Fariz tersenyum bahagia, karena hari ini adalah acara resepsi pernikahannya dengan Clara gadis yang begitu dicintainya. Acara resepsi pun berjalan dengan lancar dan begitu meriah, banyak tamu undangan yang datang untuk memberi ucapan selamat menempuh hidup baru kepadanya dan Clara yang kini telah sah sebagai istrinya. Malam pun tiba, di dalam kamar kedua pengantin itu duduk dan saling memandang tidak ada hal istimewa yang mereka lakukan karena mereka merasa kelelahan, sebab beberapa hari ini banyak kegiatan yang harus mereka lakukan yang menyita energi dan pikiran mereka. Tapi itu adalah bagian dari rentetan kegiatan yang harus mereka lalui untuk menghalalkan ikatan cinta mereka. Malam pun mereka lalui dengan saling bercerita tentang impian di masa depan, dan malam semakin larut, akhirnya mereka mengantuk dan tertidur lelap.
***
Dua Minggu kemudian, Fariz memboyong istrinya ke rumahnya. Sebelum menikah dengan Clara. Fariz telah membeli rumah besar dengan halaman luas yang ditumbuhi pepohonan. Dia sangat bahagia karena menemukan rumah dengan harga yang murah. Jadi tanpa berpikir panjang, dia kemudian membeli rumah itu, setelah rumah itu menjadi miliknya. Kemudian rumah itu direnovasi dan menjadi begitu indah, bersih dan megah.
Sore itu, mereka sudah sampai dihalaman rumah itu. Clara benar-benar terpesona dengan kemegahan rumah itu, dia tidak pernah menyangka bahwa pria yang menjadi suaminya kini, mampu membeli rumah semewah itu. Dengan bersemangat wanita itu berjalan memasuki rumah itu.
"Mas, rumahnya besar sekali. Kalau hanya kita berdua yang berada di sini. Tentu akan sepi sekali." Clara mencoba menyampaikan isi hatinya.
" Kan ada aku, aku masih santai dik. Kita malah akan lebih leluasa di rumah ini"
Clara hanya terdiam dan tersenyum. Dia paham dengan maksud pria yang baru dua minggu menjadi suaminya.
" Mas, sebelum mas Fariz kerja. Aku ingin punya pelayan. Aku tidak akan sanggup mengurus rumah sebesar ini seorang diri." ucapnya memohon.
Fariz tersenyum melihat ekspresi wajah istrinya itu. Lalu menggandeng istrinya menuju kamar mereka. Di lantai bawah rumah mereka ada 3 buah kamar.
1 kamar utama untuk mereka berdua, dan ada 2 kamar lainnya yang masih kosong. Di lantai atas ada 4 kamar yang tidak terpakai alias masih kosong penghuni.
Sesampainya di dalam kamar, Clara membuka tirai jendela. Terlihat kolam renang telah menyambutnya. Airnya begitu jernih dan menggoda hati untuk segera berenang.
"Mas, aku ingin berenang. Boleh ya, tapi aku tidak membawa baju renang"
"Sudah, kalau mau mandi ya mandi saja. Di sini tidak ada orang lain. Hanya kita berdua. Lagi pula semua pintu sudah aku kunci "
Akhirnya Clara berenang dengan menggunakan pakaian seadanya. Waktu berjalan dengan kebahagian. Di rumah itu mereka melakukan semua kegiatan secara bersama, mulai dari memasak bersama, makan bersama. membersihkan rumah secara bersama-sama. Dan menonton TV bersama. Mereka benar-benar sedang dimabuk asmara. Maklum mereka adalah pengantin baru.
***
Malam itu hujan turun dengan begitu derasnya, beberapa kali kilat menyambar di langit. Tiba-tiba ponsel Fariz berdering. Fariz melepas pelukannya dan bangun dari atas ranjang.
" Siapa mas, yang menelepon?" tanya Clara dengan penasaran.
