Hitler Sang Don Juan #Bagian 1
Ketika kamu berhadapan dengan musuhmu, taklukkan mereka dengan cinta.
_Adolft Hitler_
***
Hitler. Nama yang cukup bengis untuk seorang pria muda yang terlihat kutu buku. Dia hanya menyukai perpustakaan. Baginya, tempat itu adalah sorga yang indah. Banyak pengetahuan dan cara yang dia dapatkan hanya dengan sekedar membaca buku.
'Drrttt!'
Ponsel dalam saku celana Hitler bergetar. Sepasang mata di balik kacamata bundarnya, terlihat mendongak kesal. Hanya ada sedikit nama dalam daftar kontak di dalam ponselnya, dan hanya ada satu nama yang akan selalu menghubunginya. Hanya Jen, adik kandungnya.
"Siapa lagi yang menyakiti Jen?" gerutu Hitler menutup bukunya, dan merogoh ponselnya,dan menekan dial hijau.
"Jika kau bukan Adikku. Aku akan menggantungmu dari dulu. Namun, hanya kau yang aku miliki. Maka, aku telah memaku kakimu dari awal. Kau selalu memerintahku untuk hal bodoh yang tidak bisa kau atasi!" dengus Hitler pada ponselnya.
Hitler menahan napasnya. Mengatur napasnya
"Ya, Jen!"
"Banyak orang menuduhku pembohong!Pembual!"
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku berkata jika, Nave telah bunuh diri. Namun, beberapa temanku berkata,Nave tidak pernah mengalami bunuh diri. Luke, kekasih pembual itu malah menyebutku gila di hadapan semua orang di club. Aku sangat malu telah ketahuan berbohong."
"Jen, tidak masalah seberapa banyak kebohongan yang kamu buat, tetapi yang penting adalah bagaimana aku membuat kebohongan itu menjadi kenyataan!"
"Aku ingin mereka berdua mati! Agar semua orang kembali percaya padaku."
'Tuts!'Panggilan berakhir.
Hitler menahan napas menatap setiap deret buku. Namun, pikirannya bukan berada di sana.
"Aku akan melakukan untukmu!" Hitler meletakkan buku kembali ke dalam raknya.
'Beep!'
'Beep!'
'Nama pria itu Luke cukup berpengaruh, dan memiliki banyak teman. Dia menyindirku dengan banyak hal. Dia sang pembual yang berada di atasku. Master mythomania,dan Nave adalah seorang selegram populer yang selalu rank di atasku.Lihatlah, Follower begitu banyak karena auto boot. Auto coment. Auto Like. Auto Klik!!! Panjat sosial yang menyedihkan! Abnormal sekali menyebut diriku sirik dan iri! Habisi saja mereka berdua.' pesan Jen di ikuti gambar sang pemukul Jen di bawah pesan Jen.
"Master Mythomania yang memiliki banyak teman. Apakah aku bisa mengalahkannya?" Hitler tersenyum miring, dan mengutip satu kalimat Adolf Hitler untuk dirinya,"Siapapun bisa menghadapi kemenangan tapi hanya orang hebatlah yang bisa menghadapi kekalahan."
Hitler meletakkan tangannya bersembunyi dalam saku celananya, dan bergumam pada dirinya sendiri,
"Waktu kecil aku selalu bermimpi menjadi seorang pelayan Tuhan. Ternyata, yang terjadi aku hanyalah seorang pembunuh pada malam hari dan si kutu buku pada pagi hari yang hanya menghabiskan setengah hidupnya untuk menganggumi Adolf Hitler, Genghis Khan, Attila,Qin Shi Huang,dan Joker."
Hitler keluar dari perpustakaannya. Dia melihat angka pada jam tangannya. Pukul empat sore. Dia menatap pada sepeda usang miliknya, dan dia menatap kardus besar yang bergantung di belakang sepeda.
"Aku hampir lupa. Jika, setiap dosa harus menyerahkan amal sebelum beraksi. Agar Tuhan menyelamatkan hidupku!"
