Sebuah parfum yang harus dibayar dengan jiwa kalian.
***
Katanya jika kamu menggunakan parfum itu maka orang-orang dapat terpikat olehmu. Itulah yang akan langsung terlintas dibenak orang-orang ketika menggunakan parfum buatan. Mereka hanya mementingkan sensasi dunia tanpa memedulikan harga yang harus mereka bayar.
Parfum yang kujual memanglah gratis tanpa dipungut biaya sedikitpun. Tanpa adanya perjanjian. Hanya ada satu—barter.
Lonceng toko kembali berbunyi. Seorang gadis belia membuka pintu toko dan memasukinya. Hampir seluruh pengunjung toko ini adalah gadis remaja. Mereka yang masih tergila-gila cinta akan melakukan apa saja demi menarik lawan jenisnya.
"Apakah benar toko ini menjual 'parfum'?"
"Tentu saja. Tolong mendekat."
Aku tak pernah menawarkan aroma apa yang diinginkan pembeli karena aku yang akan menilainya. Menyesuaikan aroma tubuh dengan aroma parfum dengan cara mencium pipinya.
Aku mendekatkan bibirku lalu mencium pipinya. Sesekali aku mengendus-endus tubuh pembeli. Terkadang mencium saja tidak dapat mengetahui secara jelas aroma tubuhnya. Manis. Jiwa manusia itu memang manis. Namun lihatlah sifat mereka tak semanis jiwanya. Lucu.
"Baiklah, sudah selesai. Mohon ditunggu."
Aku kembali ke mejaku untuk membuatkan parfum. Aku tak membuatnya di ruangan khusus agar tak dilihat oleh pembeli. Aku membuatnya didepan mereka. Ya ... manusia jaman sekarang terlalu menyepelekan hal-hal berbau magis dan bodoh, terlalu percaya akan apa yang mereka lihat.
Aku mulai menuangkan beberapa cairan kedalam botol. Mencampurkan cairan satu dan cairan dua. Hanya membutuhkan waktu kisaran 15 menit dan parfum pun selesai.
"Apakah benar tidak dipungut biaya atau perlukan saya mengisi formulir tertentu?"
"Tentu saja tidak. Lagipula biayanya sudah dibayar sejak pertama kali masuk"
Raut gadis itu menunjukkan wajah kebinggungannya. Itu sudah biasa. Lagipula mereka tak akan terlalu pusing memikirkannya.
"Baiklah"
"Terimakasih, silahkan datang kembali." Semoga, dia tidak menyesal telah memesannya. Lagipula, menyesal pun sudah terlambat. Karena ini adalah magic parfume—parfume yang harus kalian bayar dengan jiwa kalian.
***
tepat pukul 21.00 seusai aku menutup tokoku aku akan mengunjungi rumah para pembeli. Gadis yang tadi siang datang ke tokoku adalah salah satunya. Namanya Raila meskipun tampangnya seperti gadis polos nyatanya ia tak sepolos itu.
Gadis itu baru saja turun dari atas motor yang dikendarai oleh seorang remaja laki-laki. Pacar? Bukan. Anak laki-laki itu adalah teman yang membantunya dalam menjalankan kasus prostitusi online.
Gadis itu langsung masuk kedalam rumah dan pergi menuju kamarnya. Ku intip dari luar jendela. Seperti yang kalian bayangkan, seperti biasa gadis itu akan membuka ponselnya dan kembali menjalankan pekerjaannya. Membalas puluhan chat yang berhubungan dengan pekerjaannya.
Satu jam menunggu, gadis itu lalu meletakkan ponselnya diatas laci. Ia lalu membuka tasnya dan mengeluarkan parfum yang akan aku buatkan. Ia mulai menyemprotkan parfum itu keberapa bagian tubuhnya.
Tiga. Dua. Satu. Segerombolan iblis liar datang dari saluran pembuangan air. Mendatangi kamar gadis itu dan mulai memakan gadis itu. Bukan, bukan memakan tubuhnya melainkan mananya.
***
"Lo itu cukup temenin dia semalem aja. Kan lumayan, daripada lu bayar utang 500.000 ribu ke gw, kan? Cepetan! Kalo lu gak nurut ... awas!" Raila mengancam gadis berkacamata bulat, panggil saja Nana.
Nana hanya bisa tertunduk sedih. Yang benar saja, Nana harus mengorbankan kesuciannya demi membayar hutang. Tapi, setidaknya balasan yang didapatkan Raila sudah cukup pantas bukan?
Nana lalu mengangguk dengan wajah sedihnya. Gadis menyebalkan itu sama sekali tak merasa kasihan, ia pergi dengan mudahnya seraya menunjukkan senyuman merendahkan. Seorang iblis mana bisa merasakan belas kasihan.
***
Yah ... itulah sedikit cerita mengenai kejahatan yang diperbuat gadis bernama Raila. Gadis itu berteriak kesakitan, menjerit. Namun percuma, tak ada seorangpun yang dapat mendengarkan teriakan kesakitannya. Esok, ia akan menjadi seorang gadis tanpa jiwa. Dan roda kehidupannya pun berputar.
Segerombolan iblis liar itu mengitarinya. Semakin jahat perbuatan yang dibuatnya maka mananya akan semakin banyak dan akan semakin menarik perhatian iblis liar. Begitu juga dengan hidupnya. Semakin banyak mana yang diserap oleh iblis liar, maka ia tak akan lebih dari boneka berjalan. Hidup tanpa memiliki tujuan.
Ahh, kalian pasti bertanya; siapa kamu? Namaku, panggil saja Libra. Libra salah satu zodiak yang memiliki simbol berupa timbangan. Keseimbangan. Begitulah aku mendeskripsikan diriku. Aku iblis? Tentu saja bukan, jika aku iblis untuk apa aku menghukum Raila. Aku ... aku adalah Penjaga Keseimbangan. Bukan keseimbangan alam yang kujaga, karena itu tugas manusia. Melainkan antara kejahatan dan kebaikan.
Kini Raila telah mendapatkan hukuman yang setimpal. Roda kehidupannya telah berputar. Sesal tiada lagi berarti. Menangisi pun tak bisa. Terimalah, hanya itu yang bisa ia lakukan.
Haii, dengan Lisaa disini. Lama tak menulis, jadi sedikit kagok. Hha, mungkin ceritanya sedikit gaje atau bahkan malah 100% gaje.
Oh ya, jika kalian tertarik membaca novelku silahkan cari "Warna Suara" di akun keduaku @Luxvyria //psstt, promosi tidak apa-apa, kan? Hahaha.