Hari ini aku baru saja berpisah dengan kekasihku. Bisa-bisanya dia mencampakkan diriku secara tiba-tiba. Padahal hanya aku yang selalu menemaninya selama 1 tahun ini.
"Huweee Vivi.. aku harus bagaimana? Aku tidak bisa melupakannya." Rengekku pada Vivi, sahabatku.
"Erin.. tenanglah.. jangan sia-siakan air matamu yang berharga hanya untuk pecundang sepertinya."
Ah Vivi benar. Sebenarnya untuk apa sih aku menangisi pria itu? Aku pasti akan menemukan yang lebih baik darimu Leo! Lihat saja nanti.
"Bagaimana jika kamu ikut bersamaku ke konser nanti malam? Sepertinya itu bisa membuat perasaanmu menjadi lebih baik." Ajak Vivi.
"Ah baiklah, itu boleh juga." Kataku.
"Oke! Aku akan menjemputmu pukul 8 malam nanti." Ucap Vivi.
Begitulah akhirnya aku dan Vivi pergi ke konser idolanya itu. Jujur saja aku tak terlalu menyukai lagu pop seperti Vivi.
Tapi daripada aku menangis tak karuan di rumah, lebih baik aku bersenang-senang bukan? Itulah yang sebelumnya aku harapkan. Jika aku tau pada akhirnya akan jadi seperti ini, aku pasti tidak akan mau datang kemari.
"Sayang~ Mengapa kau meninggalkanku~"
"Apa yang kurang dariku~"
"Aku tidak apa-apa selama kau bahagia~"
Huhu.. aku kesini kan untuk bersenang-senang. Bukan untuk membuat perasaanku semakin terbebani. Kenapa lagu yang mereka nyanyikan terdengar seperti menyindirku?
"Erin! Mereka tampan sekali bukan? Aku tak percaya bisa melihat penampilan Boys 61 secara langsung!"
"Tapi.. kenapa hanya ada 5 member di atas panggung? Anggota Boys 61 kan berisikan 6 member." Sambung Vivi.
"Entahlah jangan tanya aku, karena aku tidak peduli dengan hal itu." Balasku.
Hah.. sepertinya hanya aku saja yang tidak merasa senang di sini. Meski aku menangis dan berteriak sekarang, tidak akan ada orang yang bisa mendengarnya. Suara sorak-sorai penonton di sini membuat suaraku tenggelam.
Ah aku pergi saja! Lagipula tak ada gunanya juga jika aku berlama-lama di sini. Yang sangat ingin datang kesini kan hanya Vivi, bukan aku.
Duh sepertinya riasanku juga ikut luntur karena air mataku. Ah foundationku yang mahal! Kamu jadi luntur seperti ini karena aku yang menangisi pecundang itu!
Pada akhirnya aku harus pergi ke toilet untuk memperbaiki riasanku. Tidak mungkin aku berkeliaran kesana-kemari dengan penampilan buruk seperti ini bukan?
Meski rasanya aku tidak rela memakai foundationku yang mahal untuk kedua kalinya, tetap saja aku harus memakainya.
Ngomong-ngomong mengapa di sini sepi sekali ya? Padahal tempat ini juga tidak terlalu jauh dari keramaian. Semakin lama aku jadi merasa takut berada di sini.
Krieet
"Siapa itu- KYAAA! Hmmpp!?"
Siapa pria asing ini! Kenapa dia tiba-tiba masuk ke toilet wanita dan mendekap mulutku? Jangan-jangan dia penjahat! Ah bagaimana ini?!
"Ssst.. diamlah! Nanti aku bisa ketahuan! Aku tak akan menyakitimu, jadi tenanglah." Ucap pria itu.
Aku mengangguk sekuat tenaga. Aku jadi merasa lebih tenang karena dia berkata seperti itu.
