyan Chris.
**
Malam, pukul 22.56
Daerah Distrik 3, Apartemen Barat.
"Hnghhh!"
Meregangkan otot-otot yang terasa kaku, aku melepas kacamata, lalu bersandar di badan kursi, menatap sejumlah proposal yang di kirim sekertaris Hana.
Hah.. Tidak terasa.
Sudah hampir empat bulan sejak kepulangan ku ke Distrik 3. Namun bukan sebagai anak pengidap penyakit paru, aku datang dengan tubuh bugar, membawa nama baik CEO Christina sebagai putra semata wayangnya, Direktur Chris.
Saat itu rencanaku hanya dua, mencari keberadaan Cia, dan membangun kembali pusat wisata yang pernah dipimpin direktur Ash sebelum wafatnya. Beliau lah mendiang suami ibu angkat ku, Christina.
Tap tap
Spontan menoleh ketika langkah itu terdengar, ku tepati seorang perempuan ber-piyama Ungu mengintip dibalik pintu.
"Kau belum tidur?" Tanya nya bersuara lembut.
Aku menggeleng "Belum"
Lalu menunjukkan tangannya ternyata membawa dua cangkir teh, perempuan yang sudah sebulan terakhir tinggal bersamaku itu mendekat.
"Bolehkah?"
"Tentu.." Jawabku, tak lama ia meraih kursi didekat meja.
"Jadi.. Kenapa kau belum tidur, Cia?" Aku mengambil satu cangkir teh nya.
"Uhm. Sudah, tapi aku terbangun"
"Apa karena ku?"
Cia menatapku "Mungkin..."
Dan kejujurannya membuatku tertawa. "Maaf membuatmu terbangun.."
"Uhm tidak...Sebenarnya aku ingin membuat teh. Kau tidak perlu meminta maaf" Jawabnya, tiba-tiba meneguk di ujung cangkir.
"Eh?! Cia, itu kan!"
Glup!
"Hm?"
Astaga...
Bagaimana bisa ia menoleh begitu polosnya setelah menelan setengah cangkir teh panas?!
"Sini! Apa sih yang kau lakukan?! Teh ini sangat panas! Mulutmu bisa terbakar Cia!" Omelku dibalas kernyit nya.
"Eh?"
Alis ku bertaut "Ehh kata mu?? H, hei.. Jangan bilang kau baru saja.."
Cia mengangguk.
"Huh?!"
Lagi-lagi membenarkan anggapanku untuk kesekian. Perempuan berkulit langsat itu memasang wajah datar mengambil kembali cangkir tehnya yang sempat ku raih.
"Apa sangat panas?" Tanya Cia.
Lantas membulatkan mataku yang tak bosan terkejut melihat keanehan tubuhnya.
"Air ini mengeluarkan asap, kau lihat? Kau pasti mengambilnya dari dispenser, jadi bagaimana mungkin ini tidak panas?" Marah ku menghela nafas
"... Sudah kubilang kita harus memeriksa kondisi mu, kenapa kau terus menolak? Kau tau pergi ke dokter tidak se menyeramkan melihat apa yang kau lakukan?!" Lalu meletakkan lengan diatas meja.
Aku tahu disana Cia hanya terdiam menanggapinya.
Dalam bungkam menatapku dengan mata hitam pekatnya, ia pasti berusaha mencari alasan bagus untuk kembali menolak.
Hahh.. selalu sama.
Tidak peduli sebanyak apapun aku memaksa, Cia takkan menyetujui saranku memeriksa kondisi tubuhnya yang abnormal.
Inilah keanehan yang terus membuatku khawatir sejak kami tinggal bersama. Bahwa dia tidak merasakan sakit.
"Uhm.. Maaf membuatmu takut Chris. Aku akan kembali tidur"
"Huh?! Cia?"
"Selamat malam"
"Hei !"
Tidak berhenti bahkan saat ku panggil, bibirku mendadak kelu menatap punggung Cia yang tak bergeming berjalan keluar ruangan.
"Shut!"
Kenapa selalu?!
Punggung yang nampak menanggung banyak beban itu. Aku yakin sesuatu dia sembunyikan dariku !
"Sejauh ku mengenalmu, ini bukan seperti dirimu !" ujarku menatap ambang pintu.
**
Esoknya, pukul 08.02
Ruang tamu.
