DING DONG~
Suara lonceng berbunyi, menandakan hal buruk akan segera terjadi..
"Hosh! Hosh!"
Aku terus berlari, walau tubuh ku ingin mati, aku tak akan berhenti
Jarum jam yang terus berputar, menyadarkan diriku akan sesuatu
"Aku akan segera menangkap mu~ Hehe~"
Lagi-lagi.. Suara itu terus terngiang di dalam kepalaku. Ingin ku benturkan kepala ini sampai pecah, namun kusadar masih ada kesempatan untuk keluar dari permainan mengerikan ini
Padahal kami hanya bermain petak umpet! Tapi mengapa menjadi seperti ini!
BRUKH
Kaki ku sudah tak sanggup lagi untuk berlari, darah yang terus mengucur membuat tubuh ku lemas
Perlahan sebuah bayangan muncul dari dalam kabut, seseorang yang tadinya ku tatap penuh sayang, sekarang berubah menjadi iblis bagiku
"Hehe~ Aku menemukan mu~ Kau.. Kalah~"
____
"Mohon perhatian, anak-anak hari ini kita kedatangan seorang murid baru.. Ayo silakan masuk"
Aku melangkah pelan ke dalam kelas, berharap tidak ada yang peduli dengan kehadiran ku.. Namun semuanya terbalik, aku disambut dengan ramah untuk pertama kalinya
"Lu-luna nama ku.. Salam kenal"
KRIING KRIING
Bel istirahat berbunyi, dan para siswa segera melakukan aktivitas mereka masing masing
Biasanya aku selalu dikucilkan di sekolah-sekolah lama ku
Tapi disini sangat berbeda..
"Luna, rambutmu panjang banget, cantik! Jadi iri deh!" Dia Mira, walau agak blak-blakan namun dia anak yang sangat manis dan baik
"Iya kita tau rambut Luna bagus, tapi jangan lu pegang mulu Mir! Kasian tuh orang nya" Ini Wendi, si tomboy yang supel dan pemberani
Mereka berdua langsung menjadi akrab dengan ku sejak aku masuk ke sekolah ini 3 bulan yang lalu
"Kalian.. Terimakasih, sudah menjadi teman ku aku sangat senang!" ucap ku sambil menatap 2 pasang mata yang terlihat berbinar-binar itu
"Huaa, Luna! Makasih juga dah pindah ke sekolah ini!" Seru Mira sambil memeluk ku erat
"Haah.. Tapi Na, gw masih heran loh dengan ceritamu, bahwa lo selalu dijauhi di sekolah lama mu. Emang nya ada ap- " Wendi tidak sempat menyelesaikan pertanyaan nya, karena suara bel masuk berbunyi membuat semua siswa kocar kacir memasuki kelas
"Mengapa aku dijauhi? Mungkin kalian akan segera tau" gumam ku sambil berjalan menyusul Mira dan Wendi
____
"Guys! Minggu depan libur kan! Kita adain piyama party yok!" seru Mira dengan girang sambil melompat bak kelinci
"Boleh! Tapi dirumah siapa? Rumah gw penuh dengan bocil jadi pasti gak bisa" ucap Wendi sambil memakan es lilin di tangannya
"Dirumahku juga gak bisa.."
"Bagaimana kalau dirumah ku saja? Kebetulan orang tua ku bakal perjalanan keluar kota.." ucap ku sambil tersenyum menampilkan deretan gigi berwarna putih
"Wah boleh tuh! Kita juga belum pernah kerumah mu Na!"
Akhirnya kami semua setuju untuk mengadakan piyama party di rumah ku minggu depan, aku memberikan mereka alamat rumah ku dengan senang
__
PEEP PEEP
Bunyi bel rumah, membuat ku segera bergegas turun untuk membuka pintu.. Seperti yang kuduga, itu pasti Mira dan Wendi
"Wuah Na! Lo gak bilang kalo rumah lo besar banget kek istana!"
"Kyaa! Rasanya jadi pengen tinggal selamanya disini!" seru Mira dan Wendi kagum akan rumah ku
Kami pun segera masuk karena langit berubah mendung, menandakan hujan akan segera turun
Kami berjalan beriringan sambil menyanyikan lagu kereta api, namun pandangan Wendi sepertinya teralihkan pada sebuah jam kayu besar dengan lonceng yang sebesar bola bowling, sebuah jam yang sudah sangat lama ada dirumah ku ini
"Ada apa Wen" tanya ku padanya
"Enggak, ini jam rasanya ada sesuatu yang gak bisa dijelaskan" jawab Wendi sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal
"Udah ah, ayook kita ke kamar Lunaa!" Seru Mira yang sudah tidak sabar sambil mengambil beberapa bungkus besar camilan
Kami pun bersenang-senang seperti anak perempuan pada umumnya, perang bantal, pesta camilan, dan bercerita tentang berbagai hal lucu.. Sampai tak terasa waktu sudah hampir tengah malam, namun tak ada rasa kantuk sama sekali
"Teman-teman, bagaimana kalau kita main petak umpet?" Ajak ku pada Mira dan Wendi
"Ayoook!"
"Enggak ah, takut.. Rumah mu kan gede banget Na.." jawab Mira ragu sambil memeluk selimut tebal nya
"Yaudah, kalo gitu aku aja yang mencari.. Kalian bisa sembunyi bareng kan?"