Mendadak suasana terasa sunyi karena kami berdua sama-sama berusaha untuk tidak bersuara. Namun selang beberapa menit, tiba-tiba terdengar suara gaduh dari luar. Aku juga bisa mendengar banyaknya suara derap kaki di sana.
"Di mana dia? Aku tak bisa kehilangan dia begitu saja!"
"Benar, aku sudah jauh-jauh datang kemari hanya untuk bertemu Felix! Bagaimana bisa dia menghilang begitu cepat?"
Suara langkah kaki mereka kian detik semakin menjauh. Tepat saat itu juga, pria yang masih mendekap mulutku dengan kedua tangannya ini, juga langsung melepaskan diriku.
"Sebenarnya siapa kau? Apa yang kau lakukan di toilet wanita? Dasar mesum!" Sergahku.
"Bu.. Bukan! Aku bukan orang seperti itu! Aku tak punya pilihan lain. Maafkan aku!" Ucap pria itu.
Pria ini lalu tiba-tiba membungkukkan punggungnya padaku. Sepertinya dia tidak berbohong. Lalu untuk apa dia masuk ke dalam toilet wanita?
"Aku benar-benar minta maaf. Aku terpaksa masuk agar bisa menghindar dari mereka. Sejak tadi aku dikejar-kejar oleh para wanita." Ujarnya.
"Para wanita? Mengapa kau bisa dikejar-kejar oleh mereka? Seperti orang terkenal saja." Balasku.
"Kau.. sungguh tidak tau siapa aku?" Tanyanya padaku. Kedua matanya terbelalak kaget.
"Hahaha aku tak percaya ternyata ada juga wanita yang tidak mengenalku." Sambungnya lagi.
Pria itu terkekeh seolah-olah hal lucu baru saja terjadi. Dasar orang aneh! Apa yang dia tertawakan? Atau jangan-jangan dia benar-benar orang yang terkenal?
"Kamu orang yang unik ya nona." Ucap pria itu sembari tersenyum. Pria itu lalu tiba-tiba mendekatkan wajahnya padaku hingga membuatku tersentak kaget.
"A.. Apa yang ingin kau lakukan?!" Aku mengernyitkan dahiku padanya.
Pria itu hanya diam saja dan hanya merespon ucapanku dengan senyuman. Setelah itu dia langsung melangkah pergi dari hadapanku.
"Siapa sih orang itu? Dasar aneh!"
Waktu pun berlalu. Malam itu setelah konser selesai, vivi mengantarku kembali ke apartemen. Dia menyuruhku agar cepat beristirahat dan tidak memikirkan Leo.
Tapi entah kenapa saat ini perasaanku tidak mau menuruti keinginanku. Ternyata aku mencintai Leo sebesar ini ya? Rasa sakit karena dicampakkan benar-benar tidak mudah untuk kulupakan.
Untuk menenangkan perasaanku, aku memilih untuk jalan-jalan sebentar sembari menghirup udara sejuknya malam yang tenang.
Niatku memang begitu, tapi apa-apaan ini?
"Leo?!"
Apa yang baru saja aku lihat sekarang? Tidak ada yang salah dengan penglihatanku kan? Leo.. dia baru saja berciuman dengan pria?
"Erin?!"
Leo tampak terkejut dan panik saat menyadari keberadaanku. Tentu saja, memang seharusnya begitu.
"K.. Kau.. ternyata kau menyukai pria? Ternyata kau mencampakkanku bukan karena wanita, tapi pria?! Sia-sia saja aku menangisimu!!"
Aku benar-benar kesal. Kekecewaan dan rasa terkhianati bercampur menjadi satu. Apa karena orang yang membuatku jadi dicampakkan adalah pria dan bukan wanita?
"Wah.. kalau sudah ketahuan begini aku harus bagaimana lagi? Jika benar, lalu kenapa? Apa kau akan mengadu ke semua orang?" Balas Leo.
"Tentu saja! Aku akan membongkar sifat aslimu ini kepada semua orang!" Timpalku.
