Pernahkah kalian begitu mengagumi seseorang yang bahkan meski sudah bertahun-tahun lamanya telah berlalu, wajahnya begitu melekat di hati kalian?
Aku pernah.
Aku pernah mengagumi... Lebih tepatnya saat ini sebatas mengagumi. Tapi dulu saat pertama kali aku memiliki kesan terhadapnya, aku sempat menyukainya. Benar-benar sangat menyukainya. Tapi sayangnya itu hanya berakhir menjadi cinta bertepuk sebelah tangan belaka di masa SMA.
----------------------------
Surabaya, 2002
Pagi itu adalah hari pertama masa orientasi siswa di sekolahku. Tentu saja aku sangat bersemangat karena ini adalah hari pertamaku masuk SMA. Walaupun saat itu aku datang dengan memakai seragam SMP.
"Akong ngantar sampai sini aja. Nanti aku jalan aja atau nebeng teman." Pintaku pada kakekku yang mengantarku dengan naik motor.
"Lah, kenapa? Itu masih jauh nyo..." Jawab kakek dengan sedikit bersikeras.
"Malu aku kong, tuh banyak yang berangkat sendiri. Aku aja yang diantar, sama akong lagi. Kan malu..." Jawabku tak mau kalah.
Akhirnya kakekku mengalah. Dia tidak mau terlalu bersikeras agar aku tetap berangkat sekolah dan tidak terlambat. Lalu akupun lanjut berjalan kaki bersama beberapa anak-anak yang masih berpakaian SMP sama denganku, meski aku baru saja mengenal mereka karena kesamaan seragam kami yang mengidentitaskan bahwa kami sama-sama siswa baru.
Di gerbang tampak beberapa senior sudah berdiri memeriksa satu per satu siswa yang belum memakai pakaian badut seperti yang mereka suruh. Dan aku, memang sengaja tidak memakainya. Agar salah satu dari mereka menegurku.
Seperti yang ku harapkan.
"Dek, mana aksesorismu?" ucap salah satu senior cewek dengan nada suara yang datar.
"Eeng... anu kak, saya tadi terburu-buru..."
"Ketinggalan?" Dia langsung menyela kalimatku.
Aku hanya mengangguk.
"Ikut ke sekret!" Jawab dia dengan langsung berjalan di depanku begitupun aku langsung mengikutinya dari belakang.
Namanya Jasseline Agatha, panggilannya Ghea. Dia adalah salah satu alasan kenapa aku harus berusaha diterima di sekolah ini selain sekolah ini adalah sekolah menengah negeri favorit di kotaku.
Meski orangtuaku sejak awal terus memaksaku sekolah swasta yang menurut mereka lebih bagus dan sudah SBI (Sekolah Berstandard Internasional). Tapi aku sama sekali tidak gentar. Dan aku harus membuat perjanjian dengan orangtuaku, jika aku diterima masuk SMA Negeri ini dengan daftar ranking di bawah 100 besar, maka aku akan menyerah. Dan memilih sekolah swasta yang dipilih orangtuaku. Tapi ternyata, hasil usahaku akhirnya membuatku sekolah di SMA Negeri ini, seperti yang aku inginkan.
Karena di sini, aku punya alasan.
Pertama kali aku bertemu Ghea di sebuah bimbel, dia satu tahun di atasku. Dia tidak terlalu tinggi, tapi dia kurus. Sehingga jika dia berdiri sendiri dia tampak tinggi, tapi saat bersama teman-temannya dia jadi terlihat lebih kecil. Mungkin itu alasanku menyukainya.
Dalam pikiran pubertasku, rasanya tidak lucu jika aku berjalan bergandengan dengan gadis yang lebih tinggi dariku. Karena saat ini sebagai remaja yang berusia 15 tahun tubuhku juga kecil, mungkin pertumbuhan tubuhku pun masih lambat jika dibandingkan dengan beberapa teman-temanku yang sudah mulai lebih tinggi dariku.
Saat aku pertama melihat dia, aku langsung berpikir di mana dia bersekolah. Dan pada suatu ketika dia datang bimbel dengan memakai seragam sekolahnya. Sejak saat itu aku tahu dia sekolah di salah satu SMA Negeri favorit di Kota ini.
"Selain imut ternyata dia pintar juga..." Ucapku dalam hati saat itu.
Dan kini...
Aku semakin punya banyak waktu dan kesempatan untuk bertemu dengannya. Terlebih aku tahu saat pertama melihat daftar struktur panitia masa orientasi di papan pengumuman. Pas foto dan nama Ghea terpampang di sana sebagai komite disiplin. Untuk pertama kalinya, aku akan bertekad menjadi anak yang paling tidak disiplin.
