"Alex kami datang lagi nih. Kami membawa bunga kesukaan mu".
"Ohya Alex, kamu jangan khawatir ya tentang tanaman kesayangan mu itu, karena aku dan teman-teman telah merawat nya dengan sepenuh hati".
"Jadi Alex tenang saja disana, kami merindukan kamu Alex".
.
.
.
Ini adalah kisah ku, seorang siswi yang kerap kali dibully oleh murid murid yang lain.
Hmmm... Dari mana ya aku mulai ini ?.
Yah... Awal aku masuk kedalam sekolah itu karena orang tuaku pindah dinas kekota A, lalu dengan tiba tiba akupun langsung meninggalkan teman-teman dan lingkungan nyaman ditempat aku tinggal sebelumnya.
Lalu sekarang aku datang ketempat ini dengan membawa perasaan gundah dihati. Hal pertama yang membuat aku merasa sangat sedih karena rumah ini tidak memiliki taman seperti rumahku dulu, rumahku sekarang hanyalah sepetak tanah kosong dan gersang tanpa ada sedikitpun tanaman hijau dibelakangnya. Lalu hal yang kedua membuatku sedih adalah teman teman disekolah ini.
"Wahh... Hai kamu anak baru ya ayo kenalan".
"Aku juga mau kenalan".
"Kamu cantik sekali masuk geng kami yuk".
"Ayo ikut makan siang".
"Hmmm..., Aku...aku".
"Kenapa diam saja ??".
"Kamu tidak mau berteman ??".
"Bu-bukan, begitu. Aku...".
"Ck !!, Menyebalkan !".
Begitulah awal pertama mereka membenci ku. Sejujurnya aku ada sedikit masalah dengan yang namanya bersosialisasi. Hingga saat ada seseorang yang ingin mendekatiku aku langsung membuat sebuah jarak aman sebagai pelindung, tapi siapa sangka mereka menganggap hal itu sebagai kesombongan dari diriku.
"Si anak baru itu sombong banget sih mentang mentang diterima jalur prestasi gak mau kenalan sama orang yang dibawahnya".
"Bener, aku fikir dia anak baik baik".
"Tidak usah dekat dekat dengan dia".
"Ya...".
Mereka pun meninggalkan aku seperti itu. Mereka tidak memberikan aku kesempatan untuk mempersiapkan diri menerima mereka, padahal aku hanya butuh sedikit waktu agar bisa berbaur, namun mereka langsung menjauhi ku dan juga memusuhiku.
Hari hari sekolah tanpa teman aku rasakan selama 7 hari, selama itu aku hanya sendirian dan tidak pernah lepas dari ruangan kelas.
Aku bahagia ??. Untuk sekarang aku bahagia menyendiri seperti itu.
Hingga pada akhirnya ada kakak kelas yang datang kekelas ku.
"Siapa sih yang namanya Aurora disini ??".
Kakak kelas itu terlihat sangat cantik dan juga terawat, aku sudah tau kalau sekolah ini adalah sekolah anak orang kaya, tapi baru kali ini aku melihat siswi yang sederajat dengan nya.
Kakak kelas itu masuk tanpa ada permisi atau sopan santun sedikit pun, ia membuka pintu kelasku dengan kasar hingga bersuara keras. Aku kaget mendengar nya lalu aku pun menoleh kearah orang yang masuk itu, disanalah aku menyadari bahwa orang tersebut merupakan kakak kelasku.
"Ouh jadi ini orangnya ??". Dia menoleh kearah ku dengan seringai kebencian. Lalu berjalan menuju tempat duduk ku dengan gayanya yang begitu sombong luar biasa.
Disaat itu lah dia memperkenalkan dirinya kepada ku. "Kamu kenal aku tidak ?". Ucapnya sombong.
"Yahh~, Kalau gak kenal biar aku kenalin diri aku kepada mu. Nama aku Karen, aku adalah anak juara satu umum di sekolah ini, dan kau ingat ya sampai tamat pun aku kebanggaan sekolah ini, kau yang hanya anak bawang tidak bisa mengambil posisiku !!".
Aku tak faham dengan apa yang ia katakan saat itu, tapi entah kenapa aku merasa yakin ada sebuah keirian di hatinya.
