"Aku sadar, terkadang cinta dapat menimbulkan salah paham. Sekarang, semuanya terlihat rumit."
=•=•=
Aku Miku, Mizhunashi Miku. Seorang anak SMA yang hanya memiliki satu tujuan hidup, yaitu belajar. Hari-hariku hanya kulalui dengan belajar dan belajar, walaupun terasa sangat membosankan, tapi aku tahu ini adalah yang terbaik. Bagiku, belajar adalah sebuah kegiatan yang membuatku nyaman dan senang. Saking terobsesinya dengan belajar, sampai-sampai aku lupa dengan kegiatan lainnya. Haha ...
Tapi, itu adalah aku yang dulu. Seiring berjalannya waktu, aku mulai menemukan jati diriku yang sebenarnya. Aku mulai memperbaiki hidupku ...
... yaa itu semua berkat seseorang.
Tling!
Notifikasi ponselku berdering, sepertinya dia mengirim pesan kepadaku.
"Heei, bangun dasar tukang tidur! Ini waktunya sekolah! Kau tahu kan?!"
Haha ... ternyata benar apa yang kuduga. Dia mengirim pesan kepadaku. Aku harus segera membalasnya!
"Haaaaissh ... kau pikir aku itu sama sepertimu apa? Aku selalu bangun tepat waktu taaauu ...
... bahkan, sekarang aku sudah bersiap untuk berangkat," tulisku seraya diikuti emoji tertawa dan stiker kucing yang kupikir lucu.
Tak perlu menunggu lama, dia langsung membaca pesanku dan 'Mengetik ....'
Tling!
Ia mengirim pesan lagi. "Ya, ya, ... Miku memang gadis yang rajin. Itulah alasan kenapa aku menyukaimu."
Hee?
A-aku tak sedang bermimpi, kan? Hm hm! Tidak, sepertinya aku tidak bermimpi.
Aaaaaaaaaa!! Jadi begini rasanya punya seorang laki-laki yang peduli denganku. Aaaaa!!
Bagaikan cacing yang kepanasan, mungkin hal itu bisa menggambarkan keadaanku saat ini. Berguling ke satu sisi ranjang ke sisi yang lain dengan hati berbunga-bunga.
Eee ...
Mungkin agak sedikit berlebihan, tapi aku tak peduli. Aaaaa!!
Tok! Tok! Tok!
Namun, aku langsung mematung ketika aku mendengar bunyi pintu kamarku yang diketuk.
... HEEE?!
"Nee ... Nee-chan? ...
... se-sejak kapan–?!" Aah ... apa Kak Ai melihat semuanya? Aaah sungguh memalukan.
"Hihi ... kakak hanya ingin mengecekmu saja ...
... hump, sepertinya kau terlihat bahagia. Ada apa? ... cerita dong sama kakak! Kakak kan juga mau dengar ...." Ya, wanita muda yang berdiri di depan pintu kamarku itu namanya adalah Ai Mizhunashi. Jika dilihat dari penampilan fisiknya, Kak Ai tak bisa dibilang wanita sih. Karena wajahnya masih terlihat seperti gadis SMA. Yaaa ... kira-kira seumuran denganku.
Tanpa kusadari, wajahku memerah karena merasa malu. "Ngg ... nggak apa-apa kok, Kak. Cuma pesan dari Kak Hikari saja haHaHaha ... Haaa ...."
Hiii, apa yang kukatakan? Aahh kacau, kacau, kacau, aku benar-benar kacau.
Selepas mendengar perkataanku barusan, Kak Ai malah tersenyum. Wanita ini kemudian mendekatiku. "Ahaha ... kau tak perlu berbohong seperti itu. Kau ingat kan? Kita berdua ini tak pandai berbohong ...
... hmm ... jika Miku memang tak ingin memberi tahu kakak, maka kakak akan coba untuk menjawabnya. Ini pasti karena laki-laki, iya kan?"
"Heee? Ngg ... nggak kok Kak! A-Aku ha-hanya ... hanya ... emm ...." Aduh ... kenapa aku jadi bingung begini sih?
