Hei berhenti di sana! Aku tau kamu belum like. Ceffet tekan likenya, kalau kamu suka ya!
=•=•=
"Benar! Aku tidak bohong! Kemarin saat tengah malam, aku melihat hantu ...," teriak seorang gadis pendek berusaha meyakinkan temannya.
Mikuhara Yoshikawa, si anak SMA penyuka teori-teori tentang makhluk astral. Meski begitu, sebenarnya Miku adalah orang yang penakut. Hanya saja, rasa penasarannya sangat besar sehingga ia melupakan rasa takutnya.
"Pftt ... heii, Miku."
Tlak!
Seorang gadis menjentik kepala Miku. Memiliki rambut panjang hitam terurai, serta jaket coklat tua yang terikat di pinggangnya. Di dada kanannya tertulis sebuah nama 'Violet Kabayashi'.
"Awh sakittt." Miku memegangi kepalanya yang terasa sedikit sakit karena jentikan Vio.
Violet menghela napas. "Haihh ... kau ini. Bukankah aku sudah pernah bilang? Berhentilah membaca teori-teori tentang hantu! Mereka itu tidak nyata!" ujar gadis yang karib dipanggil 'Vio' oleh Miku ini. Ia lalu melanjutkan, "Lagipula, kamu ini penakut. Ke kamar mandi sendirian pun nggak berani," kata gadis itu seraya menunjuk hidung Miku.
Setengah dari ucapannya adalah sindiran untuk Miku, satu-satunya siswi di kelas ini yang sangat takut ke kamar mandi sendirian walaupun hari masih siang.
Miku cemberut. "Itu karena aku trauma dengan cerita hantu kamar mandimu tahu!"
Vio tersenyum sambil mengacak-acak rambut sahabat imutnya itu. "Yaa maaf deh," lirihnya.
"Tapi tetap saja, aku tidak percaya dengan ucapanmu. Hantu itu tidak ada." Seperti biasanya, Vio tetap tidak mempercayai apa yang mereka sebut dengan 'Hantu'.
Miku masih agak sedikit kesal. "Terserah kau mau percaya atau tidak, tapi aku tak berbohong hmp!" Gadis itu mengalihkan pandangan matanya ke samping, ogah menatap Vio yang berdiri di depannya.
Namun, bukannya merasa bersalah, Vio malah tertawa geli. "Hahaaha!! Baiklah baiklah, jangan marah begitu dong. Iya iya deh, aku percaya." Vio lalu tersenyum gemas.
Setelah mendengar ucapan sahabatnya, Miku pun berbalik. Ia kembali menatap Vio.
"Benarkah?" tanyanya tak yakin.
Vio duduk di kursi depan Miku. "Yah, iya tidak juga sih. Aku tak percaya sesuatu yang tak ada buktinya," ungkap Vio kemudian meneruskan, "ummm, memangnya ... bagaimana bentuk hantu itu?"
"Sebentar ...." Gadis itu mengambil ponsel dari sakunya, lalu mulai mencari-cari sesuatu. "Ketemu! Ini dia!" Miku mengarahkan layar ponselnya ke depan wajah Vio, agar ia bisa melihat sesuatu yang ingin ditunjukannya dengan jelas.
"Hm?" Vio yang awalnya tak mau meladeni bualan tak masuk akal Miku, pada akhirnya ia menyerah. Rasa penasarannya terlalu tinggi. "Hee?" Seketika, gadis berusia tujuh belas tahun ini terkejut tatkala melihat ponsel Miku.
"Rumor gadis lonceng? Apa itu?!" Vio bertanya karena penasaran.
Mengetahui bahwa Vio telah melihat apa yang ingin ia tunjukkan, maka Miku pun mengambil ponselnya kembali.
"Yah, itu adalah rumor yang sedang viral beberapa saat terakhir. Katanya, ada seorang gadis yang meninggal di SMA Nayo. Kau tahu kan, SMA di kota Itomura?" Miku menjelaskan semua tentang fotonya.
Yah, foto yang ditunjuk olehnya adalah foto dari sebuah situs web berita. Beberapa foto yang menampilkan gambar seorang gadis dengan baju SMA berlumuran darah serta membawa pisau sedang berdiri di dekat lonceng sekolah. Gadis berambut panjang itu memiliki mata yang menyeramkan. Senyumannya juga sangat mengerikan.
"Hm ... yah, aku tahu. Terus?"