Akhirnya setelah beberapa kali bujukan dari Wendi, Mira setuju untuk bermain dengan aku yang harus mencari
"Aku hituuung yaaaa!"
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
..
"Mir kita berpencar aja ya.." ucap Wendi sambil menengok ke berbagai sisi mencari tempat persembunyian yang cocok
"Enggak, takut..!"
"Yaampon lagian ini rumah terang banget kok di setiap sudu-" sungguh sebuah kebetulan, ketika lampu seluruh rumah tiba-tiba padam.. Membuat rumah yang besar itu menjadi cukup menyeramkan
"Waaaaa! Apa ku bilang, seharusnya kita gak main petak umpet!" jerit Mira yang langsung bersembunyi di belakang Wendi
"Mir, lo penakut banget sih.. Bukannya jadi tambah seru ya! Udahlah, cepet cari tempat sembunyi sebelum Luna datang"
DING DONG
Suara bunyi lonceng jam, menggema di seluruh ruangan rumah bersamaan dengan suara Luna yang memanggil
"Miraa~ Kalau mau berhenti main, kesini saja~"
Mira yang memang tidak memiliki niat untuk bermain, langsung berlari meninggalkan Wendi dan menuju pada suara Luna yang memanggil nya
Wendi hanya menghela nafas kesal melihat tingkah sahabatnya itu dan berniat untuk menyusul, namun tiba-tiba saja muncul kabut tebal menutupi seluruh lorong yang gelap itu
AAAAAAAAAAAAAAA!
Sebuah teriakan histeris Mira memenuhi seluruh ruangan, membuat siapapun yang mendengarnya akan merinding
"Mira?! Mira!! Luna!!"
AMPUN!! AKU MINTA MAAF! HIKS..
"Miraa! Lunaa!"
Wendi terus berlari ke arah suara itu berasal, namun tempat yang dituju tak kunjung sampai bagai terjebak didalam sebuah labirin
DING DONG.. DING DONG..
Suara lonceng kembali berbunyi namun kali ini lebih banyak
WENDII.. TOLOOONG..HIKS..HUAAA
Keringat mengucur deras di dahi Wendi, kekhawatiran memenuhi kepalanya
Dia terus mencari, tapi tak menemukan.. Sebuah suara tawa terus menerus terdengar beriringan dengan suara jeritan
"Hehe~ Mira... Kalah~"
A-AAA AAKH...
Tak ada lagi suara jeritan setelah itu, hanya keheningan dan bau amis darah yang pekat..
Wendi hanya bisa terdiam mematung, menatap dari kejauhan Mira yang sudah berakhir mengenaskan dengan isi perut yang berhamburan, di sebelah nya berdiri sosok yang juga sangat dikenal dan disayangnya.. Luna..
"Hehe~ Wendiii.. Aku datang~"
DEG!
DEG!
DEG!
Jantung Wendi berdegup kencang seakan ingin melompat dari tempatnya, kakinya terasa sangat berat untuk berlari namun jiwa nya tak bisa diam
Sekuat tenaga, Wendi berlari.. Berlari dan terus berlari tanpa henti
BRAAKH
"Akh, kakiku.."
jerit pelan Wendi melihat kakinya yang tertusuk pecahan kaca yang entah darimana datangnya
Darah segar mulai mengucur dari kakinya namun Wendi tak bisa berhenti
"Wendi~ Kau pikir kau menang? Hehe.. Permainan sebenarnya baru dimulai~"
DING DONG.. DING DONG.. DING DONG.. DONG DONG..
Suara lonceng terus berbunyi, membuat gila siapapun yang mendengarnya
Wendi menggigit bibirnya, menguatkan tekad untuk keluar dari sana
Tak peduli betapa sakit kakinya, Wendi kembali berlari
"Ini pasti hanya mimpi buruk kan? Iya kan?" Gumam Wendi sambil berlari sekuat tenaga, rasanya sangat mustahil jika yang dialaminya adalah kenyataan, namun apalah daya kenyataan memang pahit
"Padahal kita hanya bermain petak umpet.. Mengapa jadi begini!"
"Hehe~ Wendi.. Aku menemukan mu~"
BUKH
Wendi sudah tak sanggup untuk berlari lagi, darah yang terus mengucur deras membuat tubuhnya sangat lemas
Perlahan dari pekat nya kabut, muncul sosok yang sangat dikenalnya
"Mengapa? Mengapa kau melakukan ini!! Bukankah kita sahabat!!"
"Wendi~ Wendi~Aku juga sangaaat sayang pada kalian.. Tapi, aku lupa memberi tahu mengapa aku selalu dijauhi di sekolah lama ku"
"Itu karena.. Tidak ada yang pernah bertahan hidup jika berteman dengan ku! Hehehe~"
"Tapi apa alasannya?!" tanya Wendi dengan mata berlinang, namun tangan nya mengambil cepat pecahan beling yang dia bawa
SRAT
Sebuah goresan lebar berhasil menghiasi lengan Luna
"Aww! Dasar..Anak nakal~"
Saat itu juga, Wendi hanya tersisa nama saja karena tubuhnya sudah hancur oleh serangan yang sangat brutal bagaikan iblis
"Ah~Aku harus cari sekolah baru nih~"
-TAMAT-