"Masuk ke sekret." Ucap Ghea dengan wajah yang datar.
Aku pun menyempatkan melihat wajahnya sambil tersenyum ramah.
"Ngapain kamu senyum-senyum?!" Jawab Ghea sambil mengerutkan alisnya.
"Nggak... Nggak apa-apa..." Jawabku dengan santai.
Seorang senior laki-laki keluar dari ruang sekretariat.
"Ada apa Ghe?" Tanya senior itu.
"Eh...ini ada junior yang nggak pakai aksesoris kak...." Jawab Ghea.
Mataku bisa cepat melihat dan memindai jika ekspresi, gestur, dan nada bicara Ghea benar-benar berubah. Dia terlihat gugup dan salah tingkah.
"Apa jangan-jangan Ghea menyukai cowok ini?" Ucapku dalam hati.
Aku melihat label nama cowok yang kira-kira tingginya 20 cm lebih tinggi dariku. Bahkan aku harus mendongakkan wajahku untuk melihat wajahnya. Namanya Ardhan.
"Wah... kalau begini sih sulit..." Ucapku dalam hati setelah melihat kenyataan yang baru saja aku lihat.
Tapi itu masih belum cukup kuat untuk berasumsi lebih dini bahwa Ghea menyukai cowok itu.
Itu adalah pertama kalinya aku menyangkal kenyataan agar aku tetap meyakinkan dan menghibur diriku.
Namun faktanya, Ghea memang jelas menyukai dia.
-----------------------------
Beberapa bulan kemudian,
Dug, Dug, Dug
"Oper! Oper!" Teriakku.
Jack melempar bola padaku, dan shoot.
"Three point!" Teriak wasit.
Teeeettttttt!!!
"Times up!!!" Teriak wasit.
Beberapa temanku berlari ke arahku dan kami saling melakukan high five untuk merayakan kemenangan kami di babak ini.
"Gendeng! Langsung selisih 2 poin, di detik-detik terakhir." Ucap temanku dengan nada gembira.
"Yoo siapa dulu dong... Bento...!" Ucap temanku yang lain menyebut namaku dengan plesetan mereka.
Aku pun terbawa euphoria kemenangan bersama mereka. Dan sekilas aku melihat ada Ghea di sudut tribun. Dia bersama beberapa teman-temannya dan ada dua orang anak laki-laki.
Ghea tampak malu-malu sambil senyum tersipu.
"Mungkinkah mereka itu sedang berkenalan atau bagaimana? Atau sedang PDKT?" Pikirku sambil terus menatap mereka.
Hari-hari berlalu. Sejak kemenangan tim basket kelasku di Liga basket sekolah, aku mulai banyak dikenal di beberapa kelas. Seolah mereka berpikir aku memiliki skill basket yang tak dimiliki oleh orang lain. Jika dilihat dari tinggi badanku yang lebih kecil dibandingkan teman-temanku, aku bisa dengan lincah dan strategis mencetak three point shoot lebih banyak dari mereka.
Hingga akhirnya guru olahraga sekolah mengundangku untuk bergabung di tim basket inti sekolah.
"Woah... Bento sekarang sudah jadi tim inti..." Ucap Davi dengan ekspresi yang begitu excited.
"Iya... nggak nyangka sih..." Jawabku sambil garuk-garuk rambut belakangku.
"Ben... kok kamu gak seneng sih?" Tanya Chandra teman sebangkuku.
"Yo... gimana yo, aku mau seneng ya seneng. Tapi bayangno aku paling cilik di tim itu. Mereka tinggi-tinggi e...." Ucapku dengan logat medok khas Surabaya.
"Yo gak apa-apa loh... Kan kamu juga punya kelebihan makanya kamu diundang masuk ke tim basket inti sekolah. Anak-anak lain aja belum tentu bisa loh, mereka bahkan harus ikut tes dan assessment dulu satu per satu. Aku soale liat pas sore-sore kemarin. Bahkan senior-senior yang udah kelas XI juga banyak yang masih ikut tes masuk tim itu." Jelas Chandra dengan panjang lebar.
"Ah... mosok?" Tanyaku seolah tidak percaya.
"Iyooo Ben... Ngerti senior jahat sing nama e Ardhan? Dia juga sek ikut tes..." Celetuk Chandra.
"Ardhan?" Pekikku dalam hati.