"Nah, katanya gadis itu sering dibully, makanya dia bunuh diri. Setiap malam pukul 12, jika seseorang mendengar suara lonceng berbunyi, bisa saja itu pertanda bahwa dia akan menampakkan diri. Dan juga, dia akan membunuh siapapun yang menatap matanya, hii benar-benar mengerikan," sambungnya.
Vio terdiam sejenak. "Hmm ... ceritanya lumayan seram. Tapi, aku masih tak percaya tauu. Lagian, itu hanya rumor ya kan? Mungkin saja foto itu hanya hasil editan."
Miku kembali menghela napas karena kecewa. Anak yang sering dijuluki si pendek oleh teman-teman sekelasnya itu merajuk seraya mengucapkan, "Huhh ... katanya kau percaya hmp! Ya sudahlah kalau kamu tidak percaya. Aku akan pergi ke sekolah itu lagi untuk mencari bukti."
Vio tersenyum jahil. "Emangnya, kau berani apa?" tanyanya dengan disertai unsur ejekan. Meski sedikit.
Menyadari bahwa Vio sedang mengejeknya, Miku pun mengerutkan dahinya. "Huhh ... aku berani tau! Sejak kapan aku takut dengan hantu?!" sangkalnya kesal.
"Iya dehhh. Emm, kalau kamu mau kesana, aku ikut ya! Soalnya aku khawatir kau akan merengek ketakutan nanti," ucap Vio masih belum berhenti mengejek.
"Sudah kubilang, aku tidak takut!"
"Ah masa?"
"Iya!"
"Enggak ah. Aku tak percaya."
"Iya, beneran."
"Nggak."
"Iyaa!!!"
=•=•=
Malamnya, seperti yang dijanjikan, Vio dan Miku berangkat menuju SMA Nayo. Wajah keduanya tampak sangar serius, selama di perjalanan tak ada pembicaraan sama sekali. Tidak hingga Vio memutuskan untuk mencairkan suasana.
"Hei, Miku ... apa kau takut hm?" tanya Vio.
Miku tersentak kaget, tapi ketika Miku tahu kalau Vio yang bertanya, ia pun bernapas lega. "Ee-ehh, tidak kok. A-aku baik-baik saja ahaha," elaknya.
"Hmm ... oke deh." Vio kembali menyetir mobilnya, tapi tak lama kemudian, "BAAA!"
"Kyaaa!!" Miku berteriak sekencang-kencangnya. Ia kaget karena dikagetkan ...
... oleh Vio.
"Heee, Vio!!"
"Pftt ... katanya, kau nggak takut. Kenapa kaget begitu?"
"Ghh ... terserahlah."
Miku membuang wajahnya keluar. Dia marah karena Vio selalu menjahilinya. Sementara di sampingnya, Vio hanya tersenyum puas. Lagi-lagi, tak ada yang angkat bicara setelah marahnya Miku. Keadaan pun sepi.
Malam ini, tsuki bersinar dengan terang. Tapi jalannya sangat sepi. Hanya ada beberapa mobil yang melintas.
Tak perlu memakan waktu lama, mereka telah sampai di SMA Nayo. Baru saja mereka keluar dari mobil, mata mereka berdua telah menangkap pemandangan yang amat sangat mengerikan. Bangunan sekolah SMA Nayo memang sudah lama tak difungsikan lagi, kini, tembok dan lingkungan sekolah tua itu pun menjadi sangat mengerikan.
Miku meneguk salivanya sambil menyatukan kedua tangannya di depan dada. Di sisi lain, Vio sedang bersiap. Gadis yang memiliki pemikiran dewasa ini sedang menyalakan lampu senter agar mereka tidak kesulitan berjalan dalam gelap. Ia juga menyiapkan kamera untuk mendokumentasikan perjalanan menantang ini.
Setelah selesai, Vio berbalik menatap Miku. "Ayo, Miku. Kita masuk sekarang!" ajak Vio sambil mengulurkan tangan.
"Heh? Ah, i-iya." Gadis imut itu meraih tangan sahabatnya.
Mereka berdua berjalan bersama menuju sekolah. Hawa dingin serta suasana sunyi senyap membuat keberanian Miku memudar. Dia masih bisa melangkah karena ada Vio di sampingnya. Sekarang, hati Miku mengatakan kalau ia harus segera pulang. Tapi ia tak mau mengikuti kata hatinya, karena ia ingin membuktikan bahwa apa yang dikatakan dengan 'Hantu' itu benat adanya.
