hai nama ku ulfatun khasanah saat ini aku telah berusia 20 tahun dan yang akan aku cerita ini adalah kisah nyata ku di saat aku masih merupakan anak putih biru😁
pertengahan tahun 2013 aku baru saja lulus dari sekolah dasar, sekolah ku bernama MI MA'ARIF 02 ADIMULYA dan saat telah selesai ujian nasional atau UN, aku berencana akan melanjutkan sekolah ku ke madrasah Tsanawiyah/sekolah menengah pertama (SMP), awal nya aku telah mendaftar diri di sekolah terbaik di desa ku dan tidak memiliki rencana untuk masuk kedalam pesantren sama sekali, apa lagi pesantren itu berbeda kabupaten dengan desa ku, namun saat guru ku membagikan sebuah brosur mengenai pesantren itu, entah mengapa hati ku tergerak, ada rasa penasaran di dalam jiwa ku, sehingga aku memutuskan untuk meminta izin kepada orang tua ku, agar dapat melihat lihat pesantren itu terlebih dahulu, dengan mengunjungi nya bersama keluarga kakak kelas ku yang akan menghadiri acara akhirrusanah angkatan 2012/2013 yang akan segera di gelar di sana
pondok pesantren Darussalam itu lah nama yang tertulis di papan gerbang pintu masuk, pesantren itu terletak sangat jauh dari desa ku, karena letak nya di kabupaten sebelah, aku membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk sampai ke sana, bagi seorang anak kecil yang tidak tahu menahu seperti aku ini, jarak satu jam dari rumah sudah sangat jauh jika di tempuh seorang diri
saat pertama kali aku menginjak kan kaki ku di ponpes Darussalam, terasa hati ku sangat damai dan juga merasa tenang, terasa bahwa diriku sangat nyaman dengan suasana tempat itu, hingga membuah hatiku mantap mengambil keputusan agar melanjutkan sekolah ku di sana dan tidak jadi bersekolah di sekolah yang waktu itu telah ku daftar
aku bukan lah seorang anak perempuan yang feminim bahkan bisa di bilang jika diriku ini sangat tomboi sedari kecil, walau pun keluarga ku terbilang baik dengan hal ilmu agama bahkan ayah ku sendiri merupakan seorang guru pengajar mengaji, namun diriku tidak sama seperti kakak kakak ku yang patuh, penurut dan juga anggun
di usia ku yang telah berumur 12 tahun bahkan akan memasuki 13 tahun ini, aku sama sekali tidak pernah mengenakan yang nama nya rok panjang atau bahkan pendek sekali pun (kalo rok pendek sih emang di dalam keluarga ku tidak di perbolehkan sih😁), yang ku punya di dalam lemari milik ku, hanya lah celana panjang dan baju kaos polos pendek, jadi saat aku akan masuk kedalam pesantren aku sangat merasa bingung, karena diriku tidak memiliki rok sama sekali, bukan hanya rok saja titik permasalahan nya, aku bahkan tidak bisa menguncir/ mengikat rambut ku sendiri, mencuci baju sendiri pun tidak pernah, aku tidak tahu nanti kehidupan di dalam pesantren akan seperti apa😑 tapi entah lah, aku telah memutuskan untuk masuk kedalam pesantren jadi apapun permasalahan nya nanti hanya bisa aku hadapi sendiri, dan belajar untuk mandiri.
