Semua orang bilang kalau rumah tua di seberang jalan sana adalah rumah hantu.Rumah yang dihuni oleh banyak hantu, bukan cuma satu. Katanya, dari lokal sampai interlokal, eh salah deng, internasional, alias import!
Contoh lokal: iya Kuntilanak!
Katanya, si Kunti suka ngisengi para penjual jajanan malam yang melintas di jalanan situ, mulai dari penjual: sate, nasi goreng, atau penjual bakso.
Naga-naganya, tuh hantu, sewaktu masih menyandang predikat sebagai makhluk fana, barangkali, satu dari sekian banyak fans beratnya Suzana.
Dan kabar yang terbaru, dua hari yang lalu, waktu subuh-subuh, tuh Kuntilanak malah ngisengi anak sulung si penjual mie ayam, si Wawan Jabrik, anak Tambun, gusuran tol. Si Wawan Jabrik yang baru pulang berbelanja, beli segala bahan mentahan yang bakal diolah untuk dijadikan mie ayam nanti.
Menurut pengakuan si Wawan, tuh Kunti setahu-tahunya udah nangkring di boncengan motor. Dari kaca spion, sambil mencoba untuk tersenyum, yang kata si Wawan terkesan maksa, yang ujung-ujungnya jadi kaku, tuh Kuntilanak melambaikan tangan ke arah Wawan dan bukan cuma melambaikan tangan, malahan dia kiss bye, sekalian main mata juga, sekali lagi ini menurut pengakuan si Wawan Jabrik.
Dalam hitungan detik setelah kedipan mata, si Kunti hilang tak berbekas. Wawan Jabrik karuan tancap gas, bukan cuma tancap gas, sepanjang jalan sampai di depan rumahnya, bak kesetanan, Wawan Jabrik teriak pol-polan!
Alhasil, Rambo, ayam jago miliknya Atuk Dalang mogok makan sepanjang hari, protes sepertinya, gimana nggak, si Wawan Jabrik, dengan tanpa tedeng aling-aling kok iya tega mengambil jatah tugasnya, yang mestinya: dengan dada yang membusung dan paruh yang condong ke atas bersuara lantang membangunkan orang-orang.
Contoh import: Hantu bule yang wajahnya mirip Edward Cullen, alias Robert Pattinson. Itu loh aktor Hollywood yang kabarnya akan memerankan tokoh Bruce Wayne alias Batman.
Nah, waktu penampakan satu jenis hantu yang kayak begini ini, sontoloyo bukan main dah, bukannya pada takut, tuh orang-orang, terutamanya mereka-mereka yang berjenis kelamin wanita, dari yang kinyis-kinyis sampai yang kisut-kisut malah dengan gegap gempita mengepung itu rumah, dari segala penjuru, sudut dan sisi: sambil membawa hp berkamera tentunya. Semingguan kurang lebih mereka begitu, tapi si Robert kagak nongol-nongol juga, jangan kata batang hidungnya, kentutnya aja kagak keendus, tak ayal satu per satu mundur teratur.
Iya dari peristiwa ini, yang diuntungkan iya para hansip yang bertugas di malam hari, selain dipenuhi dengan jejalan makanan dan minuman yang seabrek-abrek, seenggak-enggaknya, mereka bisa shift-shiftan dengan para fansnya Robert Pattinson itu. Dan sialnya emak, kakak dan adik perempuan gue bagian dari komplotan itu!
Sekonyong-konyong sarapan dan makan siang gue dan bapak gue, semingguan itu, iya makan angin. Gimana nggak, tuh orang-orang sekalinya balik pulang malah ngebangkong di kamar, sampai lepas siang.
Dan malam ini rumah tua itu akan menjadi saksi keberanian ku! Si manusia yang kagak kenal takut! Masak sih!? Lah kagak percaya? Penting gak sih kalau gue ceritain gimana gue bisa dijuluki manusia yang kagak kenal takut? Menurut gue, gak penting-penting amat, tapi kalau masih penasaran silahkan tanya pada: si Bruno, si Jimbo, si Blaki, sedikit dari sekian banyak anjing tetangga yang dikenal galak dan hampir-hampir dikata anjing gila, yang mulutnya gue ngap-ngapi lebar-lebar karena berani mengonggongi gue; setelahnya kejadian itu, sekalinya gue lewat depan rumah tuannya, tuh ekor pada melipir turun, kepalanya tertunduk lesu.
"Wani Piro!?"
"Loe, gue ajak makan di mana aja loe suka!"
