Dunia menjadi kacau, ketika wabah kelelawar penghisap darah melanda seluruh wilayah Hosten dan beberapa pulau sekitarnya. Hampir seluruh korban mengalami penyakit langka setelah mendapat gigitan dari kelelawar yang dikenal sebagai kelelawar vampir itu. Bahkan mereka akan meninggal dengan kondisi badan yang pucat kebiruan.
Akhirnya, Hosten menjadi kota mati setelah ditinggalkan oleh penduduk selamat yang tersisa. Banyak bangunan menjadi terbengkalai. Bahkan banyak mayat yang dibiarkan tergeletak di sepanjang jalanan Hosten.
~~
Tragedi menakutkan yang pernah terjadi di Hosten beberapa tahun silam berhasil menggemparkan dunia dan memancing atensi seluruh Ilmuwan dunia. Mereka menemukan fakta bahwa kelelawar vampir tidak pernah memangsa sejenisnya.
3 tahun kemudian, para Ilmuwan bekerja sama disebuah laboratorium. Mereka menyediakan dua kotak kaca besar. Kotak pertama berisi lima ekor kelelawar vampir. Dan kotak kedua berisi tiga ekor kelelawar vampir dengan seekor kambing.
Selang beberapa menit, tidak ada perubahan apapun pada kotak pertama. Kelima kelelawar itu tetap terbang normal tanpa saling memangsa.
Namun erangan kesakitan muncul bertubi-tubi dari kotak kedua. Kambing dalam kotak transparan itu telah terkapar dengan kaki kaku dan tubuh yang mengejang. Di seluruh tubuhnya pun terdapat bekas taring yang masih merah oleh cairan darah. Kini ketiga kelelawar di kotak nomor dua terlihat membesar dengan sisa darah di sekitar mulut mereka.
Setelah melakukan penelitian, dan memutuskan rencana lanjutan. Para ilmuwan memutuskan untuk menyuntik gen kelelawar vampir kedalam tubuh manusia. Mereka melakukan percobaan pertama pada seorang pemuda 24 tahun, yang secara sukarela menyerahkan dirinya. Tentu saja pemuda itu menyerahkan diri setelah tergiur dengan imbalan jutaan dolar yang dijanjikan.
"Apa kau siap, Nak? Ingat kami tidak memaksa. Kau masih memiliki waktu untuk berubah pikiran." Seorang Profesor berusia lanjut masih memberi pemuda itu pilihan.
"Lakukan saja. Tekadku sudah bulat. Aku yakin ini akan berhasil." Lelaki yang bernama Robert menghela nafas sebelum dirinya menerima suntikan gen kelelawar vampir.
Para ilmuwan menempatkan tubuh Robert dalam sebuah kotak kaca, beberapa jam setelah menerima gen dari hewan nokturnal itu. Lalu mereka turut memasukkan seekor kelelawar bersama Robert, namun selang beberapa menit kelelawar itu tidak mengigitnya.
Mereka lanjut memasukkan kelelawar kedua, ketiga, bahkan sampai sepuluh kelelawar, hingga satu jam berlalu Robert tetap baik-baik saja di dalam sana.
Semua ilmuwan berdecak kagum. Mereka bangga karena penelitian akhirnya berhasil. Robert pun demikian, ia juga tersenyum senang karena bisa membawa pulang imbalan yang sudah pasti menjadi haknya.
"Selamat Robert. Kau berhasil." Peneliti itu mengeluarkan Robert dari kotak kaca.
"Sama-sama," ucap Robert bangga.
Sesaat kemudian, Robert merasakan sensasi aneh di tubuhnya. Indra penciumannya tergoda oleh aroma yang menguar dari tubuh sang Profesor. Ia mendadak lapar.
Profesor berusia lanjut tadi memeluk Robert. Hingga Robert tak sempat mengelak, dan hasratnya untuk menggigit leher laki-laki itu sudah tak terelakkan lagi.
"AAKKH!" Laki-laki tua itu ambruk. Bahkan tubuhnya langsung pucat dan mengerut.
Seisi laboratorium mendadak panik. Mereka ketakutan setelah melihat gigi taring Robert lebih panjang dari sebelumnya.
Robert pun demikian terkejutnya. Ia tak percaya darah yang dihisapnya terasa manis. Bahkan membuatnya semakin lapar.
