“Kita dipertemukan dalam syair yang dirumuskan dalam ilmu nahwu,Dilengkapi dan dirangkai dalam ilmu Sharaf. Jika ukhti menerima akhi Lillahi taala terimalah tanda cinta yang dipersatukan dalam do’a”
Cinta sepucuk surat biru
~Pangeran Nahwu
•••••
Ada seorang gadis cantik nan anggun yang duduk dipojok mushola,yang sedang asyik pada benda yang dipegangnya. Kedua bola matanya hanya memandang buku berwarna kuning dengan tulisan arab yang kecil tanpa harakat. Mungkin sudah satu jam lebih kedua matanya terpaku pada kitab kuning tersebut.
Konsentrasi gadis itu lengah saat melihat atas langit yang mulai mendung. Seketika itu dia keluar dari Mushola dan segera pergi menuju kamarnya.
Belum sampai kamar, air diatas langit mulai berjatuhan. Dia melihat beberapa santriwati yang panik untuk mengangkat jemuran.
(Kamar 04,Shifyah)
“Zara!Zara!zara!”teriak gadis dengan hijab ungu nya.
“Berhenti!ada apa sekarang?”jawab Zara yang sedang merapikan loker pakaiannya.
“Aku tidak paham pelajaran ini?”tanya Shasa.
“Fa,bantu aku angkat jemuran!”
“Aku sibuk”jawab Ahfa sambil memakan camilan.
“Fa, cukup menolongku mengangkat selimut,kamu tidak mau?”
“Kamu bisa mengangkatnya di waktu yang sama saat berbicara padaku”
Tok...tok..tok
“Zara! seseorang mengetuk”
“Sangat mengganggu,aku datang!”Teriak Zara.
Ceklek.
Hira datang sambil memberikan beberapa selimut yang dia ambil dari jemuran lalu memberikannya pada Zara.
“Astaga!terima kasih Hira”
“Hujannya begitu deras dan kalian melupakan untuk mengangkat jemuran?”ucap Hira mengambil beberapa pakaian ganti.
“Kau habis darimana?”tanya Shasa.
“Kau masih bertanya?dia adalah pahlawan wanita yang kelak akan menjadi kebanggaan Kiyai”
“Terima kasih pahlawan Ahfa!”
“Oh iya kalian sudah ada yang mengambil antrian mandi?”
“Belum!”ucap mereka serentak.
“Apa yang kalian lakukan?jika belum ada yang mengambil lebih awal kita tidak akab bisa mandi besok!”Cetus Zara khas seperti orang Jakarta.
“Aku sudah mengambilnya”
“Ah Hira,kau yang terbaik”ucap Shasa dan Ahfa sambil memeluk erat Hira.
“Untung saja ada Hira,kalau tidak kita bisa hipertensi besok karena Cinderella dari kamar sebelah”
“Huff...Hir kita sama sama dari kota bagaimana kamu bisa lebih rajin mengulang kitab sepanjang hari?”
“Emm aku berfikir aku sudah disini,jadi akan sia sia jika tidak Belajar dengan baik”
Ketiganya menggeleng,”Hira,jika kau tidak mendapatkan cinta Gus nilai ujian ku akan turun”
“Apa itu Nazar?Kalau gitu aku akan puasa tiga hari jika Hira jadi menantunya romo Yai”ucap Shasa.
“Apa yang kalian katakan? Disini sangat membosankan,tidak ada satupun pria tampan untuk mencuci mata... apa kalian masih tidak sadar penghuni disini semuanya adalah wanita?”ucap Ahfa.
“Hmm benar juga,semua guru juga wanita jika begini kita seperti sabun dalam kemasan”
“Kebanyakan Gus juga tua dan dewasa,kalau gitu aku mencabut semua kata kata ku”
“Apa yang kalian ributkan,besok masih ada ujian lisan”Ucap Zahira.
“Hiks hiks disini sangat membosankan, kenapa tidak ada satu hari untuk berkunjung ke pondok putra”Rengek Ahfa membuat mereka semua tertawa.
•••••
Malam harinya semua santriwati pergi ke kelas Diniyah untuk belajar kitab tambahan. Tak tahu mengapa hari ini Hira begitu ceroboh sekali untuk meninggalkan kitab kecil di lemarinya. Padahal tidak ada segan untuk santri yang terlambat.
“Kitab ku tertinggal,aku mau kembali sebentar”
“Kita sudah diluar,jika terlambat kamu akan dihukum”
“Jika aku tidak membawa kitab aku juga akan dihukum,lebih baik aku kembali”
“Masih ada sepuluh menit untuk kamu kembali, Jangan sampai terlambat aku akan menyimpankan tempat untukmu”
Zahira kembali segera untuk mengambil kitabnya. Suasana pondok begitu sepi karena penghuninya sudah berkumpul di Aula untuk kelas Diniyah.
Saat membuka pintu pondok Zahira langsung melihat sosok pemuda tampan dengan baju koko berwarna putih. Wajahnya bersinar dengan peci hitam yang menambah aura ketampanannya.
