Mawar menatap tangannya yang sedang digandeng oleh kekasihnya, Bagas. Lelaki yang memberikan kesan pertama paling menyebalkan dari seluruh laki-laki yang ia kenal.
Ia tersenyum sendiri mengingat bagaimana awal pertemuannya dengan Bagas. Pertemuan yang membuat mereka berada di hubungan ini.
Flashback On.
Mawar memegang kopernya dengan erat. Ia akan pulang dari Semarang menuju Bandung, namun saat kakaknya menelpon tiba-tiba saja ponselnya mati karena kehabisan baterai.
Saat Mawar mencari colokan untuk mengecas, entah mengapa semua colokan yang ada di stasiun penuh, tidak ada yang kosong sama sekali.
Matanya melirik ke sana kemari mencari colokan yang kosong. Namun, tak sengaja matanya menangkap lelaki yang sedang menghubungkan kabel USB ke powerbank.
Ia tersenyum. Dengan percaya diri Mawar melangkah mendekati pria tersebut.
"Hallo, Mas. Nama saya, Mawar. Saya seorang novelis yang ingin menjadi traveler. Saya sedang dalam keadaan mendesak, di mana saat ini handphone saya mati karena kehabisan baterai. Padahal sebelum mati ada telepon masuk dari kakak saya. Boleh saya menumpang ngecas di powerbank punya Mas nya?" Mata Mawar melihat powerbank lubang dua yang berada dalam pangkuan lelaki di hadapannya.
Bagas. Lelaki tersebut hanya melirik sekilas ke arah Mawar, sebelum akhirnya pergi meninggalkan Mawar yang ternganga melihat kepergiannya.
Mawar menatap Bagas yang sudah menjauh dari pandangannya. Dalam hatinya ia menyumpahi Bagus terjatuh dan ditertawakan orang-orang.
***
Ia melangkah masuk ke dalam gerbong keretanya. Mawar mencari nomer kursinya, beberapa kali ia terhenti berjalan karena padatnya orang-orang yang juga akan menaiki kereta.
Saat sudah menemukan nomer kursinya, mata Mawar terbelalak melihat pria yang duduk di samping kursinya.
Kepalanya tiba-tiba seperti mengeluarkan asap dan panas. Ia sungguh pendendam!
"Misi!" Dengan kasar Mawar meminta Bagas untuk menggeser kakinya, agar ia leluasa melangkah ke kursinya yang berada di dekat jendela.
Bagas menggeser kakinya tanpa mengeluarkan suara. Saat Mawar sudah duduk, Bagas menyodorkan powerbank yang sudah terpasanga kabel USB kepada Mawar.
Mawar dibuat bingung akan sikap Bagas. Ia ingin menolak, namun ia ada keperluan penting dengan handphonenya.
Akhirnya ia menerima sodoran powerbank dari Bagas. Rasanya ia malu setengah mati!
Tuhan! Tolong tenggelamkan dia di laut terdalam!
Selama perjalanan menuju Bandung, hanya ada keheningan di antara mereka. Mawar menikmati pemandangan yang dilewati kereta melalui jendela di sampingnya.
Mawar menengok pada handphonenya yang sudah terisi penuh. Saat matanya bersibobrok dengan mata Bagas, tiba-tiba saja perasaan tak enak datang menghampirinya.
Mulutnya terasa kelu hanya untuk sekedar mengucapkan terima kasih. Bagas menatapnya tanpa berkedip, datar. Mawar memutuskan tatapan mereka dan mengalihkan pandangannya.
Beberapa jam perjalanan melalui kereta Mawar lewati. Suara pengeras dalam gerbong kereta yang memberitahukan bahwa kereta akan berhenti membuatnya mengemas barang-barang.
Ia melepas handphonenya yang tersambung pada kabel USB milik Bagas. Bibirnya masih menutup rapat tanpa ada niat untuk berbicara ataupun sekedar mengucapkan terima kasih.
Para penumpang mulai turun satu-persatu, Mawar menyusul turun dari kereta juga Bagas yang melewati Mawar tanpa berkata.
Mawar berlari mengejar Bagas dan meraih tangannya. Bagas membalikkan badan seraya bertanya,
"Ada apa, Mbak?" Keningnya nampak mengerut melihat wanita yang menggunakan perkenalan panjang hanya untuk menumpang ngecas.
"Eh ..., saya mau bilang terima kasih, Mas." Bagas membalikkan badan usai mendengar ucapan Mawar. Tapi, Mawar kembali mencekal tangannya.
"Ada lagi?"
"Boleh minta nomer telepon, Mas nya? Siapa tau lain kali saya bisa mentraktir Mas sebagai rasa balas budi saya." Mawar menyodorkan handphonenya pada Bagas, tangannya nampak gemetar. Ia takut Bagas memperlakukannya seperti tadi. .
Dugaan Mawar ternyata salah! Bagas meraih handphonenya dan mengetikkan beberapa digit nomer di sana. Hatinya berbunga.