Pikiranku mulai memutar kembali ingatan saat Ghea berada di Tribun bersama dua orang anak laki-laki. Tampak mereka berdua sudah berpakaian seragam sekolah biasa.
"Mungkinkah itu Ardhan???" Tanyaku dalam hati.
-------------------------------
Perasaanku semakin hari bukan semakin surut. Setiap kali aku berjalan di lorong melewati kelas Ghea, jantungku malah berdebar semakin lebih cepat.
Kepingan rasa penasaran dan teka-teki yang masih belum banyak terjawab, seolah semakin mendorong hatiku lebih menaruh perhatian terhadap Ghea.
Bahkan perlahan setiap tindakanku seperti dikendalikan oleh perasaanku. Sejak keputusanku menerima bergabung di tim basket inti agar aku bisa terlihat di mata Ghea, aku pun mulai terus melakukan upaya lain-lain agar semakin terlihat oleh Ghea.
Sampai pada akhirnya aku tak bisa mengelak kenyataan, bahwa Ghea sudah berpacaran dengan Ardhan.
"Matamu gak bisa bohong kalau kamu sedang melihat pada suatu titik! Wuuush!" Celetuk Chandra yang sedang duduk di sampingku.
"Memang kamu tahu apa?" Jawabku dengan nada malas menanggapi Chandra.
"Keliatan kok! Dari awal aku kenal kamu, kamu sering memperhatikan cece judes itu." Sindir Chandra.
"Cece judes? Dia gak judes...!" Ucapku.
"Apa loh? sebutannya? Dia kan yang waktu itu jadi komdis kan?" Chandra seolah tak mau kalah.
Aku terdiam. Entah kenapa aku tetap merasa kesal mendengar Chandra menilai Ghea dengan buruk. Tapi aku tak bisa membela karena aku tidak ingin Chandra semakin berasumsi bahwa aku memang menyukai Ghea.
Aku memang semakin tak bisa menggapainya. Namun justru itu yang membuatku semakin membangun perasaan yang lebih kuat daripada sebelumnya. Rasa penasaran yang terus berkecamuk dalam hati dan pikiran membuatku selalu memikirkan cara agar aku bisa layak untuk mendekatinya.
Lalu akupun memutuskan untuk mengikuti tes percobaan masuk kelas akselerasi.
Kakek dan orangtuaku awalnya tidak tahu aku masuk program kelas ini, bahkan mereka mengira aku langsung bermain game online di warnet sepulang sekolah. Padahal aku masih di kelas full day. Banyak tugas dan ulangan yang harus aku kerjakan lebih banyak dari siswa di kelas reguler.
Sampai Papaku akhirnya datang ke sekolah. Dia datang ke ruang guru dan bertanya untuk mengkonfirmasi keberadaanku.
Dan benar saja salah seorang guruku membawa papa ke kelasku untuk memastikan keberadaanku. Saat itu aku melihat papa melihat-lihat dari jendela kelas mencari-cariku. Lalu tersenyum saat mata kami saling bertatapan.
Wajah papa menyiratkan perasaan lega dan bahagia. Saat itu aku yakin papa menyetujui keinginanku masuk ke kelas akselerasi.
Pagi jam 6 hingga jam 5 sore setiap hari dari Senin sampai Sabtu, semua waktu telah aku habiskan di kelas. Dan hari Minggu latihan rutin tim basket inti.
"Kamu gak capek nyo?" Tanya kakekku padaku saat aku mulai bersiap menaiki sepeda BMX ke sekolah.
"Nggak kong, mumpung masih muda kong..." Jawabku sambil bercanda.
"Mama kamu itu khawatir sama kamu. Nanti kalau kamu sakit karena kecapekan gimana..." Kakekku dengan wajah sendu serius.
"Kalo capek tidur kong... haha..." Aku membalas jawaban sambil mengayuh sepeda menghindari kakekku.
"Wooh... " Pekik kakekku geram sambil berusaha memukul punggungku namun tidak sampai karena aku mengayuh sepedaku dengan cepat.
"Aku pulang sore yo kong!" Teriakku sambil melarikan diri menggunakan sepedaku dari pukulan kakek.
"Mei...Meifang!" Terdengar kakekku berteriak memanggil mamaku.
Aku pun terus melajukan sepedaku. Kalau dipikir-pikir memang dari semua jadwal kegiatan sekolahku, aku memang termasuk jarang istirahat. Tapi entah semua rasa lelahku sama sekali tidak terasa sedikitpun. Mungkinkah karena lelah itu terkubur oleh semangat yang memotivasiku untuk berambisi menjadi orang yang terlihat oleh Ghea.