Langkah demi langkah Miku dan Vio berjalan. Bahkan, suara decitan sepatu mereka dapat didengar dengan jelas oleh telinga. Vio menyenteri lantai sekolah yang tampak sangat tua. Banyak lumut-lumut hijau menghiasi setiap keramik lantai tersebut.
Semakin mereka berjalan masuk, semakin terasa pula hawa-hawa mengerikannya. Apalagi, sekarang mereka telah sampai di depan gudang. Sekilas, Miku dan Vio melihat banyak sekali meja-meja dan kursi-kursi kayu hancur dibiarkan begitu saja.
Saat melihat pemandangan ini, Miku mendadak merasa tidak nyaman. Entah kenapa tiba-tiba otaknya langsung memberi banyak sekali gambaran-gambaran mengerikan, salah satunya, gambaran bahwa dia dan Vio akan terbunuh dengan anggota tubuh terpisah.
Miku mencengkram erat tangan Vio serta menyembunyikan wajahnya di balik pundak sahabatnya ini. Melihat Miku yang sedang ketakutan, gadis itu pun mengeratkan genggaman tangannya juga.
"Tenanglah, Miku. Aku ada di sini," ucapnya bermaksud menenangkan.
Miku mendongak, menatap wajah Vio yang tengah tersenyum. "I-iya," jawabnya dengan perasaan ragu.
Vio menganggukkan kepalanya dua kali.
Perjalanan mereka belum berakhir. Karena ini belum jam 12 malam, maka mereka pikir, mungkin saja hantu gadis bel itu belum muncul.
Pukul 23.58
Mereka memutuskan untuk beristirahat dulu. Miku mengambil air minumnya, sementara Vio mengecek kameranya.
"Glek ... glek ... glek ... hahh ...." Miku meminum 1/4 air putih di botolnya.
Vio tersenyum gemas lagi saat melihatnya. "Heii, kau ini Miku. Bisa-bisanya membawa minum pada saat-saat begini haha!" Ia mencoba untuk membuat lelucon agar Miku tidak takut.
Miku memasang wajah kesalnya, lagi. "Huh. Aku nggak takut! Aku cuma capek." Dia mengelak lagi untuk yang kesekian kalinya.
Vio tertawa kecil. "Oh ya, kenapa hantu 'Gadis Lonceng' belum keluar? Padahal sebentar lagi udah hampir tengah malam, lho!" kata Vio.
"Hm? Memangnya ini jam berapa?" Miku berbalik tanya.
"Sebelas lewat," jawab Vio singkat.
"Ohh, belum jam dua belas kan? Ya, berarti belum," ujar Miku seraya menunjukkan wajah datar seolah tak takut apapun. Padahal nyatanya, hati Miku sedang bergejolak tak karuan.
Vio melirik jam tangan analognya. "Yah, kurang satu menit lagi," jawabnya.
Tlek!
Tepat pada saat Vio mengatakan itu, tanpa diduga angka menit di jam tangannya berubah menjadi "12:00".
Miku dan Vio seketika saling bertatapan. 'Ini adalah saatnya' itu adalah arti tatapan mereka.
Vio melihat sekeliling untuk memastikan. Sementara Miku terlihat gemetar ketakutan.
Tling~ Tling~ Tling~
Entah darimana asalnya, terdengar suara lonceng dibunyikan tiga kali.
Sudah dimulai.
Namun, karena tak ingin terjebak dalam ketakutannya Miku dengan segera mengalihkan perhatiannya kepada Vio. Tapi bukan rasa takut berkurang yang ia dapatkan, Miku malah semakin takut. Karena samar-samar ia melihat sesosok gadis dengan menggunakan seragam sekolah penuh bercak darah dari kejauhan.
Sosok itu masih berdiri di sana tanpa bergerak sedikitpun.
Miku menggerakkan bola matanya.
"Vi-Vio ...," lirih Miku ketakutan.
Vio menatap Miku. "Hm? Ada apa?"
Miku meneguk salivanya sekali lagi. Diiringi rasa ragu, ia secara perlahan mengangkat tangannya untuk menunjuk sesosok di belakang Vio.
Vio awalnya tidak paham dengan apa yang ingin ditunjukkan oleh gadis itu, tapi akhirnya ia mengerti. Dia berbalik ke arah tunjukkan tangan Miku.
"Hmm ...."
"Ada apa, Miku? Aku tak melihat apapun," ujar Vio setelah berbalik.
Benar saja, tidak ada siapapun di balik Vio. Sosok gadis tadi menghilang.
Mengetahui fakta bahwa sosok itu menghilang secara cepat, tentu saja membuat Miku semakin ketakutan.