Mawar tersenyum sebelum akhirnya berbalik arah dan meninggalkan Bagas sendirian setelah tadi ia mencegahnya dua kali untuk pergi.
Bagas menatap ke arah Mawar sejenak, setelahnya ia membalikkan tubuhnya seraya mengetik suatu pesan di handphonenya.
Bagas Tamvan ❤
Lain kali kalau mau minjem powerbank perkenalannya lebih panjang ya.
Mawar terbelalak melihat pesan yang masuk, sejak kapan ada kontak dengan nama 'Bagus Tamvan ❤' di handphonenya?
Ah! Ia kembali mengingat saat meminta nomer telepon pada lelaki powerbank tadi.
Semenjak hari itu, takdir membawa mereka untuk semakin dekat dan dekat. Hingga Mawar menjuluki Bagus sebagai 'Love Battery' .
Flashback Off.
"Kamu ngelamunin apa sih, War?" Mawar sontak melayangkan tangannya pada mulut Bagas.
"Udah aku bilang berapa kali jangan singkat nama aku!?"
Ups !!!
Bagas langsung membekap mulutnya ketika mengingat saat pertama kali dirinya memanggil Mawar dengan sebutan 'War'.
"Tapi ...."
"Nggak ada tapi tapian! Intinya jangan panggil aku War! Kamu pikun banget sih!" Mawar menghentakkan kaki dan pergi meninggalkan Bagas yang mengejarnya.
Bagas mengejar langkah sang kekasih dengan napas ngos-ngosan. Beginilah nasibnya ketika mengejar kekasih yang merupakan mantan atlet lari. Tentu saja Bagas kalah!
&&&
"Yang." Mawar menoleh pada Bagas yang menyodorkan sebuah kebab daging ke arahnya.
Kini, mereka berada di kedai kebab dalam mall. Usai mengejar Mawar, Bagas mengajak Mawar untuk mengisi energi pasca berlarian dengan napas tak beraturan.
Melihat napas Bagas dan keringat di keningnya. Mawar luluh dan mau mengisi energi, dan kedai kebab itulah menjadi pilihan mereka. Ah! Lebih tepatnya Bagas.
"Kamu nggak habis?" tanya Mawar heran. Pasalnya kebab merupakan makanan favorit Bagas.
"Aku kenyang," ujar Bagus.
"Kan kamu yang tadi ngajak aku ngisi energi. Masa kamu yang selesai duluan." Mawar tak berhenti mengunyah walaupun Bagas mengajaknya berbicara.
"Tiba-tiba aja rasa laper aku ilang setelah liat kamu makan lahap."
"Gombalan kamu nggak ada manis-manisnya Bagas."
"Aku nggak gombal kok. Aku hanya sedang berusaha meyakinkan seorang wanita di hadapanku untuk menjadi teman hidupku."
Mawar tersedak kebab yang sedang di kunyahnya. Ia memukuk-mukuk pelan dadanya untuk meminimalisir rasa sakit pada tenggorokan serta dadanya.
Bagas menyodorkan minum yang langsung ditenggak habis oleh Mawar. Nampak mata Mawar berair dan hidungnya memerah.
"Omongan kamu nggak nyambung, Gas!" bentak Mawar. Ia langsung menangis usai membentak Bagas, pasalnya Bagas tidak pernah berbicara semanis itu.
"Aku emang bukan laki-laki yang memberikan kesan pertama yang baik. Namun, seiring berjalannya waktu takdir membawa kita untuk berada di sisi ini. Hati aku nyaman sama kamu, setiap waktu yang aku lewati sama kamu terkenang di otakku. Nama kamu mengalir dalam sukmaku. Dirimu seolah menyatu dalam raga, sehingga tidak bisa terpisahkan. Aku ingin mengikatmu dengan hubungan yang sah, agar tidak ada seorang pun yang bisa memisahkan kita kecuali kematian." Bagas menghentikan ucapannya sejenak, "Mawar Ginatasya, will you marry me?" Bara mengeluarkan kotak beludru dari dalam sakunya dan mengeluarkan cincin permata dari dalamnya.
Mawar menangis terisak dengan kepala mengangguk-angguk. Demi Tuhan! Selama mereka berpacaran lima tahun lebih, Bagas tidak pernah berkata dengan perkataan yang mempu membuatnya terharu seperti ini.
"Yes, i will!"
Sontak para pengunjung yang mendengar lamaran Bagas pada Mawar langsung bertepuk tangan meriah. Bahkan, lagu-lagu romantis berputar di tengah kebahagian mereka.
"Tuhan. Terima kasih untuk semua ini. Kau mempertemukan kami dengan cara yang tak diduga-duga, menuntun kami sampai masa di mana kami siap untuk mengikat hubungan ini secara sah. Kumohon, masukanlah kami dalam lindunganmu selalu." Doa Bagas dalam hatinya.