Deburan ombak menggulung memecah karang membawa sayup-sayup kecil sebuah harapan. Anila beraroma sejuk berembus pelan menerbangkan sehelai kain lebar yang menutup sempurna kepalaku. Kaki ramping beralas kaos kaki panjang masih senantiasa tersapu ombak di tepi pantai.
Disuguhi warna jingga yang menggelayut mesra di langit sana, aku kembali terputar pada kenangan bertahun silam. Di sini, di tempat yang sama dengan keindahan yang sama. Semua masih sama, yang berbeda hanya saat ini aku sendiri, tanpa dia.
Tanpa raga yang dulu senantiasa di sisiku. Layaknya sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara, di mana pun ada dia, di sana pasti ada aku.
Dua tahun merajut kasih dengan Damar, membuatku menggantungkan segala hal kepada pria itu. Apapun yang dia minta selalu aku usahakan yang terbaik untuk bisa memenuhinya. Dia menjadi ekspetasi terbesar akan kebahagianku.
Tapi, seperti yang Sayyidina Ali katakan bahwa berharap kepada manusia adalah kepahitan hidup yang paling pahit. Harapan-harapan kecil yang aku gantungkan padanya, nyatanya runtuh sekejap mata.
“Kita selesai sampai di sini, Sya. Aku gak bisa lagi lanjutin hubungan ini. Aku pamit,” katanya saat itu.
“Tapi kenapa, Dam? Aku udah kasih semua yang kamu minta bahkan mahkotaku sekali pun. Dan ini balasan kamu? Hah?!” raungku dengan emosi yang tertahan.
Damar hanya diam membisu. Tatapan matanya mengisyaratkan rasa cinta yang telah hilang. Tak ada lagi binar-binar kebahagiaan di sana.
“Maafin aku, Sya. Tapi, aku gak bisa lagi sama kamu. Semoga kamu bahagia tanpa aku,” ucapnya kemudian mengecup keningku singkat sebelum berbalik dan pergi meninggalkanku.
Kaca-kaca yang mengaburkan pandangan berubah menjadi buliran-buliran kecil yang terus menetes membasahi pipi. Aku menangkup wajahku, rasa sesak di dada terus bergemuruh. Aku hancur bersama harap yang kubangun sendiri.
Saat itu aku seperti anai yang kehilangan arah. Aku tak tahu harus melangkah ke jalan yang mana dengan tubuhku yang telah kotor. Aku malu pada Tuhanku. Aku malu sebagai wanita yang tak bisa menjaga kesuciannya sendiri.
Aku berjalan linglung tak tentu arah. Menyusuri setiap jalan tanpa tujuan yang jelas. Kepergian Damar seolah merenggut kehidupanku. Membuatku jatuh dalam jurang kesuraman.
“Ketika kamu berlebihan berharap pada seseorang, maka Allah akan timpakan padamu pedihnya harapan-harapan kosong. Allah tak suka bila ada yang berharap pada selain Dzat-Nya, Allah menghalangi cita-citanya supaya ia kembali berharap hanya kepada Allah SWT.”
Kultum itu tak sengaja kudengar saat aku melintasi sebuah masjid yang tengah mengadakan pengajian. Hatiku bergetar hebat begitu mendengarnya. Kupandangi bangunan megah nan suci itu, sudah berapa lamakah aku tidak menginjakkan kakiku di sana?
Langkah pelan membawaku mendekat ke serambi masjid. Melihat begitu syahdunya para muslimah yang tengah mengikuti kajian dari seorang Ustadzah. Aku terdiam mendengarkannya, kata demi kata yang mengalir dari Ustadzah itu seperti hujaman panah untukku.
“Seperti dalam firman Allah SWT dalam surah Al-Insyirah ayat 8 yang artinya, “Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” Jadi Ibu-ibu, sebagai manusia yang beriman kita dilarang keras untuk berharap kepada selain Allah SWT, apalagi kepada manusia biasa karena hanya akan mendatangkan mudharat bagi diri kita sendiri.”
“Nah, cukup sekian kajian kita pada hari ini. Semoga bisa bermanfaat untuk kita semua, saya akhiri Wabillahi taufiq wal hidayah wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.”
“Nak, ngapain di luar nggak ikut ke dalam?” Suara Ustadzah membuyarkan lamunanku.
Ternyata kajian telah selesai. Aku segera berdiri dengan gugup di hadapan Ustadzah. Menundukkan kepala merasa malu dengan apa yang tengah kukenakan sekarang. Celana jeans sepaha dengan kaos yang hanya sebatas perut. Aku merasa tak pantas berada di sini.
“Maaf, Ustadzah. Saya permisi,” ucapku buru-buru untuk meninggalkan tempat itu.
Ustadzah menahan lenganku. “Siapa namamu?” tanyanya dengan suara yang sangat lembut.
“Arsya,” jawabku pelan.
“Nak Arsya mau ikut mengaji?”
Aku terperanjat. Mendongakkan kepala menatap Ustadzah yang tersenyum lembut.
“Tapi ... saya merasa gak pantas, saya kotor Ustadzah,” sahutku malu sambil menarik ujung kaosku.
“Semua manusia sama di hadapan Allah SWT, Nak. Yang membedakan hanya tingkat ketaqwaanya. Selama Nak Arsya mau belajar, tidak ada kata tidak pantas.”
Kata-kata Ustadzah layaknya oase di gurun pasir yang menyejukkan kala aku mendengarnya.
Aku mengangguk pelan. Mengikuti Ustadzah masuk ke dalam masjid. Sejak saat itu aku mulai belajar tentang agama. Aku belajar untuk hanya berharap kepada Allah SWT. Melupakan semua masa lalu buruk yang pernah aku lalui.
Aku belajar untuk mengikhlaskan Damar dan melupakan semua rasa sakit yang pernah ia torehkan di hatiku.
Sekarang aku mengerti satu hal, cinta sejati yang akan aku bawa sampai mati hanyalah cintaku kepada Sang Ilahi Rabbi. Dialah sang pemilik kesempurnaan cinta.
Saat aku berjalan atas nama cintaku padanya, Allah SWT-lah yang mendatangkan cintaku di dunia. Atas nama-Nya, aku dipersunting oleh laki-laki berbudi luhur dan berhati baik yang diperkenalkan Ustadzah lewat ta’aruf.
“Sudah hampir magrib, Dik. Ayo, kembali ke penginapan.” Mas Ilham memelukku dari belakang.
Aku berbalik dan tersenyum padanya. Aku merasa sangat beruntung menikah dengannya. Laki-laki sholeh yang menerima segala kekurangan dan masa laluku yang buruk yang kini menjadi cinta halalku. Cinta yang berjalan untuk menggapai Ridho-Nya.