Kasih Tak Sampai
"Nadya..!!! Ada yang nyariin tuh !" Teriak mbak Carla sambil menghampiri gue yang tengah mengambil data di lantai dua kantor lembaga bimbingan belajar.
"Siapa mbak?" Tanya gue penasaran.
"Nggak tahu, pake seragam tentara Nad. Kamu ada urusan apa sama pak Tentara? Kamu nggak punya musuh, kan?" Tanya mbak Carla mulai kepo dengan ekspresinya yang centil.
"Hah? Musuh? Nggak lah mbak !" Sahut gue kaget mendengar pernyataan mbak Carla.
"Atau mungkin itu orangtua siswa kali mbak, yang mau bayaran atau daftarin anaknya bimbel disini, murid kita banyak yang anak tentara, kan?" Dugaan gue.
"Bukan Nad, dia masih muda kok, ganteng lagi," goda mbak Carla dengan gaya centilnya.
"Emang dia bilang gimana mbak?" Tanya gue semakin penasaran.
"Dia bilang, "Bisa ketemu sama Nadia Rachma Aurelia? Apa dia masih kerja disini, mbak?" Gitu katanya Nad. Berarti dia kenal sama kamu," papar mbak Carla.
Gue mulai berfikir dan mengira-ngira siapa sebenarnya yang tengah menunggu gue di bawah? Tentara pula. Tapi pikiran gue buntu, karena gue ngerasa nggak punya kenalan seorang tentara. Apa mungkin orangtua siswa yang mau mendaftarkan anaknya bimbel? Ah… tapi kok dia nyariin gue dengan detail nama. Siapa sebenernya dia? Daripada semakin penasaran, akhirnya gue segera turun ke lantai dasar untuk menjawab rasa penasaran di dalam hati. Mbak Carla membuntuti langkah gue dari belakang.
"Yaudah mbak, daripada kita penasaran, kita turun aja yuk kebawah," ajak gue pada mbak Carla.
Saat menuruni anak tangga gue semakin penasaran, melihat laki-laki bertubuh kekar sedang duduk membelakangi gue dan menghadap meja kerja gue.
Mendengar derap langkah gue yang semakin mendekat, laki-laki itu pun menoleh ke arah gue dan bangkit dari duduknya hingga kami saling berhadapan. Sementara mbak Carla bergegas turun dan kembali ke meja kerjanya sambil memasang telinga untuk menguping pembicaraan gue. Karena gue yakin dia pun penasaran dengan laki-laki ini.
"Hai… apa kabar?" Ucapnya sambil membuka topi yang sebelumnya menutupi sebagian wajahnya, sementara tangan kanannya di sodorkan untuk bersalaman.
Deg…!!! Jantung gue berdetak hebat melihat sosok yang tengah berdiri di depan gue. Seolah-olah lagu favorite gue jaman SMP dulu muter begitu aja di ingatan gue,
Itu lho lagi melly goeslaw yang judulnya tak tahan lagi.
Yang liriknya kayak gini
Tak tahan lagi
Ingin bertemu
Berjuta kata
Ingin ku ucap
Selama kau pergi
Tak ada lagi
Teman dalam sepi ku
Bulan mendekap, wajah yang murung
Serpihan rindu ingin ku sapu
Sepiku hilang, saat kau hadir
Menepis semua gundah….
Lagu-lagu melly goeslaw selalu mewakili perasaan gue ke dia.
"Loe? Januar, kan?" Ucap gue memastikan sosok yang di hadapan gue ini benar-benar dia.
"Iya, emang siapa lagi? Masa loe nggak inget sama gue? Apa udah lupa sama gue? Mentang-mentang udah punya pacar ya sekarang?" Jawabnya dengan memborong pertanyaan ke gue.
"Ih… apaan sih loe, lebay deh. Gue inget lah sama loe, masa iya gue lupa," sahut gue sambil menepis tangannya.
"Ya gue kira loe lupa sama gue crit," jawabnya dengan masih menggunakan panggilannya ke gue sewaktu SMP dulu.
Loe terlihat sangat tampan dengan seragam ini, mimpi dan cita-cita loe udah terwujud sekarang. Senyuman itu masih sama, loe masih januar yang dulu gue kenal. Januar yang selalu bikin jantung gue bergetar, meskipun loe cuma cinta monyet gue di SMP dulu, tapi tiap ketemu sama loe rasa kagum gue nggak pernah berubah. Gumam gue dalam hati.
