tepat 24 Oktober cinta pertamaku membalas cintaku. 2 tahun penantianku menunggu dirinya akhirnya terbalaskan dengan dia menjadikan ku pacar dan sekaligus menjadi pacar pertamaku. pria tersebut bernama garel. aku dipertemukannya pertama kali dengannya yaitu di gereja. dan makin berlanjut ketika kami masuk ke guru malua yang dimana ini adalah sekolah pembekalan iman sebagai tanda kami akan dewasa dan menanggung dosa sendiri. kegiatan ini memang wajib dilakukan bagi umat kristiani.
pada saat dia memutuskan untuk menjadikan ku pacarnya, aku tidak pernah berpikir dia akan bersikap romantis padaku. melihat sikap yang dingin tidak ada harapan untuk bisa menjadi kekasihnya. tapi saat dia benar-benar menyusun rencana untuk menjadikan ku kekasihnya, aku merasa bahwa aku menjadi wanita paling beruntung yang bisa memiliki pria yang sudah aku dambakan selama 2 tahun.
walaupun aku menjadi wanita paling bahagia pada saat itu percayalah aku melalui proses menjadi wanita paling menyedihkan yang pernah ada.
aku berusaha mengejar cintaku dengan berbagai cara yang bisa dikatakan memalukan . sahabatku menjadi saksi bagaimana aku mengejar pria dingin yg aku dambakan. bahkan aku mempermalukan diriku berjalan didepan rumahnya hanya sekedar mengintipnya dari luar. tapi pada saat itu aku merasa hal yang aku lakukan itu masih wajar.
ketika pada suatu hari aku memberanikan diri untuk mengajaknya bicara 4 mata dan beruntungnya dia merespon ajakanku.
ditempat yang sepi hanya ada kami dan para nyamuk yang menjadi saksi diriku menyatakan cintaku padanya.
"maaf aku mengganggu waktumu" ucapku berusaha tenang
"tidak papa. apa yang mau kamu bicarakan?"
tanyanya dengan sikapnya yg sangat dingin
"maaf juga jika apa yang aku katakan membuatmu menjadi terbebani"
"katakanlah" ucapnya yang membuatku makin gemetaran apalagi suasana saat itu sedang gerimis dan angin sedikit kencang.
" aku mencintaimu" ucapku dengan lantang tanpa melihat kearahnya sambil menggigit bibirku karena takut dia akan marah dengan pengakuanku.
hampi 1 menit tidak ada balasan darinya setelah aku mengungkapkan perasaanku , aku mencoba meliriknya dan ternyata dia dari tadi memandang diriku. betapa malunya aku di lihat olehnya dengan tatapan fokus kearahku.
"maaf kalau apa yang aku katakan tidak penting. tapi jujur aku mengatakan ini tidak mengharapkan dirimu membalas apa yang aku rasakan padamu. aku hanya tidak kuat lagi menahannya karena rasa ini sudah 2 tahun aku pendam" ucapku akhirnya karena melihat respon dia hanya diam saja.
"karena kau mengatakan hal tersebut aku tidak merasa terbebani" ucapnya yang membuat aku bingung
"ha??" jujur aku masih bingung tapi diriku merasa sedikit prustasi, walaupun aku mengatakan tidak mengharapkan apa dia harus bersikap jujur seperti itu.
"karena kamu tidak berharap bahwa aku akan membalas perasaanmu jadi aku tidak terbebanin, karena untuk saat ini aku tidak ingin berpacaran"
jlepp... ucapan itu membuat hatiku rapuh dan ekspresi ku benar² kecewa tapi mengingat apa yang aku katakan bahwa aku tidak berharap membuat aku menyalahkan diriku sendiri karena mengeluarkan ucapan tersebut.
"ah...tidak papa, seperti yang aku katakan bahwa aku tidak berharap kau membalas perasaanku, aku hanya ingin bersikap jujur dengan perasaanku padamu" ucapku sekuat mungkin agar dia berpikir bahwa aku baik- baik saja.
"ah kalau begitu kamu boleh pergi, sepertinya teman-temanmu sudah menunggumu" ucapku lagi sambil menahan air mataku agar tidak jatuh.
