Diana seorang gadis biasa, yang bekerja disebuah cafe yang berada ditengah tengah keramaian kota..
Dian... Orang-orang memanggilnya.
"Dian, bisakah kau menjaga cafe ini sampai nanti malam? Ratih sedang ijin. Dan saya ada beberapa urusan, saya akan kembali lagi kesini sampai urusanku selesai ; ujar bos Dion."
"Baiklah bos ; saut Diana."
Diana menerima saja, dan lagi pula kosnya sangat dekat dengan tempatnya bekerja, hanya membutuhkan waktu 15 menit dengan bersepeda akan sampai ke kosnya.
"Terima kasih dian, kau memang selalu bisa ku andalkan. Saya akan memberikanmu tambahan bonus, karna kau bekerja di luar jam kerjamu ; janji bos Dion."
"Siap bos ; saut Diana."
~~~~~~~~ Malam harinya...
Cafe Royal Place, nama cafe Diana bekerja yang buka setiap hari sampai jam 10 malam.
Sudah pukul 10 malam, Diana mulai menutup cafe dan membersihkan cafe.
Ia tidak sendiri ada 3 karyawan yang membantunya.
"Dian, apa kau tidak apa-apa sendirian disini menunggu bos? tanya Erik.
"Iya.. Kau seorang wanita kenapa bos membiarkanmu menjaga cafe sendiri. Wajar untuk Ratih karna dia tinggal di lantai 3 cafe ; saut Suci."
"Aku tidak terlalu suka pada Ratih itu, walaupun dia kekasihnya bos bagaimana bisa dia seenaknya ijin dan itu tidak penting ; ujar Suci lagi."
"Aku tidak apa-apa Erik, Suci. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Bos meminta tolong padaku karna tempat tinggalku tidak terlalu jauh dari sini, sedangkan kalian berdua kan jauh. Karna itulah bos meminta tolong padaku ; ujar Diana."
"Kau selalu membela bos ; ujar Suci."
"Ci.. Bos Dion kan bos kita, dia yang gajih kita. Yaudah kita pulang dulu ya, telpon kita jika terjadi sesuatu ; ujar Erik."
"Huh.. Na, kunci pintunya tunggu di dalam aja, pokoknya telpon kita kalo terjadi sesuatu ingat kan ; ujar Suci yang khawatir."
"Iya ci.. bye.. bye.. ; kata Diana."
"Bye Na... ; saut Erik dan Suci bersamaan."
Diana mengunci pintu depan dengan rapat, dan menunggu di dalam.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 dan bosnya belum datang juga.
"Kring... kring... ; dering ponsel Diana berbunyi."
"Dian, saya tidak bisa pulang tepat waktu karna saya terjebak macet karna ada kecelakaan di depan. Tunggu saya sebentar lagi ya ; ujar bos Dion."
"Baiklah bos, saya akan menunggu ; saut Diana."
Pukul 11.30.
Dion baru sampai di cafenya..
"Terima Kasih Dian, biar saya saja yang mengunci pintunya ; ujar Dion."
"Baiklah bos ; saut Diana."
"Dion saja, ini bukan jam kerja ; saut Dion."
Diana mengangguk tersenyum..
"Saya pamit pulang Dion ; ujar Diana."
"Ya terima kasih, hati-hati di Jalan ; ujar Dion."
Diana mengambil sepedanya dan mulai mengayuh sepedanya, untung saja jalanan terang benderang jadi ia tidak terlalu takut.
Saat ia sedang mengayuh sepedanya, ia terkejut melihat sesosok yang terbaring di pinggir jalan yang sepi.
Diana memarkirkan sepedanya dengan takut-takut ia mendekati sesosok tersebut.
Dilihatnya seorang pria yang terbaring di pinggir jalan tersebut.
"Astaga dia terluka ; ujar Diana."
"Tuan.. apa anda bisa mendengar saya ; ujar Diana."
"Apa yang harus ia lakukan? Apa ia bawa saja ke pria ini ke kosnya, dan lagi pula jalanan sangat sepi dan ini juga sudah malam ; pikir Dianna."
Jadi ia memutuskan untuk membawa pria malang ini ke kosnya. Ia mencoba mengangkat dengan sekuat tenaga tapi sebelum itu, ia melilit luka di perut pria itu dengan jaketnya.
~~~~~~Kos Diana..
"Huh.. untung saja kos nya tidak terlalu jauh ; gumam Diana."
Kemudian Diana mulai mengobati luka pria malang itu dengan P3K yang seadanya.
Selesai mengobati pria malang itu, Diana membaringkan tubuhnya di ranjang karna ia sudah sangat kelelahan.
~~~~~~~Pagi Harinya..
Diana bangun dan bersiap-siap kembali bekerja.
Ia juga sudah menyiapkan makanan untuk pria itu dan meletakkannya di dekatnya.
Diliatnya pria malang itu, masih belum sadar tapi wajahnya sudah mulai kembali cerah. Ia tidak enak membangunkan pria malang itu jadi ia tinggalkan pria malang itu sendirian di kosnya, lagi pula di kosnya tidak ada barang-barang berharga hanya beberapa ijasah dan surat penting. Tapi ia sudah menyimpannya dengan sangat baik.