"Hahaha ... kamu sangat mirip dengan kakak dulu, selalu bingung saat mengingat seseorang yang kita sukai. Kau tahu kan? Kisah cinta kakak dan Kak Rey itu bisa dibilang sangat rumit dan membingungkan. Setiap hari selalu ada saja masalah yang datang kepada kita berdua. Tapi ... karena kita saling percaya satu sama lain ... ya akhirnya kakak dapat melewati semuanya. Hihi ...
... tapi itu adalah cerita kakak. Beda lagi denganmu. Setiap orang pasti memiliki kisah cintanya masing-masing. Semua tergantung kepada pasangannya sendiri, apakah akan berakhir happy end atau mungkin sad end? ... yang pasti adalah ... jaga dia baik-baik. Jaga orang yang sangat berharga bagimu ...
... itulah yang bisa kau lakukan saat ini. Semangat, Miku, kakak akan terus mendukung hubungan kalian hihi ...," ujar Kak Ai menyemangatiku. Woaah, dia benar-benar paham dalam dunia percintaan. Nggak heran sih.
"Daeebaaak! Sepertinya Kak Ai memang sangat mengerti kalau masalah percintaan."
Kak Ai memasang ekspresi wajah yang aneh dan senyuman yang kecut. "Yaa ... begitulah ...."
"Huweeee, huweee!" Pada waktu yang bersamaan, terdengar suara tangisan bayi. Ah, sepertinya Akari tidak bisa ditinggal ibunya meskipun hanya sebentar.
"Eeeh, padahal kakak baru saja menidurkannya. Tapi dia sudah bangun lagi. Ya sudah, Miku. Kakak mau menidurkan Akari dulu, kau semangat ya!" ucap Kak Ai sambil memberi sebuah 'Tee-Hee'.
"HUWEEEE!!" Suara tangisan Akari terdengar semakin kuat.
"IYA SAYANG, TUNGGU SEBENTAR!" Kak Ai dengan cepat berlari menghampiri kamar Akari yang berada tak jauh dari kamarku.
Hah ...
Kak Ai memang wanita yang sangat baik. Dialah yang menginspirasiku untuk tetap semangat dalam menjalani hidup. 'Tak peduli apapun yang orang lain katakan, selama kau merasa hal itu benar, maka lakukan saja', begitulah katanya.
Omong-omong, Akari adalah anak Kak Ai. Sejak lahirnya perempuan imut itu, Kak Ai menjadi seorang ibu yang super sibuk. Karena dia memerankan banyak peranan di rumah kami, sebagai ibu untuk Akari, sebagai anak untuk ibu, sebagai istri untuk Kak Rey, dan sebagai kakak untukku.
Terkadang aku berpikir, mungkinkah aku bisa menjadi seperti Kak Ai?
Haha ... sepertinya tidak. Yaa ... bagaimana tidak, aku saja tidak pandai memasak. Apalagi membersihkan rumah haha ....
=•=•=
Tiga puluh menit kemudian, Kak Ai kembali mengetuk pintu kamarku.
"Miku, ada laki-laki yang mencarimu di luar. Hekhem ... katanya dia adalah pacarmu." Kak Ai tersenyum miring sambil bersandar di pintu.
Tunggu ... apa?!
Laki-laki? Tidak, pa-car?
Eh ja-jangan-jangan ...
"Si-siapa, Kak?"
"Heeem, entahlah. Kau temui saja dulu! Jangan buat dia menunggu, ok? Baiklah ... kakak mau memasak makan untuk Kak Rey. Sebentar lagi dia pasti akan pulang." Setelah mengucapkan hal itu, Kak Ai pun pergi untuk memasak makanan untuk Kak Rey. Yaa ... Kak Rey adalah pekerja kantor yang sangat gemilang. Dia sering lembur, makanya dia dijuluki karyawan gemilang. Jika lembur, maka Kak Rey akan kembali besok paginya.
Namun, tak lama kemudian, wanita itu kembali lagi. "Ano ... Miku, apa dia akan mengantarmu ke sekolah?"
"Mu-mungkin begitu," ucapku menjawab.
"Ah baiklah. Hati-hati!"
"Iya!"
Setelah selesai bersiap, aku pun langsung berlari menuju luar rumah. Benar saja, ternyata itu dia.
"Heee ... kenapa kau kesini?" tanyaku kepada laki-laki itu.