"baiklah, aku pergi " ucapnya
tapi belum lama dia beranjak pergi tbtb dia menghampiriku lagi
"mari berteman" ucapnya sambil mengulurkan tangannya
jujur kalimat itu membuat hatiku makin sakit. bagaimana aku bisa berteman dengan pria yang seluruh hatiku diisi dengan dirinya.
"ah...dengan senang hati" ucapku membalas uluran tangannya sambil tersenyum palsu.
dia pergi dan disitulah air mataku jatuh dengan bersamaan rintikan hujan yang semakin deras.
sahabatku yang dari tadi menunggu ku ditempat lain tbtb menelponku dan mengajakku untuk segera pulang karena hujan akan semakin deras.
"Lola kamu baik-baik saja?" tanya Yana yang baru saja datang untuk menjeputku
"begini rasanya cinta ditolak" ucapku sambil tersenyum
"masih bisa tersenyum?" tanya Yana heran
"apa aku harus nangis?" ucapku berusaha tegar. jujur aku tidak mau terlihat lemah didepan orang.
"sudahlah, masih banyak pria yang lain. dan jangan menutupi kesedihanmu, apa aku tidak berguna sebagai sahabatmu?" kesal Yana
"kau sahabat terbaikku" ucapku sambil memeluknya
akibat pelukan tersebut membuat air mataku yg aku tahan sejak kedatangan Yana akhirnya jatuh dan Yana berusaha menenangkanku dengan mengelus bahuku. akhirnya kami berdua kehujanan dan berkat hujan aku bisa memanipulasi bahwa aku tidak sedang menangis.
seminggu kejadian itu, aku benar-benar masih patah hati. aktivitas yang aku jalanin tidak ada rasa gairah sedikitpun. ketika pelajaran olahraga aku benar-benar ingin sekali bolos ke UKS tapi karena itu adalah ujian aku terpaksa mengikutinya. saat ujian lari tbtb kepala ku pusing dan akhirnya aku pingsan .
sejak kejadian pingsan tersebut membuat diriku tidak bersekolah 3 hari dan juga terpaksa absen di kegiatan pembekalan iman digereja yang dilaksanakan setiap hari Sabtu dan Minggu.
Yana sahabatku yang mendengarku jatuh sakitpun selaku datang kerumah untuk menghiburku dan mengecek keadaanku yang tidak berubah sejak pertama kali dia menjengukku .
"kenapa kau jadi wanita menyedihkan sih la?"
"apa aku terlihat seperti itu?"
"Lola tolong jangan bersikap kayak gini. masih banyak pria yang mau sama kamu"
"tapi tidak ada yang membuat aku jatuh cinta"
"itu karena kamu menutup rapat² hati kamu untuk pria lain"
Lola hanya dia saja
"dunia aku hampa kalau kamu absen tau nggk? aku macam orang idiot kalau kamu enggk datang"
" lebay. kita juga beda sekolah kayaknya biasa² aja"
aku dan Yana memang beda sekolah tapi selalu bersama kemana pun saat di luar sekolah.
"ya bedalah, kita kan terbiasa kalau kegereja barengan"
"hmmm"
"pokoknya Minggu depan Lo harus masuk"
"hmmm"
"kalau gitu aku pulang"
semenjak kepergian Yana, aku kembali memikirkan garel lagi. dan hal itu mengingatkan ku kejadian di malam aku mengungkapkan perasaanku. air mataku kembali mengalir lagi, manangis menjadi aktivitasku saat ini.
seminggu berhenti dari aktivitas sekolah dan yang lainnya, akhirnya aku kembali dan berusaha melupakan semuanya. apalagi saat ini aku sudah duduk dibangku 12 SMA jadi aku harus fokus untuk masa depanku. yah, walaupun pikiranku tidak lepas dari garel.
tepat hari Sabtu yang dimana ada jadwal pembekalan iman di gereja, aku harus terpaksa datang karena jika absenku banyak maka aku tidak akan lulus. walaupun langkah berat karena pasti akan bertemu garel tapi Yana terus meyakinkanku untuk bersikap kuat dan mengabaikan garel dan berusaha tidak berpapasan dengannya.
tapi bagiamana pun aku bersikap menghindar tetap dia akan aku lihat karena aku menjabat sebagai ketua yang dimana akan sering disuruh untuk mengumpulkan tugas teman-teman.
aku berjalan dari
bangku satu kebangkj ainnya untuk mengumpulkan tugas, dan akhirnya aku berada di tempat duduk garel. aku ingin sekali menangis jika melihat wajah garel tapi aku berusaha kuat dan tersenyum.
sudah 1 bulan kejadian diriku ditolak. lamban laun aku mulai terbiasa dengan patah hati yang aku rasakan. dan sedikit menerima kenyataan bahwa garel tidak akan pernah aku miliki. Yana yang selalu berada di sisiku adalah jadi sumber kuatku menghadapi kenyataan cintaku yang menyedihkan.