"Heh, kok loe malah bengong? Kenapa? Gue ganteng ya?" Ucapnya narsis sambil mengangkat kerah kemejanya.
"Dih… Pede banget sih loe? Narsis banget!' Sahut gue sambil meninju pelan lengan kanannya ya begitu kekar.
"Udah ngaku aja, pasti di dalem hati loe lagi bilang kalo gue ganteng banget, kan?" Godanya dengan rasa penuh percaya diri.
Emang bener apa yang loe bilang, gue masih mengagumi loe, sama seperti dulu. Cowok pendiam yang sekalinya senyum bikin gue klepek-klepek. Di tambah tubuh atletis dan gue selalu julukin loe mirif samuel rizal, pemain film idola gue. Arghhh… loe mau ngapain lagi sih muncul di kehidupan gue? Setelah sekian lama nggak ada kabar, sekarang dateng dengan keadaan yang semakin keren begini.
"Diih… dasar Jali…! loe narsis banget tau," ucap gue pura-pura menyanggah pernyataannya.
"Ehm … By the way gue nggak disuruh duduk nih?" Celetuknya.
"Eh iya, silahkan duduk, gue ambil minum dulu sebentar." Ucap gue sambil mengambilkan minuman dingin di kulkas dekat meja kerja mbak Carla.
"Siapa Nad?" Ucap mbak Carla kepo, dengan suara berbisik.
"Temen aku mbak," jawab gue dengan suara berbisik juga.
Mbak Carla memberikan senyum menggoda, seolah tidak percaya bahwa hubungan kami hanya sebatas teman
"Ini minumannya," ucap gue sambil meletakan soft drink di depan Jali.
"Makasih Crit, nggak usah repot-repot," jawabnya dengan senyuman.
Gue mulai duduk di sofa dan saling berhadapan. Jantung gue masih berdetak kencang, melihat ketampanannya dan rasa di masa lalu yang kembali muncul. gue masih canggung untuk memulai percakapan.
"Crit, tadi gue pikir loe udah nggak kerja disini lho. Gue sempet ragu buat masuk, takutnya loe udah nggak kerja disini." Ucapnya membuka obrolan.
Gue hanya membalas dengan senyuman.
"Betah banget loe kerja disini, dari lulus SMK dulu kan?" Tanya Jali lagi.
"Iya betah, lagian susah nyari kerja yang nyaman kayak disini, deket pula sama rumah, istirahat makan siang aja gue bisa pulang. Hahaha!!!" Sahut gue.
Jali hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya.
"Eh Jali, loe maksudnya apa pake seragam lengkap begini? Loe beneran udah jadi tentara atau tentara gadungan, Hah?" Ledek gue padanya.
"Ah… loe Crit, bisa aja. Ngeledekin gue mulu," jawabnya dengan senyum malu.
"Udah ngaku aja, loe tentara gadungan, kan? Eh Jali, loe jangan kayak gini, kalo nggak di terima jadi tentara, nggak usah obsesi kayak gini juga, pake seragam lengkap lagi, nanti bisa di laporin lho," ledek gue lagi padanya.
"Ih crit, loe mah ngeledek gue terus, gue beneran udah jadi tentara sekarang," jawabnya meyakinkan.
"Terakhir kesini kan loe bilang sama gue kalo loe nggaknlolos tes," ucap gue.
"Iya, terus gue ngulang ikut tes lagi tahun berikutnya, dan alhamdulillah gue lolos crit,"
"Masa?" Sahut gue sambil tersenyum meledek padanya
"Tuh kan, loe mah nggak percaya banget sama gue crit," ucapnya berusaha meyakinkan.
Akhirnya kami pun larut dalam obrolan nostalgia tentang sahabat-sahabat kami sewaktu SMP dulu sampai akhirnya di ujung perbincangan, Jali memberikan pertanyaan yang menbuat gue seakan berharap tentang perasaan yang dulu.
"Crit, loe udah punya pacar belom?" Tanya nya sambil tersenyum.
"Apaan sih loe, nanya hal yang nggak penting kayak gitu," sahut gue yang sebenernya senang mendengar pertanyaan itu terlontar dari mulutnya.
"Yeah, gue serius nanya crit," ucapnya penuh antusias
"Kalo belom, kenapa?" Sahut gue sambil menatap dalam matanya.