Karen Veronica Resfansyah. Merupakan anak jenius di sekolah ku saat ini, ia mendulang kepopuleran dengan prestasinya yang mendapat juara satu umum, serta selalu mendapat angka nilai rata-rata 94.9, dengan perolehan nilai 100 ditiga mata pelajaran utama.
Ia adalah anak luar biasa dari keluarga luar biasa pula, namun banyak gosip yang aku terima tentang perilaku dia terhadap anak anak yang berusaha berada diatasnya. Jadi apa yang dia lakukan kepada ku hari ini, itu dikarenakan ia merasa tersaingi oleh ku.
Kejadian buruk yang dilakukan oleh kak Karen bukan hanya sekali saja, setelah pertemuan pertama ku dan dia, kak karena sudah membully ku sebanyak 2 kali.
Yang pertama adalah ketika aku sedang makan di kantin sekolah...
"Upss !, Sorry, lantainya licin nih~ jadi minumanku tumpah deh".
Kak Karen beserta teman temannya menyiram ku dengan kopi panas, lalu menertawakan aku dengan ledekan.
"Hahaha Karen kamu harus hati-hati donk, adik kelas ini bisa menangis nanti".
Lalu yang kedua terjadi dikelas ku sendiri, ketika pembagian buku tugas yang aku kumpul untuk pengambilan nilai.
"Brak !".
Disaat itu juga kejadiannya sama, tidak ada kelembutan yang ditunjukkan oleh kak Karen terhadap ku. Buku ku hampiri hancur ditangannya kak Karen, tapi untung saja disaat itu ada seorang pria yang menangkap buku ku setelah dilemparkan kak Karen entah kemana.
"Apa maksudmu begitu ??". Tanya pria tersebut kepada kak Karen dengan wajah marah.
Namun diluar dugaan, kak Karen malah tersenyum ketika melihat wajah amarah dari pria tersebut. "Heh !, Kau mau sok jadi pahlawan sekarang ?, Ingat ya jaminanmu ditangan ku Alex".
"Dek !".
Hanya dengan pembicaraan singkat itu saja kak Karen pun langsung pergi dari kelas kami dengan sendirinya.
Aku sebenarnya tidak tau apa yang dikatakan kak karena kepada pria itu, namun setelah kata-kata terakhir kak Karen pria tersebut menunjukkan raut wajah terkejut dan tersirat sedikit kekesalan didalamnya.
"Hei".
"Yaampun !!!". Disela sela aku sedang mencerna apa yang terjadi antara kak Karen dan pria itu, tiba tiba saja seorang gadis berambut pendek memegang bahuku dan menyapaku, sontak hal ini membuat ku kaget seketika.
" Ehhh ... Maaf apa aku mengagetkan mu ?". Ucap gadis itu dengan wajah panik.
Aku yang melihat wajahnya itu pun menjadi tersenyum seketika.
"Tidak apa, aku hanya terkejut sedikit tadi". Balas ku kemudian kepadanya. Setelah mendapat jawaban dari ku gadis tersebut langsung menghela nafas lega dan kembali tersenyum kearah ku.
"Syukurlah, ohya kamu kenapa mau dibully begitu sih sama kak Karen ??".
Aku langsung tertunduk diam sesaat mendengar pertanyaan dari gadis itu, aku tidak tau harus menjelaskan bagaimana dengan keadaan ku ini.
"Aku... sebenarnya aku tidak tau harus berkata apa saat kak Karen melakukan itu".
"Hahhh... Seharusnya kamu lawan saja orang itu". Gadis itu berbicara dengan sangat kesal.
"Tapi yaudah lah jangan difikirkan lagi, ohya nama ku Renata, dan laki-laki disana itu namanya Alex, salam kenal ya. Nama kamu siapa ?".
"Nama aku Aurora, salam kenal juga".
"Oke Aurora kalau ada yang jahat sama kamu mulai sekarang bilang aja sama kami".
Aku begitu senang mendengarnya, hingga tanpa fikir panjang aku langsung mengangguk sebagai tanda ia.
"Terimakasih banyak Renata".
Itulah awal pertama kali aku menemukan teman baru disekolah yang layaknya penyiksa manusia ini.
