" Maafkan aku."
" Tidak Tian, kau tidak perlu meminta maaf. Sejak awal kita memang sudah salah."
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Menjadi seorang artist stylist memang bukanlah hal yang mudah, setiap harinya aku harus bekerja keras, menyesuaikan jadwal artis dari agensi tempatku berkerja dan memerlukan banyak ide dalam setiap style yang kukenakan pada mereka agar bisa menarik simpati kalangan fans dan non-fans.
Aku cukup tertekan dengan pekerjaan ini karena tak hanya artisnya yang dituntut sempurna, melainkan diriku juga dituntut sempurna dalam mengurusi segala hal yang berkaitan dengan penampilan artis kami.
Hingga suatu saat aku mendapat banyak komentar pedas mengenai style boy grup agensi kami, terutama penampilan Tian. Banyak yang tak senang dengan hasil make up-ku. Aku sangat merasa sedih sekaligus down, tapi apa boleh buat. Aku harus tegar, belajar lebih banyak lagi agar hal tersebut tidak terulang.
Aku duduk sendirian di pojok ruang kerjaku. Aku menatap jendela luar dan mendengarkan hiruk-pikuk jalanan malam dengan hiasan kerlap-kerlip lampu kota, Seoul.
Tiba-tiba ada tangan yang melingkar di pinggangku dan membisikkan
" Jangan sedih, ini hanya hal biasa."
Hal biasa? Tentu saja ini hal luar biasa. Komentar pedas itu bisa saja membuatku kehilangan pekerjaan yang cukup menjanjikan ini. Aku datang jauh-jauh dari negaraku untuk mencari kehidupan yang lebih layak di sini.
" Lepaskan tanganmu Tian! Bahaya jika ada yang melihatnya."
Pintaku dengan suasana hati yang bergetar, aku merasa semakin kesini hubunganku dengan Tian kian sulit. Popularitas grup mereka kian melejit dan nama Tian disorot dari berbagai sisi. Di negara ini, sang idola dituntut untuk sempurna termasuk kisah asmara. Banyak fans yang tidak suka jika mereka memiliki kekasih atau hanya kencan biasa.
Tian.
Ia adalah kekasihku, kami sudah menjalin kasih sejak awal ia debut. Ia menyukaiku sejak ia menjadi trainee di agensi ini. Aku lima tahun lebih tua darinya, tapi hal itu bukanlah penghalang rasa cintanya padaku.
Sesungguhnya aku bahagia bisa memiliki kekasih sepertinya, bukan masalah ia idola. Melainkan kasih sayangnya, supportnya bahkan perhatiannya padaku, ia sangat dewasa sehingga aku bisa nyaman dengannya.
Ketika di hadapan banyak orang, kami akan bersikap profesional agar tidak ada yang mengetahui hubungan kami. Kami sering melakukan interaksi melalui K-talk. Tak ada yang mencurigai kedekatan kami, mereka menganggap kami seperti kakak-adik biasa.
Hingga suatu hari, di malam itu.
Tian dan aku bertemu di rumahnya. Orang tua Tian sudah mengetahui hubungan kami sehingga mudah bagi kami untuk bertemu di rumahnya.
Saat ia sedang berusaha menghiburku dari segala komentar pedas saat itu, tiba-tiba ada seseorang menggunakan jubah hitam, ia berhasil mengintip kami yang sedang bertingkah layaknya sepasang kekasih dengan memakai barang couple.
Kami tentu kaget dan cemas. Takut jika itu adalah sasaeng yang sedang mengintai Tian.
Gawat! Ini adalah masalah besar.
Tian mungkin akan baik-baik saja. Tapi aku? Aku pasti akan dihujat dan kehilangan pekerjaan yang selama ini sudah kujalani.
Keesokannya kami berinteraksi seperti biasa ketika mereka hendak perfome, itu adalah konser pertama mereka setelah debut.
Semuanya tentu telah disiapkan sematang mungkin.
Saat usai acara, tiba-tiba layar yang ada di hadapan para penonton memperlihatkan sebuah video ketika aku tengah berdua dengan Tian semalam.
Ketua stylist perusahaan kami menghampiriku, ia memaki diriku habis-habisan. Ia marah karena aku tidak profesional.
Aku sadar, aku salah.
Tapi bagaimana aku bisa melepaskan Tian yang sudah kukenal sejak awal ia masuk ke agensi ini?
Tidak ada dispensasi, mereka menyuruhku berhenti sejenak hingga kasus kencan ini hilang.
Kasus? Padahal aku sama Tian hanya saling mencintai. Mengapa mereka menggap itu sebagai tindakan jahat? Apa salah aku dan Tian? Apakah di dunia ini kita tidak boleh mencintai?
Setahun kemudian, aku kembali ke perusahaan kami. Tian menghampiriku dengan langkah yang ragu.
" Aku sudah pikirkan ini matang-matang. Sungguh aku tidak mau hal ini terjadi, tapi aku bisa apa? Aku ingin tetap di sini, ini impianku. Begitu juga dengan kamu, ini adalah pekerjaan kamu. Aku tidak mau kita kehilangan apa yang selama ini kita perjuangkan. Mungkin memang benar, kita tidak akan mungkin bisa bersama. Kamu dan aku memiliki hal yang berbeda. Aku tidak mau kamu disakiti oleh fansku apalagi para sasaeng yang berkeliaran di luar sana."
" Jadi?."
" Kita berakhir sampai sini. Aku pamit dari hubungan ini. Maafkan aku."
Degg!!!!
Rasanya tubuhku ingin ambruk, ingin berteriak, ingin menangis sejadi-jadinya. Aku tidak bisa melepaskan Tian, dia adalah sumber semangatku selama bekerja di sini. Setelah banyak yang kami lalui, apakah kami akan berhenti sampai sini?
" Tidak Tian, kau tidak perlu meminta maaf. Sejak awal kita memang sudah salah."
Ujarku berusaha membuat Tian untuk menghilangkan rasa bersalahnya.
Aku berusaha memahami bahwa diriku dan dirinya yang memang sangat sulit untuk bersama.
Akhirnya kami memilih.
Aku dengan jalanku,
Ia dengan jalannya.
- Choi Tian
- Zeyna Sella