Aku masih menatapnya, menatap dia yang setiap senja tiba selalu berdiri di sana. Dia yang selalu memaksaku untuk mendatangi danau setiap menjelang petang. Seorang gadis berbalut gaun pengantin berwarna putih tulang, dan anehnya aku tidak pernah bosan meskipun menatapnya sampai berjam-jam. Setiap menjelang senja, aku selalu menunggunya, menunggu kehadirannya di sana.
"Hai." Sapaku padanya. Saat ini aku sedang berada di danau yang berada di belakang rumahku bersama gadis misterius itu, hanya seulas senyum lembut namun menyiratkan kesedihan mendalam yang Ia tunjukkan untuk membalas sapaanku.
"Jika aku boleh tau, kenapa kau selalu memakai gaun pengantin saat datang ke tempat ini? Apa karna kau sedang menunggu seseorang?" Akhirnya pertanyaan itu dapat terucap dari bibirku setelah hampir satu tahun aku menyimpannya. Namun anehnya matanya malah tampak berkaca-kaca setelah aku melontarkan pertanyaan itu padanya, tangan kananku terangkat untuk menyeka air matanya.
Namun dengan cepat dia menahan tanganku, aku merasakan sentuhannya begitu dingin. Padahal malam itu udaranya agak panas, suhu tubuhnya sangat mirip dengan seseorang yang telah meninggal. Aku terpaku melihat tatapan dinginnya yang menyiratkan kesedihan da kepedihan, dia berjalan satu langkah kepadaku. Aku melihat dia mendekatkan wajahnya dan memiringkan kepalanya, bahkan dia sedikit menjinjitkan kakinya agar bisa mensejajarkan tingginya denganku. Sampai akhirnya..
CHU...
Sebuah ciuman Ia daratkan dengan lembut pada bibirku, aku terpaku dan mataku terkunci pada mata teduh gadis misterius itu. Perlahan ku pejamkan mataku, dan entah keberanian darimana sampai aku berani membalas ciuman itu. Aku merasa seperti mengenal ciuman itu, sentuhan bibir itu tidak asing bagiku. Aku merasa jika aku benar-benar mengenal ciuman ini, namun sayangnya aku tidak bisa mengingatnya. Kapan dan di mana aku pernah merasakan ciuman sehangat dan selembut ini.
Seluruh ingatanku terenggut dalam sebuah tragedi yang juga hampir saja merenggut nyawaku. Namun Dokter masih bisa menyelamatkan nyawaku, namun tidak dengan ingatanku. Bukan hanya ingatanku, aku juga merasa sesuatu yang sangat berharga telah teruenggut dariku.
"Suatu saat kau akan mengerti, mengapa aku selalu berdiri di sini dan menggenakan gaun pengantin ini." Dia tersnyum padaku dan melepaskan tautannya pada bibirku.
Dan saat aku mengedipkan mataku, aku melihat sosoknya telah menghilang dari jangkauan mataku.
Entah mengapa mendengar ucapannya yang begitu ringan namun rasanya begitu menyayat perasaanku. Hingga aku merasakan sesak yang luar biasa menghinggapi dadsku.
"Luhan, aku mencariku kemana-mana, kau di sini rupannya!!" Suara baritone itu membuyarkan lamunanku dalam sekejap mata. Sontak saja aku menoleh dan mendapati seorang pemuda berjalan menghampiriku.
"Hyung, sedang apa kau di sini??" Tanyaku balik.
"Apa kau tidak dengar apa yang aku katakan tadi? Aku mencarimu." jawab pria itu sedikit gemas karena pertanyaanku.
"Oh."
"Kau mau kemana?"
"Masuk, di sini sangat dingin," jawabku acuh tak acuh.
"Yakkk!! Manusia kutub, kenapa aku malah ditinggalkan? Luhan, tunggu!!"
Aku melihat pria itu terus mengikutiku sampai aku masuk ke dalam kamarku, ku lihat ekspresinya berubah seketika dan tubuhnya menegang setelah melihat lukisan yang belum aku selesaikan. Aku memicingkan mata dan menatapnya penasaran.
"Ada apa?" tanyaku keheranan.
"Lu, apa kau mengingatnya?" tanya pria itu seraya menatapku tak percaya. Aku mengangkat salah satu alisku setelah mendengar pertanyaan pria itu sambil menunjuk lukisanku
" Mengingat apa?" tanyaku penuh keheranan.
"Gadis dalam lukisan itu, kau sudah mengingatnya?" ranya nya lagi, dan pertanyaannya semakin membuatku bingung.