Tujuan utamaku masuk ke kelas program akselerasi pun juga karena aku tidak ingin kalah dari Ardhan.
Mereka mungkin satu kelas saat ini, sebagai seniorku. Tapi sebentar lagi aku akan menjadi sejajar dengan mereka.
Tidak!
Aku harus lebih dari itu.
--------------------------------------
Klang!!! (Suara ring basket)
"Woah...!!!" Sorak teman-teman tim basket.
"Benny tubuhnya kecil tapi dia guwesit banget!" Ucap Nando dengan logat khas Surabaya, dia adalah salah satu senior kelas XI tapi dia adalah orang yang sangat asik sehingga dia sudah seperti teman seangkatan.
Di tim basket, tidak ada istilah senior dan junior. Yang ada hanya pelatih dan anggota saja. Selebihnya kami bergaul seperti layaknya kawan biasa. Hal tersebut agar kami bisa lebih mengedepankan performa tim dalam membangun kerja sama, oleh karena itu sejak awal tidak ada namanya kesenjangan antar anggota di jenjang angkatan kelas.
Itulah mengapa Tim inti basket sekolah ini adalah seperti rumah kedua bagiku. Sehingga aku seperti mendapat asupan semangat setelah bermain basket bersama mereka.
Dan hari ini, ada hal yang berbeda.
"Ardhan masuk ke dalam tim basket. Bukan sebagai tim inti, tapi cuma cadangan sepertinya. Kan dia masih masa percobaan..." Ucap Nando pada salah seorang teman yang lainnya saat kami sedang istirahat bersama.
"Dia obsesi sekali mau masuk tim basket. Padahal dia berkali-kali ditolak terus sama Pak Pandu." Celetuk Harsah.
"Dia kan dari dulu emang gitu. Selalu ingin terlihat wahhh! Masuk Osis, ikut banyak ekstrakurikuler, karya tulis, jurnalis buletin sekolah, dan basket. Cuma kalo basket kan butuh skill, dia gak punya itu... Pak Pandu paling cuma kasian sama dia makanya pokoknya dimasukkan ke Tim, untuk menghibur usaha Ardhan." Nando dengan ucapannya yang jelas memiliki ketidaksukaan kepada Ardhan.
"Memangnya kenapa dengan Ardhan?" Akhirnya mulutku tidak tahan ingin melayangkan pertanyaan tersebut.
Nando dan beberapa anak lainnya saling berpandangan sesaat.
"Yaa~ Dia anaknya annoying gak jelas. Sok akrab sama semua anak. Padahal dia itu gak solid. Beberapa kali dia melaporkan anak-anak yang bolos kelas, meskipun itu dari kelas lain. Padahal pas ketemu dia sok-sok ngobrol akrab gitu. Ya pokoknya gitu lah..." Jawab Harsah.
"Dia orangnya tegas sih... Waktu itu dia jadi ketua Komdis." Ucapku dengan nada polos.
"Pffttt!" Seketika mereka seperti menahan tawa.
Aku yang tidak tahu apa-apa masih belum paham maksud mereka.
"Tegas? Dia itu cemen!" Ucap Nando dengan lantang.
"Hei...! Tuh anaknya!" Sindir Eggi sambil mendongakkan lehernya ke arah ujung lapangan.
Tampak Ardhan berjalan baru masuk lapangan dengan kaos basket yang masih kering dibandingkan kami yang sedari tadi sudah basah kuyup dengan keringat.
Ardhan tidak sendiri. Dia bersama seorang gadis.
"Ghea..." Gumamku dalam hati.
Aku tidak bisa menampik kalau mereka seperti pasangan yang dimabuk asmara.
Aku ingin melepaskan pandangan, tapi mataku seperti memiliki sebuah tali yang telah terpaut pada mereka berdua. Aku tidak mengerti. Perasaan macam apa ini namanya. Yang jelas, untuk pertama kalinya dadaku rasanya sesak dan hampir membuatku tak bisa bernafas.
Ternyata Nando menyadari sikapku. Sebagai laki-laki yang memiliki pengalaman, Nando tentu saja bisa menebak arti pandanganku terhadap mereka.
"Aku bisa bantu kamu ngrebut cewek itu dari Ardhan." Bisik Nando.
Mataku langsung terbelalak mendengar ucapan sadis Nando yang merasuk ke telingaku.
Sontak aku langsung menoleh ke arah Nando dengan wajah penuh emosi. Nando hanya tersenyum santai membalas tatapanku.
"Kamu...! Serius...?!" Tanyaku pada Nando dengan tatapan penuh mengintimidasi.