"Wah kau memang tidak bisa dibiarkan. Apa kau lupa kalau aku pria? Perbedaan tenaga fisik kita berbeda di sini." Ucap Leo.
Leo tiba-tiba mengepalkan kedua tangannya. Apa dia ingin memukulku untuk membuatku diam? Kenapa harus di tempat sepi begini? Siapa pun tolong aku!
BUK
"Hei! Siapa kau?! Dasar pengacau!"
Apa ini? Kenapa tidak sakit? Tanpa sadar aku jadi memejamkan kedua mataku. Sesaat aku membuka mataku kembali, kulihat Leo sudah terkapar di atas tanah.
Di hadapanku juga terlihat ada seorang pria yang mengenakan masker dan topi hitam di hadapanku. Apa barusan dia memukul Leo? Siapa pun dirimu aku sangat berterima kasih.
"Kau tanya siapa aku? Aku adalah kekasih wanita ini. Jadi, pergilah Sebelum aku benar-benar marah!" Perintah pria bertopi hitam itu pada Leo
"Ukh.."
Dalam hitungan detik, Leo langsung beranjak pergi bersama dengan kekasih prianya itu. Syukurlah dia sudah pergi. Aku benar-benar ketakutan tadi.
Lalu sekarang, dia siapa? Siapa pria yang baru saja mengaku sebagai kekasihku ini?
"Siapa kau?" Tanyaku pada pria bertopi hitam itu.
Pria itu lalu tiba-tiba membuka maskernya dan kemudian tersenyum padaku.
"Ka.. Kamu?! Bagaimana bisa?"
Dia kan pria aneh yang bertemu denganku di tempat konser tadi! Mengapa dia bisa berada di sini? Apa dia sedang membuntutiku?
"Justru aku yang seharusnya bertanya seperti itu. Kenapa kamu berkeliaran di tengah malam begini?" Tanyanya kembali padaku.
"I.. Ini bukan urusanmu. Lalu kamu? Kenapa kamu bisa berada di sini?" Tanyaku padanya.
"Gedung agensiku lokasinya tidak jauh dari sini. Sepertinya kita ditakdirkan untuk bertemu lagi ya nona." Ucap pria itu sambil tersenyum.
"Agensi?" Tanyaku lagi.
"Wah ternyata kamu benar-benar tidak mengenalku ya? Aku Felix, salah satu member dari grup Boys 61." Terangnya.
Apa? Jadi orang yang sempat berselisih denganku ini adalah orang penting?! Ugh seharusnya aku tak pernah bertemu dengannya.
"Ya sudah kalau begitu. Terima kasih karena telah menolongku tadi. Sekarang bagaimana caranya agar aku bisa membalasmu? Aku bukanlah orang yang tidak tau terima kasih." Kataku.
"Jadilah kekasihku." Jawabnya dengan santai.
"Apa?!"
Aku tidak salah dengar kan? Apa yang dia katakan tadi? Kekasih? Dia tidak sakit kan? Kenapa dia mengatakan hal aneh seperti itu? Kita kan tidak pernah saling mengenal.
"Aku tertarik padamu sejak pertama kali kita bertemu. Aku yakin kamu tak akan bisa berpaling dariku." Ucapnya dengan senyuman.
Wah percaya diri sekali dia sampai bisa mengatakan itu dengan yakin? Dia jadi terlihat lucu.
"Kamu yakin? Bagaimana kalau nanti aku berpaling darimu?" Tanyaku sambil tersenyum getir.
"Kita tidak akan tau jika tidak mencobanya." Balasnya.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan menantikan caramu untuk membuatku tak bisa berpaling darimu." Kataku sambil tersenyum.
"Kamu pasti akan menyesal. Karena kamu akan sangat mencintaiku nantinya." Balasnya lagi.
Begitulah aku yang seorang wanita biasa ini dapat menjadi kekasih seorang idola terkenal. Apa aku akan mencintai Felix seperti perkataannya tadi?
Yah.. semoga saja.