Memasukan beberapa berkas yang sudah ku pisahkan semalam. Aku berniat menyetujui proposal pembangunan wahana air didalam pusat wisata.
Kupikir itu akan menarik minat pengunjung sasaran keluarga. Terlebih musim panas hampir tiba, jadi selain bermain menyejukan diri, itu akan menjadi waktu yang pas melakukan grand opening dibawah terik matahari.
"Chris, kau ingin membawa bekal?" Tanya Cia hadir di belakangku. Ia mengenakan celemek pinguin.
"Kau sudah menyiapkan nya, bagaimana mungkin aku menolak"
"Uhm! Kalau begitu ku masukan, ya?"
Aku mengangguk "Terimakasih Cia" lalu tersenyum mengantar langkahnya kembali ke dapur. Aku memeriksa ulang adakah kekurangan berkas di dalam tas.
"Oh"
Dan benar rupanya.
"Cia, bisa tolong ambilkan flashdisk biru di atas meja kerja ? Itu berisi banyak proposal kiriman Hana"
"Eh??!" Cia terbelalak
"Ada apa Cia? "
"Uhh, tidak.. Sebentar ku ambil"
"Tolong ya"
Meski nampak ragu ketika tanganku meraih kotak bekalnya, Cia langsung melangkah ke ruangan berpintu perak dekat kamar tidur.
"Pfft.."
Kenapa dia? Lucu sekali berwajah tegang saat di minta bantuan. Batinku mulai tertawa
"Chris!" Lalu mendengar suaranya.
Kulihat, Cia datang menyerahkan flashdisk yang tadi ku minta.
Tapi...
"Cia, ini flashdisk merah. Aku meminta flashdisk berwarna biru diatas meja"
"E, eh?! Apa iya?"
Aku mengangguk.
"M, maaf Chris! Ada tiga flashdisk disana. Sepertinya aku salah"
"Eh? Tapi ketiganya memiliki warna berbed-"
"Sini! A, aku akan mengambil yang benar!"
"Huh? Cia?"
Berlari kembali ke ruangan kerja, aku tahu dari caranya bicara, juga dari sorot matanya yang enggan menjalin kontak.Cia sedang menyembunyikan sesuatu lagi dariku
"Chris! Apa yang ini benar?" Tanya Cia berdiri di ambang pintu.
"Ah.. Yeah" Aku pun mengangguk, dia lalu berjalan menghampiriku.
"Ini, flashdisk mu"
Benar sih.
"Terimakasih ya"
Dia memang mengambil flashdisk berwarna biru. Tapi dengan tanganya yang lain disembunyikan di belakang tubuh.
Aku mulai menebak apa yang sebenarnya Cia lakukan.
**
Dua hari kemudian.
Sore, pukul 18.48
Basement apartemen barat.
Brakk!
Ikut membawa keluar paper bag bergambar bunga mawar, aku berjalan menuju lobby apartemen untuk menaiki lift.
Tak lupa setelah mengunci mobil, wajah ku terus berseri membayangkan seperti apa terkejutnya Cia saat menerima hadiah ulangtahunnya, nanti.
"Hehe!"
Benar. Hari ini adalah tanggal 5 Januari, hari dimana Helena Cia di temukan didepan gerbang pintu asuhan Distrik 3, dengan terbalut lapisan kain hangat.
Hari yang sudah lama ku nanti.
"Pfft... Dulu kami juga sering merayakan ulang tahun. Tapi tidak dengan kue atau hadiah, kami hanya berkumpul di satu ruangan, mendengar ibu Tifanya bercerita hingga tengah malam"
Nostalgia ku mengingat pernah merasakan ikatan keluarga yang terjalin kala itu. Semakin spesial karena Cia bersamaku.
Karenanya lah kali ini, akan ku gunakan sebaik mungkin kesempatan untuk memperlihatkan pada Cia, bahwa aku sangat peduli padanya.
Sungguh aku ingin dia bahagia dalam hidupnya.
Juga menggapai semua mimpi nya.
Aku pun berjanji sampai saat itu terjadi, aku akan selalu bersamanya.
Tap tap
"Maaf membuatmu repot mencari tempat ini Vanya. Aku juga menyesal tidak bisa membawamu masuk kedalam tanpa seizin nya. Maaf..."