Pemuda itu terlihat didalam rumah Gus Ahmad,salah satu Gus yang bertanggung jawab dengan pelajaran di pondok putri Apa dia putranya?.
Tatapan mereka bertemu tidak lebih dari tiga detik . Zahira langsung pergi mengambil kitabnya dan berjalan menuju aula.
“Zahira,kesini”ucap Zara melambaikan tangannya. Lalu Hira duduk di sampingnya.
“Aku terlambat satu menit,apa belum dimulai?”
“Tenang saja,hari ini free kelas karena guru nya sedang menyiapkan acara maulid nabi di aula besar besok”
“Aku lupa kalau besok maulid Nabi”
“Apa itu penting,yang penting kita bisa pergi untuk mencuci mata besok”
“Astagfirullah kamu ini”ucap Hira.
Zahira tidak mengerti tiba tiba ada banyak gadis yang mengerumuni nya. Begitu juga dengan teman sekamar Hira yang merasa heran jika temannya itu menjadi populer dalam waktu singkat.
“Hira,apa tadi kamu kembali kepondok?”
Hira mengangguk,”Aku kembali mengambil kitab”ucap Hira yang tak tahu mengapa membuat para gadis itu tersenyum renyah.
“Ada apa dengan kalian?”tanya Zara.
“Katanya Senior dari Yaman pulang sekarang!apa kamu tidak melihatnya?apa dia tampan?”
“Apa pemuda itu tadi?”ucap Lirih Hira.
“Hira kau sungguh melihatnya”tanya Ahfa ngegas.
“Apa dia tampan Hira?”tanya Para gadis itu. Betapa anehnya mereka jika didalam Aula diniyah harus membahas kaum Adam.
“Apa perlu aku jawab?”
“Perlu!”ucap Dua puluh lima gadis serentak termasuk teman temannya.
“Bagaimana Hira apa dia tampan?katanya dia dikirim Kiyai sendiri ke Yaman, mendengar itu dia pasti sedikit cerdas”
“Jawab lah Hira barangkali keinginan kita untuk mencuci mata bisa terijabah dalam semalam”
“Aku tidak tahu,aku hanya menatapnya tidak lebih dari tiga detik”
“Wow...kalian saling bertatapan?”ucap Semua gadis itu begitu liar sampai menggebrak meja.
“Sungguh Hir?apa mata nya terlihat cantik”
“Benar hira apa dia tampan”
“Ya ampun putranya Gus pasti bening bening”
“Pangeran ku”
Tap.
Tap.
“Ada apa ini!”ucap Ning Ima. Ustadzah paling galak di kelas Diniyah,”Kalian begitu ramai apa tidak mengerti etika seorang wanita?”
“Maaf ustadzah!”
“Kelas A dihukum membersihkan halaman besok,agar kalian tidak bermain main dengan etika lagi!”
“Baik Ustadzah”
“Jika tidak selesai kalian tidak akan pergi ke Aula besar”ucap Ustadzah Ima lalu melanjutkan pelajaran nya dengan suasana yang begitu tegang.
Beberapa menit kemudian....
“Zahira kamu dipilih sebagai perwakilan untuk pidato acara besok”
“Saya ustadzah?”
“Iya kamu,Ning habibah,Ning Aisyah,dan Ning Fathimah sudah ada tugasnya sendiri hanya tinggal perwakilan dari pondok putri”
Zahira tersenyum,”Tapi di aula besar....”
“Semua ustadzah percaya padamu,kamu hanya perlu pidato tentang Maulid Nabi saja”
Zahira mengangguk,”Baik Ustadzah,saya akan berusaha menjalankan amanah”
“Saya bangga padamu”
•••••••
“Siapa dia?”batin seorang pemuda didalam ruang baca nya saat tak sengaja mengingat gadis di hadapannya tadi.
•••••
(Aula besar Al-Huda).
Acara maulid Nabi digelar begitu mewah dengan lantunan ayat-ayat suci dan bacaan shalawat.
Para Santriwan memakai pakaian putih dengan sarung hitam dan duduk disebelah barat aula. Sementara para Santriwati duduk di aula timur dengan style berwarna putih putih.
Mereka berkumpul didalam satu aula. Namun, terpisahkan dengan pembatas kain di tengah tengah aula.
Satu persatu perwakilan menunjukan bakat mereka untuk merayakan hari kelahiran Nabi. Hingga tiba saatnya Hira yang berpidato begitu merdunya ditambah lagi dengan lantunan sedikit hadist dari bibirnya.
“Afnan,kamu begitu khusyuk”ucap Ali.
“Apa terpikirkan suara gadis di sebelah?”
“Bukan begitu, hanya ingin membuat sedikit penilaian”Ucap Afnan.
“Yang mana,aku tahu semuanya?”jawab Ali
“Kamu?”