Sejenak kami saling terdiam dan menatap satu sama lain.
"Ah… Bohong aja loe crit, masa iya jaman sekarang nggak punya pacar sih! Pasti loe punya, kan?" Tanya nya lagi.
"Tau ah, gue udah jawab jujur, loe malah begitu. Lagian nggak penting banget pertanyaan loe," sahut gue, pura-pura tidak memperdulikan pertanyaannya itu.
"Hem… yaudah Crit, gue balik dulu ya, nggak enak ganggu kerjaan loe, nggak enak juga sama atasan loe nanti loe kena marah lagi," ucapnya menutup perbincangan.
"Yaudah, makasih jali udah mau mampir ke kantor gue," ucap gue dengan senyum ramah.
"Oia Crit, loe beneran nggak punya pacar, kan? Kembali Jali menegaskan pertanyaannya.
"Nggak...nggak..nggak..!! kenapa sih loe nanyain itu terus?" Sahut gue yang mulai geram dengan pertanyannya.
"Yaudah, mumpung gue masih libur tugas, besok atau lusa kita jalan bareng ya? Nanti gue jemput." Ucapnya dengan senyuman manis yang selalu buat jantung gue berdebar lebih kencang.
Gue cuma membalas dengan senyuman dan anggukan kepala.
Sebelum pergi, Jali meminta nomor ponsel gue. Gue bahagia banget, bisa ketemu lagi sama cinta monyet sekaligus first love gue itu. Gue mengantar kepergian jali sampai depan pintu kantor, lambat laun motor yang di kendarainya menghilang dari pandangan, seiring kepergiannya, memori saat gue dan Jali SMP dulu kembali berputar di kepala.
*Flash Back Masa SMP 6 tahun lalu
Penghuni kelas sudah berhamburan keluar, kecuali gue, Jali, Reina dan Adjie yang bertugas piket untuk keesokan harinya. Kami melaksanakan jadwal piket sepulang sekolah, agar besok pagi sudah tidak dikejar waktu untuk membersihkan kelas. Rencana hari ini sudah tersusun Rapi, Adjie dan Reina bertugas mengangkat bangku keatas meja, sedangkan gue dan jali bertugas untuk menyapu lantai. Setelah semua tugas selesai, gue dan Jali kembali masuk ke dalam kelas untuk menyimpan sapu di sudut kelas.
Brug…!!!
Pintu kelas tertutup dan terkunci dari luar. Tentu saja gue tau kalau itu ulah Adjie dan Reina.
Jali berusaha membuka pintu kelas sambil berteriak memanggil Adjie.
"Adjie, gue tau ini ulah loe, kan? Buka Jie…! kita mau pulang nih," teriak Jali sambil menggedor pintu kelas dengan keringat yang mulai bercucuran dari pelipisnya karena kelelahan setelah menyapu seisi kelas.
"Nad, loe kok diem aja sih? Kita ke kunci nih," ucapnya lagi.
"Jali, sebenernya gue mau ngomong sesuatu sama loe," ucap gue memberanikan diri
"Ngomong apa Nad?," Jawabnya polos.
"Jali, sebenernya gue… gue…!" Ucapan gue terpotong dan berfikir sejenak apakah harus gue mengungkapkannya ke Jali.
"Loe kenapa Nad?" Tanya jali antusias.
"Jali sebenernya gue suka sama loe," ucap gue cepat dan langsung membalikan badan gue. Sejujurnya gue malu ngomong ini ke dia, bahkan gue terkesan jadi cewek yang nggak tahu malu, gue baru aja nembak seorang cowok. Oh No…!!!
"Heh loe bercanda ya?" Tanya Jali
"Gue serius Jali, gue suka sama loe," sahut gue sambil membalikan badan dan kembali menatap kearah Jali.
Jali hanya tertawa kecil sambil berjalan mendekat kearah gue.
"Hei Jali, gue ngomong serius, kenapa loe malah ketawa, jadi gimana? Apa jawabannya?" Ucap gue ketus.
"Gue juga suka sama loe," ucapnya sambil menatap dalam kearah gue.
Jantung gue berdetak kencang, berarti gue sama jali sekarang pacaran? Gue lagi nggak mimpi kan? Gumam gue dalam hati.
"Tapi sebagai sahabat," lanjut Jali sambil mengelus kepala gue.