"Ck! Apa sih? Tak masalah kok! Cukup mengetahui hidupmu kini terjamin bersama pria itu. Aku senang !!"
Huh?!
Mendengar suara asing berbicara dengan Cia. Kaki ini spontan menahan langkah melewati tikungan koridor yang hampir membuatku nampak dihadapan mereka.
Siapa gadis itu? Batinku bertanya-tanya
"Jadi... Kau sudah memberitahu nya?"
Cia menggeleng lemah "Sejak awal Cyan tidak mengetahui apa-apa. Akan aneh jika aku memberitahunya tiba-tiba"
"Hahh, kau selalu lambat. Padahal kalian sudah tinggal bersama lebih dari sebulan. Apa yang membuatmu menahan diri dari kekasihmu sendiri, Cia?"
Deg!
K, ke, kekasih??!
Sempat merona mendengar namaku disebut sebagai kekasih Cia. Jantungku yang hampir melompat menghentikan niat, ketika melihat ekspresi Cia justru berubah murung menanggapi itu.
"Apa yang kau katakan... Tidak ada hubungan seperti itu diantara kami. Cyan hanya iba pada ku, dan saat itu aku tidak memiliki pilihan selain menerima niat baiknya. Kami bersahabat, Vanya. Hanya bersahabat" Jawab Cia
Entah mengapa membuat ku sedikit kecewa.
"Jangan begitu Cia... Dia sudah berbaik hati padamu, bukan? Salah jika kamu menyembunyikan hal terpenting darinya"
"Tapi Vanya-"
"Tidak Cia! Kau harus jujur padanya. Mungkin saja dia bisa membantumu mengatasi nya"
"Uhm..."
Puk
"Tenanglah, aku akan selalu mendukung mu! Kau hanya perlu berusaha.. Semua akan kembali seperti semula"
"Aku mengerti. Terimakasih Van..."
Memberi dekapan singkat setelah menepuk bahu Cia, Gadis yang mungkin berusia 18 tahun itu berjalan melewati ku.
Aku sendiri berpura-pura mengangkat telepon sebagai penyamaran.
Lalu menyusul Cia yang sudah memasuki pintu Apartemen. Ku tepati sosoknya tengah mengikat rambut dengan celemek terpasang di tubuh.
Ia terkejut melihat kepulangan ku.
"Kau sudah pulang?" Ujarnya menghampiri
"Tidak biasanya. Aku bahkan belum memasak makan malam. Ada apa Chris?"
Ahh.. Jadi aku Chris sekarang.
"Tidak. Coba ulurkan tanganmu"
"Eh?"
Berwajah bingung menuruti perintah ku, Cia mungkin tak tau betapa senangnya aku mendengar dia masih memanggilku dengan nama itu.
Cyan.
Lantas menyerahkan paper bag berisi dress dan sepatu baru. Aku mengembang senyum.
"Hari ini spesial. Terimalah" Ujarku enggan mengungkit siapa yang datang beberapa waktu lalu.
"K, kau.. Kau Ingat?" Cia kembali terkejut
"Tentu saja! Bagaimana aku bisa melupakan hari ulang tahun sahabatku sendiri! Sudah lama sejak terakhir aku merayakannya untukmu. Kau suka?"
Cia mengangguk cepat "Bagaimana aku bisa membalas mu?" Ujarnya.
Sekilas membuatku berpikir. 'Bisakah kau mengatakan rahasia yang kau bicarakan dengan gadis di lobby?' Tapi berusaha untuk menahan diri.
"Aku sudah memesan reservasi. Ayo makan malam di luar" Ajak ku pada akhirnya memilih bungkam.
Yeah. Ini hanya untuk sekarang
"Baiklah. Bisa kau menunggu ku bersiap?"
"Take your time"
".."
Karena aku sudah memutuskan akan mencari tahu nya esok
Bahkan jika bukan dari mulut Cia, aku sudah bertekad akan mengetahui segalanya.
**
Pag nyai, pukul 08. 20
Apartemen barat, pintu nomor 43
Disapa mentari lewat jendela apartemen. Hari libur yang ingin ku habiskan seharian di rumah, sepertinya harus tertunda, karena..
"Aku akan berangkat kerja Chris. Aku akan pulang sore nanti"
Menjeda membaca koran pagi, nafasku terhela "Dasar... Kau masih bersikeras tidak ingin di antar rupanya. Kalau begitu hati-hati"
"Uhm! Maaf Chris"
"Tak masalah. Have a nice day"
"Kau juga"
Cklek.
