Note : Cerita Pendek ini berlatar Multiverse dari Prequel dari Novel 'Sequel The Of Hunter : The Guardians', karya Ryn_Frankenstein.
___________________________________
Aku seorang laki-laki muda berumur 19 tahun, dan namaku Arkhan, orang-orang memanggilku Khan. Dulu aku seorang pelajar SMA. Dulu Aku anak yatim piatu, dulu aku tinggal di panti asuhan, ketika aku pertama kali masuk SMA, aku memutuskan untuk keluar dari panti asuhan, karena aku tak selamanya tinggal dan bergantung disana, karena juga aku ingin mandiri.
Keluar dari panti asuhan, aku diberi uang saku sebesar 2 juta oleh ibu pemilik, yang sudah kuanggap ibu kandungku. Setelah itulah aku memulai hidupku untuk mandiri. Hal menyenangkan yang kudapatkan setelah mendaftar di salah satu SMA favorit di kota, aku mendapat beasiswa, disamping itu aku juga mendapat kerja sebagai pelayan caffe yang kulakukan setelah pulang sekolah. Aku juga mendapat kos-kosan yang murah.
Selama 3 tahun, aku menjalani kehidupanku sebagai pelajar SMA, dan pelayan caffe dengan gaji yang cukup untuk membiaya kebutuhanku sehari-hari. Aku waktu itu sudah duduk di kelas 3 Hidupku tak ada yang mewah, setidaknya aku bisa menjalani hari-hariku dengan normal dan damai. Aku hanya memiliki sedikit teman di sekolah.
Namun hal pahit, tepatnya sangat pahit, yang dimana ketika aku pulang sekolah, dan pergi menuju caffe tempatku bekekerja sebagai pelayan, aku mengalami kecelakaan, aku angkutan umum yang kunaiki tiba-tiba ditabrak oleh sebuah truck besar. Dan setelah itu aku tak tau mati atau tidak, dan aku juga tak tau nasib penumpang lain.
Karena ketika aku membuka mataku, tiba-tiba aku sudah berada di sebuah ruangan sederhana yang dindingnya terbuat dari kayu, namun berkesan hebat dimataku. Ketika aku memeriksa keadaanku, aku masih mengenakan seragam sekolahku. Dan ternyata ada seorang kakek-kakek yang menemukanku di depan rumahnya. Kakek itu merawatku.
Ketika aku sadar aku bertanya kepada kakek itu. Dan juga aku menjelaskan yang sebenarnya apa yang terjadi padaku. Kakek itu begitu sangat paham dengan ceritaku. Setelah lama berfikir dan saling bertukar cerita, aku paham, bahwa aku telah berpindah ke Dunia Lain, seperti komik, dan anime serial yang pernah kubaca dan kutonton.
2 tahun kemudian, aku tinggal di sebuah rumah kayu sederhana milik kakek yang telah merawatku ketika dulu aku pertama kali pindah ke Dunia Lain. Kakek itu bernama Edgar. Kakek Edgar sudah menganggapku sebagai cucunya, begitu juga denganku yang menganggapnya sebagai kakekku. Namun, kakek Edgar tak pernah menceritakan jati dirinya kepadaku.
Dan aku sendiri tidak memaksa, karena itu adalah hal privasi, jadi aku tidak punya hak untuk mengetahuinya. Selama 2 tahun, aku hidup dengan kekek Edgar. kakek Edgar mengajarku banyak hal tentang Dunia baruku yang tak lain Dunia Sihir. Cara bahasa dunia ini sama dengan bahasa yang kupakai sehari-hari di Dunia asalku, namun berbeda dengan bahasa tulisannya, dan kakek Edgar mengajariku tentang hal itu. Dan juga beliau mengajariku tentang pengetahuan tentang yang ada di Luar hutan dan Kerajaan.
Selama 2 tahun, sehari-hari kami berburu dan berlatih. Tak hanya itu, ia juga mengajariku dari seni bela diri, dan seni pedang. Kakek Edgar juga mengajariku dasar-dasar Sihir, hingga aku bisa menguasainya. Kakek Edgar bisa menguasai semua jenis Sihir utama, dan Aku sendiri, hanya bisa menggunakan 3 jenis elemen Sihir, yaitu Angin, Air dan Tanah.
Berhari-hari kami hidup di dalam hutan tanpa mengenal Luar. Bisa dikatakan sudah 3 tahuan semenjak Aku berpindah aku tak pernah pergi ke luar dari hutan, aku tak masalah, karena dengan ini aku bisa hidup damai. Suatu hari Aku mencoba membuat Jenis Sihir Baru yaitu Sihir Kayu, sesuai dengan anime yang pernah kutonton, yang dimana elemen Kayu tercipta dari Sihir Air dan Tanah.
Membutuhkan hampir 2 bulan aku bisa menggunakan dan menyempurnakan Sihir itu. Dan itu juga membuatku setres akibat terus berusaha dan berfikir keras dan hingga membuat rambutku berubah warna, yang awalnya warna rambutku hitam, menjadi warna putih.
Ketika aku akan menunjukan Sihir terbaruku kepada Kakek Edgar, aku tak menemukan beliau. Dia pergi, dia hanya meninggalkan surat yang mengatakan, kalau dirinya sudah waktunya pergi, dan menginginkan aku agar menjadi kuat, dan meminta padaku karena sudah waktunya aku melihat Dunia Luar, dan memberitahuku kalau hidup banyak pilihan, dan menginginkanku agar terus maju ke jalan tanpa berbelok atau melihat kebelakang.