"Lola , ini tugas kemarin yang aku tidak kumpulkan karena tidak datang" ucap John
"okay nanti aku kasih ke inang ( ini itu sebutan orang Batak kepada wanita yang tua agar sopan dan sekaligus guru yang mengajarkan kami tentang alkitab di gereja) "
"makasih ya Lola" ucapmya sambil tersenyum
"sudah tugasku John" balasku
keesokan harinya aku masih ada jadwal belajar di gereja juga tapi kali ini Yana mengajak ku pergi sangat cepat. padahal kami masuk itu jam 5 sore tapi jam 3 sore dia sudah mengajakku pergi.
jujur aku bingung kenapa dia begitu semangat buat datang. tapi karena Yana adalah sahabatku jadi aku hanya mengiyakan saja.
sampai di gereja suasana masih sepi ya karena memang belum jamnya masuk.
"kenapa kita cepat datang sih na?" tanyaku yang sudah brapa kali ku lontar kan tapi jawaban Yana cuma nyuruh aku ikut aja.
hampir 15 menit menunggu di bangku yang memang sudah tersedia akhirnya ada 2 orang pria datang yang tidak asing bagiku.
"kok garela datang cepat juga?" tanyaku yg hanya di dengar Yana
aku bingung Yana kenapa tbtb menghampiri garel dan Rengga. aku yang masih duduk dibangku hanya memandang mereka saja.
tapi tbtb Yana pergi sama Rangga meninggalkan ku dan garel. lalu garel menghampiriku.
"hai Lola" ucapnya
"hai rel" ucapku lalu bangkit dari dudukku.
"Yana kemana sama Rengga?" tanya ku bingung
"maaf" ucap garel yang jawabannya lari dari pertanyaanku
"kok tbtb minta maaf" ucapku makin bingung
"karena kejadian malam itu"
"bukan kah kita sudah menyelesaikannya?"
"aku rasa aku melakukan kesalahan"
aku hanya diam dan jatungku berdebar tak karuan.
"tidak ada yang salah, malah aku berpikir aku membuatmu tidak nyaman"
"memang" ucapnya
"setelah pengakuanmu Tetang perasaanmu padaku, aku selalu memikirkannya. walaupun malam itu aku mengatakan bahwa tidak terbebani tapi kenyataannya aku memikirkan dirimu"
"kenapa?"
"aku juga tidak tau kenapa. tapi melihatmu berubah membuatku merasa ada sesuatu yang hilang. melihatmu bisa tersenyum dengan orang lain tapi padaku bersikap dingin membuatku tersiksa" ucap garel jujur dengan perasaannya.
"maksud kamu apa sih garel?"
"sepertinya aku sudah memiliki perasaan padamu"
kalimat yang membuat diriku senang sekaligus sedih secara bersamaan
aku hanya bisa diam dan menahan air mataku agar tidak jatuh.
"apa kamu membeciku?" tanyanya sambil memegang tanganku
aku seperti terkena setrum saat dia memegang tanganku
aku tidak langsung menjawab pertanyaan tapi aku malah memandang wajahnya untuk memastikan apa ini nyata atau tidak
"bagaimana bisa aku membencimu sedangkan dirimu menguasai diriku. pikiranku terus memikirkan dirimu. 2 tahun aku memendam perasaan ini padamu jadi tidak semudah itu aku bisa membencimu" ucapku jujur dan air mataku jatuh seketika mengingat bagaimana aku memendam perasanku sampai pada akhirnya aku berani jujur.
"kamu mau jadi pacaraku?" tanyanya sambil mengulurkan Bungan mawar padaku
aku terkejut tbtb dia mengajakku berpacaran dan memberiku bunga. ini pertama kalinya aku merasakan ditembak da diberikan bunga pada pria.
