'Jangan berakhir ...
Aku tak ingin berkahir ...
Satu jam saja ...
Ku ingin diam berdua,
Mengenang yang pernah ada’
Aku menatap nanar pada luar jendela, hujan deras
mengiringi alunan lagu milik ‘Lala Karmela dengan judul Satu Jam Saja’.
Sekali lagi, hujan selalu mengingatkan aku tentang sebuah kerinduan, kesyahduan, cinta, asa, juga cita.
“Hhhhhh ...” aku menariarik napas panjang, lalu mengeluarkannya dengan kasar, hingga seorang perempuan paruh baya di sampingku melirikku, lalu kembali pada aktifitasnya, memainkan ponselnya.
Tiba-tiba pintu bus kembali terbuka, seorang Nenek
tua dengan tas besar di tangannya masuk kedalam bus kota yang tengah aku tumpangi, Nenek tua tersebut basah kuyup, aku menelisik sekitar, tidak ada yang peduli, mereka berpura-pura sibuk, aku tersenyum, Nenek tersebut berjalan dengan terseok, mencari kursi kosong, padahal dia tahu betul, sudah tidak ada kursi kosong, bahkan beberapa orang sudah berdiri di tengah bis.
Aku kembali mendesah, berdiri lalu langsung
mempersilahkan Nenek tersebut untuk segera menduduki kursiku.
“Silahkan duduk Nek” ucapku lalu berdiri, meraih
tali yang menggantung di atasku untuk menopang tubuhku yang limbung.
“Terimakasih Nak” Nenek tersebut tersenyum, lalu
duduk dengan wajah riangnya. Aku tersenyum lagi, hujan ... bukan hanya tentang cinta, tapi juga tentang keegoisan, tentang ketidak pedulian, juga tentang sebuah kecurangan.
‘Jangan berakhir ...
Ku ingin sebentar lagiiii ...
Satu jam sajaaaaa ...
Izinkan aku merasa,
Rasa itu pernah ada’
Aku kembali menatap keluar jendela, bis melewati
kota, seketika suasana kota mendadak lenggang, banyak orang menepi lalu mulai berteduh di mana saja, asal tubuh mereka tidak terlalu basah kuyup.
Fikiranku melayang terbang, pada masa itu, masa dimana aku begitu mencintai hujan, juga mencintai ... dia.
“Yah ... hujan” dia menghentikan motor gede-nya,
berteduh di sebuah bangunan tua yang terletak di pinggir jalan, beberapa pengemudi lainnya juga banyak yang menghentikan kendaraan roda dua mereka disana.
“Berteduh dulu yuk” ajaknya,
Aku turun dari atas motor lalu mengangguk, dia
membuka jaket kulit yang di kenakannya, lalu membentangkannya di atas kepalaku.
“Katanya suka hujan, lalu kenapa malah berteduh?”
tanyaku menyindirnya, dia bilang dia suka hujan, dan sangat menyukainya, terlalu banyak kenangan yang kita miliki saat hujan tiba.
“Aku gak mau kamu flu, aku lebih baik tidak menyukai hujan mulai sekarang, daripada hujan bisa membuatmu menderita”
Aku terkekeh, kadang ... dia memang selalu senaif itu.
“Mi ... lihat ini!” aku menoleh.
Cekrek!
Ck! Kebiasaan dia, selalu mengabadikan setiap moment dengan sebuah kamera, aku mendengus kala melihat fotoku yang belum siap, tapi sudah dijepret.
“Kalau orang cantik sama ganteng, di foto seperti apapun pasti bagus” aku menoleh ke samping, kala mendengar kekehan seorang Bapak-bapak yang tengah memegang alat pancing, rupanya dia juga tengah berteduh, kami hanya senyum mesem sambil sesekali saling melirik, menguatkan rematan jemari masing-masing.
***
“Kenapa pulang malam??!!” ku lihat Ibu sudah
berkacak pinggang di teras rumah, menyambut kedatangan kami dengan wajah garangnya, aku menunduk turun dari motor dengan pakaian basahku, aku membuka jaket kulit miliknya lalu memberikannya padanya, sementara dia sepanjang jalan kedinginan karena air hujan.
“Maaf Bu, tadi hujan” jawabku takut-takut.
“Maaf Bu, Mia pulang malam, saya tidak bermaksud pulang malam, hanya saja hujan deras atadi Bu” dia memberikan alasan yang jujur.
“Alah alasan!!” Ibu membentak, seiring dengan itu
hujan kembali mengguyur, bahkan petir kembali menggelegar, bahkan alam ikut menangis kala melihat dia di sakiti.
“Bu ... “ aku tersentak, kala kurasakan tangan Ibu
menarik lenganku, dan memaksaku untuk masuk kedalam rumah, sementara dia hanya mematung, menatapku dengan tatapan sedih, juga kecewa.
