Aku Ayla. Umur ku 17 belas tahun. Aku tinggal bersama paman, bibi dan juga sepupuku, Kila. Aku tidak tahu dimana orang tua ku. Jangankan mengetahui keberadaan mereka. Nama mereka saja aku tidak tahu. Paman mengatakan jika mereka menemukan ku di taman saat aku masih bayi. Aku tidak terlalu ambil pusing. Aku hanya bisa berharap agar suatu saat nanti bisa bertemu mereka kembali.
Tinggal sebagai anak pungut, membuatku di perlakukan sedikit tidak baik. Seperti saat ini. Aku disuruh membersihkan rumah yang baru saja dibeli paman seminggu yang lalu sendiri. Mereka sekeluarga sedang berbelanja untuk melengkapi perabotan dan bahan makanan di rumah baru kami.
Aku menaiki tangga menuju kamar atas untuk membersihkannya. Setelah membersihkan kamar yang satu, aku menuju kamar yang lain, tepatnya kamar paling ujung. Saat pertama aku membuka pintu, kesan pertama yang aku rasakan adalah menyeramkan. Tubuhku merinding merasakan seperti sedang ada yang mengawasi ku. Aku menoleh kiri kanan lalu masuk. Kaki ku mendekati ranjang yang terlihat berantakan, dan tiba-tiba... brakk... suara pintu tertutup dengan keras. Aku mencoba untuk membukanya, namun tidak bisa. Karena sulit, ku biarkan saja dan kembali menuju ranjang. Saat hampir sampai, tiba-tiba aku tersandung sesuatu dan terjatuh ke ranjang. Aku merasa sedang menindih sesuatu. Perlahan, ku angkat wajahku dan beberapa saat kemudian aku berteriak. Aku melihat sesosok anak kecil dengan wajah berlumuran darah sedang menatapku dengan senyum yang menyeramkan.
Segera ku bangkit dan berlari menjauh. Namun, hal aneh kembali terjadi. Lemari yang berada dekat ranjang ambruk dan hampir saja menimpa ku. Boneka-boneka yang entah darimana terlempar mengenai tubuhku. Boneka-boneka seperti hidup dan terus menyerang ku. Aku berteriak kencang saat salah satu boneka menggigit tangan ku. Mereka terus menarik dan menyiksa seperti sangat membenciku. Aku tidak tinggal diam dan terus berteriak. Sampai suara seseorang mengagetkan ku.
"Ayla! Ayla! bangun! di suruh bersihin rumah malah tidur lagi." ucap seseorang orang yang dari samar-samar bisa ku kenali jika itu Kila.
Aku mengucek mata dan berpikir, ternyata yang ku alami tadi hanya mimpi. Tapi kenapa terasa sangat nyata. Aku menatap Kila yang balik menatapku dengan wajah juteknya. Aku mengamatinya. Takut-takut, dia adalah sosok aneh yang sedang menyamar menjadi Kila.
"ngapain lihat aku kayak gitu?" katanya dengan nada ketus.
"engga. hmm... kalian udah pulang dari tadi?" tanya ku, ragu.
"iya. kita panggil-panggil kamu gak nyahut. ya udah, aku samperin ke sini. udah cepatan turun! bantuin mama masak." Kila segera keluar dan aku berlari mengikutinya. Takut jika pintu tertutup dan kejadian di mimpiku tadi benar-benar terjadi.
***
Malam hari, aku kembali ke kamar. Kamar ku berada di lantai atas, tepat di samping kamar menyeramkan itu. Aku ingin menolak saat bibi membagikan kamar. Tapi, melihat pelototan bibi, membuatku mengurungkan niatku. Tepat pukul sebelas, aku terbangun karena haus. Segera ke dapur dan minum. Ketika hendak kembali, air di westafel hidup dan mengalir deras. Ku urungkan niat ku dan berbalik mematikan airnya. Saat kembali berbalik, sebuah piring terlempar ke arah ku dan pecah. Aku memegang dada karena kaget. Belum selesai, tiba-tiba kompor yang ada di dekatku menyala besar dan hampir membakar baju ku. Hal itu membuatku berteriak. Dan beberapa menit kemudian, lampu dapur menyala. Terlihat bibi, paman dan Kila.