"kalau kamu terima bunga ini tandanya kamu menerima aku"
dengan gemetaran tanganku mengambil bunga tersebut. jujur saja aku tidak banyak berpikir untuk menerima garel. karena dari awal aku ingin menjadi kekasihnya jadi saat keinginanku terkabulkan tidak ada hal yang harus dipertimbangkan.
ternyata selama 1 bulan kegalauanku ternyata diam-diam garel mencari informasi tentangku kepada Yana. dan Yana tidak pernah bercerita masalah ini dan malah membantuku melupakan garel. tapi nyatanya dia yang membantu garel.
dasar Yana sahabat yang aneh. tapi berkat Yana, aku dan garel bisa berpacaran.
akhirnya kami sah menjadi pasangan kekasih tanggal 24 Oktober dan kami memulainya dengan sangat manis dan dia selalu bersikap baik dan romantis padaku. dia membuatku bahagia dengan perhatiannya yang kecil namun membuatku tersentuh. walaupun luarnya dia dingin tapi dia masih bisa memperlakukan diriku dengan baik.
masalah hubungan kami banyak orang yang mengetahuinya dan ikut senang mendengarnya karena mereka tau perjuanganku mencari perhatian garel.
tepat 1 bulan kami menjalin cinta, perilakunya mulai membuatku merasa ada yang berubah dari sikapnya. jujur aku sedikit khawatir dengan hal tersebut, rasa cintaku yang mendalam membuatku takut setiap memikirkan dirinya. aku tidak ingin dia berpaling dariku karena separuh duniaku dipenuhi olehnya. waktu masih terlalu singkat untuk mengukir kisah indah dengannya.
aku selalu mencari informasi tentang garel pada Yana karena memang Yana satu sekolah dan satu kelas dengan garel. tapi Yana selalu mengatakan bahwa garel tidak melakukan hal-hal yang mencurigakan.
tapi walaupun seperti itu aku tetap saja khawatir dan merasa kalau garel mulai jarang mengirim chat deluan. padahal semala pacaran dia selalu mengucapkan selamat pagi untuk memulai aktivitasku.
Yana selalu membuatku untuk berpikir positif dan mengatakan bahwa hubungan tidak selalu manis, mungkin garel sedang sibuk dengan sekolahnya yg memang kami sedang sama-sama duduk di kelas 12 SMA yang dimaa sebentar lagi menghadapi UN.
seminggu aku biarkan garel tidak mengirim pesan deluan dan aku yg memutuskan mengirim deluan tapi malah garel semakin cuek padaku, dia selalu lama membalas pesanku. bahkan dia hanya membaca pesan dariku.
sedih rasanya diabaikan garel, padahal aku selalu menunggu dirinya.
karena aku tidak ingin mengekang garel dalam hubungan kami akhirnya aku memutuskan untuk membiarkan dirinya untuk sibuk dengan dunianya. dan kami tidak berkontak selama 1 Minggu. kecuali jumpa di gereja, itupun saat waktunya pulang dia selalu minta izin untuk pulang cepat karena banyak tugas uang dikerjakan. jadi walaupun jumpa kami tidak bisa berbicara banyak.hal
selama 1 Minggu itu kegiatanku terus membuka pesan darinya berharap ada 1 pesan yang akan dikirimnya untuk memberikan kabar saja.
tapi selalu nihil, aku juga yang kesal dengan sikap garel memutuskan untuk bersikap egois untuk tidak mengirimnya pesan. dan saat jumpa juga kami berusaha bersikap biasa saja, dan dia permisi pulang deluan tanpa mengantarku pulang seperti dulu aku tidak mempermasalahkannya
tepat 24 Desember yang dimana itu malam natal sekaligus tanggal anniv ke 2 bulan kami. aku ddan dia duduk bersebelahan dan selama acara aku berdoa pada Tuhan agar garel tetap mencintaiku dan tulus mencintaiku serta hubungan yang panjang
saat selesai ibadah, garel pun mengatakan dia akan pulang cepat karena dia dan keluarga memiliki tradisi saat di malam natal.
tapi sebelum dia pergi aku mengucapkan
"selamat natal sayang* ucapku tersenyum
"selamat natal juga" balasnya sambil mengelus pucuk kepalaku.
