Malam itu, suasana begitu hening, hanya ditemani secangkir kopi. Keheningan membuatku teringat sebuah harapan padanya, walaupun akhirnya tak bersama. Harapanku padanya bagai mimpi yang tak terjaga.
Kini aku sadar harapanku padanya hanya sebagai pemanis hubungan saja. Hingga dia lupa ada harapan yang seharusnya dia jaga. Mungkin dia bukan orang tepat untuk ku titipkan setumpuk harapan. Suatu saat nanti aku tahu engkau akan menyesal dan mungkin, ketika engkau datang padaku aku sudah tak butuh dirimu.
Semua pengorbanan terasa sia-sia. Orang yang ku cintai justru tak pernah memahami. Hidup terus berjalan, sama seperti sinar matahari yang selalu datang setiap pagi. Menyiratkan kegembiraan dan harapan baru. Tapi kali ini dia membawa pergi kegembiraan dan harapan ku.
Aku berharap bisa memilikimu, bahwa engkau adalah jawaban dari doa-doaku yang sekarang menjadi halu. Apakah engkau baik-baik saja disana. Karena ketika engkau baik-baik saja, akupun akan baik. Sepahit-pahitnya kenyataan harus disertai dengan semanis-manisnya harapan. Dia telah menaburkan kepahitan dalam semanis-manisnya kenyataan
Tanpa impian seorang tidak akan berkembang. Tanpa harapan seorang yang bisa kehilangan semangat hidup. Dia yang selalu membuat hari-hari ku menjadi semangat kini telah dipatahkan. Kebahagiaan ini jangan sampai berakhir.
Aku ingin bersamamu selamanya.
cinta tak selamanya indah. Namun aku berharap akan ada keindahan dibalik kenyataan yang pahit ini. Aku berani keluar dari harapan yang tak menjadi kenyataan.
Sampai-sampai, aku bisa menemukan seorang laki-laki yang bisa menjaga harapanku. Dia bernama Arnold. Bersama dia satu persatu harapan menjadi kenyataan. Betapa bahagianya melihat harapan telah menjadi kenyataan. Diantara badai selalu saja ada pelangi indah