"..."
Akhirnya...
Mendengar suara pintu ditutup. Aku tahu inilah tombol start ku memulai misi membuntuti Cia hingga ke tempat kerja.
Kenapa harus?
Yea.. Meski sebenarnya aku tidak yakin dengan melakukan ini bisa mengetahui rahasia yang Cia sembunyikan.
Namun setelah tak sengaja mendengar perbincangan Cia ditelepon semalam, aku berfirasat bahwa Cia akan menemui seseorang di tempat kerjanya.
Entah siapa dia. Tapi mungkin orang itu adalah orang yang sama, yang Cia temui di lobby kemarin.
"Ayo cepat Cyan!" Ujarku.
Lantas terburu-buru memakai jaket, topi, serta kacamata. Aku berjalan keluar apartemen membuntuti Cia dari belakang, hingga dia menghentikan sebuah taksi dan menaikinya.
"Yosh!"
Baguslah Aku sudah menyiapkan motor di parkiran taman. Aku tahu Cia akan menaiki taksi untuk sampai ke tempat kerjanya, lalu dilanjut berjalan kaki memasuki gang sempit, ia akan sampai disebuah tempat bernama Vitya Bookstore.
Itu adalah sebuah toko buku yang menempatkan cafe di dalam areanya, dan Cia bekerja sebagai Waitress disana.
Setahuku, hari ini pun Cia terpaksa masuk menggantikan teman waiternya yang sakit.
"Oh!"
Jadi kembali pada misi ku.
Kulihat, Cia berhenti di depan gang Books Store menemui seorang gadis berhoodie merah. Mereka nampak akrab. Namun karena keduanya berdiri membelakangi ku, aku tidak bisa melihat dengan jelas wajah gadis berhoodie itu.
Hanya saja satu yang pasti.
Setelah meletakkan tangannya di bahu Cia, gadis itu membawanya pergi memasuki gang. Namun aneh karena tidak menginjakan kaki di tempat seharusnya, Cia dibawa ke dalam gang sempit itu lebih dalam.
Lebih jauh.. Dimana jalannya semakin mengecil, dan kumuh.
Drap drap!
Aku pun terburu-buru mengikuti mereka yang tiba-tiba berbelok di tikungan sempit, tapi tidak menemukan keduanya. Mataku terbelalak menepati bukan jalan, melainkan dinding sebuah bangunan tua yang tidak mungkin di lewati orang
"Buntu! Kemana dia membawa Cia pergi?!" Panik ku mencari apakah petunjuk lain sempat tertinggal sebelumnya.
Tapi Tidak!
Jelas-jelas aku melihat mereka berbelok di sini! Aku yakin dengan mata kepalaku sendiri! Tapi kenapa Cia...
"Ukh!" Memijat kening frustasi, satu hal yang memperburuk semuanya adalah Cia berbohong padaku.
"Apa yang terjadi...?!" Lirihku bersandar di dinding kumuh.
Rasanya muak dengan banyaknya teka-teki. Aku mulai berpikir mungkinkah aku yang payah? Maksudku setelah gagal membututi, kemungkinan mengetahui rahasia Cia juga ikut mengecil bukan?!
Lalu gadis berhoodie itu, dan kenapa mereka menghilang setelah melewati tikungan ini. Otak cerdas yang sempat membawaku dikenal sebagai mahasiswa paling berprestasi itupun seakan tidak berarti.
"Pfft! Haha, dramatis sekali"
"HUH?!"
Menoleh mendengar suara yang familiar, aku mendapati seorang gadis keluar dari tikungan depan.
"Kau!"
Dia adalah gadis berhoodie yang membawa Cia memasuki gang sempit ini. Gadis yang juga menemui Cia di Lobby kemarin.
Alisku pun bertaut, diiringi rahang mengeras yang memintanya memberitahu dimana keberadaan Cia secara tak langsung.
"Jangan memelototiku gadis manis seperti ku. Dasar om om!"
"Berhenti dengan omong kosongmu! Katakan di mana Cia ?!" Bentak ku spontan melangkah maju. Tapi tak ku sangka
Sssrttt!
Gadis itu bisa berteleport dengan mudahnya.
"Hei !!"
Apa ini?!
