Suara itu selalu terdengar di jendela kamarku ketika tengah malam tiba. Awalnya memang hanya ketukan, tapi siapa yang tau bahwa suara itu menjadi awal dari malapetaka yang tanpa ku sadari mendatangiku..
***
"Nala sayang, hari ini selama 3 hari kamu di rumah sendirian ya? Ayah dan Ibu akan pergi untuk dinas ke luar kota. Kamu baik-baik dirumah sendiri, kalau mau makan beli aja di warung sebelah. Kalau takut, panggil aja temen kamu buat nginep dirumah", ujar Ibu sebelum memasuki mobil.
Aku mengangguk lalu melambaikan tangan ketika mobil yang ditumpangi orangtuaku mulai berjalan.
Aku memasuki rumah dengan bersenandung riang. Yess! Selama tiga hari aku bebas melakukan apa saja! Tidak akan ada yang melarangku atau mengomeliku ketika aku melakukan hal-hal yang membuat orangtuaku marah, aku bisa dengan santainya membaca semua komik dan novel kesukaanku yang selama ini kusembunyikan dibawah kasur karena tidak diperbolehkan membaca buku-buku seperti itu oleh Ibu. Intinya sekarang aku bebas!
Aku segera menuju ke kamar, menyalakan televisi dan tentu saja membawa cemilan yang sebelumnya sudahku beli di minimarket. Lalu ku pikir, apa sebaiknya aku menelpon salah seorang teman untuk menemaniku? Bukannya aku takut, tapi pasti lebih enak bersama seseorang saat dirumah sendirian bukan?
Aku mengambil ponsel lalu memencet nomor milik Aya, temanku sejak kecil. Terdengar suara dari seberang, "Halo"
"Kamu bisa nginep disini nggak?"
Terdengar gumaman pelan, "Hm... boleh deh. Emangnya kamu lagi dirumah sendiri ya?"
"Iya, temenin bisa kan?", jawabku cepat.
"Oke, otw"
Aku memutuskan telpon. Belum juga 20 menit, terdengar suara ketukan pintu. Aku segera saja turun dan membukakannya.
"Tumben kamu ngetuk pintu duluan, biasanya kan langsung nyelonong aja"
Aya hanya menatapku lalu menjawab enteng, "Iya, aku lupa".
Aku mengajaknya untuk memasuki kamarku seperti biasa, dan langsung merebahkan diri di kasur.
"Enaknya ngapain ya?", celetukku.
Aya bangkit, dia langsung membuka tasnya lalu mengeluarkan flashdisk dan menyerahkannya padaku. "Gimana kalo kita nonton film horor?", tanyanya memberi usul.
Aku tertawa mendengar usulnya. "Kamu yang nggak bisa ke kamar mandi sendirian kok tiba-tiba ngajak aku nonton film horor?"
"Soalnya bagus, ini cerita tentang seorang perempuan yang dirumah sendirian terus dia didatangi hantu loh. Hantunya menyamar menjadi teman yang dia panggil kerumah. Dipikir-pikir situasinya sama kayak kamu kan?", ujarnya sambil menakut-nakutiku.
Aku hanya menggidikan bahu. "Apaan. Hantu tuh nggak ada ya!"
Lalu kami mulai menonton film tersebut. Aku sedikit merinding melihatnya, tapi saat aku melirik ke arah Aya, dia malah tenang-tenang saja seolah ketakutannya selama ini bisa lenyap dalam sekejap. Aku juga sesaat melihat dia tersenyum saat adegan sang perempuan yang ada didalam film horor itu terlihat ketakutan saat diteror hantu itu.
Jangan-jangan Aya itu hantu?
Ah, mana mungkin dia hantu. Pikiran itu ku tempis jauh-jauh.
Setelah film itu selesai, aku yang penasaran mulai bertanya pada Aya. "Kok kamu nggak takut?"
Dia tersenyum miring, senyum yang jelas tidak akan pernah ditampilkan oleh Aya. "Apa kamu percaya hantu?"
Aku mengerutkan kening mulai merasa aneh dengan sikapnya. "Kan aku bilang enggak! Yaudah kan kita udah nonton film, sekarang kita tidur yuk", ajakku.
"Jangan tidur dulu. Gimana kalo kita main aja?"
"Main apa? Kartu?", tanyaku.
"Jelangkung", ujarnya enteng.
"Apaan sih kamu dari tadi nakutin aku terus ya", jawabku dengan curiga.
"Kamu takut?", tanya Aya padaku.