"Yaa untuk apalagi? Aku ingin menjemputmu!" ujarnya sambil memberikan helm berwarna merah muda dan bermotif sakura.
"Tumbeeen sekali, hmp!"
Ya, laki-laki itu adalah Tatsuwa Ishida. Aku biasa memanggilnya Ishi-kun atau Ishida.
"Ayo cepat! Sebelum kita terlambat!" ajaknya dengan tangan memutar gas motor sportnya.
"Okee ...." Aku naik ke motornya. Aah, ternyata motor sport itu tidak begitu nyaman ya. Kalau tahu begini, aku jalan sendiri saja. "Aah sakit ...."
"Hm? Kau kenapa Miku?"
"Eh? Ngg-nggak apa-apa kok haha ...," balasku dengan tawa yang dipaksakan, mungkin.
"Ohh ... baiklah kalau begitu. Cepat, peluk aku!" ucapnya dengan suara sedikit keras. Tunggu, apa?
"Hee? Peluk? Maksudmu?" tanyaku dengan pipi memerah tersipu malu.
Ishida menarik tangan kananku dan memposisikannya di pinggangnya. "Agar kau tidak jatuh nanti. Sudahlah, ikuti aku saja, ya?"
"Ikuzoooo!" Tanpa permisi atau setidaknya memperingatkanku, Ishida menarik gas motornya laju. Bahkan, jalan berbelok pun tak dapat menghentikan motornya.
"Issshidaaa!" Aku mengenggam pinggangnya erat. Heeh ... aku tahu dia sangat keren, tapi bukan begini juga.
Apa dia sengaja melakukan ini? Apa dia benar-benar ingin mengajakku mati bersamanya? ... hehh ....
"Yosssh, tambah kecepatan lagi, ya? Mumpung jalan di depan sedang sepi!" Ishida mengucapkan sesuatu kepadaku. Namun, aku tak dapat mendengarnya begitu jelas. Setelah beberapa saat kemudian, aku baru sadar.
"Eh Ishida Ishida, ja-jangan ... aku takut .... ssuAARAGHHHHHHH!!"
Aku tak dapat berhenti berteriak. Motornya berjalan dengan cepat. Bahkan, aku hampir tidak bisa melihat pohon-pohon yang ada di sampingku.
"Wooohoo!!"
=•=•=
Setibanya di sekolah, aku turun dari motor dengan badan terasa lemas, seperti kehilangan tenaga. Jujur saja, selama di perjalanan tadi aku hanya bisa berdoa supaya tidak meninggal. Jantungku ... haduh ... jantungku rasanya mau copot.
Di sisi lain, Ishida membuka helmnya. "Bagaimana Miku, bukankah tadi itu keren?" Laki-laki itu bertanya sambil menaruh helmnya.
Aku mendongak, menatapnya dengan tatapan kesal. "Keren? Kau sebut itu tadi keren? Kau menakutiku tauuu! Haihh ... hah ... jantungku. Hah ...."
"Ahaha ... iya iya maaf. Um ... ini sudah hampir masuk kurasa. Ayo cepat berdiri!" ajaknya dengab tangan terulur. Tampaknya dia ingin membantuku berdiri.
"Hmm ... okeee. Hiyaah. ... haihh ... tapi kau harus berjanji, jangan ulangi itu lagi!" Wajahku cemberut untuk menunjukkan betapa kesalnya aku saat ini.
"Iya iya hihi ...."
=•=•=
Singkat cerita, ini telah memasuki jam istirahat. Aku berniat untuk menghampiri Ishida yang ada di kelas sebelah. Akan tetapi, tiba-tiba aku merasa bahwa tanganku sedang dipegang oleh seseorang. Saat aku berbalik, aku melihat seorang laki-laki berkaca mata. "Miku, tunggu sebentar ...," ucapnya. Dia adalah Iku Watari, teman sekelasku.
"Hm? Ada apa Iku?"
"Eh? I-itu ... aku ingin memintamu untuk memberi tahu buku yang direkomendasikan bu guru tadi. Apa kau tahu nama bukunya?" Laki-laki itu bertanya.
"Ah itu. Aku tidak tau pasti apa namanya. Tapi aku tau dimana harus mencarinya. Mau kuantar?"