"Ogah!"
"Uang kuliah loe setahun gue bayar!"
"Emoh!"
"Cicilan motor loe gue lunasi!"
"Gue ndak kere!"
"Terus mau loe apa!"
"Gue mau loe,"
"Maksud loe!?"
"Gue mau jadi imam loe!"
"Sialan loe, loe kata gue udah kebelet kawin apa!?"
"Gimana kalau jadi tunangan gue?"
"Kepala loe bau menyan!"
"Gini aja deh terakhir, terakhir banget, gimana kalau loe jadi pacar gue? Oke?"
"Pacar!?"
"Iya pacar."
"Gue jadi pacar loe!?"
"Daripada tugas dari dosen loe kagak kelar."
"Memang tuh dosen rada!"
"Itu amazing tahu, dimana coba ada orang yang berani mewawancarai makhluk halus!?"
"Terus loe berani gitu,"
"Demi loe Siska, ngawini loe aja gue berani, masak sama begituan gue takut, iya beranilah!"
"Maksud loe, gue lebih mengerikan dari si Kunti gitu!?"
"Gimana loe nggak mengerikan, saban-saban gue bisa enak makan enak tidur kalau mikirin loe, wajah loe itu selalu aja mengusik hari-hari gue, Siska."
"Loe kata gue muntahan apa bikin loe gak enak makan!"
"Tuh, tuh cerewet loe ini bikin gue kesengsem sama loe, ada aja jawaban loe, loe tipe gue banget, cewek pinter."
"Kalkulator kali ah pinter!"
"Tuh, tuh, bisa aja loe nyambungin ke sana, segala kalkulator dibawa-bawa, gimana coba gue gak seneng dekat loe, hari-harinya gue jadi ceria gitu loh,"
"Loe kata gue badut,"
"Nah, tuh, kan, tuh, kan cewek pinter loe!"
"Iya udah balik ke soal tadi gimana?"
"Iya gak gimana-gimana, itu aja syaratnya."
"Tapi loe harus mewawancarai dua makhluk halus iya?"
"Gue beri lima kalau perlu!"
"Songong loe!"
"Arditho gitu loe!"
Dan malam ini adalah pembuktiannya!
Tanggal tiga belas, hari Jumat, Kliwon, dengan kondisi malam yang dipenuhi dengan kabut tebal, semilir angin yang sesekali berhembus dan bisanya cuma meniupi tenguk, yang karuan membuat bulu kuduk sesekali meremang, gimana nggak, disangkanya si Kunti yang lagi iseng; pun lampu jalan yang hidup segan mati gak mau, cuma kedap-kedip doang--suasana sepi, gimana nggak sepi, lah udah tengah malam gini!
Nggak sempurna gimana coba seramnya!?
Prett! Demi Siska jantung hati gue, cewek yang udah gue taksir sedari gue bau kencur; Apapun bakal gue hajar, jangan kata setan belau, setan pemutih juga gue hajar!!!
Gue harus bisa! Bukan cuma harus, tapi pasti bisa!
Segala hantu dipercaya! Yang gue percaya itu cuma satu, kalau loe mau ngedapati apa yang loe inginkan loe harus berjuang, gak ada cara lain!
Segala omongan si Jabrik dipercaya, gue diminta percaya, ogah, itu bisa-bisanya doang, gimana nggak, sedari dia omong begituan, tuh warung mie ayam kagak pernah sepi.
Sekarang gue ada di depan tuh rumah tua yang katanya rumah hantu. Kamera gue nyalin, mik juga gue nyalin.
"Assalam Wallaikium..."
"Wallaikium salam..."
"Bujubusyet...!"
"Ngapain loe tong!"
"Sapa tuh?"
"Gue,"
"Gue sapa?"
"Jiung!"
"Jiung!?"
"Di belakang loe,"
Arditho menoleh ke belakang, perlahan-lahan, sekonyong-konyong kaget, kala menemu sesosok makhluk dengan muka bercahaya merah, mata membelalak lebar,dan gigi perongos yang meringis. "Busyet Jiung! Kaget gue!"
"Kaget ape takut loe?!"
"Senter loe matiin!"
"Mau apa loe berdiri di depan pagar nih rumah tua?"
"Mau tamasya!"
"Sekate-kate loe, loe lupa ini malam apa?"
"Lah loe sendiri ngapain di mari!?"
"Lah gue tugas, Tong."
"Tugas? Sejak kapan loe jadi hansip?"
"Sejak kemarin."
"Loe gantiin siapa emang?"
