Sebuah senyum yang terukir indah saat kehadirannya membuat hati ini menjadi bahagia. seorang wanita yang telah melahirkan buah hatinya. di selah kesedihannya karena mendapatkan kabar Kalau sang suami meninggal dunia karena kecelakaan.
"Yang sabar Dewi!" seru mertua Dewi
"Yang ikhlas ya, ndok!" seru ayah mertua Dewi.
"Bagaimana Dewi bisa ikhlas, kalau aku harus mendapatkan kabar duka yang sangat berat ini." ucap Dewi sambil memeluk Ibu mertuanya.
"Kau harus sabar untuk semua ini, karena ini adalah cobaan Allah." jawab ibu Husna mertua Dewi.
nampak Dewi hanya bisa menangis, dia menatap bayi kecilnya yang baru dilahirkan, bahagia bercampur kesedihan saat dirinya harus mendapatkan kabar mengenai kematian sang suami.
"Dewi tidak kuat Bu, Dewi mau menyusul Mas Angga saja." ucap Dewi sambil terisak.
"Lalu Bagaimana nasib bayimu ini, Dewi." ucap Ibu Husna sambil memeluk menantunya itu.
suara tangisan terus terdengar dari Dewi.
"Ikhlaskanlah kepergian suamimu itu, karena itu akan membuat jalannya terasa ringan menuju jalan Allah." ucap pak Bowo ayah mertua Dewi.
"Maafkan Dewi jika belum bisa mengikhlaskan kepergian Mas Angga pak, Dewi Masih berat." ucap Dewi.
Suara tangisan di selah kebahagiaan yang dilalui Dewi, akhirnya mertua Dewi mengajak Dewi untuk menghadiri pemakaman putranya. nampak raut kesedihan terpampang jelas di wajah Dewi, karena baru beberapa jam yang lalu dia masih saling memberi kabar kepada sang suami. namun beberapa jam kemudian kabar duka telah terdengar di telinga Dewi.
"Mas!!" seru Dewi yang melihat jasad suaminya telah dimasukkan ke liang lahat, kedua kaki Dewi telah bersimpuh di tanah sambil memeluk tanah makam sang suami.
"Apa salahku Mas, hingga kau meninggalkan aku secepatnya ini!" seru Dewi.
"Yang sabar ndok." ucap pak Bowo.
"Mas Angga sangat jahat pak, dia meninggalkan Dewi sendirian. Bahkan dia tidak sempat melihat putranya!" seru Dewi.
Nampak orang-orang yang ada disana meneteskan air matanya, karena melihat seorang wanita yang meratapi nasibnya. baru 2 tahun mahligai rumah tangga mereka berjalan, namun 2 tahun itu pula Allah harus mengambil kembali sang suami.
"Allah sangat sayang pada suamimu, ndok. hingga dia memintanya kembali ke sampingnya." ucap pak Bowo kepada menantunya.
"Dewi sendirian pak, Apa yang harus dewi lakukan!" seru Dewi sambil menangis.
"Kau tidak sendirian, ibu bersamamu." ucap Bu Husna sambil memeluk menantunya. kedua orang tua Angga memang sangat menyayangi Dewi seperti putrinya sendiri, suara tangisan terus mengalun. nampak Dewi belum bisa mengikhlaskan kepergian sang suami.
Terasa cepat dan Dewi merasa tidak percaya kalau sang suami telah meninggalkan dirinya kehadapan Allah.
2 bulan kemudian.
"Mas, putramu ini sangat lucu.. dia selalu menatap fotomu sambil tersenyum." ucap Dewi yang mendatangi makam sang suami bersama putranya. sudah 2 bulan usia Putra Dewi, bayi kecil itu diberi nama Anggara.. Sama persis dengan nama ayahnya.
"Mas bulan depan aku akan mulai mencari kerja, tolong doakan aku untuk mendapatkan kerja ya. karena aku tidak ingin merepotkan Ibu sama bapak terus, kasihan mereka sudah tua." ucap Dewi di depan makam suaminya.
Setelah membacakan surat-surat suci Alquran, akhirnya Dewi pergi sambil mencium nisan sang suami.
"Kamu yakin ndok mau kerja?" tanya pak bowo kepada menantunya.
"Iya pak pak, kalau Dewi tidak kerja kasihan Anggara, Bagaimana masa depannya." jawab Dewi.
"Bapak kan masih bisa menafkahi kamu sama cucu bapak ini." jawab pak Bowo.
"Iya Dewi, kamu tidak usah kerja ndok!" seru Ibu Husna yang datang dari dapur.
"Tidak Bu, Dewi akan kerja dan mencari masa depan untuk cucu Ibu ini." ucap Dewi sambil mencium pipi gembul Putra kecilnya.
Tuhan telah memberikan jalan yang indah kepada Dewi, nampak wanita muda itu telah mendapatkan pekerjaan di sebuah butik yang lumayan besar.
2 tahun kemudian, nampak Dewi telah bisa membuka butiknya sendiri dengan bantuan kedua mertuanya, wanita itu bisa berdiri dan bangga akan Putra kecilnya.
"Ibu!!" seru Anggara yang berlari dan memeluk ibunya.
"Di mana Nenek?" tanya Dewi.
"Nenek Cama kakek beli makanan untuk ibu." jawab Anggara.
bocah kecil itu adalah penyemangat hidup bagi Dewi, butik Dewi diberi nama Dewi Anggara. sebuah nama yang akan diukir wanita itu hingga maut memisahkan jiwa dari raganya. mertua Dewi sangat mencintai menantunya itu, Namun sayang Dewi masih enggan untuk membina mahligai rumah tangga kembali. karena di dalam hatinya hanya terukir Satu nama yang akan dia bawa pergi sampai maut menjemputnya.
** selesai ***