Hitler memutuskan mengendarai sepeda usangnya ke sebuah panti asuhan, dan memeluk kardus besar berisi mainan itu. Dia tersenyum lebar. Ketika, satu demi satu anak datang melambai menatap kehadirannya.
Hitler dengan langkah pelan membawa kardus besar itu menuju rumah panti asuhan. Dia memberikan setiap satu mainan pada setiap satu anak dengan bertukar kata yang sangat ramah. Lalu, setelah kardus itu kosong. Diapun meninggalkan panti asuhan, tepat pukul 7 malam,dan dia melambai pada rumah yang penuh dengan anak-anak itu.
"Cara terbaik menemukan dirimu adalah dengan meleburkan diri dalam pelayanan orang lain. Terlihat baik sepanjang hari. Bengis sepanjang malam,"ujar Hitler dengan suara rendah menatap sepasang sepatu usang yang dia kenakan.
Hitler meninggalkan sepedanya di bawah pohon. Membiarkan dirinya menunggu di bawah pohon. Seraya satu pesan terkirim pada seorang pria yang terus mengikutinya dengan sebuah mobil ber-ikon kuda tersebut.
"Tuan Hitler, silahkan masuk." Pria itu membuka pintu mobilnya.
Hitler tidak memberikan sedikit pandanganpun. Di balik kacamatanya,sepasang matanya terlihat dingin,dan dia duduk dengan seribu keangkuhan mengikutinya.
"Akan kemana Tuan?"
"Ikuti lokasi yang aku kirim. Tetapi, sebelumnya antar diriku ke barbershop dan boutique."
'Beep!' Sebuah pesan lokasi masuk ke dalam ponsel sang pengemudi. Pengemudi pun mengantar majikannya pergi ke sebuah boutique ternama dan mengantarkan ke barbershop terkenal pula.
Setelah berdandan rapi dengan rambut yang terlihat tercukur rapi. Dengan setelan pakaian yang memenuhi kriteria sebagai pria idaman yang terlihat gagah dan tampan. Hitler meminta sopirnya mengantarkan ke sebuah club.
"Tuan, sangat tampan. Apakah ingin berkencan?"
"Aku hanya ingin memberi hadiah, dan menunjukkan waktu sewa surga milik mereka telah berakhir.Kini, mereka harus merasakan tempat baru, neraka secara gratis."
Hitler mengangkat satu alisnya,dan tersenyum aneh, 'Dengan penggunaan yang terampil dan berkelanjutan, seseorang dapat membuat orang lain melihat surga sebagai neraka atau kehidupan yang sangat menyedihkan sebagai surga.'
Tiga Puluh Menit Kemudian ....
Hitler telah menginjakkan kakinya pada sebuah club malam, tepat pukul 10 malam. Hingar-bingar beserta lampu sorot warna-warni menyoroti lantai dansa.
Hitler memilih duduk di sebuah bar Stoll. Dia duduk berhadapan dengan Vic, seorang bartender yang langsung mengenalinya, dan berbisik dengan arah pandang yang tetap berada pada botol whiskey milik tamu pelanggan yang sedang lelah dan membaringkan kepalanya tidur dia atas meja.
"Wanita itu terkenal memiliki banyak teman. Bagaimana kau membuat dia terlihat membual?" tanya Vic.
Hitler mengangkat satu alis, "Akupun akan terlihat lebih jujur dan membawa bukti. Sedangkan, seorang karakter jujur jika tidak memiliki bukti. Hanya akan menjadi korban."
Vic melemparkan sebuah amplop, "Seluruh identitas teman terdekat dan dirinya berada di dalam."
Vic meletakkan botol, dan dia berjalan beberapa langkah mendekati Hitler, "Aku rasa kau harus memberiku uang."
Hitler mengambil satu kunci mobil, dan meletakkan di atas meja, "Mustang!"
Vic membuka matanya lebar, tidak menyangka jika dirinya akan mendapatkan mobil Mustang edisi terbatas. Belum saja, Vic akan berterimakasih. Hitler telah pergi membawa amplop, masuk ke dalam satu room yang telah dia pesan. Dia membaca setiap informasi dan mengingat setiap wajah yang telah dia tarik keluar satu demi satu dari amplop.