garel pun pergi dan aku harus menahan diriku untuk tidak menangis karena saat ini banyak teman-temanku yang akan melihatku.
yang awalnya aku berpikir bisa menghabiskan malam natal dengannya harapan itu musna dan membuat moodku benar² buruk.
karena mood yang udah buruk akhirnya aku memutuskan untuk pulang dan meninggalkan Yana .
aku berjalan sendirian menuju kerumahku,. sebenarnya bisa saja aku pulang dengan orangtuaku tapi karena keadaanku yang sedang kacau, aku memutuskan untuk.berjalan kaki. lagian jarak rumahmu tidak terlalu jauh.
sampai dirumah aku kembali menangis.
"apa mencintai dengan tulus sangat menyakitkan seperti ini?" tanyaku dalam hati sambil menangis.
semenjak malam natal sampai tanggal 3 Januari garel tidak mengirim pesan padaku. untuk mengucapkan selamat tahun baru pun tidak ada.
saat pergantian malam tahun baru aku mengirimnya pesan dan aku mengurangi keegoanku tapi nyatanya pesanku tidak dibaca sama sekali padahal terkirim.
rasa khawatirku selama ini akhir nya mulai nyata dan aku takut menghadapi kenyataan itu.
dan kenyataan itu semakin dekat ketika aku mengirimnya pesan lagi tapi ternyata dia sudah ganti nomor telepon. dan disitu aku nangis sejadi-jadinya.
aku ingin berteriak dan mengungkapkan kesedihanku terpaksa aku tahan karena suasana yang masih penuh dengan sukacita membuatku tidak bisa berbuat apa-apa dan harus terlihat bahagia.
"garel aku mencintaimu " kalimat itu salalu aku ucapkan dalam hati ketika nama garel melintas dipikiran ku.
tanggal 6 Januari tbtb adik aku harus masuk ruang operasi karena ada daging tumbuh di bibirnya dan disaat kecemasanku terhadap keadaan adikku tbtb garel mengirimku pesan, membuatku seketika menjadi bahagia.
tapi ternyata kebahagiaan itu hanyalah sementara. disaat aku menunggu didepan ruang operasi garel memutuskan ku.
aku lagi-lagi menahan tangisku karena disekitarku ada keluarga.
tapi karena menahan tangis dan membuat aku sesak akhirnya aku berlari ke toilet dan meluapkan rasa sedihku dan patah hatiku. aku nangis sejadi-jadinya tanpa memperdulikan orang yang ada diluar yg sedang menungguku keluar.
sekitar 30 menit menahan diri di toilet akhirnya aku keluar dan mambasuh mukaku agar tidak terlhat habis menangis.
seketika juga aku mendapat telpon dari mamaku bahwasanya adikku sudah keluar dari ruang operasi dan aku menghampiri keluargaku.
semenjak hubungan ku dan garel putus aku kembali menjadi orang pendiam dan saat kami bertemu di gereja, aku berusaha menghindar. aku harus sabar menunggu 2 bulan lagi kami akan lulus dari sekolah pembekalan iman.
kelulusan sekolah pembekalan iman tiba dan aku senang akhirnya aku bisa tidak bertemu dengan garel lagi. karena semakin aku sring melihatnya semakin susah aku melupakannya.
disaat peresmian kelulusanku ternyata aku juga mendapat kabar bahwasanya garel sudah memiliki kekasih baru dan ternyata wanita itu adalah adik kelasnya disekolah.
baru 2 bulan kami putus dia sudah mendapat pacar baru sedangkan aku harus menelan nasib betapa susahnya untuk melupakan sosok garel dalam hidupku.
kisah yang begitu penuh gelombang dalam kisah percintaan ku. 2 tahun memendam perasaan, 2 bulan menjalin kasih dan 2 bulan mendapat kabar dia sudah memiliki pacar baru. begitu tragis kisah yang diukir oleh cinta dan pacar pertamaku. dan tepat sekarang sudah 4 tahun aku belum menemukan kekasih baru sedangkan dia sudah bahagia dengan hidupnya.
aku berharap dan berdoa pada Tuhan agar jangan jatuhkan aku sedalam-dalamnya dengan pria yang tidak ditakdirkan untukku. dan jatuhkan diriku sedalam-dalamnya dengan pria yang ditakdirkan untukku.