'Ada apa ini? Kenapa aku tidak merasa jijik? bahkan aku merasa semakin lapar,' batin Robert bertanya-tanya.
Insting binatang yang telah menyatu dengan tubuhnya, memaksa Robert untuk kembali mendapat darah. Ia berlari ke arah Profesor wanita muda. Tak disangka, darah wanita muda bahkan terasa lebih nikmat di lidahnya.
"Tangkap dia!"
Robert segera melepas tubuh wanita yang telah menjadi mayat karena ulahnya. Melihat beragam peralatan yang dipegang para Ilmuwan membuat Robert melarikan diri. Ia berhasil kabur. Bahkan diluar dugaan, tubuhnya menjadi semakin kuat dan kecepatan larinya pun bertambah kencang.
~~
Gelap malam selalu menjadi momen terbaik berlangsungnya sebuah kejahatan. Tampak seorang gadis dengan gelagat mencurigakan, terengah-engah menembus kesunyian kota mati Hosten. Selain para mayat yang telah menjadi tulang belulang, tak ada siapapun lagi yang menghuni kota ini. Bahkan, hanya mereka yang bernyali besar lah yang berani mengunjungi tempat itu.
Clara Burst, gadis cantik berusia 21 tahun dengan kisah suram yang dimilikinya. Berbanding terbalik dengan parasnya yang cantik jelita, Clara justru memiliki hobi aneh.
Gadis bertubuh semampai itu sangat suka melihat lelehan darah segar. Bermula ketika ia menggilai film bertema gore, Clara mulai melakukan percobaan sayat-menyayat pada hewan-hewan di sekitarnya.
Clara melakukan pembunuhan pertamanya ketika duduk di bangku menengah pertama. Dan yang menjadi korban pertamanya adalah sahabat Clara sendiri.
"Uh, berat sekali," keluh Clara saat menyeret karung berisi mayat dari hasil buruannya. Clara meletakkan karung mayat itu begitu saja di jalanan kota mati Hosten dan berlalu pergi.
Tak lama kemudian, Clara kembali dengan membawa sekop yang selalu digunakannya untuk mengubur mayat korbannya di Hosten. Namun gadis itu terkejut saat tak sengaja melihat punggung seorang lelaki yang berjongkok di dekat karung berisi mayat tadi.
Clara memaku, keadaan yang gelap dan hanya diterangi cahaya bulan purnama, membuatnya menajamkan pandangan.
"Hei, siapa kau?" teriak Clara.
Laki-laki itu berbalik. Ia lantas berdiri dan berjalan ke arah Clara yang melangkah mundur. Clara terkejut saat melihat bibir laki-laki itu dipenuhi darah. Taring yang semula mencuat kini menghilang di depan matanya. Merubah wajah yang tadi nampak menyeramkan, kini menjadi begitu tampan.
"Apa maumu?" Clara mengacungkan sekop ditangannya.
"Tidak banyak, hanya darah." Robert membuang sekop di tangan Clara. Dan dengan cepat membekap gadis itu, membawanya ke salah satu gedung terbengkalai di kota Hosten.
~~
Sinar matahari menerobos masuk melalui kaca jendela yang berdebu. Menyilaukan kedua netra Clara yang masih terpejam.
Gadis itu akhirnya terbangun. Ia sedikit terkejut saat melihat dirinya sudah berada di dalam ruangan kotor. Sedangkan tubuhnya terlentang di atas ranjang bekas dengan kedua tangan dan kaki yang terikat.
Clara melihat disebelahnya ada seorang pria tampan yang sedang tertidur pulas. Pria itu duduk pada sebuah kursi besi yang sudah berkarat.
'Apa dia laki-laki aneh yang semalam?' batin Clara.
"Hei! Bangun! Lepaskan aku!" Clara berteriak hingga membuat Robert terjaga.
"Wah, kau sudah bangun rupanya." Robert mengucek-ngucek matanya yang masih terasa berat.
"Lepaskan aku!"
"Tenanglah! Jangan takut," bujuk Robert pada Clara. "Aku Robert! Siapa namamu?"
"Jangan banyak bicara, lepaskan aku," desak Clara.
"Oke aku akan melepaskanmu, asal beri tahu aku siapa namamu?"