"Tentu saja aku megingatnya, karna dia adalah gadis yang selalu aku temui setiap menjelang senja di danau belakang rumah ini." Balasku menjelaskan.
Aku menautkan kedua alisku saat ku lihat pria itu membulatkan matanya dan menggelengkan kepalanya. Dia berjalan mundur kebelakang, kemudian aku melihatnya berlari sambil berteriak.
"Ini tidak mungkin. KKYYYYAAAA EOMMAAAAA?" jeritnya seperti melihat setan saja. Aku benar-benar merasa heran.
"Dasar manusia aneh."
-
Karna merasa bosan, Luhan memutuskan untuk pergi ke luar dan mencari udara segar. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Karna semenjak kecelakaan itu, Luhan tidak pernah lagi mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia masih merasa trauma, dengan peristiwa yang hampir saja merenggut nyawanya dan telah menewaskan seseorang yang paling berharga dalam hidupnya.Orang yang telah dia lupakan dari ingatannya.
"Mungkin sebaiknya di sini saja." Luhan menghentikan mobilnya di area taman.
Ia segera keluar dari dalam mobilnya san berjalan menuju salah satu bangku taman. Namun belum sempat Luhan memijakkan kakinya, sebuah gambaran-gambaran aneh berputar di kepalanya. Sekelebat bayangan masa lalu seketika memenuhi kepala Luhan membuat Ia merasakan seperti ada ribuah batu besar menghantam kepalanya hingga membuat kepalanya seperti ingin pecah.
'Oppa yo dorong lagi, hiaaa Oppa jangan kencang-kencang aku takut. Oppa.. Oppa.. Oppa.???'
" AARRRKKKHHH..???"
Luhan berteriak kencang sambil memegangi kepalanya yang terasa ingin pecah saat bayangan seorang yeoja melintas di kepalanya.
"OMO!! Luhan, Oppa!!" Di saat bersamaan, Luhan melihat dua orang perempuan berlari menghampirinya dan membantunya. Namun sayangnya Luhan tidak bisa mengenali siapa kedua perempuan itu
"Oppa, apa yang terjadi padamu? Kau tidak apa-apa?" Tanyasalah satu dari kedua perempuan itu dengan cemas.
Luhan menatap kedua gadis itu dengan bingung, sebuah pertanyaan melintas di kepala Luhan mengenai siapa mereka. Dan apa hubungan keduanya dengan masalalunya yang hilang, Luhan hanya tau jika kedua gadis itu bernama Sunny dan Daea. Dan selebihnya, Ia tidak mengingatnya.
"Aku tidak apa-apa." Balas Luhan meyakinkan.
"Benarkah? Kau terlihat pucat Oppa." Ucap Dara yang terdengar begitu cepas.
"Bagaimana kalau kita kerumah sakit saja?" Kini giliran Sunny yang bertanya, namun niat baik kedua yeoja itu di tolak tegas oleh Luhan.
"Terimakasih atas perhatian kalian, tapi aku tidak apa-apa." Balas Luhan meyakinkan.
Kedua gadis itu hanya bisa mendesah pasrah, memang sulit membujuk seseorang yang keras kepala seperti Luhan. Bahkan sebelum dia kehilangan ingatannya.
"Lu, kita akan pergi kemakan Jessica, apa kau ingin ikut bersama kita??" Tawar Sunny.
"Jessica?" Gumam Luhan pelan.
Mendengar nama itu membuat kepala Luhan kembali berdenyut sakit. Luhan merasa nama itu begitu familiar dan tidak terlalu asing di telinganya. Hingga sebuah gambaran-gambaran aneh melintas di hadapannya
'Jessica berhenti, jangan berlari lagi. Kau nanti bisa terjatuh, Sayang.'
'Jessica aku akan menikahimu, Sayang aku mencintaimu. Jessica.. Jessica... Jessica.'
" AAARRRKKKHHH.????"
"Luhan apa apa?"
"Oppa kau kenapa?"
"Jangan menyentuhku." Bentak Luhan sambil menepis kasar tangan Sunny dan Dara.
Dengan bersusah payah. Luhan berusaha untuk berdiri, Ia terlihat beranjak dari hadapan Sunny dan Dara. Namun tiba-tiba saja kepalanya terasa sangat pusing dan teramat pening. Luhan melihat apa yang ada di sekelilingnya berputar dan membuatnya semakin pusing, sampai akhirnya...m
BRUGGGG....
"LUHAN//OPPA!!!"
