Jam menunjukkan pukul lima kurang tiga belas menit, dan gue masih di sini, di perempatan warung Bu Nurul, dengan pipi merah bekas ‘tamparan cinta’ dari Emak tersayang, yeah… entah keberapa ratus kali Emak menyatakan cintanya dengan tamparan ala Mike Tyson di wajah ganteng gue ini.
“Ditampar lagi Wid?” tanya Bu Nurul sembari mengaduk teh panas yang gue pesan
“Eh… iya Bu, biasalah Mak Lampir” jawab gue senyum kecut
“Lho, kok gitu ngomongnya? jangan gitu Widi, walau bagaimanapun juga ia tetap Ibumu”
“Iya sih, tapi kalo tiap hari ditampol bisa bonyok muka gue” jawab gue dalam hati
Bu Nurul, sosok tetangga yang penyabar lagi penuh perhatian, di warung 4×6 meter inilah tempat gue melarikan diri dari kejaran Emak gue, walaupun jaraknya gak jauh-jauh amat dari rumah, tapi gue rasa ini tempat yang aman untuk kabur, selain bisa nge-teh dengan biaya ditangguhkan (ngutang), gue juga bisa puas ketemu Raisa anak sulung Bu Nurul, hahay.
Sebenernya gue kasihan ngeliat Bu Nurul, seorang diri menghidupi 4 orang anaknya yang masih sekolah, ya, kurang lebih 4 tahun sudah Bu Nurul hidup menjanda ditinggal suami yang meninggal karena kecelakaan kerja. Innalillahi.
“Udah mau maghrib, kamu gak pulang Wid? Nanti Ibumu marah-marah lho” tanya Bu Nurul mengagetkanku
“Astaghfirullah, iya Bu” jawab gue terkejut
Gak kerasa, 1 jam sudah gue kabur dari rumah meninggalkan seabrek piring kotor yang lupa dicuci, dan bukan cuma itu yang membuat gue keringet dingin, gue juga lupa gak bawa uang, ahhh…
“Bu Nurul, hmm… teh-nya…” ujar gue dengan wajah memelas
“Iya iya, Ibu paham” jawab Bu Nurul dengan wajah penuh keikhlasan
“Hehehe… Makasih ya Bu, Bu Nurul memang calon mertua yang pengertian” dengan langkah seribu gue ngacir meninggalkan hutang di warung Bu Nurul.
Emak, ah… Emak memang kelewat pinter, ia punya seribu cara untuk ngebangunin gue sholat subuh.
Subuh ini dengan cara yang sangat anti mainstream, bukan dengan siraman air, juga bukan dengan kentongan panci, tapi hanya bermodalkan selotip, yeah dengan selotip Emak sukses membuat gue sholat subuh tepat waktu, kau tau apa yang dilakukan Emak dengan selotip?
“Jebretttt… ahhh… sakit Maaak…!!!” jerit gue ketika Emak melancarkan aksinya
“Sakitan mana sama siksa neraka?” ancam Emak
“Oh, iya juga ya, ah Emak”
Gue masih gak percaya Emak melakukan ini ke gue, iya, Emak membabat habis bulu kaki gue dengan selotip, lengkap sudah penderitaan gue.
Walaupun sakitnya melebihi sakit ditolak Raisa tapi cara ini bener-bener efektif untuk ngebangunin gue, gue dikenal lebih kebo daripada kebo beneran kalo lagi tidur.
Gue sempat berpikir untuk nyembunyiin tuh selotip biar kejadian serupa gak terulang lagi, tapi rasanya percuma, karena gue udah gak punya bulu kaki, hiks hiks.
Pagi ini seperti biasa, selesai nyuci baju gue meluncur ke meja makan, bukan untuk sarapan, tapi membereskan piring kotor untuk dicuci, haha.
Ditengah keasyikan gue nyuci piring, tiba-tiba ada sesuatu yang membuat gue gak mood nyuci, ya, kehadiran seorang pria 45 tahun, dengan brewok berantakan dan bau badan gak karuan yang gue sebut Bapak.
Ia bukanlah Ayah kandung gue, Ayah meninggal 3 tahun lalu karena leukimia dan semua aset termasuk rumah ludes dijual untuk biaya pengobatan Ayah, 8 bulan sepeninggal Ayah, gue, Kakak dan Emak hidup pontang-panting, sempat 3 kali pindah kontrakan dan beberapa kali gonta-ganti pekerjaan, melihat hal ini Kakek dari Ayah menyimpan rasa iba kepada keluarga kami, dan akhirnya Kakek menawari kami untuk sementara tinggal di rumahnya, dan Emak pun menyetujui penawaran Kakek.
Selama tinggal di rumah Kakek, Kakek sering menyarankan Emak untuk menikah lagi agar kondisi ekonomi keluarga kami dapat membaik, Emak pun selalu menolak saran Kakek, begitu juga gue dan Kakak.
Hingga suatu hari Emak menerima saran kakek untuk menikah, karena Emak merasa gak enakan terlalu lama tinggal di rumah Kakek, Emak pun dikenalkan dengan seorang pria rekan kerja paman, sebenarnya saya kurang sreg dengan pria yang dikenalkan paman, karena dari track record-nya yang kurang baik, ya, pria itu seorang duda dengan 5 orang anak yang kesemua anaknya diserahkan kepada mantan istrinya, hebat bukan?