"Eh? Ka-kalau kamu memang tidak apa-apa sih, aku mau saja," ungkap Iku malu-malu. Ya, dia adalah laki-laki yang polos dan ramah. Dan terkadang, dia terlalu baik sih.
"Ya!" Ahh ... padahal aku ingin membawakan makanan yang kubuat untuk Ishida. Tapi ya sudahlah, kurasa membantu temanku dulu tidak apa-apa.
Kami berdua sepakat untuk pergi mencari buku yang dimaksud oleh Iku, bersama. Namun, ketika aku baru saja melangkahkan kaki ke luar kelas, aku bertemu dengan seorang gadis cantik. Wajahnya tidak asing. ... Aaah, aku tau ... dia adalah ..., "Kak Hikari!"
"Eh? Miku? Hahaha ... ternyata kau masuk SMA ini, ya? ...
... kenapa aku tidak menyadarinya ... hahaha .... Ah iya, bagaimana kabarmu, Kak Ai, Kak Rey, dan Mama Anna?" tanya perempuan itu dengan senyuman manis khasnya. Hikari, Hikari Tachibana, dia adalah adik perempuan Kak Rey. Keduanya memiliki ciri khas yang sama, yaitu sama-sama memiliki senyuman yang manis.
"Baik kok Kak. Tapi, akhir-akhir ini ibu sedang sakit .... Ummm ... Kak Hikari mau kemana?"
"Ah, aku mengerti. Yaa ... aku baru saja dari kantin sekolah. Makan siang. Kalau kamu, mau kemana Miku?"
"Aku ingin mencari buku di perpustakaan, Kak. Guru yang merekomendasikannya."
"Ooh ... hmm ... apa laki-laki manis ini adalah pacarmu? Aah ... kawaii na." Kak Hikari menatap Iku gemas.
"E-eeh ngg ... nggak kok! Kita hanya teman saja haHaHahaa ...."
"Yah, sayang sekali. Padahal kalian cocok sekali. Hmm ... ya sudah, aku kembali dulu, ya? Daah Miku~ Salam untuk Kak Rey! Katakan padanya, jangan suka melihat-lihat celana dalam Kak Ai!" bisik gadis ini sambil tertawa kecil dan lalu pergi.
Tunggu ... celana dalam?!
=•=•=
Saat sudah sampai di perpustakaan, aku pun langsung menunjukkan buku yang dicari oleh Iku. "Ini, Iku!" ucapku sambil memberikan buku tebal. Buku itu adalah buku materi tentang tata surya dan waktu.
"Ah terima kasih, Miku." Dia mengambil bukunya dari tanganku dengan perlahan. Tapi, kurasa tangannya tidak memegang buku.
"A-ano ... Iku ... tanganmu ... lepaskan ...."
"Tidak ... aku tak mau melepaskan tangan orang yang aku suka selama ini. Miku, sejak bertemu denganmu pertama kali, aku sudah terpesona dengan kecantikanmu, lalu saat aku mulai mendekatimu, kau sangat baik padaku. Jadi ... hari ini, aku ingin menyatakan perasaanku ...." Iku berhenti berbicara sejenak karena dia mengambil sesuatu dari sakunya. Ia lalu melanjutkan, "Jadilah pacarku! Aku sangat menyukaimu!"
Deg!
Mataku membelalak. Tubuhku terdiam seolah sebuah bayangan menahan gerak tubuhku. Di-dia ... baru saja dia menyatakan perasaannya? I-Iku?
Dilihat dari wajahnya, dia terlihat sangat serius. Itu artinya, dia benar-benar menyukaiku? Aduh ... bagaimana ini ...?
"Umm ... a-aano ... i-itu ... I-Iku ...." Grhhh ... aku tak bisa menjawabnya. Bagaimana caranya agar aku bisa keluar dari situasi menyusahkan ini?!"
Gedubrag!
Namun, atensiku langsung tertuju ke arah pintu perpustakaan saat mendengar suara pintu dibanting. Tunggu dulu ... diaa ....
"Dasar keparat, Iku! Muncul kau s*alan!" Ishida terlihat sangat marah.
Kenapa dia ada di sini?