Nando langsung merangkulku dan mengajakku beranjak dari tempat duduk. Entah dia akan membawaku berjalan ke mana.
Tunggu!
Kenapa Nando mengajakku ke arah Ardhan dan Ghea.
Kakiku semakin berat melangkah setiap kali berkurang beberapa meter lebih dekat dengan mereka.
Aku masih belum siap.
Nando pasti tahu aku sangat gugup, bahkan aku sempat menarik baju bagian belakangnya. Tapi Nando seolah bersikeras.
Nando tiba-tiba berhenti.
"Ah syukurlah..." Aku merasa lega.
"Guys, yok!" Panggil Nando kepada Davi, Harsah, Eggi, dan Tofan yang dari tadi duduk istirahat bersamaku.
"Ap...Apa..!!!" Aku semakin terbelalak.
"Udah... tenang aja... Ardhan gak akan berani menyentuh kamu kalau sama kita." Nando menepuk dadaku.
Setelah memastikan anak-anak lain sudah mendekat ke arah kami, Nando lanjut berjalan ke arah Ardhan. Aku jelas ingin berontak tapi apalah daya leherku sudah dikempit oleh lengan Nando yang belasan sentimeter lebih tinggi dariku.
"Hai Ar... " Sapa Nando mendekati Ardhan.
"Hai guys..." Jawab Ardhan sambil melirik beberapa anak-anak lain di belakang Nando.
"Selamat ya bro, akhirnya jadi Tim inti..." Ucap Nando.
Ardhan mengerutkan keningnya.
"Mmm... Aku masih belum jadi Tim inti sih..." Ardhan sambil garuk-garuk rambutnya yang sepertinya dia agak malu menanggapi ucapan Nando karena di sampingnya ada Ghea.
"Ohh... aku pikir masuk Tim inti..." Jawab Nando dengan wajah datar.
Sangat jelas terlihat Nando sengaja menjatuhkan harga diri Ardhan di depan Ghea.
"Kenalin nih, Benny. Dia shooting guard utama tim inti. Dia masih kelas X loh..." Jelas Nando.
Aku benar-benar tidak tahu ekspresi apa yang dipasang di wajah Ardhan waktu itu, aku bahkan tidak berani menatap wajah-wajah mereka.
Aku memang pengecut.
"Kamu Benny?" Tiba-tiba Ghea menyebut namaku.
Sontak aku langsung mendongakkan kepalaku menatap Ghea.
Ghea memanggil namaku...
"Kamu bukannya anak yang sering masuk komdis?!" Celetuk Ghea.
Apa?!
Ternyata Ghea hanya mengingatku sebatas itu?!
Dia hanya ingat aku sebagai anak yang sering masuk komdis.
"Oh... dia anak yang gak disiplin itu kan?! Sampe Ira bilang dia gak akan bertahan lama di sekolah ini kalau tetap seperti itu." Sela Ardhan menambahkan.
"Woi, aku pas MOS juga sering masuk komdis. Gak ada hubungannya masa depan sama MOS." Davi membelaku.
"Iya sih..." Jawab Ardhan dengan wajah nyengir.
Aku menundukkan kepalaku lagi. Malu. Ternyata seperti itu kesanku di mata Ghea.
"Dia mungkin waktu itu sengaja masuk komdis supaya bisa ketemu kamu, Ghea." Nando tiba-tiba membuka mulutnya.
"Apa...?!" Ghea langsung terkejut.
Di moment ini aku sama sekali tidak punya keberanian untuk menatap langsung Ghea dan Ardhan.
"Nggak apa-apa kan Ghea, kalo aku minta waktu kamu sebentar biar Benny ngobrol sama kamu." Tanya Nando dengan tanpa rasa sungkan pada Ardhan. Bahkan dia seolah tidak menganggap keberadaan Ardhan.
Ghea tentu saja tidak menyetujuinya. Terlebih dia sedang bersama Ardhan. Tapi Ghea tidak berani langsung menolak. Dia melihat ke arah Ardhan.
Tapi justru Ardhan yang mendorong Ghea maju ke hadapanku.
Melihat situasi seperti itu, Nando langsung melepaskan tangannya yang merangkulku dan beralih menggandeng lengan Ardhan. Lalu diikuti oleh teman-teman yang lain membloking tubuh Ardhan agar menjauh dari tempatku dan Ghea berdiri.
Nando dan teman-teman berhasil mengajak Ardhan pergi dari posisiku dan Ghea.