"Kurang tahu, tidak ada namanya. Sebentar coba aku jawab dulu teleponnya." kata Fariz. Pria itu lalu meraih ponselnya. Ternyata yang menelepon dia adalah bosnya. Dan dia meminta Fariz untuk segera pergi ke pulau Bali malam ini juga. Tiket pesawat dan hal lainnya sudah di urus oleh pak Ahmad sebagai pimpinan perusahaan dimana dia bekerja.
Dengan terburu-buru. Fariz segera mengganti pakaiannya. Dan Clara juga membantu menyiapkan beberapa pakaian ganti dan perlengkapan lainnya ke dalam koper.
" Mas, kamu berangkat sekarang?" tanya wanita yang sedang memakai pakaian tidur itu.
"Iya, karena besok pagi akan ada meeting. Dan aku harus mendampingi pak Ahmad. Karena aku juga memiliki peran penting dalam hal ini. Jangan kuatir, nanti aku akan menelepon pak Darsono dan istrinya untuk menemanimu di rumah" Fariz mencoba menenangkan kegelisahan di hati istrinya itu.
Hujan turun begitu deras, keadaan sekitar begitu sunyi. Dan udara terasa dingin, hingga menembus tulang. Clara mencium suaminya, setelah itu mereka saling berpelukan. Setelah itu Fariz berjalan menuju mobil dan masuk ke dalamnya. Kemudian dia menutup pintu mobil dan menyalakan mesin mobil. Dan tidak beberapa lama mobil melaju meninggalkan rumah itu. Clara segera masuk ke dalam rumah. Dia memilih untuk tidur di atas sofa ruang tamu. Setelah mengambil bantal dan selimut. Wanita cantik itu membaringkan tubuhnya di atas sofa.
Dia berharap pak Darsono dengan istrinya akan segera datang. Namun 30 menit dia menunggu. Mereka masih belum datang juga. Clara melihat ke arah jam dinding. waktu menunjukkan pukul 00.30 WIB. Tiba-tiba terasa ada angin yang berhembus. Dan membuat jendela ruang tamu terbuka dengan sendirinya. Clara segera bangkit dan menutup jendela itu. Tiba-tiba melintas sosok wanita dengan rambut sebahu berjalan menuju ke arah tangga.
" Hal itu sontak membuat dia terkejut, dengan sedikit rasa takut, Clara menaiki deretan anak tangga hingga sampailah dilantai 2 rumah itu.
Di kamar deret no 2 di lantai atas, terdengar suara seorang wanita dan pria yang sedang bertengkar hebat
" Mas, jangan lakukan ini mas. Tolong mas, aku sedang hamil mas. Jangan bersikap kasar padaku"
Mendengar hal itu Clara segera membuka pintu kamarnya. Di depan matanya ada seorang pria dan wanita yang sedang mengandung sedang bertengkar. Terlihat pria itu menghajar wanita itu beberapa kali.
" Kau mau bercinta! Ayo aku akan membuatmu puas" ujar pria itu dengan kasar. Lalu dia menarik baju wanita muda yang sedang mengandung itu. Wanita itu terus menangis dan memohon agar pria itu menghentikannya. Tetapi pria itu tidak peduli, tanpa rasa belas kasihan dia melakukan itu. Dan terlihat wanita itu menangis menahan sakit yang luar biasa. Benar-benar pemandangan yang tidak manusiawi. Tidak bermoral, dan kejam. Dengan kasar pria itu melampiaskan hasrat tanpa peduli teriakan rasa sakit wanita muda itu.
" Kau, tahu kau itu sampah. Kau menjijikkan." umpat pria itu
" Kau salah mas, aku tidak berbuat seperti yang kau pikirkan"
"Persetan dengan ucapanmu, kau masih belum puas dengan pelayananku. Aku akan memuaskan mu" bentak pria itu ,dan dia melakukan itu berkali-kali dengan kasar, dan itu masih belum meredakan kebencian dan kemarahannya. Setelah dia puas dengan perbuatannya itu dia mengambil sebuah pisau dan menusuk perut wanita itu berulang-ulang. Dan robeklah perut wanita muda itu. bahkan bayi dalam kandungannya juga mati saat itu juga. Clara menjerit histeris. Lalu tubuhnya terjatuh dilantai.