Kedua perempuan itu menjerit histeris melihat Luhan jatuh tak sadarkan diri. Dengan segera Sunny dan Dara menghampiri Luhan dan segera membawanya ke rumah sakit. Mereka benar-benar cemas dengan keadaan Luhan.
-
Ku buka mataku perlahan saat aku mencium aroma yang sangat menyengat, aroma yang paling aku benci dan tidak ingin aku hiruo sepanjang hidupku. Yaitu aroma rumah sakit yang sangat kental dengan bau obat-obatan yang sangat menjijikan. Saat mataku telah terbuka dengan sempurna, aku melihat Papa, Mama, kakakku dan kedua perempuan itu berjajar di sampingku.
"Lu kau sudah sadar nak??" Seru Mama sambil menciumku. Kedua mata Mama tampak sembab, mungkin sudah terlalu lama Ia menangis.
"Di mana ini Ma?" tanyaku sambil memegangi kepalaku yang masih terasa sakit seperti terhantam batu besar.
"Kau berada di rumah sakit, Lu. Tadi kau pingsan. Sunny dan Dara yang membawamu ke sini." Jelas Papa.
" Apa yang sebenarnya terjadi, Lu? Dan kenapa kau bisa sampai pingsan?" Kini giliran suara kakakku yang masuk ke dalam pendengaranku.
"Aku-"
Aku menggantung kaliamatku saat aku melihat gadis itu hadir di tegah-tengah keluargaku. Gadis dengan balutan gaun pengantin indah yang melekat pas di tubuh rampingnya, serta rambut panjangnya yang di biarkan tergerai indah. Sungguh betapa sempurna kecantikan yang di miliki. "Kau di sini?" seruku tak percaya. Gadis itu hanya menunjukkan seulas senyum tipis yang tersungging di wajah pucatnya, saat aku ingin menghampirinya. Dia justru pergi menjauh, aku hanya bisa menatap punggungnya dengan sendu.
"Siapa, Lu?" Tanya Kris kebingungan. Terlihat dia menautkan alisnya.
Aku memicingkan mata."Maksudmu?"
"Bukankah kau baru saja mengatakan sesuatu?l? Kau mengatakan 'Kau di sin?' Memangnya pertanyaan itu kau peruntuhkam untuk siapa?" Tanya Kris sambil memicingkan sebelah matanya. Dia menatapku penasaran.
"Apa kalian tidak melihat jika baru saja ada seorang gadis dengan balutan gaun pengantin hadir di tengah-tengah kalian?" Tanyaku penuh keheranan.
"A-APA!! Gadis dengan balutan gaun pengantin!!" Pekik kedua gadis asing itu 'Sunny dan Dara.
"Ya, gadis itu baru saja datang kemari. Apa kalian benar-benar tidak tidak melihatnya?" Tanyaku untuk yang kesekian kalinya.
Bukannya jawaban yang aku dapatkan, justru wajah pucat yang mereka tunjukan. Dan ekspresi mereka menunjukkan jika mereka sedang terkejut, terutama Kris. Pria itu mengapit lengan Papa dan menyembunyikan wajahnya di balik punggung Papa. Dan hal itu membuatku keheranan.
"Ada apa Ma? Sebenarnya kebenaran apa yang kalian rahasiakan dariku??" Tanyaku meminta penjelasan.
Ku lihat mata mama malah berkaca-kaca, dan sedetik kemudian Mama malah memelukku. "Kau memang hsrus mengetahui semuanya Lu, namun tidak sekarang. Setelah kondisimu pulih, Mama akan menceritakan semuanya padamu. Tentang masa lalumu yang hilang karna kecelakaan itu juga gadis dengan balutan gaun pengintin yang kau maksud itu." Tutur Mama dengan bahu bergetar, kini pakaianku telah basah oleh Air Mama.
"Istirahatlah Nak, kami semua akan keluar sekarang." Seru Papa sambil memberikan kode pada semua yang ada di dalam ruangan itu, meninggalkanku sendiri dengan sejuta pertanyaan yang memenuhi fikiranku.
Aku masih tidak mengerti. Mungkinkah jika aku mengenal gadis dalam balutan gaun pengantin itu? Mungkinkah dia adalah bagian dari masa laluku yang telah aku lupakan? Aku tidak tau, dan aku menyerahkan semuanya pada waktu. Biarkan waktu yang menjawab semua pertanyaan itu.
-
Walau malam semakin larut, namun mataku masih enggan untuk terpejam. Aku memutuskan untuk beranjak dan berjalan menuju balkon, aku melihat ribuan bintang-bintang bertaburan di atas sana.
