Sedikit kaget, kala dia tengah mengutarakan isi hatinya. Obrolannya berujung pada sebuah pembahasan yang selama ini selalu aku hindari. Usianya kini berada di bawah putri bungsuku, dia adalah putri dari sahabatku, sudah pernah mengarungi biduk rumah tangga, hanya saja gagal. Itu, info yang ku dapatkan dari Ayah-nya, yang juga sahabatku.
Rasanya, baru kemarin, aku menginap di rumah Ayahnya, dan gadis itu dengan telaten memberikan pelayanan terbaiknya untukku, menyediakan pakaian ganti, menyediakan makanan, minuman, membenahi tempat tidur, dan selainnya. Dia gadis yang sangat cekatan, teliti, rapi, juga rajin. Aku sangat menyayanginya layaknya Ayah pada seorang anak.
Waktu itu, kami baru saja pulang dari acara reunian sekolah, sahabatku memintaku untuk menginap di rumahnya, dengan alasan masih rindu katanya, maklum bertahun-tahun tidak bertemu, sementara itu, istri sahabatku tengah menginap di rumah Ibunya yang sedang sakit. Otomatis, di rumahnya hanya tinggal sahabatku, juga putrinya, dan beberapa pembantu rumah tangga.
Sedikit canggung, kala sadar orang yang melayaniku justru adalah putri sahabatku, bukankah di rumahnya sudah tersedia pembantu?? Kenapa putrinya dengan legowo malah mau melayani segala kebutuhanku?. Apalagi, kala mendengar curhatannya, yang katanya dia sedang mencari pendamping baru untuk hidupnya.
"Kalau aku nikahnya sama Om, pasti rumah tanggaku akan terasa menyenangkan" ujarnya tanpa rasa malu.
Sahabatku baru saja tahu, jika selama ini aku hidup menduda, padahal almarhumah meninggalkan aku sudah lebih dari lima tahun yang lalu. Ya ... sahabat lama, dan kini jarang berkomunikasi, terlupakan karena kesibukan kami masing-masing, jika saja tidak ada acara reuni, mungkin saja sampai kapanpun kami tidak akan bisa lagi bertukar informasi.
Tidak ada sedikitpun harapan dalam benakku untuk kembali mengarungi bahtera rumah tangga, kini hatiku berkecamuk bingung, entah alasan apa yang harus kuberikan pada perempuan itu, apalagi mengingat perbedaan usia kami yang sangat jauh, apalagi dia adalah putri dari sahabatku, jadi ... bagaimana mungkin aku bisa memperistrinya, rasanya bagaikan langit dan bumi, saking mustahilnya. Alasan yang dia kemukakan, hanya karena aku terlihat awet muda, meskipun aku seusia dengan Ayahnya, tapi wajahku terlihat jauh lebih muda.
Meskipun demikian, aku tidak pernah bangga dengan keadaanku, apa yang harus aku banggakan?? Saat ini, aku memilih untuk tinggal dengan salah satu anakku, hanya karena tidak ingin hidup sendirian, pergi kemanapun aku tidak memiliki kendaraan pribadi, karena seluruh hartaku sudah ku bagi rata untuk semua anak-anakku, anak-anakku bisa di bilang, semuanya sudah mapan, tapi ... tentu saja harta anakku, tidak bisa di akui menjadi milikku, mereka sudah berumah tangga, dan aku tidak ingin mengganggu kedamaian rumah tangga mereka. Bukan hanya itu, selain hidupku penuh dengan ketidak jelasan secara materi, aku pun bukan laki-laki yang mudah menjatuhkan hati.
Dulu, aku menikah dengan Almarhumah istriku, adalah hasil perjodohan kedua orangtua kami, dia masih kemenakan keluargaku, aku sengaja di jodohkan, karena kedua orangtuaku merasa risih saat melihat umurku sudah lewat kepala tiga, tapi aku masih belum berniat memiliki pasangan, hidup sudah mapan, bahkan kedua adikku sudah lebih dulu menikah, namun aku tak kunjung memiliki pasangan, tapi aku masih santai menjalani hidupku sendirian.
Menikahi Almarhumah setelah kami melakukan pendekatan selama tiga bulan, bertemu secara langsung dua kali, untung saja, dia adalah perempuan yang cenderung agresif, tidak bisa di bayangkan, jika kami sama-sama pendiam, mungkin saja aku tidak akan pernah menikah dengannya.
Akibat perjodohan itu, aku membina rumah tangga selama lebih dari sepuluh tahun, Allah mempercayakan pada kami tiga orang anak. Selama berumah tangga dengannya, aku tidak pernah merasa memiliki masalah apapun dengannya, lama-lama cinta itu ada, di tambah Allah menitipkan rizky berlebih pada kami kala itu, apapun yang dia inginkan selalu terpenuhi. Alhamdulillah.
Tapi ... sayang, seribu kali sayang, setelah hampir seperempat abad menikah, jodohku terputus oleh maut, dia meninggal dunia dalam dekapanku.
Selama hidupnya, Almarhumah seperti sudah memiliki firasat akan pergi mendahului kami, dia sudah membagikan seluruh harta kami secara adil, lengkap dengan sertifikat nama anaknya masing-masing.
Setelah dia meninggal dunia, aku baru menyadari satu hal, seluruh harta sudah di bagikan, lalu aku?? Bagaimana denganku?? Aku tidak memiliki harta apapun sekarang.
Untung saja, putri bungsuku mau menampung hidupku, berhubung dia anak perempuanku satu-satunya. Namun ... meskipun notabenenya aku tinggal dengan bungsuku, tapi kedua anakku yang lainnya juga berebut ingin mengurus hidupku, akhirnya mereka bertiga sepakat, akan mengurus hidupku bersama-sama, di setiap rumah mereka terdapat satu kamar yang di peruntukkan untukku, agar ketika aku menginap secara bergiliran, aku merasa nyaman dengan tidur di kamarku sendiri.