Clara terhipnotis akan ketampanan Robert. Kulit putih, mata hazel, dan rambut perak miliknya terlihat sebagai perpaduan sempurna di mata Clara.
"Aku Clara Burst. Sekarang lepaskan aku!"
Robert melepas tali yang menahan kedua tangan dan kaki Clara. Ia kembali duduk di tempatnya semula, memandangi Clara penuh arti.
"Aku bukan hanya sekali melihatmu datang ke Hosten," ucap Robert. "Aku tebak, kau seorang psycopat berdarah dingin," sambungnya, menebak dengan benar kegilaan gadis itu.
"Jika iya kenapa?" tantang Clara. Gadis itu tidak mengelak sedikitpun. Ia tak tau siapa yang dihadapinya saat ini.
"Baguslah. Berarti kau bisa membantuku."
"Membantumu? Membantu apa?"
"Membantu mendapat darah untukku."
Ucapan Robert membuat Clara teringat peristiwa semalam, saat menyaksikan taring panjang Robert dan sisa darah disekitar mulutnya.
"Ja-jadi kau seorang vampir? Haaah?" Clara sedikit meringsut mundur. Ia khawatir Robert akan menerkamnya saat ini.
"Bukan vampir murni. Lebih tepatnya manusia vampir." Robert menceritakan awal kisah dirinya berubah demikian. Ia pun lantas membuat penawaran dengan Clara. "Aku masih menyimpan jutaan dollar, jika kau bersedia mencarikan darah untukku, aku akan memberimu imbalan."
Clara berpikir sejenak. Membunuh adalah hobinya, dan mendapat imbalan dengan melakukan hal yang ia sukai adalah hal yang menarik.
"Kapan aku harus memberimu darah?"
"Dua hari sekali. Sebelum pukul 9 malam aku ingin kau membawanya untukku."
"Kalau begitu sampai jumpa dua hari lagi." Clara beranjak dari posisinya. Baru beberapa langkah menjauhi Robert, laki-laki itu menarik tubuhnya.
Robert memeluk Clara. "Aku tunggu kau dua hari lagi."
Clara menengadah, menyaksikan wajah Robert begitu laki-laki itu melonggarkan dekapannya. Jantung Clara berdebar tak karuan. Sempat terlintas bahwa ia menyayangkan kondisi Robert yang bukan merupakan manusia seutuhnya.
'Ah, apa yang kupikirkan!' batin Clara.
Clara pergi begitu saja setelah Robert melepas pelukannya. Gadis itu berjalan meninggalkan bangunan terbengkalai, bekas salah satu gedung perkantoran di Hosten. Ia berjalan seorang diri, menyusuri jalanan Hosten yang dipenuhi tulang-belulang manusia. Dan keluar dari area kota mati itu dengan misi baru yang di dapatnya.
~~
Seperti yang telah disepakati, dua hari kemudian Clara datang membawa karung berisi mayat. Ia tepat waktu, satu jam sebelum pukul 9 malam mayat itu sudah ia serahkan pada Robert.
Clara membawanya ke gedung tempat semula ia disekap. Bahkan Robert tak keberatan Clara menyaksikan dirinya menghisap darah mayat itu.
'Ternyata dia lebih gila dari pada aku,' batin Clara saat menyaksikan Robert dengan beringas menancapkan taring di leher mayat itu, hingga tubuh sang mayat mengkerut.
Setelah puas, Robert mengusap sisa darah di bibirnya lalu membalik badan menatap Clara. Taring yang tadi mencuat kembali menyusut begitu saja.
"Ini bayaranmu." Robert memberi sejumlah uang.
"Good! Oh ya, aku penasaran kenapa taring di mulutmu selalu muncul dan hilang begitu saja?" tanya Clara.
"Dia akan muncul saat aku lapar, dan menghilang ketika aku kenyang," jawab Robert. "Kembalilah dua hari lagi."
"Baiklah!" Clara lantas meninggalkan tempat itu dengan senang. Ia berniat akan membelanjakan uangnya besok.
"Clara, kapan-kapan menginaplah disini. Aku merindukan rasanya memiliki seorang teman." Robert meraih tangan Clara saat gadis itu akan meninggalkannya.
DEG!
Clara terpaku. Ia menoleh lalu berkata, "Nanti aku pikirkan," ucapnya seraya berjalan meninggalkan Robert.