“Makanya, lain kali ajak anak saya keluar rumah itu
pakai mobil! Bukan pakai motor! Jadinya kehujanan ‘kan?” sentak Ibu kemudian, sementara aku sudah menangis sejadi-jadinya di dalam rumah.
“Maaf Bu” dia menundukkan kepalanya.
Bbrraaakkkk!!
Ku dengar, Ibu membanting pintu dengan keras, hingga aku terjingkat kaget, sementara itu, aku tidak tahu bagaimana nasib dia selanjutnya, aku yakin dia akan kembali basah kuyup karena kehujanan. Lagi.
“Kenapa Ibu tega?” isakku setelah Ibu berada di dalam rumah.
“Kamu yang tega Mi! Kamu mau mepermalukan Ibu dengan dekat sama laki-laki seperti dia??!!” Ibu menyeringai, tatapannya tajam.
“Kami saling mencintai Bu!!” teriakku prustasi.
“Halah! Cinta! Nanti kamu akan mengerti cinta,
setelah kamu sadar kalau rumah tangga itu butuh dana! Bukan hanya butuh cinta!” Ibu berlalu menuju kamarnya, membanting pintu dengan keras, seiring dengan suara petir yang mengkilat, dan suara hujan yang semakin deras.
“Hendi ... maaf ...” aku kembali terisak.
***
Gerimis datang lagi, sore ini di tempat pavorite kami, aku masih bersamanya.
“Hujan ...” ucapku menatap jalanan yang sudah basah.
“Duh, maaf ya Neng, Aden, ini tendanya harus digeser dulu, soalnya hujannya ke samping, jadi basah semua” pedagang Mie ayam yang selalu mangkal di pinggir jalan tersebut memindahkan beberapa kursi plastik, juga beberapa peralatan jualannya, kami berjinjit lalu tersenyum, menengadahkan wajah ke atas langit.
“Mulai sekarang, aku tidak suka hujan” ucapnya sendu.
“Kenapa?” tanyaku mengalihkan pandanganku padanya.
“Hujan menyulitkan” ucapnya tegas, lalu bergidik,
memeluk tubuhnya sendiri yang terbalu sweater. Aku tersenyum menanggapi ucapannya, sudah berpuluh lagu, puisi, juga sederet kata romantis dia tuliskan padaku, hanya karena sedang hujan, sungguhkah kini dia tidak menyukai hujan?.
***
Hujan kembali melanda, petir saling berkilat, suara
guruh cukup memekakan telinga, aku memeluk tubuhku sendiri, di sebuah tempat poto copyan juga rental internet aku berdiri mematung, menunggu hujan reda, yah ... aku baru saja membuat sebuah lamaran kerja untuknya, dia bilang dia ingin melamar pekerjaan di luar pulau, gajinya cukup besar, dan aku hanya bisa mendukungnya walau jauh di lubuk hati, aku tidak menyetujuinya.
***
Waktu berlalu, bulan pertama tiada untaian kata
indah terlewatkan darinya, dia begitu getol mengirimkan jutaan kata romantis, juga puitis, semuanya masih baik-baik saja.
Bulan kedua, dia mengirimiku chat satu minggu dua kali, bulan ketiga, keempat dan seterusnya skala pengiriman chat juga komunikasi kami semakin berkurang, bahkan nyaris tidak pernah aku mendengar kabarnya, aku memaklumi semua itu, dia sibuk, pekerjannya cukup sulit, mungkin itu sebabnya gaji-nya besar.
“Bu! Apa kabar?” aku menoleh, kala aku mendengar
suara sapaan seseorang.
“Dede? Aku kabar baik? Kamu apa kabar?” aku menatap remaja yang ada di hadapanku, dulu dia adalah OB di tempat kerja Hendi sebelumnya, aku mengenalnya, aku sudah menganggap dia seperti adikku sendiri.
“Aku juga baik Bu” ucapnya tersenyum,
“Ibu lagi nunggu hujan reda ya?” tanyanya menatapku yang tengah memeluk tubuhku sendiri, karena kedinginan, angin lumayan kencang, hingga membuatku mengigil.
“Iya De” aku mengangguk.
“O ya Bu, saya ikut sedih ya, ternyata Ibu tidak
jadi menikah sama Pak Hendi” ucap Dede lantang, tatapannya masih pada jalanan aspal yang basah.
“Maksud kamu?” aku menatapnya tidak percaya.
“Loh? Memangnya Ibu tidak tahu?” Dede menatapku intens.
“Tentang apa De?” tanyaku lagi penasaran.
“Pak Hendi sudah menikahi janda anak satu pegawai kecamatan setelah putus dengan Ibu” ucapnya lantang.
Deg!
Seketika tubuhku menegang, hawa dingin yang tadi
bersarang di tubuhku, kini musnah, di gantikan oleh hawa panas yang menjalar.
‘Kapan aku putus dengannya?’ batinku menjerit, jadi
ini alasan dia tidak pernah menghubungiku lagi?.