"Mau sampai kapan Abang menduda terus?? Abang gak ada niat untuk menikah lagi??" tanya adikku suatu ketika, dia memintaku untuk kembali membina rumah tangga, setelah lima tahun kepergian Almarhumah. Tidak pernah terfikirkan sedikitpun untuk kembali membina rumah tangga, dengan siapapun, rasa-rasanya bayangan wajah Almarhumah masih terus bergelayut dalam benakku, bahkan kala aku tidur, sering aku masih merasa bahwa aku masih sedang mendekapnya. Rasanya ada dosa yang bertumpuk, rasanya aku sefang berkhianat, kala ada banyak orang yang menawarkan padaku perempuan baru sebagai penggantinya, dengan dalih karena aku awet muda, mereka menawarkan aku untuk di jodohkan dengan perempuan yang jauh lebih muda dariku.
Tidak ada sedikitpun rasa bangga, kala mereka mengatakan aku 'awet ganteng'. Meskipun kenyataannya memang demikian, usia hampir enam puluh tahun, tapi wajah masih di usia empat puluhan.
"Kamu sering olahraga ya??" pertanyaan itu, kerap kali terlontarkan.
"Olahraga kalo sempet aja" jawabku jujur, sering mereka merasa iri, karena di usiaku, bahkan rambutku masih hitam legam seluruhnya.
"Tapi ... mataku yang sudah rusak" aku terkekeh menjawab candaan mereka, iya, dari kecil aku memang sudah menjadi kutu buku.
Kini, predikat awet muda yang di sematkan padaku, rasanya menjadi boomerang untuk diriku sendiri, kala anak sahabatku sendiri, janda muda, cantik jelita, memiliki perasaan lebih padaku.
Si cantik tidak percaya, saat ku katakan aku usiaku sudah hampir kepala enam, dia kekeh bilang jika usiaku pasti masih empat puluhan lebih.
Di tambah dia itu putri dari sahabatku, pernah membayangkan bagaimana hidupmu?? Ketika kamu menjadi menantu dari sahabatmu?? Ck!. Rasanya begitu aneh.
"Aku fikir, kalo aku nikah sama Om yang masih ganteng tapi sudah berumur, pasti aku bakalan di manja" ucapnya memancing rasa penasaranku.
Untung saja, pada dasarnya aku adalah pria yang sulit jatuh cinta, melihat perangainya yabg menawan tidak sama sekali menggoyahkan pendirianku. Aku tidak menjawab keinginannya, diam adalah pilihan terbaikku saat ini.
Malah pagi-pagi buta, sengaja aku pergi dari rumah sahabatku tanpa sepengetahuan siapaun, ponsel sengaja kumatikan, agar tidak ada yang menyusulku nantinya.
Namun ... beberapa hari kemudian, kala ponselku di aktifkan lembali, sahabatku langsung menelponku dan menanyakan kabarku, mengintrogasiku atas kepergianku dari rumahnya yang tanpa pamit. Kuberikan alasan jika saudaraku ada yang masuk rumah sakit, dia percaya.
Semenjak pertemuan dan obrolanku dengan si cantik, tiba-tiba saja bayangan wajah juga setiap gerak-geriknya selalu terbayang di wajahku.
Ragu, tapi akhirnya ku ungkapkan gelisah hatiku pada bungsuku.
"Haha ... Ayah sih, kelihatannya awet muda terus, usia sudah kepala enam, tapi masih terlihat empat puluhan, lagi pula kenapa Ayah tolak??" tanya bungsuku menelisik.
"Ayah menikah dengannya, sama saja seperti Ayah menikah denganmu" jawabku yakin. Dalam hati aku membayangkan jika aku sudah menikah dengannya, lalu sahabatku itu menjadi mertuaku, lucu.
Sekelebat bayangan Almarhumah terlintas dalam benakku, dia tengah tersenyum, seolah meledek hidupku yang tengah gundah, laku sekelebat lagi bayangan si cantik kembali berkelebat silih berganti, apakah mungkin hatiku akan goyah dengan rayuannya??. Apakah mungkin jika dia adalah jodohku?? Tiba-tiba saja dadaku menghangat, dada seorang laki-laki yang sudah lama di tinggal pergi istrinya. Ku akui itu.
Mata ini melirik pada sebuah lukisan indah yang menggantung di dinding ruang tamu rumah si bungsu, ku perhatikan lukisan tersebut, lukisan setangkai bunga mawar yang berada di dalam vas bunga, daunnya ada dua helai, satu helai berguguran jatuh di bawah vas bunga, dan satu helai lagi masih menempel di tangkai bunganya.
Baru kusadari, ternyata lukisan indah ini adalah lukisan kesayangan Almarhumah istriku, yang sengaja di rawat oleh si bungsu.
Seketika, rasa perih menghampiri hati, bagaimana mungkin aku bisa menghianati dia yang sudah setia padaku? Bagaimana mungkin aku bisa tergoda oleh janda cantik, anak sahabatku? Memang tidak ada yang melarang jika aku ingin menikahinya, terlebih dari itu, aku akan terhindar dari rasa sepi, hidupku juga mungkin akan lebih terurus, aku juga pria normal yang masih membutuhkan kebutuhan biologis, daripada aku melakukan dosa, apa tidak sebaiknya aku menikah lagi??.
Merasa perang sabil, tiba-tiba pelupuk mataku menghangat.
Clak ...
Air mataku menetes, kala menatap lukisan setangkai bunga mawar kesayangannya, dia yang pernah menjadi belahan jiwaku.
Pojokan, 3-5-2021