Malam itu jam di tanganku sudah menunjukan pukul dua dini hari. Seharusnya jam sepuluh aku sudah pulang, namun karena ada meeting untuk besok paginya, aku terpaksa lembur untuk seting meja dan kursi. Aku bekerja di salah satu hotel ternama di kotaku. Sialnya, saat aku pulang kerja jalan yang biasa aku lewati sedang dalam perbaikan, terpaksa pulangnya aku lewat jalan memutar.
Jalannya terlihat sepi, hanya beberapa orang saja yang melewati jalan ini. Lampu peneranganpun hanya terlihat remang-remang.
Jujur bulu kuduku merinding berjalan di tempat remang-remang seperti ini. Bermacam doa aku ucap dalam hati, berharap segera sampai jalan yang sedikit lebih ramai. Sebenarnya jalan ini tidak panjang, hanya saja terasa amat panjang saat melewatinya di malam hari, apalagi dini hari seperti ini. Ini hanyalah jalan setapak yang di lewati kereta api. Di samping rel kereta api ada sebuah selokan, kalo siang hari ramai karena di sana untuk pemancingan. Bersih pula airnya tidak seperti selokan-selokan pada umumnya.
Di sela lamunku, mataku tak sengaja melihat seorang wanita sedang mencari-cari sesuatu. Wajahnya terlihat sedih. Sesekali dia mengeluarkan air mata dan menghapusnya.
Aku yang melihat hal itu merasa kasihan. Tidak tega, wanita malam-malam sendirian di tempat sepi kaya gini. Meski hatiku bergejolak, akhirnya aku memberanikan diri untuk menyapanya.
“Ada yang bisa saya bantu mba?” tanyaku pada wanita tersebut. Wanita itu memandangku dengan wajah sendu. Matanya terlihat bengkak, sepertinya dia sudah cukup lama menangisnya.
Dia hanya diam, tidak menjawab pertanyaanku. Aku jadi canggung, merasa enga enak hati. Kemudian aku memberanikan diri untuk bertanya lagi.
“Mba, kalo mau, bisa saya bantu cariin. Enga baik sendirian di tempat seperti ini.”
Kembali, wanita itu memandangku, dia menghapus air matanya yang sempat menitik di sudut matanya.
“Hik, cincin tunangan saya hilang mas, saya takut kena marah tunangan saya.” Ujarnya seraya tangannya meraba-raba sekitarnya.
“Waduh, mba udah dari tadi nyarainya?”
“iya.”
“saya bantu carinya ya mba.”
Tanpa menunggu persetujuan aku bergegas membantu wanita tersebut mencari cincinnya. Senter pada handphone aku nyalakan, namun pencahayaan masih remang.
Sesekali aku melirik memandang wanita itu. Wajahnya terlihat pucat, sepertinya dia kelelahan.
“Mba namanya siapa?” aku bertanya untuk memecah keheningan. Dia hanya diam tanpa menjawab pertanyaanku.
Ya sudahlah batinku.
Cahaya rembulan yang remang memancarkan sinarnya, hingga mataku tertuju pada sebuah benda yang berkilau. Segera aku bergegas menghampiri benda berkilau tersebut.
Benar saja itu cincin yang di cari wanita tersebut. Saat aku meraih cincin tersebut sontak saja aku terkejut.
“M-mb-a...” aku tergagap memanggil wanita itu. Dia hanya mendongakkan kepalanya, kali ini aku benar-benar terkejut, matanya kosong!
Dengan rasa takut yang semakin menjalari tubuhku, segera saja aku menghampiri wanita itu, dan menyerahkan cincinnya.
Aku segera memalingkan wajahku, dan berlari kesetanan.
Saat aku berlari aku mendengar tawanya yang menggema di telingaku. Suara tawa yang tidak lumrah untuk seorang manusia.
Paginya, aku mengantar ibuku berbelanja di pasar. Letak pasar tidak jauh dari rel kereta yang aku lewati dini hari tadi.
Saat mengantar ibuku, aku melihat kerumunan orang di sekitar rel kereta.
Telingaku tidak sengaja mendengarkan para tukang becak yang sedang mangkal di sana.
“Baru saja kecelakaannya, badannya yakampun kasian...”
“Sudah d evakuasi semua, cuma satu yang belum ketemu... kasian ya...”
“kata keluarganya jari manisnya belum ketemu, hilang bareng cincin tunangannya.”
“hii.. kasihan ya... padahal katanya di pulang buat persiapan menikah ya.”
Aku yang mendengar percakapan barusan langsung bergegas menuju tempat kejadian perkara.
Kembali rasa merinding mendatangi tubuhku. Ku hampiri salah satu orang yang mengaku keluarganya, kemudian aku tunjukkan dimana letak jari manisnya tersebut. Tanpa berkata-kata, segera aku meninggalkan keluarga tersebut, tanpa menunggu ucapan terimakasih dari mereka. Karena aku benar-benar takut.
Selesai.
Sebenarnya ini cerita nyata yang di alami salah satu karyawan salon yang pernah aku datangi. Hanya saja banyak yang aku rubah untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan.
Kalo cerita sebenarnya, menjelang hari H pernikahan mereka, yang laki menuju jogja, namun dalam perjalanan dia mengalami kecelakaan hebat, hingga tubuhnya hancur, kendaraan yang dia gunakan bener-bemer ringsek enga berbentuk montor lagi, dan ada salah satu bagian tubuhnya yang tidak pernah di temukan hingga sekarang.