Hari itu, tidak jauh berbeda dari hari sebelumnya,seperti mereka juga yang masih memandang benci kami.
Sebut saja namaku Alan dan kekasihku Kelvin kita memang berada di jalur yang salah,menurut agama maupun pandangan masyarakat.
Tapi bukan berarti kita berbeda secara menyeluruh dengan kalian,aku bahkan tidak meminta belas kasihan ataupun ampunan agar kalian menerima kami,tapi tidak! aku bahkan tidak mempedulikan apa yang kalian bicarakan atau lakukan tapi bagaimana aku bisa menghargai kalian yang bahkan pembenci nomor satu di dunia.
Saat itu aku dan Kelvin merasa terpuruk,kami berada di posisi yang benar benar sulit dan tak dapat untuk kami berbagi komunikasi lagi,itu sulit.
Hati Kelvin sangat lembut,ia juga baik hati tampan dan juga mandiri tak lupa ia juga suka menabung ia juga manis,sangat.
Hari itu Kelvin bertanya padaku perkataan yang membuat jiwa relung batinku terluka.
"Apa kau akan menerima jika aku sudah tiada"
Ah mengingat perkataannya membuat hatiku terenyuh sakit,sangat sakit.
Saat dia berbicara seperti itu aku memukul kepalanya walaupun pelan aku juga mencubit pahanya agar ia tidak mengulang perkataannya.
Namun ia malah tersenyum,dan akupun ikut tersenyum,ah begitu candunya dia bagiku.
Aku selalu mengajaknya pergi jalan jalan setiap sore hari,dia terlihat begitu tampan terkena paparan sunset,begitu cantik.
Ia juga tersenyum kala mengingat rambutnya di kala itu mulai memanjang,aku selalu memainkan rambutnya walaupun ia selalu saja merajuk jika ia memegang rambutnya dengan alasan yang selalu sama "Nanti kalo rontok gabisa nempel lagi" ucapannya itu yang selalu terngiang ngiang dan membuatnya tertawa.
Kini ia menatapan nisan di depannya,ia memegang dadanya yang berdenyut nyeri,ia memaksakan tersenyum walau deras air mata menyelimuti pipinya.
Ia mengelus batu nisan itu ia mengangguk nganggukkan kepalanya seolah mengiyakan apa yang Kelvin selalu ucapkan saat memarahinya.
Ia tak bisa berbicara dengan tegar untuk menatap gundukan tanah yang masih terasa basah inipun ia merasa berat,tubuhnya tidak terasa seimbang,ia tersenyum,harus. Kelvin sudah memarahinya sedari tadi.
"A..aku..pulang"
"Bb..besok aku kesini lagi,sekarang mau ujan"
"Kamu pasti kedinginan..kan"
"Maaf aku gabisa jagain kamu"
"Kamu udah tenang disana..jj..jadi..kamu gabakal sakit lagi..maaf..kalo kamu liat...liat mereka tersenyum...tersenyum karna kita berpisah..maaf..aku pergi"
Alan berjalan dengan sekuat tenaga,hatinya terasa tersayat saat ia harus berjalan dengan air mata yang mengalir begitu deras,ia menatap langit dan tersenyum.
Ingatannya berputar kembali ketika ia mengingat perkataan yang mereka lontarkan,namun sekarang kalimat jahat mereka berubah jadi tawa ketika Kelvin meninggalkannya untuk jangka waktu yang lama.
Ia tersenyum mengingat perkataan mereka,betapa bahagianya mereka menjatuhkan dirinya dan menertawakan dirinya di sela penderitaannya.