Suatu hari, Azlen dan kakaknya bermain di sebuah rumah merah dekat rumahnya. Kakaknya meminta Azlen untuk tinggal diluar, dan dia masuk ke dalam rumah merah sendirian. Tiba-tiba kakaknya berteriak.
"Ah," dan tidak ada suara lagi.
Lalu Azlen berteriak, "Kakak! Kakak!"
Teriakannya tak mendapat respon dari sang kakak. Azlen seketika panik. Namun dirinya masih mematung diluar, tak berani memasuki rumah angker itu.
"Kakak! Kak, kau tidak papa kan?" teriak Azlen dari luar. Namun sang kakak tetap tak menjawab.
Azlen dengan kaki gemetar mendorong pelan pintu rumah merah yang telah termakan usia. Sesekali dirinya terkejut dengan decitan engsel pintu yang mulai berkarat.
Jantung Azlen memompa begitu cepat. Membuat dadanya terasa sesak, terlebih ketika ia mulai memasuki rumah berdebu itu.
"Uhuk! Uhuk!" Azlen terbatuk, dan suaranya menggema di seluruh ruangan. "Kakak ... kau dimana kak?" Teriak Azlen dengan suara lirihnya yang gemetar.
Keringat bocah 15 tahun itu mengucur deras di pelipisnya. Kedua netranya tak bisa berhenti melirik kesana kemari, memperlihatkan ketakutannya saat ini.
Azlen tidak tau bahwa saat ini ia bukan hanya sedang memasuki rumah terbengkalai. Namun rumah itu adalah rumah bekas korban pembunuhan satu keluarga. Dinamakan rumah merah, karena beberapa tahun setelah tak berpenghuni, ada oknum tak bertanggung jawab yang menjadikan rumah itu sebagai tempat melakukan pesugihan. Dan warna merah kehitaman yang tampak pada dinding rumah konon merupakan darah tumbal yang telah lalu.
Azlen menelan salivanya kasar. Ia merasa foto hitam putih yang berjejer di dinding, sedang mengawasi pergerakannya. Azlen tak berani memandangi foto lawas itu. Bocah itu merasa bola mata mereka seolah hidup.
"Kak, ayo kita pulang saja kak. Azlen takut. Sebentar lagi gelap!" rengeknya masih mencoba memanggil sang kakak. Azlen pun menangis.
Azlen tetap berdiri di tengah ruangan. Ia tak berani menjelajah lebih jauh lagi. Namun tiba-tiba sekelebat bayangan hitam bergerak cepat di belakangnya. Azlen tersentak. Ia segera berbalik dan melihat punggung sang kakak memasuki salah satu kamar dalam rumah itu.
"Kak, Kakak mau kemana?" Azlen berlari begitu ia melihat sang kakak. Ia menghampiri ruang kamar yang barusaja dimasuki oleh kakaknya.
Pintu kamar itu sengaja tak ditutup rapat, sehingga Azlen masih bisa mengintip. Karena melihat sang kakak berdiri di dalam sana, Azlen pun berani untuk masuk. Ia menarik tangan dingin sang kakak yang berdiri membelakanginya.
"Kak Tio, ayo pulang. Nanti kita dicariin mama."
Seketika, kakak Azlen membalikkan badannya menghadap Azlen. Lalu memuntahkan darah kental di depan bocah itu. Lidah makhluk itu pun ikut terjatuh bersama dengan cairan merah yang keluar dari mulutnya. Kedua kelopak matanya tak memiliki bola mata dan terus mengeluarkan darah kental.
"Erkkh ... erkh ... erkkh." Suara makhluk itu.
"AAAAAA!" Azlen berteriak kencang. Ia ketakutan setengah mati.
Azlen berlari meninggalkan kamar dan menuju pintu depan. Sialnya pintu rumah itu tak bisa dibuka. Tangis Azlen semakin menjadi-jadi. Rasa takutnya pun seolah sudah memuncak di atas ubun-ubun.
"Tolong! Kakak! Kakak!" teriak Azlen sembari menggedor-gedor pintu depan rumah itu.
"Errkh ... errkkhh ... erkkhh." Suara mahkluk itu terdengar lagi.
Azlen yang kehabisan cara memilih sembunyi di salah satu kamar. Lalu membuka pintu lemari dalam kamar itu dan menyembunyikan dirinya disana. Bocah itu menutup mata dan mulutnya, supaya isakannya tak terdengar oleh makhluk tadi.
"Errkkh ... errkkhh ... errkkhh." Suara makhluk itu lagi.
Azlen tersentak. Ia seketika terdiam saat mendengar suara mengerikan makhluk yang menyerupai sang kakak. Ia lalu membuka matanya perlahan. Irama jantungnya sudah tak bisa ia kendalikan. Keringat dingin pun telah membasahi seluruh tubuhnya. Dan begitu Azlen membuka mata, makhluk tadi sudah berada di dalam lemari bersamanya.
"AAAAAAAA!"
~~
Ditempat lain, Tio keluar dari dalam rumahnya setelah selesai membuang hajat. Ia menghampiri sang adik yang duduk termenung seorang diri di teras depan.
"Len, ngapain disitu?" tanya Tio.
Azlen menoleh ke arah kakaknya dengan wajah datar. "Kak, kita kesana yuk." Azlen menunjuk rumah merah yang terletak agak jauh dari rumah mereka. Suaranya lirih. Tidak seperti Azlen yang biasa ceria.
"Ngapain kesana? gak mau! itu rumah serem. Apalagi ini udah jam 5 sore." Tio menolak. Ia lantas menyadari keanehan bocah di depannya. "Len, kok wajah kamu pucet? Kamu sakit?" tangan Tio menempeli kening adiknya. "Eh! kok malah dingin." Tio sempat bingung.
"Aku kedinginan kak," ucap Azlen datar.
Tio tak ambil pusing. Ia berpikir mungkin karena kedinginan membuat kening sang adik juga terasa sangat dingin saat ia menyentuhnya tadi.
"Yaudah ayo!" Tio mengajak masuk Azlen. Ia membantu sang adik tidur di kamarnya dan menyelimutinya. "Ya udah kakak tinggal ya. Kamu tidur aja dulu," ucap Tio seraya menyalakan lampu kamar dan bergegas meninggalkan kamar Azlen.
"Matikan lampunya, Kak!" pinta Azlen dengan wajah tak menghadap ke arah Tio.
Tio langsung mematikam lampu menuruti kemauan sang adik. "Yaudah kakak keluar ya!" Tio langsung menutup pintu kamar begitu melihat Azlen tersenyum. Sepintas senyum Azlen terlihat menyeramkan, namun Tio menepis pikirannya.
"Errkkh ... erkkhh ... erkkhh!" Makhluk itu menyeringai di balik selimut Azlen. Ia berhasil mengelabui Tio dengan menyerupai wajah Azlen.
-TAMAT-