"Gak gantiin siapa-siapa. Lah loe ngapain di mari?"
"Loe kata, loe aja yang punya tugas, gue juga punya!'
"Tugas apa loe?!"
"Tugas negara!"
"Lagi ujian loe?"
"Mau tahu aja loe!"
"Loe mau nggaggu tuh setan, ntar ngamuk dicekik loe. Pulang loe sono!"
"Eh, Jiung, gak ada sejarahnya manusia mati kecik hantu, yang ada loe yang mati gue cekik, beranian loe ngatur-ngatur gue, enyak-babe gue aja kagak mempan, gue gibeng wassalam loe!"
"Gue jadi hantu penasaran, gue cari loe,"
"Sekalian loe bawa noh komplotan loe, penghuni rumah tua nih, loe pikir gue takut apa!? Ini Ditho, bukan sembarang Ditho, hantu loe takut, ame dosa loe kagak takut, korupsi dibanyakin...!"
"Wadaw saban-saban loe jadi ustadz!?"
"Sedari orok!"
"Benar-benar loe ya, kualat baru tahu rasa loe!"
"Kualat tuh karena ngelawan perintah orangtua, lagian kencing aja belum lurus udah berani ngatur-ngatur gue, cabut loe!"
"Masuk juga belum, udah main cabut aja loe!"
"Otak loe sengklek! Balik kanan loe sana!"
"Oke! Tapi gue nggak tanggung resikonya!"
"Saban-saban gue minta bantuan loe, segala resiko gue yang loe mau tanggung, hansip sarap loe!
Jiung, si hansip baru, balik kanan, dengan muka yang memberengut, sekaligus mengomel kesal. "Segala hansip gak ada harganya."
"Harga loe seribu tiga noh di Senen."
Arditho melangkah masuk, dengan senter yang bertengger di kepala, tangan kanan yang menggenggam kamera yang tengah menyala, tangan kiri memegang mikropon. Malam bertambah larut, kabut semakin tebal menyelimuti, suara angin berdesau lirih--rumah tua itu tegak menunggu.
Kini Arditho telah berdiri di ambang pintu, melirik ke lantai teras rumah tua, yang kini telah disesaki dengan tumbuhan ilalang yang mulai meninggi dan sampah-sampah dari segala macam jenis di sana-sini-- benar-benar tidak terurus.
Pintu diketuk, salam diucapkan. "Assalamualaikum..."
Satu detik, dua detik, tiga detik... hingga berdetik-detik tak kunjung ada jawaban.
Pintu diketuk ulang, salam yang lain diucapkan. "Syalom..."
Satu detik, dua detik, tiga detik... hingga berdetik-detik masih sepi.
"Assalamualaikum, kagak. Syalom juga kagak. Apa jangan-jangan..." Arditho tak patah arang, salam yang berbeda diucapkan, sekali lagi pintu diketuk. " Om Swasti wastu..."
Satu detik, dua detik, tiga detik... hingga berdetik-detik tak kunjung ada yang menyahut.
"Juga bukan ternyata. Nah, pasti ini, ini..." Arditho menduga-duga, pintu diketuk. " Budha memberkati..."
Satu detik, dua detik, tiga detik...hingga berdetik-detik tetap kagak ada jawaban.
"Juga kagak. Berarti ini, nih.." Arditho terus saja menduga, sekali ini tanpa mengetuk pintu, salam ia ucapkan. "Salam Kebajikan..."
Satu detik, dua detik, tiga detik... hingga berdetik-detik tetap kagak ada jawaban.
"Berarti aman," Arditho bersemu girang. "Gue bilang juga ini bukan rumah hantu, cuma rumah tua!"
Arditho pun melongok muka ke dalam rumah, melalui jendela, dan di bantu dengan nyala senter yang bertengger di kening.
Mata Arditho jelalatan, celingak-celinguk kanan-kiri, atas-bawah, jangan kata sebiji hantu, seekor nyamuk juga kagak kelihatan. "Setidak-tidaknya gue membuktikan ke orang-orang, kalau rumah ini bukan rumah hantu, cuma rumah tua," Ucap Arditho sambil mengeker ke dalam rumah itu, dengan kamera videonya. Kurang lebih lima belas menit ia mengambil gambar rumah tua itu, setelahnya ia pun memilih balik kanan.
"Gue bilang juga apa, rumah ini bukan rumah hantu, cuma rumah tua, rumah tua!" Kata Arditho sembari berjalan pulang, kepalanya sesekali menoleh ke belakang, ke rumah tua itu.