Seakan menyatu dengan angin, entah sejak kapan ia sudah berada di belakang ku!
Aku pun menoleh mendapati sentuhan tangannya, tapi lagi-lagi hanya tertawa, dia kembali berpindah ke tiang listrik tak terpakai yang hampir tumbang.
Mataku terbelalak saking terkejutnya.
"Ayo.. Katakanlah mustahil, seperti yang kau katakan di dalam hatimu beberapa saat lalu"
"Apa?!"
"Haha! Kau sudah mendengarnya bukan? Kau juga sudah melihatnya... Kekuatan Hesper" lagi-lagi berteleportasi ke sebelahku.
Gadis itu membuatku terbatu ketika tangannya menyentuh leherku.
"Kami adalah spesial. Manusia yang tidak bisa disamakan dengan manusia lain. Termasuk Cia..."
"Huh?!"
Ingin sekali menjawab, dan menoleh memelototi gadis itu. Leherku terasa kaku! Pada akhirnya aku tak bergeming, bahkan setelah ia kembali berpindah ke hadapanku.
"Katakan dengan jelas Apa maksudmu. Apa hubunganmu dengan Cia? Apa yang terjadi pada Cia?" Pintaku.
Sungguh sudah cukup!
Masa bodoh dengan sebutan manusia spesial, atau kemampuan khusus. Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi pada Cia, dan kenapa dia menyembunyikan banyak hal dariku?
Rahasianya..
Jawaban dari mengapa ia mati rasa..
"Hei.. Kenapa kau bertindak sejauh ini hanya untuk mengetahui rahasia Cia?"
Eh?!
Sadar gadis itu baru saja membaca pikiranku. Aku mengerti bagaimana harus menghadapi nya.
"Kau sudah tahu bahkan sebelum ku katakan. Apa pertanyaan barusan hanya untuk memastikan?"
Dia bergumam malas "Jawab saja.."
"Hah..." Lalu menatap dalam matanya. Akan ku katakan apa yang sudah dia dengar.
"Sahabat ku. Seperti yang dia katakan padamu"
**
Di hari yang sama, pukul 10.20
Gang sempit Distrik.
Mataku membulat sempurna ketika seorang gadis berhoodie merah merentangkan tangannya di hadapan beton bangunan tua. Sungguh luar biasa, bahwa seakan memiliki kendali, ia membuka sebuah gerbang yang dihiasi cahaya berwarna biru.
"Masuklah" Pintanya memintaku melangkah.
Tapi Oh ya ampun!
Jujur saja ini seperti melihat film action di layar lebar! Tentang seorang superhero yang memiliki kekuatan misterius dan nekat membuka jalan menuju markas musuh !
"Hei! Apa yang kau tunggu?!"
"Aw!"
Mungkin kesal melihat ku tidak juga memasuki cahaya itu. Gadis yang belum ku ketahui namanya tersebut menggerakkan sebuah kaleng untuk memukul punggungku.
Aku pun masuk dengan berdecak, dan tak lama setelah melangkah.
Mataku terpukau menepati cafe bernuansa antik yang terhias benda-benda unik. Aku tak percaya!
Apa dibalik bangunan tua yang gerbangnya dibuka menggunakan kekuatan tadi, ada sebuah tempat misterius secantik ini?!
"Bagaimana mungkin?!"
Ctak
Kembali memukulku dengan jentikan jari, gadis berhoodie itu memasang wajah datar.
"Hentikan mata terpukau mu! Kau tidak memiliki banyak waktu jika terus terkejut melihat ini dan itu! Anggap saja Ini adalah tempat dimana banyak superhero berkumpul seperti imajinasi mu! Cih!"
"Huh?!"
Apa apaan dia?!
Attitude yang sama sekali tidak patut ditiru!
"Hahh!"
Tapi mengesampingkan sikap kasarnya. Kali ini aku berjalan mengekornya dibelakangnya, menuju sebuah ruangan berpintu kayu dengan blok nama 'Madam Adramia'
"Kita duduk dulu. Terapi Cia belum selesai" Ajak gadis itu mengundang kernyitku.
"Terapi?"
"Hei! Jangan kau kira tempat ini adalah cafe biasa! Ini adalah klinik kesehatan milik madam Mia! Spesialis kekuatan Hesper!"