"kamu itu kenapa teriak-teriak?" tanya bibi, kesal karena aku membangunkan tidur mereka.
"itu, aku, mereka melempar ku menggunakan piring dan pec..." aku menghentikan ucapan ku dan membulatkan mata. Piring yang tadi pecah berserakan dimana-mana sudah tidak ada. Keadaan dapur bersih dan baik-baik saja seperti semula. Tidak ada yang aneh.
"apa? apa yang mau kau tunjukan? mereka melempar mu? piring? siapa? kau ini ada-ada aja. mengganggu orang tidur saja." ujar bibi kembali dengan nada ketusnya. Aku hanya bisa menunduk. Tidak bisa menjelaskan pada mereka.
"sudah Bu! ayo kita tidur lagi." mereka semua kembali ke kamar dan meninggalkan ku. aku kembali mengamati keadaan dapur dan kembali ke kamar.
Aku mencoba memejamkan mata dan tertidur. Namun, tetap saja tidak bisa. Aku bangun dan duduk di ranjang. Tak berapa lama, aku mendengar suara tangisan di kamar sebelah dan kemudian di iringi suara tawa. Jantungku berdetak cepat karena rasa takut. Tapi, rasa penasaranku lebih besar. Aku membawa langkah menuju kamar sebelah dengan perlahan. Ku buka pintu, melihat seisi kamar. Ternyata tidak ada apa-apa. Kamarnya masih sama seperti saat terakhir kali aku keluar.
Aku melangkah hendak masuk. Tetapi sesuatu jatuh tepat di depanku, membuatku berteriak tertahan. Aku tidak ingin mengganggu paman, bibi dan Kila yang sedang beristirahat. Tangan ku terulur, ragu-ragu hendak meraih benda tersebut. Ternyata itu sebuah boneka dengan tulisan Boneka Mimi. Mungkin bonekanya bernama Mimi atau pemiliknya yang bernama Mimi. Aku menatap langit-langit kamar, mencari tahu mengapa boneka ini bisa jatuh dari atas. Tapi hasilnya nihil. langit-langit kamar terlihat baik-baik saja. Tidak ada lubang apapun yang memungkinkan boneka itu bisa jatuh.
***
Pagi hari, aku dan Kila siap berangkat ke sekolah. Aku kembali ke kamar, mengambil buku tugasku yang kelupaan. Saat sampai di kamar, aku melihat Boneka Mimi berada di ranjang ku.
"kenapa dia bisa ada di sini? bukankah semalam aku meletakkannya di ranjang kamar sebelah?" gumam ku. Aku pun bergegas mengambil buku ku, mengabaikan Boneka Mimi. Saat aku berbalik, Boneka Mimi sudah tidak ada di tempatnya. Boneka tersebut kini berdiri menghadap ku dengan senyuman miring. Segera aku berlari keluar dengan rasa takut yang sangat. Sampai-sampai aku menabrak bibi yang baru saja mengantarkan paman dan Kila ke depan.
"kamu ini buta? apa kamu sedang di kejar setan, sampai-sampai nabrak sembarangan?" bentak bibi pada ku.
"tid..." aku kembali menghentikan ucapan ku saat melihat Boneka Mimi berada di belakang bibi dengan membawa pisau dan tersenyum miring pada ku. Seperti sedang mengancam diriku.
"bibi ada Bo... Boneka di belakang mu."
"boneka apa? sudahlah jangan omong kosong. cepat berangkat! ini uang jajan mu." ujar bibi, memberikan selembar sepuluh ribu padaku, dan melenggang pergi.
"bibi, aku hanya bisa berharap semoga kau baik-baik saja di rumah." gumam ku dalam hati.
***
Aku duduk melamun di taman sekolah. Pikiranku terus memikirkan keadaan bibi ku yang sendirian di rumah. Tiba-tiba Tia datang mengagetkan ku.
"melamun terus La." ujar Tia duduk di sampingku. Aku tak menjawab. Hanya seulas senyum untuk membalasnya.
"tumben tadi pagi kamu telat. Biasanya paling pertama nyampe sekolah." ujar Tia lagi.
