Kaku beku bagaikan telapak kaki yang dipijakkan dibawah dinginnya hujan salju. Rasaku saat ini seperti melihatmu berada diantara kegelisahan, memiliki atau melepaskan. Mungkin hujan turun terlalu deras, sehingga rasamu mungkin begitu cepat reda. Mentari terlalu cepat menampakkan sinarnya, sehingga apa yang tidak terlihat diderasnya hujan kini nampak jelas. Aku mulai mengetahui hal² yang tidak ingin aku ketahui. Tapi aku tidak menyalahkanmu, juga aku tidak mau merasa paling benar. Aku tau apa yang kau pikirkan saat ini, entahlah mungkin juga sama denganku.
Hujan tidak lagi terlihat, hanya menyisakan gerimis dengan sedikit awan hitam dilangit. Hanyut syahdu aku berbisik pada diriku sendiri, serumit ini cinta sampai perbedaan jenuh atau sengaja menjauh pun aku tidak bisa membedakannya. Kamu memang tidak pergi, tapi kamu juga tidak berjuang untuk mempertahankanku untuk tetap disisimu. Namun kebisuanmu seakan mengatakan padaku untuk tidak menaruh harapan lagi. Rindu ini telah mengendap ikhlas walau tak terbalas, seperti endapan kopi yang tidak pernah diteguk. Saat rasamu reda dan datang sebuah pelangi, tolong katakan padaku. Supaya aku bisa belajar dari sekarang, untuk mengganti kecemasanku menjadi sebuah keikhlasan.