“Afnan,dia yang menyusun acaranya dan satu satunya orang yang diam diam berani mengintip pondok putri”
“Hey itu tidak benar,kami berteman sangat lama dan sekarang Afnan juga baru kembali,kenapa kamu sangat keterlaluan untuk membicarakan keburukan ku”
“Sudahlah yang terpenting Afnan kita sekarang ini sedang tertarik dengan suara gadis di sebelah”
“Katakan yang mana?apa tertarik dengan suara Ning Fathimah yang membaca surat Al Baqarah tadi?”tanya Hanan.
“Nan,ning Fathimah yang membaca Qari,Ning Aisyah membaca terjemahannya,lalu Ning Habibah yang bernyanyi shalawat”
“Kamu benar benar berbakat dalam mengingat hal ini”ucap Afnan.
“Ali,lalu yang berpidato?”tanya Hanan.
“Aku tidak tahu, katanya dari pondok putri namanya Zahira”jawab Ali membuat Afnan tersenyum.
Adzan Subuh pun mulai berkumandang,para santri bergegas bersiap shalat subuh berjamaah di masjid besar Al-Huda ,masjid khusus pondok.
Suara adzan hari ini sangat berbeda dari biasanya. Suara nya sangat merdu dan syahdu. Para santriwati merasa terpesona begitu juga dengan Zahira.
"Wah subhanallah pasti itu suaranya Muhamad Afnan yang tampan dan cerdas itu"ucap salah satu santri yang terpesona dengan suara adzan
"Muhammad Afnan??siapa gerangan sungguh suaranya sangat merdu karena ia menghadirkan hati ketika berkumandang "batin Hira karena sangat tersentuh mendengar suara adzan nya.
shalat Subuh pun mulai digelar berjamaah. Kemudian mereka semua Membaca ayat suci Al Quran seperti lebah yang menjaga Sarangnya.
Setelah semua itu mereka pergi ke kamar untuk bersiap pergi ke kelas santriwati . Tak lupa juga membawa kitab hidayah untuk memaknai bersama gus Arif.
“Andaikan di dunia hidup bisa memilih,pasti semua orang akan memilih hidup dengan bahagia dan yang pasti banyak yang melupakan sang penciptanya. Maka dari itu Sang Maha Kuasa memilihkan hidup untuk umatnya yang berbeda beda”
Lamunan Hira buyar seketika, karena merasakan ada sebuah tangan menepuk bahunya.
“Zahira!”
“Hayo melamun apa?”
“Siapa yang melamun?”
“Ustadzah yang ngelamun...ya kamu lah”
“Hmm sebenarnya aku tiba-tiba kepikiran dengan tausiyah Gus Arif kemarin”
“Gus yang ganteng itu?”
“Apa itu penting?”
“Iya iya maaf, emangnya ada apa dengan tausiyah nya?aku sih kemarin Cuma fokus sama mukanya hehe”
“Tidak papa,hanya terpikirkan apa aku kurang sabar dan ikhlas sampai masih aja ada orang yang merendahkan dan memandang ku sebelah mata”
“Kamu sudah keterlaluan malah kesabaran nya,Hira...itu mungkin cara Allah untuk menguji kamu menjadi yang lebih baik”
“Iya aku tahu,terima kasih”
“Jangan lupa kalau gus Ali juga pernah bilang kalau Akhlaq mulia itu apabila direndahkan maka dia akan meninggikan derajat orang yang direndahkan”
“Kamu kalau serius seperti ini cantik juga”Gurau Hira.
“Aku masih bisa diandalkan lah”ucap Ahfa.
Sepulang dari kelas,Zahira melihat sosok pemuda itu lagi diseberang batas pagar. Zahira membuang jauh jauh pikiran itu lalu pergi ke kamarnya untuk bersiap siap ke sekolah.
“Hari ini menyenangkan sekali karena ada Matematika dan Bahasa Inggris”Ucap Zara menata bukunya.
“Kemarin aku sempat melihat ada tiga gus tampan dari Yaman itu”
“Sungguh ada Tiga?”
Ahfa mengangguk,”Iya,aku dengar namanya Afnan,Ali,sama Hanan”
“Dengar darimana?”
“Dari pengurus yang diam diam ghibah di kamar mandi”
“Astagfirullah Fa”ucap Shasa membuat teman sekamar yang lain ikut tertawa .
Setibanya dari kelas,Zahira sedikit dikagetkan oleh sebuah surat yang bergeletak diatas meja dengan warna biru kesukaan Zahira.
“Milik siapa ini?”batin Hira.
Zahira mengambil surat itu dan sedikit terkejut saat melihat namanya dengan tulisan arab yang sangat indah.
Perlahan lahan,Zahira mulai membuka amplop itu dan membaca isinya.
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum.
Semoga kamu selalu dilimpahi dengan rahmat Allah SWT. Tak ada kata yang bisa ku ucapkan untuk membuka tulisan ini kecuali Bismillah.
Langsung saja Zahira”Dalam hidup manusia takdir itu sudah digariskan sendiri oleh Allah untuk umatnya.