Gue cuma bisa terdiam dan menatap dalam matanya. Gue baru aja nembak seorang cowok dan di tolak. Setelah kejadian itu banyak yang bilang gue cewek yang nggak tahu malu, karena nembak cowok. Tapi banyak yang suport, karena gue berani mengungkapkan perasaan kepada seseorang yang gue suka. Apapun itu gue nggak peduli, yang jelas gue nggak pernah merasa sedih ataupun kecewa, justru sebaliknya, gue malah bahagia. Karena setelah kejadian itu gue dan Jali justru jadi lebih deket, sering ngerjain tugas kelompok bareng dan jadi sahabatan. Meskipun cinta gue bertepuk sebelah tangan.
Back to reality
"Nadya…!!" Ucap mbak Carla sambil menepuk bahu gue menyadarkan gue dari lamunan.
"Eh.. mbak..!" Sahut gue dan kembali duduk di kursi kerja gue dan kembali bertugas sebagai staff frontliner.
"Nad, tadi siapa? Pacar kamu?" Tanya mbak Carla kepo dan duduk di depan meja kerja gue.
"Bukan mbak, dia temen SMP saya dulu," jawab gue dengan senyuman.
"Ah masa sih? Yakin cuma temenan?" Tanya mbak Carla semakin kepo
"Yakin mbak, dia cuma temen aja kok,"
"Hem.. gitu? Ganteng loh Nad" celetuk mbak Carla
"Iyasih mbak," sahut gue
"Yaudah jadiin suami aja," ucap mbak Carla penuh semangat
"Hahaha… suami mbak? Emang semudah itu?" Jawab gue sambil tertawa geli mendengar pernyataan mbak Carla.
"Loh, kok malah ketawa? Aku serius lho Nad. Cocoknya cowok kayak gitu di jadiin suami," ucap mbak Carla
Gue cuma bisa menarik nafas panjang
"Mbak, saya nembak dia buat jadi pacarnya aja nggak di terima, apalagi nembak dia buat dibjadiin istrinya," sahut gue.
"Hah??? Kamu pernah nembak dia?" Ucap mbak Carla kaget
Gue menganggukan kepala sambil tersenyum
"Gimana ceritanya kamu nembak dia Nad?" Tanya mbak Carla kepo.
Gue mulai menceritakan kejadian sewaktu di SMP dulu. Mbak Carla dmmendengarkan cerita gue dengan antusias tingkat tinggi. Sampai melongo mendengarkan tiap detail kata yang gue ucapkan.
"Wah Nad… aku salut lho sama kamu, kamu berani ngungkapin perasaan kamu." Ucap mbak Carla
"Tapi nggak sedikit yang bilang aku cewek nggak tau malu mbak, karena berani nembak cowok," ucap gue lirih
"Ah… nggak jaman Nad, tih kamu kan cuma mengungkapan kekaguman kamu sama cowok iti, kan? Bukan maksa dia buat mencintai kamu, iya kan?"
"Jangan kayak aku Nad, aku kehilangan cinta pertama aku, begitupun sebaliknya, hanya karena kita sama-sama gengsi dan nggak mau ngungkapin perasaan masing-masing." Kali ini mbak Carla mulai lirih, mengingat kisah cintanya.
"Gimana ceritanya mbak?" Kali ini gue yang mulai kepo dengan cerita mbak Carla.
Mbak Carla pun mulai menceritakan kisahnya. Cerita cinta tentang dua orang yang saling memendam perasaan satu sama lain, kedua orang yang tak berani mengingkapkan hanya karena takut akan sebuah penolakan, padahal cinta itu hanya perlu diungkapkan, bukan berarti harus dibalas. Sampai akhirnya keduanya baru berani mengungkapkan setelah berstatus menikah.
"Waduh mbak, bahaya kalo yang kayak gini ya? Ketika udah saling memiliki pasangan baru pada saling mengungkapkan, kalau aja sedari dulu diungkapkan, mungkin cinta mbak dan dia akan bersatu ya?" Ucap gue menanggapi ceritanya.
"Hahaha… mungkin begitu, makanya kalo punya perasaan gausah di pendam, daripada kayak aku. Makanya aku salut sama kamu yang berani ngungkapin perasaan duluan,"
"Hehe… tapi itu kan dulu mbak waktu smp, aku lagi centil-centilnya, masih nggak tahu malu, kalo sekarang mahh ya gengsi lah aku."