~~~~~~~~Pulang Bekerja..
Diana bergegas pulang, ia lupa karna ada pria malang yang menginap di rumahnya.
"Cklek... ; suara pintu terbuka."
Dan pria itu tidak ada disana, hilang...
"Dia sudah pergi begitu saja, dia bahkan tidak meninggalkan pesan atau apapun itu ; gumam Diana."
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Alex sedang menuju ke markas..
Saat ia sedang menuju markasnya, tiba-tiba ia dihadang oleh beberapa mobil yang sudah menunggunya depan belakang, ia sudah tidak bisa melarikan diri.
"Sial.... ; maki Alex."
Ia harus berhadapan dengan puluhan pria kekar, ia sudah menghadapi dan berkelahi dengan mereka.
Tentu saja ia kewalahan, perbandingannya sangat jauh 1 : 20..
Walaupun ia bisa menghadapi mereka semua tapi ia kehilangan fokus sehingga ia melewatkan sebuah pisau yang menancap diperutnya.
Dan itu sebagai kesempatan emas untuk mumukul balik musuhnya.
Akhirnya Alex tersungkur dan mereka mengambil usb dari sakunya lalu pergi meninggalkan dirinya.
"Setidaknya ia bersyukur mereka tidak membunuhnya pikir Alex."
~~~~~~~~~Rumah Sakit..
Alex dijemput oleh ajudannya, karna mereka mendengar kabar dirinya diserang..
"Tuan anda sudah bangun? tanya Lean."
"Hmm... Apa kau sudah mendapatkan yang aku suruh? tanya Alex."
"Ya tuan, seperti permintaan anda ; saut Lean." Sambil menyerahkan sebuah amplop besar ke bosnya.
"Kerja bagus Lean ; ujar Alex."
Alex membuka amplop dan membacanya..
"Sudah kuduga, dia menginginkan file itu, bawa pelakunya padaku bagaimanapun juga ; perintah Alex dingin."
"Baik Tuan ; saut Lean."
"Bagaimana dengan orang yang menyelamatkanku? tanya Alex lagi."
"Namanya Diana umur 25 tahun bekerja di Cafe Royal Place.. ; ujar Lean menerangkan."
"Dapatkan Cafe itu dan bawa wanita itu padaku, dengan hati-hati ; perintah Alex lagi."
"Siap tuan.. ; saut Lean lagi."
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"Hufftt... ;
Diana tiba tiba dibawa paksa oleh beberapa pria berbaju hitam.
Diana mencoba memberontak,
"Lepaskan aku, tolonggggg... ; teriak Diana."
"Tuan, wanita ini tidak mau diam ; ujar bawahannya."
"Beri dia obatnya ; perintah Lean."
"Tolongggg... ; teriak Diana lagi." Lalu mulutnya dibekap dan ia mulai kehilangan kesadarannya.
~~~~~~~Mansion Alex...
Diana masih tertidur karna obat tidurnya..
Setelah beberapa saat Diana mulai membuka matanya.
Seberkas cahaya masuk ke retina matanya, dan ia menyesuaikan cahayanya.
"Uhhhh... ; eluh Diana." Karna kepalanya terasa sakit.
Diana mencoba mengingat kecadian tadi malam sepulang kerja, ia tiba tiba diseret oleh beberapa pria dan ia mendengar samar-samar anakbuahnya berbicara dengan tuannya.
"Demi Tuhan ... ia sedang diculik. Ya Allah tolonglah dirinya ; pikir Diana terbuka."
"Kau sudah sadar ; ucap seorang pria."
Diana terkejut..
"Si... siapa kau? tanya Diana."
"Apa kau tidak ingat denganku? tanya pria itu."
"Sa... saya tidak tau siapa anda tuan. Tuan tolong lepaskan saya, saya tidak punya apa-apa ; ujar Diana."
"Sungguh kau tidak ingat denganku? ulangnya lagi."
Diana mencoba mengerti maksud dari pria yang menculiknya...
"Saya sungguh tidak tau tuan ; saut Diana memelas."
"Hmm.. Apa kau ingat, kau yang menolongku dan membawaku saat aku tergeletak di pinggir jalan ; ujarnya."
"Ahhh... Kau pria malang itu ; saut Diana." Lalu sadar ia sudah berbuat salah.
"Hahahhahaa.... ; ujar pria itu tertawa."
"Ehemmm... Maksud saya, pria yang saya tolong itu adalah anda tuan ; koreksi Diana."
"Menarik.. ; ujarnya."
"Saya sama sekali tidak menarik tuan, tolong lepaskan saya ; ujar Diana."
"Kenapa aku harus melepaskanmu, kau tau semuanya ; ujarnya."
"Tidak tuan ; ujar Diana memohon."
"Kau akan tinggal disini, aku perlu mengawasimu ; ujarnya."
"Tapi tuan... ; protes Diana."
"Turuti atau kau akan mati ; ancamnya."