Tapi ketika sepuluh langkah kaki ia menjauh, sekonyong-konyong ia dikagetkan dengan bunyi desingan suara, berasal dari dalam rumah, ia terdiam membeku, beberapa jenak, sampai suara kucing terdengar sesudahnya, maka, ia pun berkesimpulan, kalau desing suara itu cuma suara kucing yang lagi bersin.
Nah, loh, kucing dikata bersin!?
Arditho kembali melangkahkan kaki, keluar, tapi sesampainya di pagar, di tengah larut malam begini, ia melihat ada sesosok wanita yang berjalan sendirian. Arditho berpraduga kalau sosok itu bukanlah sosok yang asing bagi dirinya. "Pasti itu Siska. Sepertinya Siska... Gue yakin pasti Siska mau mata-matai gue! Sis, Sis, loe pikir gue cowok apakah!? Demi loe, semua bakal gue hadapi! Segala pake ngarang-ngarang cerita tugas dosenlah, mana ada dosen ngasih tugas kayak beginian, yang ada loe cuma mau ngetes gue, iyakan!? Love you, Siska!"
Dari atas pohon nangka berdaun lebat, yang berada persis di samping kanan Arditho, terdengar suara sahutan, membalas seruan Arditho. "Love you too, Mas."
Arditho terdiam beberapa menit, sambil perlahan-lahan mencoba menarik kepalanya ke atas, tak sampai hitungan detik sesaat setelah kepala itu tertarik ke atas, sekonyong-konyong Arditho balik kanan tanpa bak-bik-buk ia karuan tancap gas.
Yang diatas hanya bisa melepas dengan: lambaian tangan, kiss bye, dan kedipan mata-- ayo tebak, siapa coba?
"Katanya mau wawancara," keluh dia yang bertengger di atas pohon.
Arditho tak berani menampakkan batang hidung, seminggu lebih. Siska yang resah menunggu kabar berita, berinisiatif main ke rumah Arditho. Sesungguhnya rumah Siska dan Arditho hanya terpisah satu rumah warga saja.
"Dit, gimana?"
"Gimana apanya?"
"Wawancaranya?"
"Wawancara apa?"
"Gimana sih!?"
"Gue pikir itu cuma bercandaanya elo,"
"Bercanda kepala loe!"
"Gue belum sempat, sorry!"
"Bilang aja loe takut!"
Arditho diam beberapa saat.
"Woi kenapa loe?"
"Nggak..." Arditho menggeleng bego.
"Terus loe kenapa diam kayak begitu?"
"Perut gue, semingguan ini gue kena diare, gue ke toilet dulu ya..." Arditho meloncat lari ke kamar mandi meninggalkan Siska sendiri di ruang tamu.
Ketika Siska menoleh ke arah kanan, di atas rak, matanya mendapati kamera miliknya yang ia pinjamkan ke Arditho. Siska meraih kamera video tersebut, kamera dinyalakan, dan tak sampai hitungan menit, sekonyong-konyong ia menjerit ketakutan.
Semua penghuni rumah sontak menghambur ke arah Siska, termasuk Arditho yang ngibirit dari kamar mandi.
"Kenapa loe?"
Siska, dengan gigi yang menggemeretak dan tengkuk yang bergidik, menunjuk-nujuk ke arah lensa kamera yang masih lagi menyala, telunjuknya pun ikut gemetar juga. Melihat Siska seperti itu, tak ayal nyali Arditho pun ikutan ciut, sekian detik lamunannya kembali ke peristiwa malam itu, jangan kata meraih, menyentuh kamera itu ia tak berani.
Bapak berinisiatif, kamera video ia ambil, melongok ke layar, membelalak sejenak, setelah beberapa menitan menyaksi rentetan gambar demi gambar di dalam kamera, bapak pun bertanya cara menghapus video tersebut.
Siska memberitahu dengan: gugup, gemetar, dan terbata-bata, jelas ia ketakutan.
Dengan tenang dan mulut yang berkomat-kamit merapalkan ayat-ayat kursi, bapak mengerakkan jari jemarinya, sesuai dengan arahan Siska.
Video dihapus.
Apa yang ada di dalam kamera, tak lain dan tak bukan... Sekarang semua menjadi jelas kalau rumah berada di ujung jalan itu bukan sekedar rumah tua belaka, yang seperti Arditho sangka selama ini!
Tapi, ternyata, benar-benar rumah hantu.
Lebih tepatnya, markas komandonya para hantu...!