Kamu harus Selalu berhuznudzon kepada orang yang selalu memandang mu sebelah mata.suatu saat adakalanya mereka akan menyadari bahwa kamu lebih baik dari apa yang mereka pikirkan
Tersenyumlah...
Bahwa nikmat Allah sangat luas dan tiada henti hentinya.dan bersabarlah karena jika kesabaran ada batasnya maka keimanan mu juga ada batasnya.
Wassalamu’alaikumwr.wb
Pangeran Nahwu.
Zahira terpana dan terpesona oleh setiap kata yang tertulis dengan sangat indah dan penuh makna yang terkandung didalamnya. Bagaimana ini bisa terjadi sesuai apa yang dipikirkan Hira? Siapa dia?.
Zahira mulai dibingungkan dengan surat yang entah darimana asal nya.
Didalam hatinya dia hanya bisa berterima kasih dan bersyukur atas kata kata yang ditulis indah dengan tulisan pego yang cantik di setiap katanya.
“Zahira!ada apa?”ucap Ahfa membubarkan lamunan Hira.
“Kamu mengangetkan ku Fa”
“Kamu sih melamun terus”
“Tidak”
“Terserah lah,jangan melamun!”
Zahira tersenyum dan mengangguk.
Malam harinya Zahira pergi ke Mushola untuk melalar hafalannya . Hari semakin larut,sangat sunyi seolah tak ada makhluk yang hidup saat ini kecuali Zahira dengan kitab ditangannya.
Dirinya tidak menyadari jika ada seseorang berada dibalik kain pembatas yang menemaninya belajar.
Saat matanya sudah mulai menyipit. Zahira mengemasi buku bukunya dan beranjak pergi ke kamarnya.
Satu tangga.
Dua tangga
Tiga tangga.
Zahira melihat surat yang tergeletak di atas anak tangga. Saat melihat sekitar Zahira mendapati sosok pemuda yang baru saja keluar dari mushola bersamanya.
“Dia?”tanya Zahira dalam hati.
Zahira melupakan segera apa yang dipikirkannya karena merasa itu adalah efek dari matanya yang sedang mengantuk.
Sesampai dikamar Zahira segera membuka surat yang dia temukan karena merasa tidak bisa tidur sebelum membaca surat itu.
Didalamnya dia menemukan lukisan berupa seorang gadis yang sedang memegang kitab disebuah kursi taman dan sedang tersenyum.
“Apakah ini aku?cantik sekali”ucap Zahira tersenyum walaupun dalam benaknya masih terus terpikirkan oleh seseorang yang mengirimkan nya.
••••••
Hari demi hari bahkan berbulan-bulan Zahira selalu mendapatkan surat dengan amplop berwarna biru dengan pengirim yang sama. Setelah lulus dari pondok Zahira menetap disana selama satu bulan untuk menyelesaikan hafalannya.
Hari ketiga saat Zahira melalar hafalannya di kursi taman. Dia menemukan sepucuk surat dengan amplop yang sama.
Zahira berfikir kalau itu mungkin akan menjadi surat terakhir yang diterima nya karena setelah ini dia akan ikut kedua orang tuanya untuk tinggal di Makasar.
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum.
Teruntukmu satu nama yang terselip dalam setiap doaku untuk semua kebaikan yang ku pinta untukmu.
الله يفتحها عليكم ))
Semoga Allah membuka jalan untukmu. Di setiap langkah,usaha, perjuangan,dan kesuksesan mu.
Maaf sebelumnya aku telah mengganggu hari harimu dengan surat surat yang telah ku berikan. Mungkin kau selalu bertanya siapa aku yang mengirimi mj surat selama berbulan-bulan.
Kamu harus sabar dan menunggu sampai waktunya tiba. Aku akan datang dengan wujud asliku dan bukan sekedar surat biru seperti ini.
Salam hangat dariku
Pangeran Nahwu.
Hari,bulan pun silih berganti. Akan tetapi pangeran Nahwu itu tak kunjung datang untuk menemui nya,mungkin pikiran Hira salah kalau pangeran itu tak akan pernah datang dalam wujud aslinya.
Saat hari hari terakhir Zahira tinggal di pondok Al-Huda. Tiba tiba ada seorang santri putri yang mendatangi nya,dia bilang bahwa ada seseorang yang menunggunya di depan mushola pondok putri.
Tanpa berfikir panjang Zahira langsung berlari ke arah sana.
“Ahfa!”
“Zahira!”
Perlahan-lahan Zahira berjalan ke arahnya lalu memeluknya.
“Kenapa kamu bisa ada disini”
“Aku datang untuk menjawab seluruh teka teki mu tentang surat biru yang telah kamu terima”
“Kok kamu tahu tentang surat itu?aku juga tidak pernah bercerita padamu”
Ahfa tersenyum,”Semua surat biru yang kamu terima aku yang mengirimkan nya dan meletakan nya diatas mejamu”
“Jadi kamu pangeran itu?”
