Denting jam di dinding telah kembali menyapa.
Tepat jam dua belas malam, batas hari kemarin dan awal dari hari yang baru bagi setiap insan di dunia.
Bagiku, denting waktu yang mulai terdengar adalah awal kebahagiaan dan kesedihan untukku.
Dua belas denting dan dua belas detik setiap harinya aku harus kembali mengecap rasanya pertemuan dan perpisahan di waktu yang begitu singkat.
Aku pergi di saat aku belum siap untuk meninggalkan dunia ini, dan aku terombang ambing dalam dua dunia yang menolakku.
Aku tidak bisa hidup dalam dunia ini, tetapi aku juga belum rela untuk datang dan bertemu dengan Penciptaku.
Dan di sinilah aku, setiap harinya, tepat di pergantian hari, menatap wajah kedua buah hatiku yang sedang tertidur lelap dan wajah suamiku, yang selalu setia menantiku setiap malamnya.
Tidak pernah ada banyak waktu yang kami miliki. Kami hanya saling memandang dan tersenyum, lalu kembali menitikkan air mata seiring dengan menghilangnya bayanganku tepat di dentingan terakhir, dentingan ke dua belas.
Entah sudah berapa lama hal ini berlangsung. Anak-anakku mulai tumbuh besar, dan suamiku sudah terlihat menua, tetapi aku? Aku tetap sama, hanya saja tanpa raga.
Aku bisa melihat bagaimana suamiku begitu kesepian, dan aku tidak dapat menemaninya.
Akhirnya aku menyadari ...
Aku harus merelakannya ...
Merelakan kedua buah hatiku ...
Dan merelakan mereka untuk bahagia ... tanpa aku ...
"Carilah kebahagiaanmu, Sayang ...."
Aku mencoba menggenggam tangannya yang tidak dapat aku raih.
"Aku mencintaimu ...."
Itulah hari terakhir aku datang melihat mereka. Aku mengerti kalau aku tidak dapat menarik mereka untuk terus hidup dengan bayangan. Waktuku sudah selesai dan aku harus belajar untuk melepaskan.
Kebahagiaanku akhirnya sempurna ...
Aku bisa melihat mereka dari surga, tertawa dan bahagia, bersama seseorang yang melengkapi hidup mereka dan mengisi kekosongan yang ada, tanpa melupakan sosokku yang pernah hadir di antara mereka.
"Mama, kami mencintaimu ... Papa juga merindukanmu ..."
Itulah yang dua buah hatiku selalu katakan di depan pusaraku yang selalu dipenuhi dengan bunga mawar putih, kesukaanku.
Sebuah tangan menggenggam suamiku, berdiri di depan pusaraku dengan janji yang selalu ia ucapkan.
"Aku akan menjaga dan mencintai mereka dengan baik, seperti mba dulu menjaga dan mencintai mereka," ucapnya padaku. "Mba akan selalu berada di hati dan hidup kami selamanya ..."
Kini, aku bisa merasa lega. Tidak ada yang perlu aku khawatirkan lagi. Waktu ku sudah selesai, dan kini mereka menjalani hidup tanpaku, tetapi tidak melupakan aku.
- The End -
Mampir juga di chat story ku : UNCLE REI , dan novelku : A Night With The Presdir ya, kak.
🌟🌟🌟🌟🌟
Jangan lupa komen, like, dan vote ya kalau suka dengan karyaku.
Terima kasih sudah setia membaca ceritaku.🙏🙏
🌟🌟🌟🌟🌟