Ghea tampak sekali tidak suka dengan situasi ini. Tapi aku tidak mau menyia-nyiakan usaha Nando. Aku berusaha memberanikan diri untuk membuka mulut mengawali percakapan.
"Hai kak..." Sapaku pada Ghea.
Ghea hanya tersenyum kecut. Sambil merogoh tasnya dan mengambil handphone Nokia 2300 dengan casing warna pink lalu mengabaikan aku.
"Ehm... Maaf kalau aku mengganggu waktunya. Sebelumnya aku sering liat kakak di Bimbel PrimaG..." Ucapku dengan lancar.
Ghea menghentikan gerakan tangannya memainkan handphone. Lalu dia menoleh ke arahku.
"Jadi sebelum ini kamu udah tahu aku?" Tanya Ghea dengan wajah mulai agak serius.
"Hmmm..." Anggukku
"Tapi kamu gak pernah ke bimbel itu lagi? Aku gak pernah lihat kamu." Tanya Ghea mulai penasaran.
"Ehh... aku memang udah gak bimbel di sana. Aku les privat malam di rumah..." Jelasku.
"Ohh... pantesan... Berarti kamu sebelum masuk sekolah ini, udah sering ketemu aku ya? Waktu itu kamu masih SMP berarti?!" Tanya Ghea.
"Iya...." Jawabku singkat.
Lebih tepatnya, aku masuk sekolah ini karena kamu... Ucapku dalam hati.
Obrolan kami mulai nyaman. Dari masalah guru tutor bimbel kami, permasalahan terkait sekolah, hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk meminta nomornya.
"Kak Ghea... boleh minta nomornya gak?!" Tanyaku dengan ragu dan suara lirih.
"Hmm... Boleh. Tapi sms aja ya. Jangan telepon..." Jawab Ghea tanpa penolakan.
"Makasih kak...." Balasku dengan wajah puas dan senang.
Aku berhasil maju selangkah, pikirku.
Dan sejak saat itu aku sering mengirim sms pada Ghea, hampir setiap hari. Meskipun tidak setiap saat dibalas, tapi itu membuatku semakin penasaran terhadapnya. Dan parahnya setiap kali aku mengirim sms pada Ghea dan tidak terbalas, pikiranku selalu mengarah bahwa mungkin saja Ghea sedang telepon dengan Ardhan.
Ah, pikiran kotorku terus mengepul di ruang otakku.
------------------------------------
Hingga suatu hari,
"Malam Benny..." Tulis isi dari sebuah pesan masuk.
"Ghea? Tumben sekali dia sms aku duluan?" Pikirku dalam hati.
Malam itu pertama kalinya Ghea sms aku dulu, ini tidak seperti biasanya. Akal sehatku masih bisa berpikir dan menganalisa hal yang sangat tidak wajar tersebut.
"Mungkinkah dia sedang ada masalah?" Pikirku lagi.
Dan benar saja, Ghea mengatakan kalau dia baru putus dari Ardhan.
Entah aku harus senang atau bagaimana. Tapi yang jelas suasana hatiku pada saat itu sangat senang.
Malam itu adalah ujian semester di kelasku. Karena aku masuk kelas akselerasi jadi kelasku ujian lebih dulu daripada kelas reguler lainnya.
Saat Mama melihatku begadang mungkin dia mengira aku sedang belajar. Namun kenyataannya aku sedang sms dengan Ghea. Sepanjang malam aku saling sms dengan Ghea.
Sempat terbesit bahwa mungkin Ghea saat ini akrab denganku melalui sms karena dia sedang bermasalah dengan Ardhan. Bodohnya aku tidak peduli walau aku tahu hanya menjadi pelarian dia.
Semakin lama perasaanku pada Ghea seolah semakin menebal dan memadat kuat.
Keesokan harinya, Ghea tiba-tiba sms saat sepulang sekolah.
"Ben... aku putus dengan Ardhan..." Tulis Ghea dalam sms.
Aku hanya mematung membaca sms itu. Mataku terbelalak seakan tak percaya dengan apa yang aku baca.
Di waktu yang bersamaan.
"Benny...!!!" Sebuah suara dari arah belakangku datang.
Aku langsung reflek menoleh tanpa menyadari seorang gadis yang wajahnya sudah sangat dekat di wajahku.
Jantungku rasanya mau copot.
Untuk pertama kalinya, seorang gadis memelukku dengan erat.
Tidak lama diiringi suara riuh dari dalam kelasku.
"Wah!!! Tembak! Tembak! Tembak! Tembak!" Teriak teman-teman sekelasku.