Semenjak bertemu dengan mereka, hari-hari ku yang biasa saja perlahan-lahan berubah menjadi berwarna setiap detiknya, apalagi ternyata Renata dan Alex masih memiliki dua teman lagi yang belum mereka kenalkan kepadaku, jadi sekarang aku memiliki empat orang sahabat.
Pokoknya pada saat itu sangat seru deh !. Tapi tetap saja kak Karen terkadang mengganggu ku, dan teman temanku inilah yang melindungi ku dari kak Karen.
.
.
.
Dua bulan kemudian...
"Aurora sebelah sini".
"Ahh !, Maaf Renata aku membuat mu menunggu".
"Tidak papa ayo kita masuk ke taman bermainnya".
"Iya"
Tanpa disadari dua bulan kini berlalu, semenjak pertama kali kami membuat ikatan persahabatan. Waktu yang bergulir begitu kencang benar benar tidak terasa bagiku, kebahagiaan selalu mengisi kekosongan waktu ku yang seharusnya menjadi sunyi.
Namun semenjak adanya mereka ini kekosongan ku berubah menjadi bermakna dalam.
Aku terus tertawa ria sambil bercanda gurau dengan Renata selagi menuju ke tempat dimana kami sudah membuat janji dengan yang lain.
Tak ada sama sekali firasat ganjil dikala itu, hanya ada hembusan angin lembut dan langit biru mempesona. Tapi keadaan yang begitu indah ini malah menjadi tragedi...
"Bruk !!".
"Alex !!!!".
Kami berdua yang baru sampai pada tempat janjian langsung terpaku dikala itu, memandangi Alex yang sedang kesakitan sambil mengeluarkan darah dari hidungnya.
Tubuhku bergetar, begitu pula dengan Renata. Kulihat semua teman teman syok serta histeris ketika melihat keadaan Alex yang tiba-tiba begitu.
Aku tau kami semua tidak bisa hanya terpaku begini saat Alex sedang kesakitan, jadi dengan kondisi tubuh yang setengah melayang aku perlahan-lahan meraih ponsel di dalam tas, lalu menghubungi pihak rumah sakit agar mengirimkan ambulance kelokasi taman bermain tempat kami berada.
Kemudian setelah hal penting itu selesai aku lakukan, aku pun perlahan-lahan meraih tangan Renata dan mulai menggiringnya mendekat kearah Alex.
Disaat jarak ku dan Alex begitu dekat, disanalah aku baru dapat melihat bagaimana wajah Alex yang memucat dengan sangat jelas. Alex yang aku lihat saat itu sangat mati matian berusaha untuk bernafas, tubuh yang bergetar dan keringat yang bercucuran juga tak bisa dilepas dari pandangan kami.
Air mata pun tanpa disadari sama sekali tidak bisa kami berempat bendung dikala itu. Kami sangat bingung, cemas, beserta takut, namun kami tak tau harus seperti apa.
Suasana hati yang seperti ini kami tahan selama 20 menit lamanya, lalu setelahnya ambulance yang aku panggil pun datang membawa Alex kerumah sakit.
Selagi di rumah sakit, aku juga mendapat kan cerita rahasia tentang penyakit mematikan yang sudah diidap oleh Alex selama 2 tahun, dan sekarang lah baru tubuh Alex menunjukkan ketidak mampuannya bertahan.
Aku yang menerima cerita itupun menjadi sangat terenyuh dan merasa sesak seketika, aku tidak menyangka Sabahat ku yang begitu kuat dan dingin ternyata tengah berperang selama dua tahun dengan penyakit nya.
Waktu yang berlalu didalam rumah sakit terasa sangat lama bagiku, setelah mendengar cerita itu. Hingga pada akhirnya dokter mempersilahkan kami berempat masuk kedalam kamar dimana Alex berada.
"Kenapa kalian menangis ??". Alex menatap kami berempat yang ada disampingnya dengan senyuman.
Sedangkan kami sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan anehnya itu, jadi kami hanya mampu terdiam seribu bahasa seraya memendam sedih.
"Hahh~, semua yang hidup akan kembali ke asalnya, perjumpaan juga akan berakhir suatu saat nanti. Aku sudah tau semua ini, jadi aku tidak masalah jika akan mat...".
"Alex hentikan !!!".