Alisku kembali bertaut "Hesper? Apa Cia termasuk salah satu dari kalian?" Tanyaku dibalas bungkamnya.
Dia pun memilih duduk di kursi panjang didepan ruangan madam "Kurasa aku harus menjelaskannya dari awal. Kemarilah... Masih dua jam hingga Cia keluar. Selama itu aku akan menjelaskan semua padamu. Kau bisa tanyakan apapun "
Pintanya namun kali ini bersuara lembut, dia mengisyaratkanku bahwa takkan ada lagi kejahilan, hingga aku memahami semua yang dia katakan.
Waktu pun berlalu.
Diiringi keterkejutan, juga rasa tak percaya di setiap detiknya. Air mataku hampir mengalir, mengetahui rahasia yang Cia sembunyikan, tak lain adalah beban terberat yang ia dapatkan setelah kepergian ayahnya.
Alasan perempuan itu mati rasa.
Cklek
"Kau sudah melakukan yang terbaik, sayang... Jangan berkecil hati. Semua akan kembali pada waktunya"
"Terimakasih madam. Aku akan datang sesuai jadwal Minggu besok"
"Baiklah... Kalau begitu hati-hati dijalan, dan lain kali bawalah dia bersamamu. Dia bisa menjadi Moodboster.."
"Huh?"
Mendapati mata madam Adramia melirik ke belakangnya, Cia menyadari kalau sosok yang berdiri di sana adalah aku.
Cyan Chris.
"C, Chris?" Lirihnya membulatkan mata.
Tapi berbeda dengan penglihatan ku, yang kulihat disana adalah sosok lemah penuh misteri, yang masih berusaha berdiri dengan kedua kaki nya sendiri. Cia ku, matahari pagi ku.
"Ayo kita pulang, Cia" ajak ku menggurat senyum tulus.
**
Hesper.
Dalam bahasa latin di artikan sebagai bintang malam, atau bintang senja. Dimana cahaya bintang itu akan bersinar paling terang ketika matahari turun dari singgasana.
Hal itupun berlaku bagi sebagian manusia yang dilahirkan dengan kekuatan bintang Hesper.
Teleportasi, membaca pikiran, mengubah wujud, melayang, menghentikan waktu, melihat aura, dan lainnya. Setiap kekuatan bintang Hesper akan menepati puncak ketika malam tiba.
Secara umum dikalangan para Hesper, mereka yang dilahirkan dengan kekuatan ini sudah memiliki kendali. Kelebihan lainnya adalah mereka pasti berkharisma, mudah bergaul, sering menjadi tokoh penting dalam masyarakat, dan unik.
Sedangkan perempuan yang kini duduk disebelah ku.
Helena Cia.
Dia adalah Hesper dengan kekuatan melihat aura.
Kekuatan yang memungkinkan pemiliknya melihat warna sedih, senang, bahagia, kecewa, atau marah yang mana tiap perasaan akan mengeluarkan warna-warna berbeda.
Namun kehilangan kemampuan itu.
Setelah kepergian sang ayah, Cia tidak bisa lagi melihat warna aura dan dunia. Kemampuan nya menghilang seiring kesedihan yang berlarut tiga bulan lalu.
Hanya saja berpikir akan kembali dengan sendirinya, Cia tidak menduga kalau tubuhnya justru akan kehilangan Indra perasa. Ia menjadi kebal dengan rasa sakit, bahkan saat kulitnya robek.
Itulah saat aku menemukan Cia terserempet mobil dengan kaki terluka, tapi tidak setetes air mata pun keluar dari kelopaknya. Aku terlambat tahu bahwa saat itu, Cia sudah tak bisa merasakan apapun.
Begitu nekatnya dia menanggung kesedihan ditinggal sang ayah, menanggung kebingungan saat kehilangan kekuatan, tapi masih saja mencoba menjalani hidup meski dengan kehampaan...
Semua dia jalani sendiri. Bahkan dengan tubuh rampingnya menanggung banyak beban yang tidak bisa dia bagi. Semua ini...
Saat memikirkannya membuatku ingin menangis.
"Hei... Andai aku datang sebelum masa-masa sulitmu. Mungkin semua ini takkan terjadi padamu" Parau ku melirik jalanan menanjak
"Chris... Tidak-"
Lalu terkejut melihatku menghentikan laju mobil, kalimat Cia terpotong seiring langkahku turun menuju sebuah tangga kecil yang mengantarkan kami ke atas puncak bukit.