"Erin! Kamu apa-apaan!!!" Aku langsung menjauhkan tubuh Erin yang beberapa menit memeluk erat tubuhku.
Erin malah seolah tak mau melepas pelukannya.
Ternyata tindakan Erin justru mendapat dukungan dari teman-teman kelasku. Erin juga merupakan anak akselerasi tingkat pertama sepertiku.
Tentu saja kehebohan kelasku mengundang perhatian dari kelas-kelas lain yang pada saat itu juga sedang ramai karena para siswanya keluar dari kelas.
Termasuk Ghea. Yang posisi kelasnya berseberangan dengan kelasku. Sangat tampak jelas dia berdiri di koridor bersama teman-temannya.
Padahal baru saja dia sms aku mengatakan dia sudah putus dengan Ardhan saat aku baru keluar dari kelas. Mungkinkah saat itu dia ingin bertemu denganku. Tapi malah Erin datang menyatakan cinta padaku dengan tindakan yang sangat berani.
Otakku benar-benar membeku.
Mungkin seharusnya aku menyingkirkan Erin dan mengejar Ghea lalu memberi penjelasan padanya.
Tapi....
Itu tidak ku lakukan, karena aku terlalu pengecut menghadapi Ghea.
Aku malah dengan pasrah membiarkan Erin memelukku di depan Ghea.
Dan menerima bunga dari Erin.
Bodoh!
Aku Bodoh!
---------------------------------
Sejak saat itu Ghea tidak pernah menghubungiku lagi. Aku juga tidak memiliki keberanian menghubunginya.
Beberapa kali kami berpapasan, dia seperti tidak melihatku. Tapi aku tahu dia sebenarnya tahu aku melihatnya.
Sampai akhirnya kami lulus bersama.
Dan hingga aku lulus. Aku masih tetap berpacaran dengan Erin. Padahal aku tidak punya perasaan apapun pada Erin. Tapi karena kami satu kelas. Selalu ada alasan bagi kami untuk belajar bersama hingga tidak terasa kami akhirnya lulus.
Dan setelah kelulusan, aku tidak bertemu Ghea selama hampir 3 bulan.
Aku dengar dari teman-teman Ghea sedang menjalani bimbel untuk masuk Kedokteran Umum di Unair. Untuk kedua kalinya aku mengikuti dia. Entah apa yang aku harapkan, padahal aku masih bersama Erin.
Saat Erin tahu aku mendaftar SPMB di Kedokteran Umum Unair, dia pun juga ikut mendaftar. Padahal sejak awal dia mengatakan bahwa orang tuanya ingin dia ikut tes sekolah kedinasan.
Ketika ujian SPMB berlangsung, aku dan Erin berada di lokasi dan waktu ujian yang berbeda. Aku berharap semoga aku bisa satu lokasi dengan Ghea.
Tapi kenyataannya, aku sama sekali tidak bertemu Ghea meski aku banyak bertemu teman-teman yang lainnya seperti Nando, Eggi, Davi dan teman-teman yang dulu satu sekolah denganku.
Sampai satu bulan berlalu, pengumuman SPMB seluruh Indonesia akhirnya keluar.
Ada namaku di daftar Kedokteran Umum Unair, juga nama Erin. Tapi tidak ada nama Ghea.
Aku pun langsung mencari informasi ke teman-teman yang lain terkait SPMB Ghea.
Dari Nando akhirnya aku mendapat informasi, bahwa Ghea ternyata masuk di Kedokteran Gigi di universitas swasta di Malang.
Sebab Ghea tidak diterima di program studi Kedokteran Umum di Unair karena nilai tesnya tidak memenuhi ranking kuota maksimal mahasiswa. Saat itu kuota mahasiswa yang dibutuhkan adalah sebanyak 55 orang, ranking Ghea berada di urutan 80'an. Hanya saja yang terpampang di daftar pengumuman hanya 55 nama yang masuk ranking kuota. Jadi tentu saja aku tidak melihat nama Ghea berada di pengumuman daftar nama siswa yang diterima di prodi Kedokteran Umum Unair.
Tubuhku langsung lemas. Rasanya aku tidak punya semangat. Tapi ini memang salahku. Aku yang tidak bisa menentukan arah tujuan hidupku. Mungkin ada baiknya aku harus memikirkan lagi tujuanku.
Tuhan tidak mengizinkan aku bersama Ghea karena aku sudah mengabaikan orang-orang dekatku demi mengejar ketidakpastian.
Aku akan tetap menjalani kehidupan kuliahku di Kedokteran ini meski tujuan awalku sebenarnya adalah Ghea. Namun aku akan tetap menjalani takdir ini sesuai jalan yang ditentukan Tuhan.