“Tunggu dulu,aku memang yang mengirimnya untukmu tapi bukan aku yang menulisnya, mungkin hari ini adalah hari yang tepat untukmu mengetahuinya”
“Siapa dia?tidak,dimana dia?”
“Didepan rumah Romo Yai , seberang jalan masjid besar”
Tanpa berfikir panjang Zahira langsung berlarian kesana karena berfikir orang tua nya akan segera datang untuk menjemput nya.
Langkah Zahira terhenti saat melihat sosok pemuda di hadapannya.
Brakkkk.....
Tuhan sudah mentakdir kan Zahira untuk tertabrak dengan mobil yang melaju cepat dari arah yang berlawanan.
Hampir seluruh tubuh Zahira dipenuhi dengan darah yang mengalir deras. Kepalanya yang terbentur dengan aspal jalan yang kasar. Juga pecahan pecahan kaca mobil yang mengenai tubuhnya. Laki laki tersebut tersentak kaget dan segera menolongnya untuk dilarikan ke rumah sakit.
Dan dari setengah sadar Zahira sempat melihat sosok laki laki tersebut dan perlahan lahan mulai menutup mata mungilnya.
“Pangeran senja?”
“Itu aku”ucap Afnan membuat Zahira tersenyum.
Enam puluh menit kemudian, keluarga Zahira sampai di rumah sakit tempat Hira dirawat.
Dengan langkah yang lebar lebar keluarga Hira menuju ke ruangan nya tempat Hira dirawat.
Mereka melihat Zahira yang tengah berbaring lemah di ranjang rumah sakit.
“Anda keluarga nona Zahira?”
“Saya mamanya”
Satu Minggu sudah Zahira tertidur. Afnan berharap kini ia hanya tertidur dan berharap esok hira akan bangun untuk memberikan senyuman manis seraya menyapa pagi.
Tubuh Afnan membeku saat mendengar perkataan dokter yang menangani,”Hanya alat alat rumah sakit inilah yang menjadi penopang kehidupan pasien,saat alat alat ini dilepas...”ucap sang Dokter,”semua keputusan ada ditangan keluarga”
Afnan tidak mampu menahan tangisnya saat dokter mengatakan Hira hanya memiliki presentase hidup sebanyak 20%.Jum’at pada hari inilah segala peralatan untuk menopang Zahira akan dilepas.
“Ya Allah hamba mohon sadarkan lah Zahira,engkau maha berkehendak dan berkuasa....tidak ada yang mustahil bagimu di dunia ini”
“Kamu....”ucap Hira yang tiba tiba membuka matanya. Afnan menatap tidak percaya saat melihat mata yang sudah lebih dari satu minggu terpejam rapat kini sedang menatap nya.
“Zahira”ucap Afnan segera menekan tombol darurat sebelum Zahira tidak sadarkan kembali.
Tak lama kemudian Perawat datang dan Afnan menceritakan semuanya,”Bagaimana suster?”tanya Afnan.
Perawat itu tersenyum. Namun,tak ada yang mengerti arti senyuman itu,”Semoga keajaiban benar benar terjadi”ucap Suster itu.
“Maksud suster?”tanya mama Hira.
“Dokter akan menjelaskan semuanya pada anda,saya tidak punya wewenang untuk itu”
Afnan kembali menceritakan pada dokter yang menangani Zahira. Dokter itu tersenyum dan mengatakan kalau perawat itu Sudah menceritakan semuanya,”Allah telah menunjukkan kekuasaan nya, kemarin saya memeriksakan keadaan Zahira hampir 99%tidak memberikan respon,Saya pun mengambil kesimpulan kalau Zahira tidak akan bangun dari komanya karena jika masih menggunakan alat medis dan obat-obatan nya itu hanya akan merusak tubuh Zahira.....Namun hari ini pada saat akan melepaskan nya dia memberikan respon”tutur dokter membuat keluarga Zahira dan Afnan tak lupa untuk segara bersyukur atas kebahagiaan ini.
“Apakah Zahira dinyatakan telah sadar dari komanya?”
Dokter itu mengangguk lalu pergi
“Kamu?”
“Saya Muhammad Afnan ibnu Azzam”ucap Afnan mencium punggung tangan ibu Zahira.
Hening.
“Tante,saya mau meminta restu, apakah boleh saya menjaga Zahira lebih dari Tante menjaga nya?”
“Apa kamu menyayangi anak saya?”
“Saya tidak tahu,rasa apa ini didalam hati saya,tiba tiba ingin lebih dekat lagi dengan anak tante”ucap tegas Afnan.
Hati yang sangat baik dan wajah yang cantik membuat Afnan lebih mantap kepada Zahira.
Saat mulai membuka matanya,Zahira tidak mengingat satupun tentang apa yang terjadi pada dirinya ketika berada di dalam pesantren.
Afnan hanya bisa pasrah kepada tuhan dan yakin kalah Allah akan mempersatukan mereka dengan kehendaknya.