HAHAHA…!!!
Tawa gue dan mbak Carla berbarengan. Kami pun akhirnya melanjutkan pekerjaan masing-masing.
Dua hari selanjutnya
Tring…. Suara ponsel gue berdering saat gue sedang bersiap untuk pulang kantor. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang nggak ada di ponsel gue.
Mr.x : "Udah pulang kerja belum?"
Gue : "Siapa nih?"
Mr.x : "Cowok ganteng"
Gue : "Nggak jelas loe"
Gue pun melanjutkan aktivitas merapikan meja kerja dan bergegas untuk pulang, kebetulan hari ini gue nggak bawa motor, jadi naik angkutan umum, baru dilanjut naik ojek di pangkalan depan gang. Baru aja keluar kantor tiba-tiba ada suara yang manggil-manggil gue.
"Nadia Rachma Aurelia" panggilnya
Gue melihat sosok Jali yang tengah duduk di motor matic kesayangannya dengan mengenakan celana jeans, kemeja dan jaket baseball favorite nya sambil menanggalkan helm di spion motornya.
"Hay…!" Ucapnya sambil tersenyum dan melambaikan tangan kearah gue.
Gue pun menghampirinya.
"Jali, loe ngapain disini?" Tanya gue
"Mau jemput tuan putri," celetuknya
"Ish… apaan sih loe, lebay banget," jawab gue sambil memutarkan mata
"Ayo naik, udah sore nih,"
"Emang kita mau kemana Jali?" Tanya gue penasaran.
"Udah ikut aja, nanti juga tau," ajaknya.
Gue pun akhirnya mengikuti perintah Jali, motor mulai melaju. Pikiran gue mulai berselancar dengan dugaan-dugaan gue, gue berpikiran kalo Jali udah berubah dan mungkin mulai suka sama gue, walaupun nggak mau kepedean, tapi rasa berharap gue mulai muncul, berharap perasaan gue yang dulu akan terbalas olehnya.
"Nah udah sampe," ucap Jali sambil menghentikan laju motor dan menanggalkan helmnya di spion.
Gue turun dari motor dan menatap aneh pada Jali.
"Gimana? Bagus kan tempatnya? Romantis kan gue?" Tanya nya dengan kenarsisan tingkat dewa.
"Hahahha…!!! Loe bilang romantis? Romantis apanya diajak maen ke danau kayak gini, hah?" Celetuk gue.
" Ya, romantis lah…! kan biasanya cewek-cewek suka kan diajak ketempat kayak gini, iya kan?"
"Cewek yang mana? Kalo cewek lain mungkin iya, kalo gue sih biasa aja, loe tau kan gue biasa mainnya disawah, disungai sama di kali, jadi kalo kayak gini doang sih biasa aja Jali," sahut gue
" Oia, gue lupa, loe kan cewek unik ya? Beda dari yang lain. Hahaha!" Ledek Jali
Gue hanya menatap sinis pada Jali sambil duduk di sebuah bangku panjang pinggir danau. Sementara Jali membeli 2 botol minuman dingin di warung pinggir danau dan kembali duduk disamping gue.
"Crit, gue mau nanya sama loe," ucapnya serius.
Gue hanya menjawab dengan mengangkat alis sambil meneguk minuman yang di belikannya.
"Loe masih inget kejadian waktu kita SMP dulu ga?" Tanya Jali.
"Kejadiannya yang mana? Kan banyak Jali," sahut gue
"Itu lho, yang kita di kunciin di dalem kelas sama si Adjie," masa loe lupa,"
Gue pura-pura berfikir mengingat kejadian yangvnggak mungkin gue lupain seumur hidup, kejadian dimana gue nembak seorang cowok.
"Yang mana, sih? Tau ah gue lupa tuh," sahut gue pura-pura acuh
"Hem… yakin? Loe nggak mau ngomong kayak dulu lagi ke gue? Kata-kata yang lie ucapin waktu kita kekunci dibdalem kelas?" Goda Jali
Sial… Dia sengaja banget ngingetin gie tentang kenangan itu, maksudnya apasih? Pengen gue nembak dia untuk kedua kalinya?
"Maksud loe apasih? Nanyain itu? Hah? Loe mau ngingetin gue tentang kejadian memalukan itu, hah?"