Aku sudah berusaha mendekat pada Ghea, namun Tuhan beberapa kali menjauhkan Ghea dariku. Dan herannya malah Erin, orang yang selama ini hanya aku anggap sebagai teman biasa justru dia yang selalu sukses terus bersamaku. Bagaimanapun aku berusaha menjauh darinya, seolah dia selalu mendapat keberuntungan untuk tetap dekat denganku.
Tahun terus berganti, sebagai manusia yang mampu beradaptasi tentu aku sudah mulai terbiasa dengan semua kehidupanku yang bertahun-tahun tanpa Ghea. Walau aku masih sering melihat aktivitasnya di Facebook. Hingga aku memasuki fase sebagai dokter muda dengan segala kesibukan yang membuatku banyak melupakan dengan masalah hati.
Aku putus dengan Erin. Ada hal yang tak bisa ku jelaskan tentang perasaanku padanya. Aku berusaha mencintainya tapi entah aku juga kasihan padanya saat dia bercerita bahwa ada seseorang yang serius mendekatinya di Rumah Sakit tempat dia koas, yang berbeda lokasi Rumah Sakit denganku.
Karena Erin sudah mulai ragu dengan hubungan kami, meski telah berjalan selama kurang lebih tujuh tahun. Pada akhirnya aku merelakan dia bersama orang yang benar-benar langsung melamarnya.
Dan pernikahan Erin pun berlangsung setelah kami melakukan sumpah dokter.
Pada saat pernikahan Erin, banyak teman-teman SMA yang diundang. Tentu saja aku bertemu kembali dengan beberapa teman SMA yang sudah lama terputus komunikasinya.
Tak terduga, Ghea juga datang. Dia tidak sendirian. Tapi dengan seorang laki-laki yang ternyata adalah suaminya. Tapi itu bukan Ardhan. Dan yang berbeda lagi adalah tubuhnya yang sedang hamil.
"Hai Ben..." Sapa Ghea padaku sambil tersenyum.
Aku membalas senyum sapa Ghea begitupun terhadap suaminya.
"Wah... kamu benar-benar berubah sekarang. Kamu bahkan lebih tinggi dari teman-teman lain." Celoteh Ghea seolah dia kembali mengakrabkan diri.
"Ya... beginilah...." Aku sambil sedikit tidak enak membahas masa lalu apalagi di depan suami Ghea.
"Aku pikir Erin akan nikah sama kamu..." Sindir Ghea yang seolah dia bicara tidak dipikirkan dulu.
Aku tidak bisa menimpali Ghea karena salah satu alasan aku tidak memiliki hati sepenuhnya terhadap Erin adalah Ghea. Dan sekarang Ghea malah bicara dengan gamblang seolah dia tidak salah bicara seperti itu padaku.
"Ya... memang takdirnya tidak bersamaku." Jawabku singkat.
"Sekarang kamu internship di mana?" Tanya Ghea.
"Aku baru saja diterima PAPK TNI, jadi setelah ini aku langsung menempuh pendidikan militer di akmil magelang selama beberapa bulan, baru kemudian penempatan untuk internship." Jawabku seolah ingin menunjukkan pada Ghea bahwa aku sekarang sudah mulai hidup lebih baik.
"Wah... serius?" Ghea seolah tak percaya.
Aku hanya mengangguk.
"Kamu sampai mana Ghe?" Tanyaku.
Ghea hanya meringis,
"Aku belum sumpah...Karena aku cuti hamil dulu..." Jawab Ghea.
"Suami dokter juga?" Tanyaku.
"Bukan, dia kerja di bank. Kami kenal karena dia kakaknya teman kuliahku. Dia selisih 3 tahun lebih tua dariku." Jawab Ghea.
"Selamat ya Ghea...." Ucapku sambil tersenyum.
Ada banyak makna yang tersirat dari kalimat singkat yang aku ucapkan pada Ghea. Kehidupan memang tidak ada yang tahu ke depannya.
Ghea dan Erin adalah dua wanita yang selama bertahun-tahun ini meluapi hati dan pikiranku. Ghea yang hingga detik ini tidak pernah lepas dari rasa penasaranku. Erin yang telah membuatku terbiasa bersamanya, dan aku harus mulai belajar membiasakan diri tanpa dirinya.
Satu per satu mereka akhirnya memilih dan menjalani tujuan hidup mereka sendiri.
Dan aku pun juga harus terus berjalan ke depan menjalani hidupku.
Life Must Go On.