Ia tidak bermaksud mengancam wanita yang telah menyelamatkan hidupnya, ia hanya menggertak agar wanita itu mematuhinya.
"Siapa nama anda tuan? tanya Diana."
"Kenapa kau ingin tau namaku, apa kau tertarik padaku ;
"Ya.. ia bisa melihat, pria itu sangat tampan dia memiliki wajah campuran lokal dan asing, dan tubuhnya juga seperti roti sobek sangat menggiurkan. Astagfirulah Diana...!!! sekarang bukan saatnya memikirkan itu ; pikir Diana."
"Saya hanya ingin tau nama pria yang menculik saya dan pria yang saya tolong. Dan saya tidak akan pernah menyukai anda ;
"Ohh ya.. Sekarang aku semakin tertarik denganmu, aku akan membuatmu menyukaiku ;
"Tidak akan pernah ;
"Kita lihat saja nanti gadis kecil ; ujarnya."
"Alex.. Kau bisa memanggilku seperti itu ; ujar Alex berlalu pergi meninggalkan Diana."
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"Alex setiap hari selalu datang menemuinya, anehnya dia sangat sopan, baik, dan perhatian. Tapi ia tidak boleh lengah ; pikir Diana."
Ada beberapa waktu, Alex tidak pernah lagi mengunjunginya dan ia tidak seperti dulu dikurung dan selalu diawasi.
Kini ia bisa bebas keluar, selama ia tidak keluar dari wilayah mansion estate begitu mereka menyebutnya karna sangat luas tentu saja ia selalu di awasi tapi setidaknya mereka tidak berada dijangkauannya.
Ajudannya Lean lah, yang selalu mengunjunginya menggantikan bosnya.
Ia pernah sekali menanyakan kemana bosnya pergi. Dan Lean menjawab, bosnya sedang sibuk.
~~~~~~~~Malam Harinya...
Diana selalu sendirian di masion besar ini..
Tiba-tiba listrik padam..
Itu membuat Diana takut, apalagi hari hujan sangat deras dan petir yang menggema..
"Apa ada orang ; teriak anna takut." Sendirian dirumah besar itu.
"Jdarrrrrr.... ; suara petir menggema mengelilingi rumah besar nan gelap itu.
"Ahhhhhhh... ; teriak Diana."
Tapi seseorang menariknya dan memeluknya.
Tubuhnya gemetaran, ia sangat takut gelap dan suara petir..
"Tidak apa-apa aku ada disini ; ujar suara pria yang tak asing."
Diana semakin memeluk erat pria itu..
Dan Diana tertidur dipelukkan Alex, mereka masih berada dilantai. Karna menunggu Diana berhenti gemetaran dan tertidur."
Alex mengangkat Diana ke ranjangnya, dan ikut berbaring bersama Diana disampingnya.
Semakin hari Diana dan Alex semakin dekat berkat insiden mati listrik itu dan Diana mulai menyukai Alex.
Saat Alex sibuk bekerja dan jarang menghubunginya, Diana semakin merindukannya dan tidak ingin jauh-jauh dari Alex.
"Apa ia sudah jatuh cinta? Jika memang, ia sudah termakan omongannya 6 bulan yang lalu ; pikir Diana."
Sudah 6 bulan ia berada di mansion, tidak bekerja, dan tidak melakukan apa-apa.
Tapi hari ini ia sangat merindukan Alex, sampai tidak tahan rasanya..
Diana mulai menangis saking rindunya, Alex tidak bisa dihubungi dan mereka semua tidak mau memberitaunya dimana Alex, mereka bungkam seribu bahasa.
Diana duduk di pinggir pantai dekat mansion, lelah menangis ia terdiam melamun, sampai tidak tau ada orang yang sedang memandanginya.
~~~~~~Dua jam berlalu..
Diana masih diam ditempat..
"Kau sudah terlalu lama disini, lihatlah tubuhmu sangat dingin. Apa yang sedang kau pikirkan? tanya Alex."
Diana tersadar dari lamunannya karna mendengar suara pria yang ia rindukan.
Diana langsung memeluk Alex dan menangis sejadi-jadinya..
"Hiks.... Hiks... ;
"Kenapa kau menangis, apa ada yang mengganggumu ; ujar Alex."
"Aku merindukanmu.. Rasanya ingin mati ; ujar Diana."
"Maafkan aku anna. Aku hanya memikirkan diriku sendiri ; ujar Alex."
"Kurasa aku sudah menyukaimu sangat banyak Alex. Ya aku sudah kalah kau menang Alex, aku sudah tidak bisa menahan perasaanku lagi ; ujarnya."
"Aku mencintaimu Alex... ; ungkap Diana."
Alex tertegun..
Lalu Alex langsung mencium Diana. Dan mereka berciuman sangat lama.
"Aku juga mencintaimu Diana ; ujar Alex."
Dipinggir pantai, dihadapan sunset, dan dihadapan alam nan indah Alex mengakui perasaanya bahwa ia juga mencintai Diana.
~~~~~~~[[[[[[[[[]]]]] END ]]]]]]]]]]]]]]~~~~~~~~