~~
Sejak hari itu, setiap dua hari sekali Clara mendatangi Hosten. Membawa satu mayat pada Robert agar laki-laki itu bisa menghisap darahnya.
Bahkan tak jarang ia bermalam disana. Menemani Robert, bertukar cerita tentang masa lalu mereka.
Ada kesedihan yang begitu jelas tertangkap oleh netra Clara, saat menyaksikan mata Robert berkaca-kaca membicarakan kerinduannya tentang kehidupannya yang dulu.
"Jika aku tidak serakah, aku akan tetap menjadi manusia normal yang memiliki keluarga dan teman," tutur Robert sedih.
"Aku turut sedih. Tapi jangan khawatir, aku disini akan selalu menjadi temanmu," ucap Clara meyakinkan Robert.
Robert memeluk tubuh Clara erat. Dengan cepat, Clara membalas pelukan laki-laki itu.
"Robert, sejujurnya aku mulai menyukaimu," ucap Clara ketika masih berada dalam pelukan Robert.
Robert pun melonggarkan pelukannya, namun tetap tidak melepas.
"Benarkah Clara? Kau menyukaiku walaupun aku seorang manusia vampir?"
"Salahkah?" Clara menengadahkan wajahnya.
"Tidak!" Untuk pertama kalinya Robert mengecup kening Clara. "Kau tidak menyesal jika memiliki kekasih sepertiku?" tanya Robert memastikan.
"Tidak!" jawab gadis itu spontan.
"Kalau begitu, jadilah kekasihku."
Clara mengangguk mengiyakan permintaan Robert. Ia tak menyangka cintanya pada sang manusia vampir tidak mendapat penolakan sedikitpun. Mereka berdua akhirnya resmi menjadi kekasih sejak saat itu.
~~
Seperti permintaan Robert, keesokan harinya tepat pukul 7 malam Clara datang kembali ke Hosten dengan menggunakan dress berwarna hitam.
Disana sudah ada Robert yang menunggunya dengan setelan jas hitam dan pantofel senada yang entah darimana dia dapatkan.
Robert mengulurkan tangan, menjemput sang kekasih yang berdiri di ambang pintu gedung terbengkalai yang mereka tempati.
Mereka berdansa, ditemani cahaya temaram lilin dan sebuah lagu yang menyala dari ponsel milik Clara.
"Aku mencintaimu Robert," bisik Clara seraya melingkarkan tangannya dileher Robert.
Robertpun memeluk tubuh Clara. Perlahan, ia menundukkan kepalanya. Mendekatkan bibirnya ke telinga sang gadis dan berkata, "Aku pun sama, bahkan aku juga ingin menghisap darahmu Clara."
Clara tersentak!
Belum sempat ia menghindar, taring Robert sudah terlebih dahulu menancap di lehernya. Gadis itu sempat meronta kesakitan. Namun akhirnya ia harus bernasib sama dengan korban Robert yang lain. Mati tragis dengan tubuh mengkerut.
Robert segera mengusap bekas darah di bibirnya, setelah ia menghisap habis darah pada tubuh gadis itu.
"Sayang, kau tidak bisa berubah menjadi vampir juga seperti dalam film. Jika bisa, kau akan benar-benar kujadikan kekasihku, Clara." Robert melempar jasad Clara dari atas bangunan tempatnya berdiri. Ia melempar jasad gadis itu bersama tumpukan jasad korbannya yang lain.
EPILOG :
Robert sudah merasa bosan dengan darah mayat. Ia merindukan darah segar. Terlebih lagi saat ia mengingat-ingat rasa darah dari Profesor wanita muda yang pernah dihisapnya.
Melihat sikap Clara yang menunjukkan rasa suka, membuat Robert bermain peran dan bertindak seolah ia juga memiliki perasaan yang sama dengan gadis itu. Robert melakukannya untuk membuang kewaspadaan Clara terhadap dirinya.
Dan, pada saat dimana mereka melakukan dansa. Hasrat Robert sudah tak tertahankan. Rasa laparnya muncul begitu saja saat aroma darah segar di tubuh Clara begitu jelas tercium olehnya.
Akhirnya pertahanan Robert runtuh. Ia menancapkan taring dan menghisap habis darah gadis itu.
-TAMAT-