“Pak Hendi di jodohkan oleh Ayahnya Bu, Ibu tahukan? Bapak Pak Hendi itu abdi negara, dia tegas, aku fikir Pak Hendi menikah karena terpaksa”
Suara Dede sudah tidak terdengar jelas dipendengaranku, seketika aku berjalan menuju arah depan, entah apa yang ada di dalam fikiranku, tapi saat ini aku begitu kacau
Menunggu entah apa? Berlari entah untuk mengejar siapa? Ribuan jalan persimpangan telah kami lewati, tapi pada akhirnya hanya nestapa yang aku dapatkan, di sini, siapa yang harus aku salahkan? Apa Hendi yang tidak jujur? Ibu yang egois? Aku yang naif? Atau hujan yang selalu membuatku terpesona? Tidak ... mulai sekarang aku membenci hujan!.
TTTTTIIIDDDDDD!!!
“Bu Miaaaa!! Awaaassssss!!!”
AAAAHHHHKKKK!!!
***
‘Jangan berakhir ...
Satu jam saaajjjaaaa ...
ku ingin diam berdua,
Mengenang yang pernah ada,
Jangan berakhir,
Izinkan aku merasa rasa itu pernah ada ...’
“Mbak! Maaf kita sudah sampai terminal”
Aku mengerjap, seketika lamunanku buyar, aku menatap sekeliling, hujan masih melanda, sementara itu bis sudah kosong, aku berjalan keluar dari dalam bis, berjalan berjinjit, lalu berlari ketepian, tepat di sana ada sebuah halte tempat kami menunggu bis selanjutnya.
Ku tengadahkan wajahku pada langit yang memutih terhalangi awan, aku tidak menyukai hujan, tapi aku masih bisa merasakan kesegarannya. Munafik-kah aku selama ini?.
Segala kenangan itu saling berkelebat, kupejamkan
mataku erat, aku tidak ingin mengingat tentang apapun lagi.
‘Ini hanya ilusiku saja’
‘Ini hanya hayalanku saja’
‘Aku bahagia’
‘Aku tidak apa-apa’
‘Aku kuat’
Ku raba kaki-ku perlahan, bekas luka itu masih ada,
seiring dengan luka hatiku yang mustahil bisa hilang. Bahkan hingga hari ini aku merasa trauma ketika harus menaiki sepeda motor, bahkan aku tidak bisa menaiki sepeda motor. Huuuhh ...
‘Aku baik-baik saja’
Semakin kuat kupejamkan mataku.
“Mia??”
Aku membuka mataku, lalu menoleh pada suara pria yang menyapaku.
“Hendi?”
Aku membulatkan mataku sempurna, menatap pria
berpenampilan lusuh, yang kini berdiri disampingku.
“Apa kabar?” tanyanya canggung.
“AAAHHHHHHKKKKK!!” tanpa sadar aku menjerit histeris kala menatap wajahnya, orang-orang yang tengah berteduh, mulai berkerumun, mungkin mereka berfikir jika aku tengah di lecehkan oleh pria yang kini sedang menatapku bingung.
“Mbak tidak apa-apa??” suara-suara itu terdengar.
“Mia?? Kamu kenapa?” kurasakan sentuhan tangan dipunggungku, aku semakin ketakutan.
“Jangaaaannnn!!!” aku semakin histeris.
***
“Mia! Tenang!” ku dengar interupsi darinya yang kini sudah berada di hadapanku, tanganku masih bergetar kuat, aku mencengkram kursi yang aku duduki, dengan baju basah kuyup.
“Oke, sudah tenang? Sekarang kamu lihat ini ...” dia
menunjukkan padaku sebuah alat.
Ah!! Sial! Alat itu lagi! Aku akan segera melupakan
semuanya jika aku melihat alat tersebut.
“Sekarang, ikuti instruksiku yaaaa ...” dia mulai menginterupsi.
“Kak!” aku menatapnya dalam.
“Aku tidak ingin melupakannya, aku hanya ingin
menghadapinya” ucapku yakin, di banding harus kembali mengikuti serangkaian interupsinya, aku lebih baik menahan rasa sakit di kepalaku saja.
“Hmmhhh ... yakin?” dia menatapku lembut, aku mengangguk.
“Baiklah, berjanjilah padaku, jika kamu kuat”
ucapnya, senyuman lembutnya tidak pudar dari bibirnya. Aku mengangguk yakin.
“Mi ... jangan lupa, ketulusanmu tidak akan berakhir
sia-sia” dia menatapku sendu, aku mengangguk.
“Aku tahu itu”
"Baiklah, obat ini akan meredakan sakit kepalamu" dia menyodorkan obat padaku, aku menerimanya, memang tidak ada hal lain yang bisa aku lakukan selain menerimanya, menerima obat yang selalu aku benci, menerima pengkhianatan yang seolah tak pernah berakhir, menerima datangnya hujan yang kini terasa menyesakkan.
.
.
.
Pojokan kenangan 12-06-2021