Aku menggeleng kuat. "Jangan main begituan, nanti Ibuku marah"
Akhirnya kami memutuskan untuk tidur bersama. Aku mulai curiga apakah Aya yang sedang bersamaku adalah Aya yang asli? Saat tengah malam tiba, kudengar suara ketukan keras di jendela kamarku. Aku memberanikan diri untuk mengintipnya. Tidak ada apaun diluar. Kupikir itu hanya suara dahan yang terkena jendela, tapi tidak beberapa lama ketukan itu kembali terdengar lagi. Bahkan ini lebih keras dam terdengar suara berderit seperti kuku orang yang sengaja digoreskan ke kaca. Aku mengintipnya lagi, tapi tidak ada siapapun. Dengan keringat dingin, aku membangunkan Aya yang tengah tertidur disebelahku.
"Aya, bangun gih"
Dia mengerjapkan matanya berulang kali. "Apa?"
"Ada suara loh daritadi dijendela", ujarku ragu.
Dia malah bertanya lagi, "Apa kamu takut?"
Aku menggeleng. "Tidak"
"Oh ya?", lalu Aya yang didepanku mulai menghilang. Aku celingukan menatap sekitar.
"Aya, kamu dimana sih? Jangan bercanda deh!"
Tiba-tiba udara dikamarku berubah menjadi lembab dan terdengar suara cekikikan perempuan. "Hihihi"
"Aya!", teriakku. Aku mulai turun dari kasur dan hendak keluar kamar, tapi pintunya malah terkunci rapat. Aku membuka secara paksa namun tidak bisa.
"Buka buka!!", gedorku dengan keras.
"Hihihi.. Apakah kamu sudah mulai takut?", suara itu menggema di kamarku.
Aku berusaha mendobrak pintu kamarku dan berhasil. Aku langsung lari kearah ruang tamu berusaha untuk keluar rumah. Terlihat dengan jelas beberapa pisau melayang kearahku diikuti gema suara, "Kamu takut kan sekarang!"
"Sialan", umpatku.
Pisau itu langsung melesat cepat kearahku, beruntung pisau itu meleset dan menancap dalam dipintu. Ugh.. Aku dihadang dan tidak bisa keluar. Aku berlari kearah dapur, mengambil sapu dan ku acungkan ke arah pisau yang berterbangan. "Jangan ganggu aku!"
Pisau tetap melesat cepat kearahku, salah satu.diantaranya menacap di tangan kiriku. "Ugh.."
Darah merembes di bajuku dengan deras. Sakit sekali. Aku.mulai menangis. "Jangan", ujarku saat sebuah pisau kembali melayang kearahku.
"Sekarang kamu takut?!"
Aku menangis terisak. Dengan cepat aku kembali berlari kearah pintu depan dan membukanya lalu berlari menuju rumah terdekat disekitarku. Disepanjang jalan, suara tawa dan pertanyaan bertubi-tubi selalu mengikutiku. Aku menggedor pintu rumah tetanggaku dengan keras. "Buka!"
Pisau melayang lagi kearahku dan kini mengenai bagian perutku. Dibanding sakit, aku malah merasakan ketakutan yang teramat sangat. Tak lama kemudian pintu itu terbuka. Seorang perempuan paruh baya muncul dibalik pintu terlihat terkejut dengan kondisiku yang penuh darah dan dua pisau yang menancap ditubuhku. Perempuan itu terdengar melafalkan ayat-ayat untuk mengusir hantu tersebut, terdengar suara teriakan yang sangat keras, lalu aku jath pingsan.
Esok paginya, aku sudah berada di dalam rumah sakit ditemani Aya, dan ibunya. Orangtua ku masih berada didalam perjalanan. Aku yang masih trauma melihat Aya, hanya dapat berteriak seperti orang gila. Pikiranku kacau balau.
Setelah 2 hari berlalu, baru aku mengetahui kebenarannya bahwa Aya tidak pernah mendapatkan telepon dariku apalagi menginap dirumahku. Bahkan saat itu Aya dan keluarganya sedang berada dirumah neneknya sudah dari seminggu yang lalu. Aku hanya bengong mendengarnya, ingatan tentang malam itu tidak pernah bisa kulupakan. Trauma ini kurasakan sampai sekarang, aku tidak lagi berani untuk dirumah sendirian.
Hanya satu hal yang pasti, jangan pernah membukakan pintu untuk seseorang di malam hari bahkan untuk orang yang sudah dikenal sekalipun.