Namun bayangan-bayangan aneh kembali berputar-putar di kepalaku seperti sebuah film yang terputus-putus
'Oppa, maukah menghitung bintang denganku?'
'Oppa, apa kau percaya bila orang yang telah meninggal akan menjadi bintang di sana.'
'Oppa, selamanya aku akan menjadi bintang dan kau bulan. Oppa, aku mencintaimu,'
Aaarrrrkkkk....
Lagi dan lagi aku menggeram keras saat bayangan seorang gadis menari di dalam fikiranku. Seorang gadis yang memanggilku Oppa, gadis yang berjanji menjadi bintangku. Dan anehnya gadis itu memiliki wajah yang begitu mirip dengan gadis yang sering aku temui selama ini
"Oppa?" Samar-samar aku melihat seorang gadis berlari menghampiriku dan menopang tubuhku yang hampir saja ambuk, kemudian memapahku menuju kamarku.
"Jenny, apa yang kau lakukan di sin? Ini sudah malam?" tanyaku pada gadis itu 'Choi Jenny'
"Aku datang kesini karna aku mendengar kau sedang sakit, Oppa." balasnya dengan raut wajah khawatir.
Jenny sendiri adalah gadis yang terus mengaku sebagai tunanganku. Tapi anehnya aku tak pernah merasakan apapun ketika berada di dekatnya.
Ku lihat Jenny berjalan kearah lukisanku yangbaku letakkan di sudut ruang kamarku. Ia memasang wajah terkejutnya setelah melihat lukisan itu.
"Lukisan siapa Oppa? Boleh aku melihatnya?" tanya Minri dengan senyum renyah di wajah cantiknya.
"Tentu saja." balasku mengiyakan.
"OMO!! Gadis ini!! Oppa kenapa kau melukisnya? Apa kau sudah mengingatnya?" tanya Jenny terbata-bata.
Aku mengangguk. "Tentu saja aku mengingatnya, karna dia adalah gadis yang sering aku temui selama ini."
" A-pa!! i-ni ti-dak mung-kin. Kyyyaaaaa..."
Aku menatap kepergian Jenny dengan bingung. Dalam hatiku, aku terus bertanya-tanya apa yang telah terjadi sebenarnya, kenapa semua orang begitu ketakutan ketika melihat lukisanku. Dan Mama yang menangis saat aku mengatakan tentang gadis yang berada di dalam lukisan itum Mungkinkah mereka semua mengetahui sesuatu? Lalu mengapa mereka menyembunyikannya dariku? Siapa sebenarnya gsdis itu dan apa hubungannya dengaku? Semua pertanyaan itu semakin mengganggu fikiranku, sampai aku melihat bayangan-bayangan itu kembali memenuhi kepalaku.
'Oppa aku tidak sabar menunggu pernikahan kita'
'Oppa aku sangat bahagia,'
'Oppa aku mencintaimu. Oppa... Oppa... Oppa...'
"Aaarrrkkk..."
Lagi-lagi aku menggeram kesakitan. Kini bayangan itu terlihat semakin nyata, dan aku melihat gadis itu. Siapa sebenarnya dia, apa hubungannya dengan masa laluku? Mengapa aku tidak mengingatnya. Dengan menahan rasa sakit pada kepalaku, ku mencoba untuk berdiri dan berjalan menuju ranjangku. Kemudian berbaribg di sana.
-
Ku buka mataku perlahan saat ada cahaya yang begitu menyilaukan masuk kedalam mataku dan mengusik tidurku. Aku segera bangkit dan berjalan menuju kamar mandi, namun langkahku terhenti saat aku melihat hamparan bunga mawar memenuhi lantai kamarku. Namun aku tidak terlalu ambil pusing dan melanjutkan langkahku
Kejadian semalam sungguh mengganggu fikiranku. Tentang keterkejutan Jenny saat melihat lukisanku, dan sosok gadis misterius itu, semua hal itu membuat kepalaku semakin pusing dan pening.
"Apa yang sedang kau lakukan Lu?" Tanya Mama sambil berjalan menghampiriku.
"Ma cepat katakan padaku, Apa yang sebenarnya terjadi sebelum aku mengalami kecelkaan dan hilang ingatan. Serta tentang gadis berbalut gaun pengantin yang sering aku temui selama ini?"
Alih-alih ingin menjawab pertanyaanku. Mama malah berjalan menuju lukisanku, kedua mata Mama ku lihat membulat sempurna dan matanya tampak berkaca-kaca.
"Jessica!!" pekik Mama sambil menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya.