"kami udah pindah rumah. jaraknya ke sekolah cukup jauh. jadi, aku telat."
"pindah dimana?"
"di rumah ujung jalan sana."
"rumah yang ada pohon besar di samping kirinya?"
"iya. kenapa?"
"astaga Ayla. tu rumah angker banget. Dulu pernah ada yang tinggal di situ, setengah hari langsung pindah."
"benaran?"
"iya benaran. menurut cerita, rumah itu di tinggali seorang anak perempuan dan pamannya. Nah, pamannya itu, tega bunuh ponakannya untuk di jadikan tumbal pesugihan. kalau gak salah nama ponakannya itu, Mimi. Makanya roh-nya terus gentayangan dan gangguin orang yang tinggal di situ. tapi, setelah keluar dari pagar rumah, dia gak akan gangguin lagi."
"kok bisa?"
"ya bisa. katanya sih semacam ada perjanjian gitu. nih ya aku saranin, mending kamu minta paman kamu buat pindah aja. Dari pada kalian semua kenapa-kenapa."
aku terus mendengar cerita Tia. otakku terus berputar memikirkan semua itu. Berarti boneka itu milik Mimi dan bisa jadi, arwah Mimi lah yang ada di boneka tersebut. Aku semakin khawatir dengan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Aku berpikir keras, bagaiman cara memberi tahu paman.
Aku melewati pagar rumah, dan teringat akan cerita Tia. Melewat masuk pagar rumah, sama saja bersiap untuk menghadapi segala kejadian aneh didalamnya. Bahkan mungkin, bersiap untuk mati. Baru melewati pagar saja, aku sudah merasa merinding dan takut. Namun, rasa takutku terkalahkan oleh teriakkan Kila dari dalam rumah. Secepat mungkin aku berlari ke sumber suara.
Tubuhku membeku saat melihat bibi yang sedang tergantung dengan seutas tali di lehernya. aku melihat banyak bekas darah di lantai. Wajah dan tubuh bibi terluka seperti di cabik-cabik dengan benda tajam. Ku edarkan pandangan dan dapat ku lihat, Boneka Mimi sedang berdiri di sudut lemari dengan memegang pisau yang berlumuran darah. Ku hampiri Kila dan memeluknya.
"Ay, mama ay. mamaku meninggal ay. mamaku bunuh diri." Isak tangis Kila sambil membalas pelukanku.
aku mengernyit heran. jelas-jelas ini bukan kasus bunuh diri. tidak mungkin bibi melukai dirinya lalu menggantung diri. Ini adalah kasus pembunuhan.
"ini bukan kasus bunuh diri, tapi kasus pembunuhan." mendengar pernyataan ku, Kila mendorong tubuhku dengan kasar.
"apa kamu bilang? pembunuhan? jelas-jelas mama gantung diri Ay."
"tapi tubuh bibi terluka."
"terluka? tubuh mama tidak lecet sedikit pun ay. kecuali lehernya yang di lilit tali."
"kamu gila ay. apa jangan-jangan mama aku bunuh diri karena tidak tahan dengan adanya kamu disini."
"Kila. jangan menuduh sembarangan!" Kila terdiam. aku kembali melirik ke sudut lemari. Di sana, boneka Mimi masih terus memperhatikanku dan Kila dengan senyum jahatnya.
"telpon papa ay!" ucap Kila dengan nada melemah.
***
Hari-hari berlalu. Suasana duka sedikit demi sedikit mulai memudar. Kila dan paman sudah mulai bisa tersenyum. Sedangkan aku, hanya bisa tersenyum terpaksa. Aku masih memikirkan cara meyakinkan paman dan Kila tentang rumah itu. Aku sudah memberitahukan merka. Tapi, mereka tidak mempercayai ku.
Aku dan Kila mengantarkan paman ke depan. Hari ini, aku dan Kila libur sekolah. Guru-guru sedang ada pertemuan penting. Aku yang memang sedikit lambat berjalan di tinggalkan di belakang. Langkahku yang semula ku percepat, kini ku perlambat. Aku melihat Boneka Mimi dengan pisaunya sedang berjalan tepat di belakang paman. Tanpa ku sadari air mata ku menetes. Dengan melihat itu, aku yakin paman lah target Boneka Mimi berikutnya. Paman sangat baik padaku. aku tidak ingin kehilangan paman atau siapa pun dari anggota keluarga itu.