Bapak pulang setelah 2 hari pergi tanpa kabar, dan seperti biasa kepulangan Bapak disambut banyak pertanyaan dari Emak, bak wartawan metrotv Emak melancarkan aksinya mengintrogasi Bapak di meja makan, namun entah apa yang ada di pikiran Bapak, pertanyaan Emak dibalas cacian dan makian, gue gak tau apa yang salah dari Emak gue, pertanyaan penuh kekhawatiran dari seorang istri terhadap suaminya malah dibalas dengan sesuatu yang tak mengenakkan batin.
“Dasar orang gak tau diri! masih untung kamu saya nikahi, saya kasih nafkah, saya kasih tempat tinggal, kalo nggak udah jadi gembel kamu”
Mak jlebb jlebb jlebb… bagai kesamber petir di siang bolong (walau gue gak tau rasanya disamber petir), itu kata-kata ter-mak jleb yang pernah Bapak ucapkan ke Emak, hati wanita mana yang gak sakit dikatain begitu sama suaminya?
Memang belakangan ini Bapak sering kabur-kaburan tanpa alasan yang syar’i, tapi gak kayak gue yang kaburnya cuma 1 jam 2 jam, Bapak kaburnya bisa 3 sampe 4 hari, dan hal ini yang memicu keretakan hubungan Emak dan Bapak.
Gue gak tau hati Emak terbuat dari material apa, berpuluh kali Bapak menyakiti Emak berpuluh kali itu pula Emak memaafkan Bapak, heran gue.
Gue sebenernya gak tahan tinggal di rumah ini, gue gak tega ngeliat Emak dimarahin terus, dan gue menyarankan Emak untuk pindah ke rumah Kakak, ya, Kakak gue menikah 1 tahun lalu dan sekarang kakak tinggal bersama suaminya di luar kota.
“Mak, kita pindah ke rumah kakak aja ya” saran gue ke Emak
“Nggak Nak, Emak sebagai istri dilarang meninggalkan rumah tanpa izin suami, karena surganya istri ada pada suami, dan Emak ingin menggapai surga itu” jawab Emak dengan penuh kerendahan hati
Jleb… meleleh air mata gue denger jawaban Emak, Emak… masya Allah Emak…
Malem ini Emak ngeluh ke gue, Emak bilang kepalanya pusing dan nyeri di bagian leher, punggung, hingga lengan, ah, mungkin Emak terlalu capek ngurus pekerjaan rumah, gue pun mijetin Emak dan menawarkan Emak untuk meminum obat, tapi Emak menolak.
“Mak, Widi beliin obat ya”
“Nggak usah Nak, palingan masuk angin biasa, besok juga sembuh Kok, Emak cuma butuh istirahat”
Salah satu sifat Emak yang belum hilang dari dulu, selalu menganggap remeh gejala penyakit, dan Emak baru mau berobat kalo penyakitnya udah level siaga.
Emak pun tidur lebih awal dari biasanya, yang pasti karena kelelahan bukan karena pijetan gue yang tiada tanding ini, haha.
Tak seperti biasanya, subuh ini gue mengalami kemajuan, yeah, gue berhasil bangun subuh tanpa dibanguni Emak, hohoho, setidaknya gue satu langkah meringankan beban Emak.
Gue masih gak percaya kalo gue bisa bangun subuh tanpa dibangunin Emak, tanpa banyak basa-basi gue langsung ngambil air wudhu biar gak ketiduran lagi. Tapi ada satu hal yang gak biasa di subuh ini, gerak-gerik Emak, subuh-subuh gini biasanya Emak udah bertempur dengan peralatan dapur, tapi kali ini nggak. Ah, mungkin Emak lagi sholat.
Gue pun sholat di kamar gue, selepas sholat Emak juga belum keliatan, perasaan gue mulai gak enak, prasangka-prasangka negatif mulai berkecamuk di kepala gue, gue pun ngetok pintu kamar Emak namun gak ada jawaban dari dalem kamar, akhirnya gue buka pintu kamar Emak yang gak dikunci itu, namun, apa yang gue dapati? Ternyata Emak masih tidur, Alhamdulillah.
“Mak, Mak… bangun Mak, udah subuh, Maaak…”
Seketika badan gue lemas, pikiran gue melayang, dan banyak sesuatu gak bisa diungkapkan saat gue memegang kaki Emak yang begitu dingin, menatap wajah yang begitu pucat, dan mendekap tubuh yang sudah berhenti bernapas. Emak… Sosok tawadhu’ itu telah tiada, maafkanlah diri yang tak berguna ini Mak, sungguh, maafkanlah diri ini.Hari ini, ketika semua anak di seluruh penjuru Indonesia mengungkapkan rasa cinta kepada Ibunya, mungkin ini ungkapan cinta Widi kepadamu Mak, ya, dengan memandikanmu, mengafanimu, menyolatimu, dan mengantarkanmu di tempat ini, Allahummaghfirlaha, warhamha, wa’afiha wa’fuanha.
Dari diri yang tak berguna ini, anakmu, sungguh, aku rindu tamparan cintamu, Mak.
*oh Emakatu hari e dan kran k entamu, mak. kmu. cinta Widi kepadamu Mak, ya, dengan memandikanmu, mengafanimu, dan mengantarkanmu*