Ini kisah nyata.
Cerita pendek tentang perjalanan liburanku bersama kawan selama 3 hari 2 malam di Bali.
Hari itu, sekitar 4 tahun yang lalu, saat libur sekolah. Aku dan Devi telah siap dengan segala embel-embel perlengkapan penjalanan kami.
Backpack masing-masing di punggung. Mengecek segala kelengkapan kendaraan, mulai dari STNK, ban motor, bensin, spion, ya kira-kira begitu.
Hari menunjukkan pukul 8 pagi, berpamitan pada Mamah dan Abi adalah prioritas. Tidak lupa minta uang saku.
Jarak dari kota ke pelabuhan Lembar memakan waktu sekitar 1 jam.
Setelah tiba, mengantri untuk membeli tiket.
Kemudian menyebrang lautan selama 4 jam dari Lombok ke Bali.
Sejauh ini perjalanan masih menyenangkan kecuai saat kepala mulai pusing di ombang ambing lautan.
Sampai di pulau dewata, melanjutkan perjalanan menuju penginapan yang telah kami book sebelumnya yang berlokasi di Kelungkung.
Satu hari kami habiskan dalam perjalanan.
Sore hari pun tiba, kami telah sampai di penginapan.
Posisi penginapan terletak lebih tinggi dari jalan, sehingga kami harus menaiki tangga untuk sampai.
Tiba diatas, kami langsung bertatapan dengan anjing penjaga hitam dan besar yang terikat oleh rantai.
Kakiku lemas, aku lupa bahwa pulau Bali adalah pulau dengan banyak anjing, sedangkan anjing adalah hewan yang paling ku takuiti.
Singkat cerita.
Malam pertama menginap kami lalui dengan aman. Tidak ada gangguan-gangguan spiritual atau lainnya.
Keesokan paginya kami melanjutkan liburan kami, menuju banyak daerah wisata di Bali yang tentu saja tak pernah ada keraguan keindahannya.
Malam pun kembali tiba.
Ini adalah malam kedua, malam terakhir kami akan tinggal.
Motor telah terparkir di tempat yang di sediakan.
Kaki pun melangkah menuju penginapan, lampu kamar terlihat menyala dari bawah.
Sesaat sebelum menaiki tangga, aku melihat lekat pada mata hitam menyalak yang balik menatapku tajam. Matanya waspada.
Aku terkaget, ternyata anjing penjaga, entah bagaimana telah lepas dari rantainya.
Anjing itu segera berlari ke belakang, seolah menunggu kami.
kami mengurungkan niat untuk naik, memilih untuk melaporkan kejadian ini pada pemilik penginapan.
Kakiku bergetar, keringat mengucur deras.
Ini bukan liburan yang ku inginkan, hatiku berkata.
*
Kulangkahkan kakiku perlahan menuju kamar sambil tetap mengawasi anjing yang telah berada di tangan sang pemilik. Matanya tetap menatapku, tajam. Entah apa yang diinginkannya dariku.
Malam semakin larut, Devie telah lelap dalam tidurnya.
Aku meringkuk menempelkan punggungku padanya, selain karena udara di kelungkung sangatlah dingin, juga karena ada perasaan aneh yang menjalari tengkukku.
Kulantunkan ayatul kursi lirih dalam pemdengaran hingga tertidur.
Pukul 1 malam.
Aku terbangun, ada suara lelaki menggema dari pojok ruangan, kupikir mungkin saja suara penghuni penginapan kamar sebelah.
Ku kembali memejanmkan mata.
Tiba-tiba terdengar suara garukan dari arah pintu.
Suara garukan yang dalam dan nyaring.
Sontak seluruh tubuhku dingin, bulu kuduk berdiri.
Keringat bercucuran.
Suara anjing penjaga menyalak kemudian seperti menangis.
Suara garuk masih terdengar, semakin keras. Badanku bergetar. Ku tutup seluruh kepalaku dengan sweater. Kuambil handphone dan ku putar dengan kencang surah Al-baqaroh. Kupejamkan mataku dengan keras, memaksanya untuk tidur.
Hingga pagi menjelang, ku ceritakan semuanya pada Devie, dan ku berjanji pada diri sendiri bahwa Bali adalah pulau indah tapi aku tidak mau lagi ke sana 😁