"Chris!!"
Cia terus memanggilku.
Masih dengan langkahnya mencoba mengikuti, tapi aku tidak berhenti.
Tunggulah sebentar Cia.
Aku harus menghapus air mata yang sudah mengalir sebelum berbalik menatapmu. Batinku tak lama sampai di ujung tangga terlebih dulu.
Aku pun memutar haluan tubuh, melihat Cia yang berlari ke arahku.
"Chriss! Apa yang kau lakukan?!" Panggilnya, mengundang rentangan tangan yang hadir bersama senyum melengkung.
"Kau tidak harus menanggungnya sendirian lagi Cia! Cyan sudah disini !!" Seruku menghentikan langkahnya.
Tapi masih terengah-engah sambil menatapku tak percaya, aku yakin Cia mengingat masa masa dimana aku terus bergantung pada dirinya.
Cyan si cengeng, Cyan si pemalu, Cyan yang tidak bisa di andalkan, Cyan yang dulu hanya bisa mengekornya. Namun tidak kali ini, tolong lihatlah berbeda Cia.. batinku, lalu mengucap satu kalimat yang selalu ingin ku sampaikan.
"Cyan bersamamu.."
"Huh?!"
Pada akhirnya merundukan kepala, tetesan air mata Cia tak lagi terbendung. Ia kemudian berlari dengan sisa tenaganya mendekap ku. Kembali dalam pelukanku yang sudah lama mencari kehadiran nya.
Cia..
"Maafkan aku! Maafkan aku, hiks! A, aku tidak berani memberitahumu... Sejak awal Cyan.. Hiks! Sejak awal aku selalu takut kau akan menjauhiku.. Maaf.. Cyan sangat berharga untukku" ujarnya dalam Isak tertahan.
Aku pun mendekapnya lebih erat. Mengelus puncak kepalanya, dan membiarkan ia melepas semua kesedihan yang lama terpendam.
Tes...
Namun tidak menyangka juga terbawa.
Air mataku begitu saja jatuh ke atas rambut Cia yang masih terisak. "Maaf karena meninggalkan mu" Parau ku.
Tapi menggeleng membalasnya, Cia melepas dekapan kami untuk melihat tangisku di depan nya.
"Tidak Cyan" Senyumnya menghapus air mataku "Kau tidak pernah meninggalkanku. Warna mu selalu bersama ku"
"Huh??"
Tiba tiba melangkah ke pagar pembatas yang menampilkan kelap kelip kota, Cia menoleh memberiku isyarat agar menghampirinya ke sana.
"Semua karena mu, aku bertemu dengan ayah"
Mataku kembali membulat "Karena ku?"
"Benar... Warna mu membuatku percaya, bahwa di luar sana ada seseorang yang hatinya indah. Kau adalah warna favoritku Cyan" jawab Cia
Menghapus bersih air matanya, perempuan itu meraih sesuatu dibalik jaket yang dikenakan.
"Ini" Lirihnya menyerahkan secarik kertas lama yang saat ku buka, berisi selembar dauh Semanggi.
"Terjadi tidak lama setelah kau di adopsi. Seorang pria datang ke pantai asuhan untuk mengakrabkan diri. Namun karena tampangnya yang sangar, tidak satupun anak mau mendekatinya. Kecuali aku" Tutur Cia. Dia membiarkan ku mengelus pipinya
"Dia ayahmu?" Tanyaku lalu matanya terpejam.
"Benar. Karena kemampuan ini, aku bisa melihat aura yang ayah pancarkan. Beliau sama seperti mu Cyan, ayah memiliki aura Hijau"
Lalu kembali menitikkan air matanya di sana, Cia menggenggam tanganku "Walau wajah ayah menakutkan, aku tahu di dalam hatinya, ayah sama sepertimu. Kesepian, ingin memberi kasih, dan di kasihi oleh seorang anak. Atas dasar itulah aku bersedia menjadi anak angkatnya" Tutur Cia
"Sungguh aku tak menyesal bahkan setelah tahu kehidupan kami akan pas-pasan... Karena bagiku... Cukup dengan berada di sekitar aura nya, hidup ku pasti akan bahagia. Sama seperti ketika aku bersamamu Cyan. Warna mu lah yang mempertemukan aku dan ayah" Lanjutnya
Mengundang tanganku menggapai dagu kecil itu, aku melihat betapa cantiknya bentangan langit malam berbintang lewat mata besar Cia.