aku merupakan anak ke tiga dari 4 bersaudara (3perempuan dan satu laki laki) kala itu (karena saat ini di tahun 2021, kita ada 5 bersaudara 😁), tapi usia ku dengan adik ku tidak terpaut jauh, dan lagi adik ku itu seorang anak laki laki, jadi aku bisa di bilang sebagai anak perempuan terakhir/ anak ragil cewe gitu lah di dalam keluarga ku, sehingga apapun yang aku butuh kan selama ini, aku selalu di bantu oleh ibu ku, inti nya aku sangat manja kepada ibu ku, dan aku tidak bisa melakukan apapun tanpa bantuan dari nya, aku selalu terbiasa melakukan apa pun dengan meminta kepada ibu ku kecuali dalam hal belajar, karena soal hal belajar aku lebih menyukai jika mengerjakan nya sendiri, karena terbiasa dengan ada nya ibu yang selalu melakukan apapun yang aku tidak bisa, maka nya sampai di usia ku yang ke 12 tahun aku masih tidak bisa menguncir rambut ku sendiri, dan memakai hijab pun bisa nya hanya yang instan saja😁 aku sama sekali tidak tahu cara memakai hijab persegi sama sekali 😑 ugh! betapa bodoh nya aku saat itu 😅
tapi meski pun aku tomboi, dalam hal mengaji aku masih bisa di bilang lumayan, ya karena aku belajar nya dengan ayah ku sendiri, dalam keluarga ku pun sudah terbiasa saat menjelang asar tiba/ waktu untuk mengaji di desa ku, anak anak ayah ku di haruskan/ wajib mengenakan pakaian yang semestinya, jadi kalo siang aku bisa mengenakan pakaian pendek dan celana panjang, kalau sudah akan memasuki waktu ashar aku memakai pakaian muslim berhijab instan, dan tentu nya aku tetap tak pakai rok kan ngga punya, hehe😁
awal masuk pesantren semua nya terasa sangat asing, ada rasa sedih dan rindu dengan suasana rumah, untunglah aku berangkat untuk bersekolah di sana tidak sendirian, aku datang ke pesantren dengan 4 orang teman sekelas ku yang lain nya, bernama janah, umi, doni dan juga lutfi, jadi aku tidak terlalu bersedih atau merasa sendiri an saat awal masuk pesantren, karena aku masih memiliki seorang teman yang aku kenal bahkan sekampung dengan ku jadi kita dapat membagi kesedihan bersama.
masih teringat jelas kala itu, waktu baru saja kita sampai di pesantren dan beberapa jam kemudian keluarga kita akan kembali pulang setelah mengantar kan kita sampai ke pesantren dan telah menitipkan kita kepada abah serta umi selaku pengurus ponpes Darussalam, hati ini terasa sangat tidak rela melihat mobil keluarga kami itu mulai berjalan maju keluar dari pintu gerbang pesantren dan akan kembali pulang meninggalkan kami di pesantren, baru beberapa menit kepergian mobil keluarga kami, janah dan umi sudah menangis karena rindu dengan keluarga, aku pun merasakan hal yang sama seperti yang mereka rasakan, rindu, takut, dan juga bingung di tinggal di tempat asing yang tidak kita kenali ini, tapi aku berusaha untuk tidak menangis agar dapat menguatkan teman teman ku dan berusaha meyakinkan mereka jika semua nya akan baik baik saja, kami bertiga menyendiri cukup lama di gedung lantai dua karena di sana sepi dan tidak ada orang, jikalau pun ada, masih banyak ruangan yang kosong di lantai dua, jadi mereka akan pergi ke ruangan sebelah jika melihat ada kami yang sedang mencoba untuk menguatkan diri, sampai teman teman ku sudah cukup tenang baru lah kita turun ke lantai dasar untuk memulai kehidupan baru di dalam pesantren dan akan menghadapi semua nya bersama sama.
seiring berjalan nya waktu, aku dan teman teman ku mulai bisa beradaptasi di dalam pesantren, aku pun mulai mengenal banyak teman teman seangkatan ku dan juga beberapa kakak kelas.
di dalam asrama putri terdapat 4 kamar, kamar h, kamar i, kamar j dan kamar k, dan saat ini kamar ku terletak di kamar h bersama dengan teman sekampung ku yang lain, janah dan juga umi kecuali,sedangkan doni dan Lutfi tentu saja mereka tinggal di asrama putra
di dalam pesantren juga ada 4 kakak kelas yang sekampung dengan ku, 2 perempuan dan 2 laki laki, jadi jika ada sesuatu yang kami para junior tidak mengerti kami akan bertanya kepada mereka atau mereka yang akan memberi arahan kepada kami di dalam pesantren
kehidupan di dalam pesantren cukup menarik dan asik, walau pun tak dapat di pungkiri banyak hal yang terkadang membuat kita merasa kesal, jengkel, marah dan juga sedih, tapi apapun itu, aku sangat bersyukur karena diriku bisa berada di tempat yang nyaman seperti di sini
mau tahu kelanjutan nya😁 lain kali yah hehe🤭 jangan lupa beri dukungan kalian yah🥰 karena tanpa dukungan dari kalian,mimin tidak memiliki semangat untuk bikin cerita atau pun up cerita hehehe☺️ dan terimakasih buat yang sudah bersedia untuk mampir 🥰 salam sehat dari mimin😘
🍁