“Maafkan saya Afnan, tapi saya benar benar tidak bisa memaksanya untuk memperburuk keadaan nya”
Afnan tersenyum,”Saya mengerti,dulu saya mendekati nya hanya dengan sekadar surat tapi suatu hari saya akan datang untuk melamarnya secara terang terangan”
Afnan tersenyum,"Saya akan menunggu nya"
Bunda Zahira tersenyum.
25 tahun kemudian.....
Zahira melanjutkan pendidikannya disekolah jurusan kedokteran selama tujuh tahun. Mungkin sedikit aneh jika akhir gadis pesantren itu menjadi seorang dokter. Namun, itulah kenyataannya.
Dulunya sosok zahira memang pernah belajar di pesantren dan mengabdikan dirinya kepada sang kiyai. Akan Tetapi menjadi dokter adalah impian Hira sejak kecil. Selain itu dirinya juga menginginkan seorang suami dokter yang baik dan tangkap.
Ya,Tetap saja jodoh ditangan tuhan tidak tahu jodoh hira seorang dokter ataupun bukan yang penting adalah pria yang shaleh dan berpegang teguh atas prinsip nya.
Zahira ingin menjadi seorang residen anestelogi yang cerdas,hangat dan menjadi pendengar baik keluhan para pasiennya. Namun, zahira menjadi seorang gadis yang menyerah menjadi seorang dokter karena tak mampu menyelamatkan ayahnya sendiri.
Bandara.
“Gawat!!sesuatu hal terjadi,”.ucap pria berlarian mencari pertolongan membuat hira bergegas lari untuk menolongnya. Disana ia sudah melihat banyak orang berkerumun dan seorang pria yang tergeletak tidak sadar diatas lantai.
“Aku akan memeriksanya”
(Mendekatkan telinganya kejantung)
“ambil kantong ambu dan tabung oksigen,panggil ambulance”perintah hira.
“dia bersikap aneh dia batuk dan selalu mengatakan kehabisan nafas, pokoknya dia mengeluh sakit perut dan tenggorokannya sakit”.
(Mengambil stetoskop dan memeriksa detak jantungnya).
Apa ada yang tersangkut di tenggorokannya??batin hira.
“Apa yang dia makan?”tanya hira”mungkinkah ada yang tersangkut di tenggorokannya?”ucap lirih hira.
“ikan!dia menelan tulang ikan dan katanya itu sakit”ucap ningsih istrinya.
“Tulang ikan?”ucap hira.
(Dokter hira mencoba mengembalikan pernafasannya dengan menekan perlahan kantong oksigen).
“Tenggorokannya sangat bengkak dan oksigen tidak bisa masuk”ucap hira mulai panik.
“lalu apa?”.
“Apa ambulance sudah dekat”tanya hira
“belum”.
“Apa lagi sekarang?dia harus diintubasi tapi saluran pernafasannya bengkak jadi kantong oksigen ini tidak membantu”.
Ya alat kritoriodomi.batin hira dengan jantung berdegup kencang.
(Zahira mencari alat itu di tasnya tapi nihil didapat).
“Kita harus bagaimana?apa dia akan mati?”.
“dia akan mati?kurasa tidak”.
“tolong diam”ucap hira yang panik mulai kesal dengan keramaian orang orang yang berkerumun disana.
“Zahira....berfikirlah ...jangan panik .. berfikirlah ada apa dengan pasien ini?”.
“infeksi leher bagian dalam”ucap seorang pria tampan dengan tubuh yang ideal dan berkulit putih,juga dengan rambutnya yang tersisir rapi.membayangkan matanya dari biji yang coklat hazelnut. Sempurna!!.
“siapa yang bicara?infeksi apa?”ucap hira yang sedikit panik. Pria itu langsung duduk jongkok dan membantu hira menyelamatkan pria itu.
“kamu bilang apa?infeksi apa?”tanyanya lagi.
“Kamu tidak mengerti?ada infeksi di tenggorokannya,tulang ikan merobek tenggorokannya dan bakteri masuk ke luka robekan dan menyebabkan infeksi”.
“Benar,infeksinya menghalangi pernafasannya”.ucap zahira dengan anggukan kepalanya.
“Pernah melihat kasus seperti ini?”ucap pemuda itu dengan tangan yang memasukan cairan kedalam suntikan.
“tidak”jawab hira dengan keringat yang mulai dingin.
“Kamu tahu apa yang akan kulakukan?”.
“ti...dak”.
“ini harus masuk ke saluran pernafasannya”ucap pemuda itu sambil memberikan suntikan yang sudah berisi cairan”pernah melakukannya?”.
“Belum”
“Kalau begitu lakukanlah”ucap pemuda itu memberikan suntikannya kepada hira.
(Gugup,bengong,takut itulah yang dirasakan hira karena pria itu adalah pasien pertamanya).
“Jika kamu tidak bergegas dia akan mengalami gagal nafas”
“A__pa ka...mu dokter?”.
“...””jika kamu tidak melakukan apapun pria ini akan mati”.
(Masih gugup).