Sungguh sedih rasanya, tapi mau bagaimana lagi, aku sadar karena tidak selamanya aku akan terus hidup seperti ini. Maka dari itu, aku memutuskan untuk pergi keluar dari hutan. Aku hanya membekalkan ilmu pengetahuan yang pernah kakek Edgar ajarkan padaku, aku juga banyak koin perak dan beberapa koin emas yang tersimpan cincin penyimpanan pemberian kakek Edgar. Dan tentu saja aku membawa pedang pemberian beliau.
Hampir 3 hari aku bertualang, akhirnya aku keluar dari hutan. Tentu saja aku mencari kota terdekat. Aku mendaftarkan diri sebagai Petualang Guild di salah satu Kerajaan yang cukup damai. Aku selama menjadi Petualang, aku selalu sendiri, tak pernah bergabung dengan party yang lain, meski ada yang menawarkanku bergabung, aku tetap menolak.
Alasanku, aku masih belum percaya dengan orang-orang di Dunia baruku. Aku hanya percaya kepada 1 orang saja, yaitu Kakek Edgar. Aku menjalani banyak misi dan berujung berhasil, dan aku mendapat uang. Tentu saja, uang itu kugunakan untuk kebutuhanku sehari-hari dan membayar kamar penginapanku yang ku sewa.
Sudah setahun, diumurku yang ke 19 tahun, aku telah menjadi Petualang Guild. Aku sudah mulai dikenal, sebagai 'Sang Penyendiri Yang Sadis'. Ya, itulah julukan orang-orang padaku. Bahkan aku tidak menunjukkan Sihir Kayuku. Sebenarnya Sihir Gabungan sudah tidak asing, tetapi untuk menciptakan Sihir elemen Kayu, bisa dibilang cukup sulit, jadi banyak orang yang belum bisa menggunakan dengan sempurna.
Karena semenjak diawal aku menjadi Petualang, aku tak pernah bergabung dengan party manapun, dan aku selalu menghabisi lawanku tanpa ampun. Banyak party menginginkan aku bergabung, bahkan seorang Raja Kerajaan memintaku untuk menjadi Ksatrianya. Mereka seperti itu karena aku sangat kuat. Dan aku menolak semuanya. Aku lebih suka sendiri, dan bebas.
Suatu hari, aku merasa ingin mencari suasana. Aku berniat berpetualang ke luar Wilayah Kerajaan. Aku memutuskan pergi dan mencari pengalaman lagi setelah aku memiliki banyak pegangan. Berhari-hari, berminggu-minggu aku berpetualang, tentu saja perjalananku tak begitu lancar, banyak monster dan bandit yang selalu menghalangi perjalananku. Tentu saja, aku bisa mengatasi mereka dengan kekuatanku.
=========================
Ya, semua yang kujelaskan diatas adalah kisahku, dan sekarang aku tengah bertarung melawan salah satu orang Gila yang datang tiba-tiba dan menginginkan kematianku. Dia berniat membunuhku, karena dirinya merasa tersaingi, dan tak suka dengan orang yang lebih kuat darinya.
"Dasar pecundang ?" kataku.
Tang..!!
Aku tengah bertarung melawan laki-laki yang kuanggap Gila, dia berpenampilan memakai pakaian serba hitam, memakai jubah hitam, dan rambut hitam panjang.
"Matilah untukku !!" kata orang Gila itu.
"Cih, mati buatmu tidak akan membuatku untung sama sekali." aku membalasnya.
Tang..!! Tang..!! Tang..!! Tang..!!
Tang..!! Tang..!! Tang..!! Tang..!!
Tang..!! Tang..!! Tang..!! Tang..!!
Tang..!! Tang..!! Tang..!! Tang..!!
Tang..!! Tang..!! Tang..!! Tang..!!
Tang..!! Tang..!! Tang..!! Tang..!!
Kami saling menyerang, menahan, dan menangkis segala serangan yang mendekat. Aku dan dia melompat mundur. Aku sudah memikirkan cara cepat membunuh orang Gila ini. Aku langsung menancapkan ujung pedangku ka permukaan tanah. Kusalurkan energi mana kedua Sihir elemenku, untuk menciptakan Sihir Kayu dan melilitnya.
Ujung akar kayu keluar dan langsung melesat ke arah orang Gila itu. Orang Gila itu terkejut. "Kamu bisa mengendalikan Sihir Kayu ?"
Orang Gila itu terlihat panik, karena setiap ia menebas ujung akar kayu yang mendekatinya, akan terus menumbuh atau bercabang dan semakin banyak. Ya, inilah salah satu serangan Sihir Kayuku yang terkuat.
Orang Gila itu telah berhasil terikat, lalu aku pun menyalurkan energi mana lagi, dan membuat ujung akar lancip keluar dari tanah semakin banyak. Dan akhirnya, semua ujung akar lancip menusuk badan orang Gila. Semua menusuk tanpa ampun. Hingga orang Gila itu mati mengenaskan.
Aku terduduk di tanah. Nafasku sedikit terengah-engah. "Hah..., yah, lumayan melelahkan untuk mengalahkan orang Gila yang sangat kuat."
Ketika aku akan bangkit, tiba-tiba muncul sebuah portal bercahaya yang 7 meter dihadapanku. Aku juga merasakan 2 jenis Sihir yang bertolak bekalang di portal itu. Aku pun langsung terkejut melihat seorang Pria tua keluar dari portal itu. Dan dia tidak asing dipandanganku.
Aku tersenyum, lalu memanggil nama Pria tua itu. "Kakek Edgar..!!"
.
.
.
Selesai