" Pak, ada teriakan di lantai atas. Mungkin itu nyonya Clara." ucap istri pak Darsono.
Dan mereka berdua berjalan menuju lantai atas. Di kamar no 2. Pak Darsono melihat nyonya Clara terbaring di atas lantai kamar. Dengan sigap pak Darsono menggendong tubuh majikannya dan membaringkannya di atas kasur. Dan berusaha menyadarkan wanita itu.
Tidak beberapa lama, nyonya Clara terbangun.
Dan dia terkejut karena pak Darsono dan istrinya sudah berada di sampingnya.
" Kami tadi mendengar nyonya berteriak, jadi kami segera mencari nyonya. Dan kami menemukan nyonya sedang pingsan di dalam kamar.
"Aku melihat sesuatu yang buruk, pria itu membunuh wanita itu dengan kejam dan sadis." Clara mencoba menceritakan kejadian yang dia lihat. Air matanya mengalir deras tak terbendung. Hatinya merasa marah, dan sedih.
"Tapi nyonya, kami di sini tidak melihat satu orangpun, kami hanya mendengar nyonya berteriak."
"Apa aku bermimpi? tapi aku merasa kalau apa yang aku lihat itu seperti nyata" Clara mencoba menjelaskan.
Pak Darsono dan istrinya saling memandang satu sama lain. Dan terlihat kebingungan.
Clara hanya terdiam, lalu meminta Bu Darsono untuk membuatkan wedang jahe untuknya dan meminta mereka untuk mengantarnya ke dalam kamar.
Sesampainya didalam kamar, Clara membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Bu Darsono mengetuk pintu, lalu setelah mendapat ijin dari nyonya Clara, dia masuk lalu meletakkan secangkir wedang jahe di atas meja. Clara meminta Bu Darsono dan suaminya untuk tidur di kamar yang telah dia tunjukkan tadi.
***
Keesokan harinya keadaan kembali normal. Tetapi ketika malam tiba, kejadian aneh kembali Clara alami. Terkadang dia mendengar tangisan bayi, dan ketika dia mencari asal suara tidak ada apapun.
Tiba-tiba terdengar teriakan dari kamar Clara. Wanita itu menjerit histeris sehingga membuat pak Darsono dan istrinya panik dan berlari menuju kamar Clara. Di dalam kamar, terlihat wanita muda itu menangis dan tubuhnya gemetar. Akhirnya dia jatuh pingsan. Karena kuatir dengan keadaan nyonya Clara, pak Darsono segera menghubungi tuan Fariz.
Ketika nyonya Clara tersadar dia bercerita, bahwa dia didatangi arwah seorang wanita hamil, yang meminta tolong. Agar dia menguburkan abu wanita itu dengan layak. Dan meminta agar memberi tahu keluarga wanita yang bernama Arum itu, kalau dia telah meninggal. Mendengar penjelasan nyonya Clara, pak Darsono terdiam. Lalu dia meminta nyonya Clara untuk kembali istirahat dan Bu Darsono menemani nyonya Clara di dalam kamar.
