Angin malam itu terasa menyejukkan. Atau mungkin karna euforialah yang membuatku tersenyum. Ku menatap ke atas, bintang gemintang menempel di langit malam dengan sedikit awan yang bergerak. Rembulan yang tak utuh turut memamerkan cahayanya.
Ini bahaya. Aku hanya berdua dengan lelaki di sebelahku. Hanya berjarak 1 meter ditengahi sebungkus wafer peredam kecanggungan. Tapi tak kuhiraukan itu. Aku terlanjur senang setelah bisa pergi keluar menyatu dengan alam. Yang jarang kualami karena ketakutan orangtua.
Kerlap kerlip lampu jauh di bawah sana mampu menarik garis senyumku. Betapa indahnya terlihat dari atas. Dan di sini aku dan dia dan hanya cahaya senter yang membantu kami tuk menerangi. Sembari memasak air yang akan kami seduh menjadi susu jahe.
Lima belas menit yang lalu habis untuk membangun tenda berdua. Setelahnya, ia memintaku duduk manis di atas karpet. “Biarlah aku yang membereskan barang-barang ini”
Aku patuh, duduk lebih dulu di atas matras kecil. Tak jemu memandang sekitar, dan merasakan angin yang mencoba menelisik ke jaket angkatan sekolahku. Ia mengeluarkan minuman sachet, lantas mengeluarkan kompor demi memasak kembali air mineral. Kurasa ia manis, menyuruhku diam saja, tanpa banyak gerak. Seolah-olah, aku adalah seorang putri dan ia adalah pelayanku.
Jemarinya sibuk menuangkan air, sementara bibirnya memulai pembicaraan. Ia masih tak menyangka akan semudah itu mengajakku ke bukit. Ah tidak! Justru akulah yang mengajaknya. Takut tak akan sempat lagi. Suhu panas yang merambat dari air, lalu ke gelas, berakhir ke telapak tangan. Membuatku sedikit ringan hati menimpali kalimatnya.
Aku bercerita tentang orangtua yang tidak memberi izin. Izin untukku pergi bersama kakak pertama menuju desa tempat tinggalnya dan keluarga kecilnya. Aku kesal. Merasa tak adil. Seenaknya kutukar dengan rencanaku pergi ke rumah sahabat. Padahal aku pergi ke provinsi sebelah. Bersama seorang lelaki.
Ia tertawa kecil, lagi-lagi tak menyangka aku senekat itu. Tiba gilirannya bercerita, ia juga tak merasa adil. Dengan perlakuan orangtuanya yang pilih kasih. Dimana kakak perempuannya yang dituruti sekolah keperawatan. Namun berakhir menikah yang bahkan belum sempat bekerja dengan menyalurkan ilmunya. Lalu kakak laki-lakinya yang juga sekolah tinggi sekuriti. Lagi-lagi ilmunya tidak disalurkan.
Orangtuanya kecewa, tak ingin terulang lagi, namun anak ketiga dan seterusnya yang menanggung dampaknya. Ia memimpikan sekolah tinggi pelayaran. Tapi apa daya, tak ada lagi kepercayaan. Dua adiknya ia nasehati, agar tak usah menaruh iri pada kedua kakak. Aku terdiam mendengarkan.
Tak ingin memihak, karena aku tak tau cerita keseluruhannya. Tapi kuhibur dia dengan senyuman. Serta sedikit kalimat. “Kamu sudah cukup hebat, akan tiba masa kamu mampu meraih mimpimu. Bahkan mungkin lebih tinggi daripada kedua saudaramu.”
Kuseduh minumanku, ia menggigit wafer. Pembicaraan tetap mengalir, walaupun aku tak terlalu terbuka. Aku kembali mengingat pada satu minggu ke belakang. Dimana kami berkenalan di sebuah aplikasi pencarian jodoh dan teman. Tak ada sehari bertukar nama, ia meminta kontak Whatsappku. Tanpa pikir panjang pun kuberikan. Aku ingin menambah teman diskusi, pikirku kala itu.
Aku yang bertindak mengikuti moodku, sering tak membalas cepat pesannya. Kubalas berjam-jam setelahnya, atau bahkan hanya kubaca saja. Namun pribadiku cepat nyaman dengan orang baru, asalkan virtual. Tanpa waktu yang lama aku merasa nyaman dengannya. Merasa ia bisa kutitipkan cerita-cerita. Kini, beradalah aku di sini dengannya. Yang tak kusangka, jam-jam selanjutnya adalah momen bahagiaku.
tamat~~
like, komen 😐💓💓