"Jessica? Jadi Mama mengenalnya? Siapa sebenarnya, Jessica ini Ma? Dan apa hubungannya denganku?" tanya Ku menuntut.
"Bukan siapa-siapa, Sayang. Mama harus menyiapkan makan malam." seru Mama kemudian berjalan meninggalkanku dan sepertinya Mama menangis.
Setelah mendengar Mama menyebut nama JESSICA, tiba-tiba saja bayangan itu kembali melintas di kepalaku. Dan bayangan itu jauh lebih jelas dari sebelumnya.
'Oppa apa gaun pengantinya cantik?'
'Oppa tinggal beberapa jam lagi kita akan resmi menjadi suami istri'
'Oppa aku sangat bahagia, karna sekarang kita resmi menjadi suami istri'
'Oppa awassss'
"Aaarrrkkkk..."
Teriakku saat aku merasakan seperti ada batu besar yang menghantam kepalaku setelah aku melihat kejadian itu. Dadaku terasa sesak, nafasku tersenggal-senggal. Kini aku mengingat semuanya, aku memgingat siapa gadis itu, aku mengingat pernikahan itu, dan aku mengingat kecelakaan maut yang merenggut Istriku 'Jessica' dari sisiku. Kini aku benar-benar mengingat semuanya, dan gadis yang sering aku temui selama ini tak lain dan tak bukan adalah Istriku sendiri 'Jessica'. Gadis yang aku nikahi 1 tahun yang lalu, belum sempat aku membahagiakannya namun dia telah terenggut selamanya dari sisiku.
"Oppa," suara lembut itu, aku segera mengalihkan pandanganku dan mendapati sosok jelita berbalut gaun pengantin berwarna putih tulang.
Mataku berkaca-kaca menatap sosok itu, aku mendekat dan ku ulurkan tanganku untuk menyentuh wajahnya. Dingin dan hampa.
Aku memejamkan mataku saat dia meraih tanganku kemudian menggenggamnya.
"Sayang," lirihku memanggilnya.
"Hiduplah dengan baik, Oppa. Tolong, relakan aku pergi dan lanjutkan hidupmu. Carilah penggantiku, aku akan selalu menunggumu di sana. Sampai kau datang menemuiku dan menyatukan kembali cinta kita. Aku mencintaimu, suamiku."
Setelah mengucapkan kalimat itu. Ku Lihat bayangan Jessica semakin menjauh, dan dalam hitungan detik. Sosok Jessica benar-benar menghilang dari jangkauan mataku.
Ku jatuhkan tubuhku pada ubin lantai yang dingin dan keras. Ku remas dadaku yang terasa bergejolak, sakit dan perih. Itulah yang aku rasakan, ketika aku mengetahui kenyataan bila Jessica telah meninggalkanku.
"Sica, tunggu aku. Aku pasti akan segera menemanimu di sana."
-
Kenyataan kehilangan Jessica belum bisa aku terima, aku sungguh-sungguh belum siap jika harus kehilangannya. Aku merasa hidupku tidak ada gunannya lagi tanpa dia di sisiku, aku ingin menyatukan kembali cinta kami yang terenggut oleh maut. Jika maut bisa memisahkan kami, pasti maut juga bisa menyatukan kami kembali.
Perlahan ku lepaskan tanganku dari balik kemudi dan ku pejamkan mataku rapat-rapat. Aku telah membulatkan tekatku untuk mengakhiri hidupku, aku ingin bertemu kembali dengan Jessica dan bersatu kembali dengannya. Sampai akhirnya?
BRAAKKKK...
Kecelkaan maut baru saja terjadi, mobil yang aku tumpangi menghantam truk besar dan membuat mobil itu terguling berkali-kali. Aku merasakan tubuhku terpental jauh, seketika aku merasakan remuk pada sekujur tubuhku juga rasa perih yang teramat sangat. Riuh orang-orang di sekelilingku terdengar semakin menjauh, sampai akhirnya sebuah cahaya menyilaukan muncul di hadapanku. Ku lihat sosok Jessica datang menghampiriku, dia menjemputku. Tanpa rasa ragu sedikit pun, ku raih tangannya yang terulur di depanku. Dia tersenyum dan berkata
"Oppa, sudah saatnya kita pergi."
"Sayang, akhirnya kita dapat bersatu kembali." ucapku dan di balas senyuman olehnya.
Kami berdua pun berjalan beriringan menuju cahaya menyilaukan yang ada di depan sana. Dan mulai detik ini, tidak akan ada yang mampu memisahkan cinta kami lagi. Aku dan Jessica dapat bersama untuk selamanya.
THE END: