Desah hujan terdengar seakan mendengungkan keharuan musim ini. Karena pertemuannya dengan tanah gersang yang telah lama merindunya.
Aku kembali ketempat ini, seolah mencoba menostalgiakan ingatan tentang indah yang terlupa. Duduk di meja ujung, tempat kami biasa menghabisakan waktu membagi cerita yang dialami sepekan.
Tersenyum seperti biasa, segelas lemon tea, dan keindahan dari kata-kata yang mengalun keluar dari mulutnya.
Teringat pula hujan, sebagian kaki yang basah, dan sebuah payung hijau.
"Teringat sesuatu?” Tiba-tiba seorang Waitress membuyarkan semuanya.
“Oh, kamu.” Ternyata aku mengenalinya.
"Kapan kau pulang? Sudah lebih baik?” Gadis dengan seragam hitam putih itu tetap berdiri, seolah menunggu pesanan dariku.
Suara piano mulai merambat di seluruh ruangan Café itu. Tampak seorang pianis sedang memainkan jari-jarinya di panggung mini di ujung ruangan.
Melihat gadis itu lagi membuatku kembali meraba simpati yang telah lama terlupa di dasar hati. seolah berusaha melengkapi masa laluku yang akan kucoba gali kembali.
“Mungkin.” Aku menjawab sambil mengangguk.
Terlihat ia tersenyum di antara buramnya lampu ruangan ini. Deras hujan mulai merabunkan pandangan dunia dari kaca jendela.
Terhenti aku saat bait-bait terdengar keluar dari seorang perempuan di ujung panggung melantun indah.
Riuh tepuk tangan menyongsong keheningan sesaat setelah suara itu berhenti. Aku terdiam. Diam terlumpuhkan kenangan.
Keadaan kembali seperti semula. Dengung-dengung pengunjung di setiap meja kembali terdengar pelan. Entah karena apa, menetes air mataku menatap embun-embun kaca yang temaram.
"Apa kau tak mampu menghilangkannya?” Bertanya gadis itu, dengan ekspresi wajah yang telah berubah. Khawatir dengan mata yang penuh pertanyaan.
Aku hanya diam menghambur jawab.
Gadis itu meletakkan nampannya di atas meja. “Kulangkahkan takutku dengan mata yang masih sunyi. Mendekap mimpi tanpa terkikis asa yang menumpul.” Gadis itu berucap.
Terkejut aku mendengarnya. Potongan puisi halaman pertama, ‘Kaca yang berembun’ yang penuh kenangan.
Kemudian ia berjalan memutar ke belakangku. “Agar tersenyum saat bahasa keberanian tak lagi tersemat di kaki." Kemudian gadis itu mendekapku dari belakang. Hangat terasa. “Dan selalu aman saat badai menenggelamkan musim semi pada kala yang merintih.” Tak memperdulikan sekitarnya, gadis itu terus mendekapku dengan kehangatannya.
"Kau?” Aku mulai berkata-kata. Tapi ia semakin erat mendekapku. Aku kembali terdiam.
"Dan terhening saat harus melepas. Tanpa tetes pedih berjatuhan."
"Karena mengharap kembali hanya akan menyisakan derita, kepahitan.” Aku pun terbawa dan melengkapi bagian akhirnya.
"Tenanglah, karena aku di sini. Aku tak akan pergi.” Gadis itu berkata lirih.
Meluluh hatiku karenanya. Aku mengusap kepalanya yang tertunduk di pundak belakangku. Mungkin semua mata tertuju ke arahku saat ini. Tapi aku tak perduli.
Kurasa cukup hati dimanjakan oleh ketulusanya. Sisa waktu untuk mencari kembali keberanian yang telah lama mengering, walau berada dalam genangan emosi. Aku mencoba dengan perlahan melepaskan peluknya sembari berdiri. Ia melepasku berdiri.
"Aku pergi." Aku berkata tanpa berpaling. Entah bagaimana ekspresinya. Aku terus berjalan.
Tampak di luar hujan belum juga berhenti. Mungkin dinginnya bisa membuatku kembali dalam beku hidup yang aku takutkan. Aku membuka pintu dan melangkah keluar.
.
Ternyata hanya rintik walau terlihat sering. Aku menengadahkan telapakku ke atas.
Dingin? Tidak. Tapi segar. Aku mulai melangkah.
Kini seluruh wajahku merasakannya. Aroma hujan ini begitu membuatku tenang, menyegarkan. Waktu tak pernah kembali. Namun ingatan mengulang saat indah seperti ini kembali, walau tidak sepenuhnya lengkap.
Tak berapa lama aku berjalan menikmati rintik yang riaknya membasahi kakiku, seseorang memanggilku.
Aku berpaling. Tampak gadis itu berdiri di antara pintu café, namun tidak juga sepenuhnya di luar.
Ia menatapku perlahan. Aku hanya menyapanya dengan tatapan sunyi. Ia berlari kecil menujuku. Tampak di tangannya sebuah payung, yang kemudian ia buka untuk melindungiku dari tetesan hujan.
“Pakai ini.” Ia berkata sambil memberikan payung itu padaku.
"Terima kasih." Aku menerimanya. Kemudian ia tersenyum.
“Indah." Tiba-tiba ia berkata.
"Apa?” Aku bertanya.
Tampak baru sadar dengan apa yang baru saja ia katakan, ia tersentak. “Ah, cuma perasaanku saja." Ia buru-buru menjawab.
“Baiklah.” Aku berkata untuk bersiap pergi. Ia mengagguk.
"Aku masuk dulu." Kemudian gadis itu berbalik dan berjalan pergi. Dari belakang gadis itu tampak anggun dengan apa yang ada di dirinya. Hatinya cantik.
.
Tampak mulai lebih deras hujan berjatuhan, deru yang diterima payungku mulai terdengar. Sudah nyaris 20 menit aku berjalan dengan ragu. Labil, tidak mampu menentukan pilihan. Baruskah maju, atau berbalik arah.
Dan entah kenapa bayangan payung ini seolah mecari sela dalam hatiku. Warna ini mengingatkanku pada waktu yang berlalu.
Hijau, warna yang melambangkan kehidupan. Keabadian.
Berapa semi di luar sana sudah ku lalui? Kurasa harus kucoba untuk menyudahi.
Aku berhenti di tengah perjalananku. Kemudian berbalik. Tampak samar karena tirai hujan dari kejahuan, gadis itu berjalan bersama beberapa temannya. Shift kerjanya sudah selesai.
Tidak menyadari keberadaanku. Gadis itu bersendau gurau dengan ceria, yang tak pernah tampak saat ia bersama ku. Entah kenapa aku merasa kehilangan. Kehilangan yang lain.
Sedikit kekecewaan akan hal yang tak pernah aku rasakan. Sedikit kelegaan menatap senyumnya yang begitu berharga. Tanpa sadar aku telah membuatnya berpaling. Dengan lembut menatap, dengan senyuman menyapa. Aku terkejut telah membuatnya sadar.
Kemudian ia melangkah menujuku. Membelah riak derai hujan. Aku mencoba diam menantinya. Ia berdiri tepat di depanku, dengan satu payung lagi di tangannya. Menopang semua dingin itu menjauh darinya.
"Kau masih di sini?” Ia bertanya dengan senyum samar yang meghangatkan.
"Iya.” Aku menganggukan kepala.
"Menikmati hujan?” Ia kembali bertanya.
Aku tersenyum kecil. "Segar." Ku bilang.
Kemudian ia menaik nafas dalam, sembari memutar tubuhnya. "Kau mau pulang bersamaku?” Ia bertanya kemudian.
Aku menatapnya diam. Ia menatapku dengan tatapan yang biasa ia berikan padaku. Sinarnya damai.
"Baiklah.” Aku menyetujuinya. Kemudian ia melangkah pelan ke depan.
"Ayo.” Ia berkata, saat melihatku hanya berdiri diam.
Kurasa inilah langkah awal untukku mencoba masuk dalam fase hidup yang lain. Melihatnya melangkah di samping ku, entah kenapa membuat ku merasa tenang dan lega.
-