Matanya menyisir ke segala arah, masih dengan napas terengah-engah seperti sedang menahan emosi. Pandangan matanya terhenti ketika dia melihat kami berdua.
Tap! Tap! Tap!
Tanpa kuduga, Ishida berlari menerjang semua yang ada di depannya. Pandangannya tidak berubah sedikitpun. Ia seperti elang yang sedang mengincar mangsanya
Bruk!
Ishida menerjang Iku hingga Laki-laki polos itu terjatuh dan terbentur kaki meja perpustakaan. Akan tetapi, Ishida tidak berhenti hanya sampai di situ, dia melepaskan pukulan ke arah wajah hingga kacamatanya rusak tak berbentuk.
"GraaaAGGHH ... AKU TAK AKAN PERNAH MENGAMPUNIMU, WALAU AKU SUDAH MENINGGAL SEKALIPUN!" Dia melayangkan sebuah pukulan ke arah wajah Iku.
"ISHIDA!" Namun, aku berhasil menahan pukulan itu sebelum benar-benar mengenai wajah Iku.
Plak!
Sebaliknya, tanganku malah melepaskan sebuah tamparan di pipi Ishida. Suasana pun seketika menjadi sunyi senyap. Semua mata menyorot kepadaku.
"Ishida? Apa kau sudah gila, ha? Kenapa kau memukulinya seperti itu?!" Karena terbawa emosi, aku sampai-sampai tidak sadar apa yang aku katakan dan lakukan barusan.
"Kenapa? ...
... kenapa kau menamparku? Yang salah adalah laki-laki ini! Dia berusaha merebutmu dariku! Laki-laki mana yang tak marah saat melihat pacarnya hendak direbut oleh laki-laki lain? Pikirkan itu!"
"Tapi bukan begini caranya! Aku tahu kau marah! Tapi kelakuanmu itu sudah melewati batas!"
Ishida masih terdiam. Laki-laki itu menunduk. "HaHa ... kau lebih membelanya, ya ... baiklah ... mulai hari ini kita hanya akan berhubungan sebagai teman saja! Aku pergi, nikmati hari-harimu bersama si cengeng ini!" Ishida berdiri dan berjalan keluar dari perpustakaan.
"Ishida!" Aku pun berdiri dan mengejarnya.
"Ishida!" Tak peduli berapa kali aku memanggilnya, laki-laki itu tak menghentikan langkahnya. Jangankan berhenti, menoleh ke belakang pun tidak. Aku benar-benar telah membuatnya marah.
"Ishida, tolong berhenti!" Akhirnya, aku bisa meraihnya.
Hah ... hah ... hah ...
Napasku terengah-engah. Syukurlah, aku bisa mengejarnya ....
"Ishida, bukan begitu maksudku. Hanya saja ... aku tak mau kau menyakiti orang lain seperti ini ...."
Ishida hanya diam tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"A-aku akui aku salah. Aku minta maaf ...."
"Tcih, lupakan. Aku tak mau memiliki pacar gadis yang tak setia. Sudahlah ... sana, lebih baik kau temui Iku!" Ishida melepas genggaman tanganku lalu berjalan menjauh
"Ishidaaa!!" Sudah terlambat, aku sudah terlambat ... dia sudah pergi dari hidupku. Salah satu cahaya terang dari hidupku mulai meredup, tidak cahayanya sudah menghilang.
Tak ada yang bisa kulakukan. Kurasa, aku tak akan pernah mau jatuh cinta lagi. Karena hari ini, aku merasakan sakit yang amat sangat sakit.
Tidak, aku tak boleh menangis, jangan menangis. Aku bukan tipe gadis yang seperti itu ... aku adalah gadis yang kuat, aku tidak cengeng.
Tiba-tiba aku merasakan air mata mengalir dari mataku. Saat kupegang dengan tangan kananku, ternyata ini adalah air mata. Aku ... menangis? HaHaHa aku tak mungkin menangis aku ... hikss ... a-aku adalah gadis yang kuat ...
"Ishidaa ... ikanaideyoo! Hikss ... HaaAaaHaaAa ... hiks hiks ... HaaAaa ...." Siang itu, air mataku tumpah. Pada siang itu juga lah, aku merasakan rasa sakit yang tak akan pernah mau kurasakan lagi ....
... rasa sakit hati.