Kami langsung memotong kalimat menyayat Alex dengan teriakan bercampur tangis, kami tidak menyangka Alex sudah pasrah dengan kondisinya sekarang. "Kami tidak mau kehilangan kamu Alex !". Begitulah ucap ku kepada Alex dengan tempo sedikit memekik.
Namun Alex hanya kembali tersenyum, lalu ia menghela nafas, dan memandangi wajah kami satu persatu.
"Teman-teman sebenarnya aku ada satu permintaan. Semenjak aku mengidap penyakit ini aku memiliki sebuah mimpi yang lama aku pendam".
"Mimpi apa ??". Tanya Reno salah satu teman kami.
"Mimpi dimana lagu dari hatiku bisa didengar oleh telinga orang lain".
Kami awalanya hanya terdiam mendengar permintaan Alex, tapi Aril yang berada didepanku memberikan kode bahwa kami berempat harus mengabulkan permintaan Alex.
"Kami akan mencoba melakukannya, jadi apa kau yang mau menyanyikan nya secara langsung ??". Tanya Aril kepada Alex.
"Sebenarnya iya, tapi aku merasa tidak akan kuat melakukan itu, jadi apa boleh buat aku tidak bisa menyanyikannya".
"Baiklah kalau begitu, kau tulis saja lagumu, lalu aku dan mereka semua akan membuat sebuah grup musik kecil untuk menyanyikan lagu itu".
"Terimakasih banyak semuanya".
Memang tak bisa dipungkiri pada hari itu wajah Alex sangat bahagia dibandingkan dengan sebelumnya. Jadi pada akhirnya atas permohonan Alex kami pun membentuk sebuah grup musik kecil guna menyanyikan lagu yang ditulis oleh Alex.
.
.
.
Hari-hari sekarang mulai kami lalui dengan tujuan mewujudkan impian besar Alex. Dalam kondisi yang sangat tidak baik Alex tetap melanjutkan lagu buatannya, sedangkan kami selama itu pula mempelajari cara bermain alat musik yang sudah ditentukan oleh Aril.
Sebenarnya pembuatan musik ini sempat gagal ditengah-tengah karena kondisi Alex sempat kritis. Tapi disaat kami ingin menyerah Alex malah semangkin bersemangat didalam kondisi tubuh yang tidak memungkinkan.
Jadi penulisan lagu ciptaan Alex ini bisa dibilang, diwarnai dengan perjuangan pilu beserta semangat membara.
Penulisan lagu Alex berlangsung selama dua Minggu lebih, dan selama itu pula kondisi Alex semangkin menurun. Perjuangan Alex sekarang sudah sampai dipuncak, acara vestifal music yang kami ikuti dimulai hari ini, dengan jantung yang berdebar kami membawakan lagu sahabat kami itu dengan senyuman mengukir wajah.
Dan isi lagunya adalah :
Hari-hari yang aku lewati bersama dengan kalian sangatlah indah
Tawaku juga selalu mengukir dengan jelas ketika sedang bersama dengan kalian.
Persahabatan kita adalah takdir benang merah.
Tak bisa terlepas dan tak bisa terputus.
Jadi ingatlah selalu bagaimana hari-hari yang kita lalui bersama.
Meski salah satu diantara kalian pergi.
Lagu itu berhenti sampai disitu, air mata kami juga jatuh entah untuk keberapa kalinya, tepukan tangan dan sorakan gembira dihadiahkan para penonton untuk kami.
Disanalah kami langsung spontan melihat kearah Alex, disana Alex terlihat sangat bahagia beserta haru diatas kursi rodanya.
Lalu hanya hitungan detik, sang Surya kami tiba tiba memejamkan matanya lalu pergi ke atas langit bersama bintang-bintang, tanpa ada pertanda dan juga bicara.
Jadi... tepat selama 90 hari takdir mengizinkan aku dan Alex bertemu, dan setelahnya takdir membawa Alex pergi, bukan pergi untuk kembali, Tapi pergi untuk selamanya.
.
.
.
Surat kecil Aurora:
Alex meski sekarang ragamu tidak bersama kami, tapi aku yakin disuatu saat nanti kita akan berjumpa kembali, tak perduli dengan tempatnya, atau langit yang melindungi kita, kami pasti akan tetap merasa bahagia.
Terimakasih Alex untuk semuanya, termasuk waktu-waktu dikala kamu berjuang sembuh
~Tamat~