"Nggak crit… nggak kayak gitu, gue lucu aja kalo inget loe dulu. Cewek imut, pinter dan super aktif nyatain perasaannya ke gue. Gue juga nggak nyangka kejadian itu lho, gue di tembak cewek," ucapnya sambil tersenyum
"Menurut loe itu lucu? Hah?" Ucap gue sedikit ketus.
"Nggak crit, nggak gitu juga. Crit… loe kerjanya yang semangat ya, biar bisa jadi orang sukses dan jadi kebanggan buat orangtua loe," ucap Jali mengalihkan topik pembicaraan.
"Makasih Jali-jali. Loe sih enak udah tercapai cita-cita loe, lah gue masih begini aja." Ucap gue.
"Nggak boleh gitu crit, loe harus tetep semangat, untuk kearah yang lebih baik lagi, apa yang gue dapet sekarang juga butuh kerja keras, usaha dan doa yang nggak ada hentinya, loe tau sendiri kan? Gue 2x gagal tes, dan gue terus berjuang untuk cita-cita gue dengan gigih, dan akhirnya, gue sampai pada cita-cita gue. Loe juga harus begitu ya crit. Emang cita-cita loe apasih?" Tanya Jali antusias
"Loe mau tau cita-cita gue?" Tanya gue balik pada Jali.
Jali mengangguk dan tersenyum.
Cita-cita gue itu bisa milikin loe Jali, dan sekarang itu adalah hal yang nggak mungkin terjadi, semakin bersinar karir loe, semakin jauh gue sama loe, dulu gue nembak loe buat jadi pacar aja di tolak, apalagi sekarang berharap buat jadi pendamping loe, impossible banget.
"Cita-cita gue jadiin loe pacar gue," Jawab gue singkat
Jali melongo mendengar pernyataan gue.
"Kenapa? Aneh? Atau hal yang nggak mungkin? Tanya gue
HAHAHA…!!! Jali tertawa sangat lepas
Dasar loe crit, dari dulu nggak berubah, sukanya bercanda. Kali ini jali mengelus kepala gue, sama seperti 7 tahun lalu saat dia melakukan hal yang sama di dalam kelas.
"Yaudah, kita wujudin cita-cita loe, sehari ini gue bakalan jadi pacar loe, tapi sehari aja ya," ucapnya menggoda
"Hahah!!! Dasar loe, sok jual mahal banget jadi cowok." Sahut gue sambil meninju lengannya.
Sore itu kami bernostalgia tentang masa sekolah dulu, serta saling bertukar cerita pengalaman hidup kami masing-masing. Dan saat itu juga, gue sadar, kalo gue hanya lah mengagumi jali, bukan mencintainya, gue hanya kagum dengan ketampanan serta semangat dan kerja kerasnya. Gie juga sadar, bahwa rasa yang gue punya nggak harus terbalas. Gue yakin suatu saat nanti, gue bisa menemukan laki-laki yang bisa menerima gue apa adanya yang lebih baik bahkan mungkin lebih tampan dari Jali. Hahahaha
Sore itu merupakan hari terakhir gue bertemu dengan Jali, setelahnya kami tidak saling berkomunikasi, mungkin karena kesibukannya dan gue pun sibuk dengan oekerjaan serta kegiatan kuliah. 4 tahun selanjutnya gue bertemu dengan jodoh impian gue, laki-laki yang tidak hanya tampan, tapi juga imam yang baik buat gue, yang mengerti dan menerima segala kekurangan dan kelebihan gue. Sebuah kabar gue dengar dari teman dekat Jali yaitu Adjie bahwa Jali sudah menikah dengan seorang bidan dan memiliki anak laki-laki. Gue hanya bisa tersenyum dan ikut bahagia mendengar kabar itu. Kami sudah menemukan kebahagiaan kami masing-masing. Mungkin aku tidak berjodih dengan mu, siaoa tau di kehidupan selanjutnya kita bisa bersama. Atau mungkin anak cucu kita kelak yang saling berjodoh.
Selamat tinggal kasih tak sampai, cintamu memang tidak bisa ku dapatkan, tapi aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu, hingga allah mengganti cinta yang lebih baik dan lebih pantas untuk bisa ku miliki.
Note:
Hayy .. terimakasih untuk semua kaka readers yang sudah berkenan membaca cerpen ku. Mungkin kaka readers ada yang pernah merasakan hal yang sama tentang kisah kasih yang tak sampai. hehe