“Lihat ,membran kritoroid dibawah tulang rawan tiroid dan diatas tulang rawan krikoid sedalam dua cm dengan sudut 45 derajat,lakukanlah”ucap pemuda itu sambil memberikan petunjuk. Dengan penuh keberanian zahira mengambil suntikan itu dan mulai menyuntik daerah yang ditujukan pemuda itu.
“oke,bagus”ucap pemuda itu sambil membenarkan kantong oksigen itu.”remas kantong ambu sesuai interval pernafasan yang tepat”
(Zahira meremas secara perlahan dengan petunjuk pemuda itu)
“whoa dia bernafas”
“dia tidak mati,dia hidup”.
“alhamdulillah mereka berhasil menolongnya”.
Seruan orang orang yang berkerumun disana dan sangat berterima kasih kepada gadis dan pemuda tampan itu. Tak lama kemudian ambulance datang dan menindaklanjuti perawatan pria itu.
“Dia zahira Alesha...aku berhasil menunggunya”ucap pemuda itu lalu pergi.
Zahira mencoba keluar dari kerumunan dan berlari mengejar pemuda itu untuk berterima kasih padanya. Namun sayangnya pemuda itu pergi terlalu cepat.
Ya Allah terima kasih kau sudah membantu hamba. Semoga pria itu mendapat apa yang diinginkannya.
Teman baru.
Rumah sakit Husada.
“kamu orang baru”.
“Aku hanya magang”.
“Dokter magang?yang penting kamu menyelamatkannya,kamu mendiagnosis infeksi leher bagian dalam hanya dengan melihat. Aku terkesan”
“Permisi sebentar”ucap suster yang baru saja lewat dan dokter segera memeriksanya.
“Tunggu,bukan..a..ku”ucap lirih zahira.
“Pasien ini sudah baik tapi masih perlu pengawasan”ucap dokter kepada susternya itu lalu pergi.
Zahira keluar dan segera memasuki ruangan kepala dokter wei.
Ruang khusus kepala dokter wei.
“Assalamu’alaikum”.
“Walaikumsalam oh kamu masuk”ucap dokter wei lalu mempersilahkan zahira duduk.
“Oh siapa namamu?”.
“Zahira”.
“Saya kepala dokter disini, besok kamu akan berada dibawah pengawasan ku,jika kamu mempunyai pertanyaan kamu bisa datang padaku selagi aku ada”
“Baik”
Tiba tiba dari pintu datang seorang dokter cantik lengkap dengan pakaian putihnya. Rambutnya panjang terkuncir biasa dengan masker menutupi wajahnya.
“Dokter icha bagaimana keadaan pasien kemarin”.
“Ada masalah di bagian alat vitalnya tapi sekarang sudah baik”
“Oh iya dokter hira ini dokter Icha, dia dokter spesialis anestesi profesional disini kamu bisa bekerja dengannya”.
“Zahira”ucap zahira cukup santun .
“Ica”jawabnya dingin.
Ya, sebenarnya umur dokter Icha tak jauh darinya. Mungkin hanya beda angkatan saja selama setahun tetapi tetap saja dia benar benar seorang dokter profesional kedua di rumah sakit Husada. Hal itu wajar sekali karena Icha keturunan dari seorang dokter terkenal yaitu kakek,ayah dan ibunya.
Selepas keluar dari ruangan. Zahira menghela nafas lega lega karena sebelumnya ia tak pernah berada di situasi menegangkan .
Bughh.
“maaf maaf”.
“Iya nggak papa”.
“Kamu Tidak papa kan?”ucap gadis yang kelihatannya gadis magang.
“tidak papa aku baik”
“Halo namaku Dira,aku pengacara magang yang bertugas di rumah sakit ini”.
“Zahira”.
“Baik,apa kepala Wei masih ada?”.
“Lima menit yang lalu masih ada”.
“Oke aku duluan ya”ucap dira sambil berlari menuju ruangan kepala dokter wei.
“Walaikumsalam”batin hira
.......
Flashback
Seminggu yang lalu ..
“Dokter hira kerja yang bagus,kamu mendapat rumah sakit mana”.
“Rumah sakit Husada Jakarta”.
“Wah rumah sakit besar?”.
“Selamat tahap intreship”.
“Terlalu memuji,aku masih dokter biasa yang perlu bimbingan”.ucap zahira.
“Terlalu rendah hati aku yakin kamu akan mengalahkan dokter profesional disana”.
“Kamu sendiri”.
“Aku di rumah sakit pontianak”.
“Senengnya kita mendapat surat registrasi dokter”ucap dokter nina.
“Alhamdulillah”.
“Kamu langsung ke bandara besok?”.
“Iya”
“Semoga berhasil menjadi dokter spesialis seperti yang kamu impikan”.
“Aku masih belum pada tahap itu”.
“Aku pergi dulu”.
“Iya”
Kriing.... kring...
Suara dering telepon berbunyi dari dalam tas kecil zahira.
“Assalamu’alaikum zahira,udah sampai?”