"Kau harus melepasnya. Lepaskan kepergian ayah mu agar ia tenang di sana" Pinta ku.
Namun terbalas bungkamnya, Cia enggan menjawab. "Hiks!" Ia justru memejamkan mata mengeluarkan buliran beningnya tanpa mau menjalin kontak.
"Sudah... Aku sudah melepasnya. Tapi tidak ada yang berubah!" Seru nya.
"Tidak Cian Kau belum. Hatimu yang tahu kalau kau belum melepasnya. Karena itu ia ingin memberimu jeda melihat warna aura"
"Huhh ?" Nampak berbinar dibalik linangan air mata. Aku mengangguk mencoba meyakinkan Cia dengan pesan madam Adramia.
'Perempuan itu hanya perlu mengikhlaskan kepergian Cleo. Meski dia selalu mengatakan sudah, tapi sebenarnya dia masih terkunci dalam kepedihan ditinggalkan... Sedangkan bagi seorang Hesper, kemampuan yang kami miliki berasal dari kekuatan hati. Jadi ketika hati Hesper masih terendam emosi, kemampuan akan menyesuaikan, lalu menahan energi Hesper keluar"
'Sayangnya dalam kasus Cia. Tanpa sadar dia benar-benar sudah mengunci. Hal itupun menyebabkan bukan hanya hati, tapi seluruh tubuhnya ikut mengambil andil hingga menyebabkan mati rasa berkepanjangan...'
'Cia memerlukan seseorang untuk membuka kuncinya'
Pesan beliau.
Secara tak langsung berrmaksud menunjuk ku menjalani tanggung jawab itu. Aku merasa senang.
"Hei... Bisa kau ceritakan kenapa kau memberiku nama Cyan saat pertama kita bertemu?" Tanyaku membiarkan Cia terdiam menenangkan diri beberapa waktu.
"Uhm.. Karena auramu berwarna hijau. Kau hangat, dan ingin mendapat kasih sayang. Kau adalah Cyan" Jawabnya.
Akhirnya melebarkan senyum, aku sangat ingin meyakinkannya dengan ketulusan hati
"Kalau begitu ayo Lihat Cyan mu lagi, Cia!" Pintaku menutup kedua matanya.
"Eh?! Apa yang kau lakukan??"
"Sstt!!"
Mengabaikan permintaan nya, dapat kurasakan telapak tangan ini tergelitik kala kelopak nya berkedip, menggesekkan bulu mata lentiknya.
"Pejamkan mata mu, Cia. Aku akan melepasnya dalam hitungan ketiga. Lalu saat itu, bukalah perlahan"
"Ka, kau pikir cara ini akan berhasil? Kau kekanakan Cyan!"
Aku terkekeh "Memang! Tapi hanya di depanmu aku akan menjadi kekanakan, hanya didepan mu aku akan manja, hanya didepan mu aku merajuk. Semua itu hanya ku lakukan didepan sahabat terbaikku, Cia"
"Eh??"
Terdiam setelah mendengarnya, aku berharap Cia mengerti tujuan dibalik tindakan ku ini.
Bahwa ia harus percayalah ada Cyan lain yang takkan meninggalkan nya pergi.
Disini, di depannya.
Ada Cyan lain yang masih menunggu matahari pagi.
Di tempat ini, dalam hatinya.
Ada satu Cyan yang tak harus ia relakan.
Saat ini, Cyan yang menyentuh nya.
"Masih ada Cia..."
"Huh?"
"Tolong lihatlah Cyan yang masih menunggu Cia. Cyan yang ingin melihat Cia bahagia"
"Ukh!"
Akhirnya melepas perlahan tanganku dari matanya. Ku lihat, Cia sempat mengerjap menerima cahaya hijau memancar memasuki kornea.
Warna yang sudah lama ia rindukan. Aura bersama Cyan.
"A, a- aku! Cyan! Aku-"
GRAB.
Kali ini, aku akan selalu bersamanya.
"Terimakasih sudah berusaha"
(TAMAT)
***
Terimakasih sudah membaca cerpen ini 。◕‿◕。
Semoga suka. Tinggalkan jejak ya...
*D.Kpendakra