Segera ku berlari dan memeluk paman. Tak peduli dengan Boneka Mimi yang tersenyum setan pada ku. Pasti paman dan Kila akan merasa aneh. Tapi biarlah. Yang terpenting aku ingin memeluk paman. Aku tidak ingin kehilangan paman atau pun Kila.
"astaga ay, papa kan mau kerja. kenapa peluk-peluk gitu?" teriak Kila sedikit tak terima. aku tak peduli. kembali ku mengeratkan pelukanku.
"ada apa ay? tidak biasanya kamu seperti ini nak?"
"paman, ay sayang sama paman. paman jangan tinggalin ay ataupun Kila. paman harus terus bersama kami. paman harus janji bakal hati-hati."
"iya nak paman bakal hati-hati. kamu sama Kila juga harus hati-hati. sini Kila peluk papa." ujar paman. akhirnya kami bertiga saling berpelukan sebelum paman berangkat kerja. Tapi, hal itu tidak membuatku merasa lega. Aku masih saja kepikiran.
Saat masih berpikir, aku menemukan ide agar aku dan Kila tidak berdiam diri di rumah itu. Kami berdua pun keluar rumah menuju rumah Tia kemudian bersama-sama ke mall. Aku meminta Tia menceritakan tentang rumah itu pada Kila. Aku bisa melihat jika Kila sudah mulai percaya. Tapi anak itu selalu menyangkalnya.
Setelah selesai, aku dan Kila pulang. Di dalam mobil Kila terlihat lebih banyak diam. Saat aku meminta supir taksi mengantar kami ke tempat itu, supir taksi menolak dan menurunkan kami seratus meter dari rumah. aku dan Kila pun berjalan kaki menuju rumah. Saat sampai di halaman rumah, dengan mata kepala kami sendiri, kami melihat paman jatuh dari balkon rumah.
"pamaaaann..."
"papaaaaaa..."
aku dan Kila langsung menghampiri paman yang sudah berlumuran darah. aku menatap ke arah balkon. lagi-lagi aki melihat Boneka Mimi dengan pisaunya yang berlumuran darah.
"ma... maafkan pa... paman ay! pa... paman gak percaya sama kamu. kalian tinggalin tempat ini!" setelah mengucapkan itu semua, mata paman terpejam. nadinya terhenti. jantungnya berhenti berdetak. paman sudah tiada. aku dan Kila benar-benar kehilangan paman.
"papaaa... jangan tinggalin Kila pa! papa bangun pa, bangun! pa apa maksud papa."
"Kila!" aku segera meraih tangan Kila dan memintanya menatap ke balkon, berharap Kila bisa melihat Boneka Mimi juga. Dan benar, Kila berteriak histeris melihat Boneka itu.
Kila bangkit dan hendak berlari. Namun, kakinya tertahan. bukan aku yang menahannya tapi Boneka Mimi. Boneka Mimi menusukkan pisau ke betis Kila. gadis itu berteriak kesakitan. aku mencoba menolongnya. aku meraih balok besar di samping jasad paman dan memukul Boneka Mimi. Boneka itu terpental. Aku menarik tangan Kila, menuju pagar rumah. karena kakinya yang terluka, Kila kesulitan berlari. aku masih berusaha membawanya keluar. Namun, aku kalah cepat. Boneka Mimi menerjang ku dan menggoreskan pisau ke pipiku. Ia kemudian mencekik ku hingga aku ke sulitan bernapas.
Kila tak tinggal diam. Kila memukul Boneka Mimi dengan balok yang ku gunakan. Boneka itu terpental jauh. Aku menyeret Kila keluar pagar. Dan syukurlah kami berhasil. Aku dan Kila meminta bantuan pada warga. Aku kira, warga tidak akan melihat luka yang ada pada tubuh kami, seperti Kila yang tidak melihat luka pada tubuh bibi. Ternyata tidak. mereka melihatnya dan bersedia menolong kami dan menguburkan jasad paman.