“Walaikumsalam bunda, hira mau berangkat ke bandara bun”
“Oh Alhamdulillah kamu dijemput sama Azka ya nanti hubungi bunda saat udah sampai”.
“Baik bun”.
“Assalamualaikum”.
“Walaikumsalam”.
End flashback.
Keluarga hira sudah lama tinggal di Amerika karena tugas ayahnya. Tak hanya di Amerika sejak kecil zahira sudah sering diajak pindah pindah tempat tinggal mulai dari,malaysia,yogyakarta,makasar,jakarta,dll.
Untuk itulah alasan hira ditinggalkan di pondok pesantren yang dekat dengan rumah neneknya di Tuban. Agar pendidikan hira berjalan mulus dan dapat menjadi pribadi yang baik.
Orang tuanya sendiri tak menyangka jika zahira bisa mendapatkan prestasi yang luar biasa di pondok pesantren. Padahal tak satupun keluarga nya yang punya pengalaman menjadi santri.
Ibunya adalah seorang pengacara sedangkan ayahnya adalah seorang prajurit militer hingga kakek dan neneknya.
Zahira sendiri adalah seorang santri yang bercita cita menjadi seorang dokter. Sedangkan Azka menjadi dokter magang di rumah sakit yang sama dengan hira.
Tutt..tut
“Assalamualaikum bunda hira sudah sampai”.
“Walaikumsalam sayang, Alhamdulillah kamu baik baik ya sama Azka,bunda tau kamu satu rumah sakit dengannya,kamu sendiri jaga kesehatan lain kali bunda sama ayah akan balik ke indonesia.”
“Iya bun”
••••••
Saat membantu suster untuk mendorong brankar ke ruang operasi. Zahira melihat sosok pemuda yang nampak familiar baginya.
“Dokter Afnan!pasien cedera peluru di perutnya sekitar dua inchi”
“Segera masuk ke ruang operasi!”ucap Afnan segera melakukan operasi di dalam.
“Afnan? Pangeran senja,kah?”batin lirih Zahira bingung.
Ya,ingatan Zahira sudah kembali dua minggu yang lalu walaupun masih samar samar. Disaat itu dia tidak lagi mendapatkan surat biru dari pangeran senja. Dirinya juga orang yang gagal ta’aruf sebanyak enam kali.
“Segera! Kenapa masih bengong!”ucap tegas Afnan pada Hira membuat gadis itu benar benar terkejut.
Delapan jam proses operasi akhirnya berjalan dengan lancar. Afnan merasa tidak enak karena sedari tadi selalu tegas pada Hira karena kepanikannya.
“Ikut saya sebentar”ucap Afnan kepada Hira lalu pergi ke ruangan nya.
“Itu tadi... maaf”
Zahira tersenyum,”Saya yang salah itu tidak masalah,saya tidak akan mengulangi nya lagi”.
“Apa kamu punya shift malam?”
Zahira menggeleng,”Tidak”
“Tunggu saya di taman”ucap Afnan lalu pergi.
•••
(Ditaman).
Tap
Tap.
“Assalamualaikum Zahira”ucapnya sangat lembut di arah belakang Zahira. Tak tahu mengapa tubuhnya menengang seketika. Dia sedikit mengingat akan suara yang sangat familiar di telinga nya. Lebih tepatnya suara yang ia dengar tujuh tahun yang lalu saat dia sedang koma di rumah sakit.
“Wa... Alaikum...salam”ucap Hira sedikit tergugu.
“Zahira aku sudah menepati janjiku untuk menemui mu dengan wujud asliku bukan hanya sekedar surat biru”
“Jadi kamu sungguh Pangeran itu?”
“Benar,semua surat itu aku yang menulisnya,apa kau mengingatku?”
Zahira terdiam.
“Zahira,aku Muhamad Afnan ibnu Azzam”ucapnya sambil tersenyum.
“Tapi apa maksud surat terakhir mu untukku?”
Gus Afnan tersenyum,”Saat itu aku diam diam menyukai mu dan mengagumi mu,kamu sosok gadis yang menolong orang namun tak peduli dengan dirimu yang dihukum,kamu diam diam membaca kitab dan hafalan di sepertiga malam saat aku juga ada didalam masjid bersama mu”
Zahira terdiam.
“Aku menyukaimu tapu tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan nya kepadamu”
Zahira tetap terdiam karena merasa sangat gugup.
“Zahira Alesha,di hari ini tepat di usiamu yang sudah ke dua puluh satu tahun aku ingin mengkhitbah mu,apakah kamu bersedia menjalani suatu ikatan yang suci yang diridhoi Allah?”
Zahira menundukkan wajahnya dalam dalam karena tak kuasa menahan tangis bahagia.
“Zahira,apa kamu bersedia?”
Zahira hanya mengangguk tanda mengiyakan.
“Alhamdulillah”
•••••••
“Bisa juga mereka di pisahkan dengan cara Allah,bisa juga mereka dipersatukan atas kehendak Allah”
~Zahira dan Ibnu Azzam.