Drtt ... drtt ... drtt ...
Pada waktu yang bersamaan, terdengar suara ponsel berdering. Miku dan Vio terkejut.
"Aahh, ini hanya ponselku. Tunggu sebentar, Miku. Aku mau mengangkat telepon dulu," ucap Vio dengan volume suara pelan.
Miku menganggukan kepala dua kali, sambil menjawab, "I-iya."
Vio mengambil ponsel dari saku kanannya lalu ia menyalakan layar ponselnya. Tapi, sebuah kejadiaan tak diduga kembali terjadi.
"AAARGHHH!!" Vio berteriak sekencang-kencangnya tatkala melihat sesosok gadis SMA berlumuran darah, tengah tersenyum lebar sambil menatapnya. Yang membuatnya mengerikan adalah, gigi-giginya sangat tajam.
Vio melempar ponsel putihnya itu karena saking terkejutnya.
"Miku, ayo cepat lari!!" Panik, ia lalu mengajak Miku untuk berlari.
Keduanya berlari mengitari sekolah. Tak ada arah yang mereka tuju, pokoknya mereka ingin lari dari hantu itu dulu.
"Hah ... hah ...." Kembali lagi, Miku dan Vio adalah dua pribadi yang berbeda. Vio masih terlihat bisa berlari sementara Miku telah mencapai batasnya. Ia kelelahan.
"Vio ... aku capek ...."
"He? ADUH! Gimana ini. Ayo cepat bangun! Aku akan menggendongmu!" ujar Vio sambil berjongkok. Kini, ia benar-benar panik. Jantungnya berdetuk sangat cepat.
"Ba-baik," jawab Miku.
Baru saja ia hendak berdiri, tiba-tiba Vio dan Miku melihat sepasang kaki dengan kaus kaki putih serta sepatu fantofel berlumuran darah.
Ini, ini adalah sepatu yang sama dengan sepatu yang dipakai oleh ... hantu itu.
Vio dan Miku semakin ketakutan. Mereka telah kehilangan asa.
Vio memberanikan diri untuk mendongak agar ia bisa menatap.
Saat matanya menatap keatas, Vio melihat wajah yang sama, senyuman yang sama, dan ... mata yang sama.
"Matii ... hihihihi," ucap sosok tersebut seraya mengacungkan pisau.
"Ghaaa!" Ia menatap Vio dan Miku dengan jarak yang sangat dekat. Lalu, pisaunya menembus kedua perut gadis yang hanya ingin membuktikan kebenaran ini.
Ternyata, rumot si gadis lonceng benar-benar terjadi.
Epilog
"Hmm ... bagus bagus. Tapi yang ingin kutanyakan itu satu. KENAPA AKU HARUS BERSAMA DENGAN VIO SIHHHH?!!!" tanya seorang gadis berteriak.
Dialah Miku Fushigawara si editor cerpen pribadi milik author 'K'. Sekarang, ia tengah protes karena cerpen ini mengandung unsur-unsur yang dibenci olehnya. Yah, karena di cerita ini, Miku dan Vio baikan. Apalagi menjadi sahabat.
"Ghhh ... aku juga nggak mau kali kalau ada kamu di ceritaku, hmp!" Vio melipat tangannya di depan dada sembari mengalihkan tatapan matanya.
"Heeii geer banget, MC di cerita ini itu aku! Jadi ini ceritaku!" bantah Miku kesal.
"Mana ada! Aku di sini jadi cewek pemberani, jadi aku MC nya!" tegas Vio membenarkan, dengan ngegas.
Tak mau masalah semakin membesar, author 'K' dengan cepat segera melerai mereka. "Hei hei tenanglah. Hadehhh, MC di sini ada dua. Kalian berdua sama-sama tokoh utama, sama-sama tokoh protagonis," ucap wanita ini.
"Ghhh ... ini semua salahmu, 'K'. Tokoh di cerita kok cuma dua huuu!"
"Iya, harusnya di dalam cerita itu tokohnya banyak. Jadi kita nggak bingung nentuin tokoh utama!"
"Lah kok ...."
"Pokoknya, aku nggak mau tau. Yang salah itu, kamu, K!"
"Betul!"
"Eeee ...."
Yah begitulah, Vio dan Miku malah berkerja sama untuk menuduh Author 'K' sebagai sumber masalah dalam hal ini.
Hehh ... padahal mereka yang berdebat, kenapa aku yang disalahkan?
- Author K
Tamat