Usai membacanya. Hitler menyalakan pematik api dan mulai membakar amplop tersebut. Menghanguskan setiap bukti pencariannya.
'Tok! Tok! Tok!'
Hitler mengangkat pandangan. Menjatuhkan amplop tersisa ke lantai. Membiarkan amplop itu terbakar menjadi abu, dan api padam kemudian, dan menyisakan remahan hitam.
"Masuklah!"
Seorang wanita tampak datang masuk ke dalam ruangan. Dia terlihat cantik dan anggun,apalagi lekuk pinggul lebih lebar dua kali daripada pinggangnya.
"Kau mencari ku?"
Hitler hanya menganggukkan kepala.
Wanita bernama Nave itu duduk di sisi pria itu, dan mengangkat sepasang matanya akan pria di sisinya. Sangat kaya raya dalam satu tampilan. Dari sepatu hingga anting berlian merah, terlihat sangat memiliki harga yang luar biasa.
"Kau kaya?"
"Ya!"
"Apa yang kau inginkan?"
"Mencintaimu!"
"Konyol. Baru bertemu. Sudah mengaku cinta!"
Hitler menarik tangan Nave. Tubuh wanita itu jatuh ke dalam pangkuan kakinya. Nave sedikit terkesiap. Namun, enggan pula pergi. Dia mampu mengendus aroma parfum yang sangat mahal dengan edisi terbatas. Tentu saja mangsa kaya akan menaikkan dirinya lebih ke atas lagi.
"Kau Don Juan! Playboy bodoh!"
"Berapa yang kau inginkan? Ketenaran nyata lebih dari hari ini!"
Sepasang mata Nave cemerlang. Pikirannya adalah ingin segera mamfaatkan pria ini.
"Aku tidak menerima apapun, aku bukanlah wanita gila untuk populernya," ujar Nave terlihat angkuh.
"Kau tidak perlu uang!"
"Ya!"
"Kau perlu cinta!"
"Tentu!"
"Aku akan mengejarmu!"
"Aku akan menunggu 1000 caramu!"
Hitler mengangkat satu alisnya, dan meraih punggung tangan Nave. Menciumnya.
"Aku akan menggunakan seluruh pesonaku!"
Nave tersenyum manis. Dengan sinar mata yang terlihat licik dan silau. Dia cukup penasaran akan apa yang akan di berikan seorang Don Juan super kaya ini.
Nave berdiri dari pangkuan pria itu, dan melambai pergi dengan memamerkan setiap lengkung pinggulnya yang berjalan melengkung sempurna.
"Jika kau mencintaiku lakukanlah segalanya!" ujar Nave di antara celah pintu sebelum kepergian langkah kakinya meninggalkan pintu.
'Seorang pria jika sudah mencintai wanitanya, akan jatuh idiot. Bukan hanya populer yang aku dapatkan. Namun, jantungnya dapat kupermainkan kapan saja,' batin Nave menutup pintu kemudian.
Hitler mengangkat gelas dan menaikan salah satu alisnya, dan berkata, "Dia pikir aku tidak bisa membedakan si penjilat yang sok jual mahal. Sayangnya, dia bertemu dengan Hitler yang tidak pernah mengenal cinta. Namun, pandai membagi cinta. Don Juan kejam itu hanya aku, Hitler!"
***
Bersambung !!
cerita ini sekedar terinspirasi dari Quote Hitler dan otor juga ingat Don Juan dari seorang teman. Untuk percintaan Hitler, setahu otor dia tidak pernah menikah. Hanya saja memiliki kekasih. Entahlah ... ini hanya cerita halu miik otor ... kombinasi yang pas Hitler, si bengis anti cinta dan Don Juan, si perayu ulung. Nave adalah sosok wanita yang akan terbunuh. Jadi jangan berharap cerita ini akan romantis, karena adalah cerita thriller!