***
Pagi hari, cuaca begitu cerah. Saat itu Clara mengalami demam tinggi, terlihat tubuhnya menggigil dan dia terus mengigau. Tidak beberapa lama dokter Aqnan telah tiba, dan dia kemudian memeriksa kondisi nyonya Clara. Setelah itu dia memberikan obat agar diminum oleh nyonya Clara. Saat akan meninggalkan rumah itu, dokter Aqnan bertemu dengan tuan Fariz di halaman, setelah itu mereka berbicara sebentar. Lalu dokter Aqnan pergi dengan terburu-buru. Pria muda itu segera berlari menuju kamar. Dia penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Akhirnya pak Darsono dan istrinya bercerita tentang kejadian yang menimpa nyonya Clara ketika tuan Fariz kerja di luar kota. Pria muda itu terdiam, dan dia mengajak pak Darsono untuk menemui pak RT saat itu juga, dia ingin tahu bagaimana sejarah rumah itu. Akhirnya mereka pergi ke rumah pak RT, kebetulan saat itu pak RT berada di rumah. Dari cerita pak RT dulu rumah itu adalah rumah sepasang suami istri, mereka menikah secara siri, sang istri bernama Arum adalah seorang biduan dangdut, dia berparas cantik. Mereka terlihat hidup bahagia dan rukun. Tapi 7 tahun yang lalu, mbak Arum sudah tidak pernah terlihat. Saat itu dia sedang hamil. Dan rumah itu sudah kosong sejak 7 tahun lalu, karena setelah mbak Arum menghilang. Suami sirinya itu meninggalkan rumah itu.
Mendengar cerita dari pak RT yakinlah pak Darsono ,bahwa arwah Arumlah yang selalu mengganggu nyonya Clara selama ini. Saat itu juga , mereka menemui seorang ustad yang memiliki kemampuan mengusir makhluk halus, tanpa menunggu waktu lama. Mereka segera menuju ke rumah tuan Fariz.
***
Tiba-tiba Clara terbangun, dengan wajah tanpa ekspresi dia berjalan menuju ke lantai atas di dalam kamar dia menangis, dan berteriak
" Aku tidak bersalah mas, bebaskan aku!" dia berteriak berulang-ulang. Dan itu membuat Bu Darsono menjadi takut.
Tidak lama kemudian, tuan Fariz, pak RT , pak ustad dan pak Darsono telah masuk ke dalam rumah. Mendengar teriakan dilantai atas, mereka segera menuju ke lantai atas, di dalam kamar deret no 2. Terlihat Clara menjerit, menangis histeris. Lalu pak ustad mulai melakukan komunikasi dengan arwah Arum. Dan terkuaklah sebuah misteri, bahwa Arum telah merenggang nyawa ditangan suaminya sendiri. Dan yang lebih sadis itu dilakukan saat dia hamil. Setelah menusuk secara membabi buta,dan merobek perut wanita itu, dia telah membakar wanita dengan bayi dalam kandungannya itu, dan menyimpan abu wanita itu di dalam guci di atas plafon rumah. Sungguh kejam, seorang suami yang harusnya menjadi pemimpin dan bertugas mengayomi keluarganya, tetapi malah tega menghabisi anak dan istrinya karena rasa cemburu buta. Padahal setiap masalah itu haruslah dicari kebenarannya dan diselesaikan dengan kepala dingin. Akhirnya mereka melaporkan kejadian ini kepada polisi. Memang semua terasa aneh, tetapi dengan bukti yang ada, polisi segera menangkap pelaku yang tidak lain adalah suami siri Arum dan misteri hilangnya Arum kini telah terkuak. Kepedihan begitu dalam dirasakan oleh keluarga Arum, mereka tidak pernah menyangka bahwa Sugiarto yang terlihat seperti pria baik itu, tidak ubahnya seorang iblis yang berwajah manusia. Dengan tertangkapnya pelaku dan rasa bersalah yang terus menyiksanya. Akhirnya pak Sugiarto mengakui bahwa dia telah membunuh Arum. Setelah peristiwa itu beberapa hari kemudian Fariz dan Clara mengadakan yasinan di rumah itu, agar arwah Arum dan anaknya tenang di alamnya. Saat malam tiba Arum datang ke dalam mimpi Clara, dia mengucapkan terima kasih, lalu tersenyum dan menghilang. Sejak saat itu Clara hidup bahagia dan tidak pernah mengalami gangguan lagi.