Para pelayan bergegas keluar dari sebuah ruangan di sudut gedung di lantai dua.
Beberapa dari mereka memiliki bercak darah di ujung lengan baju mereka.
Melihat hal itu, aku menghela nafas, menyadari situasi yang baru saja terjadi.
Shasa Der Fertilus, nama itu terukir di atas pintu di depanku.
/Tok/
/Tok/
"Aku ingin bicara."
"Enyah lah!!!" gertak nya.
Tak mau mempedulikan perkataan nya, aku memutar kenop dan mendorongnya ke belakang.
Di depan pintu balkon yang masih tertutup tirai putih.
Terlihat seorang gadis yang terduduk pasrah. Dia memiliki rambut coklat bergelombang dan wajah berbentuk hati.
Mata abu-abunya yang sendu menatap tajam ke arahku, seolah-olah aku adalah musuhnya.
Aku menghampirinya, kemudian aku menurunkan tubuh ku, sehingga aku dapat berbicara dengannya secara setara.
"Kali ini apalagi? Kenapa akhir-akhir ini kau suka sekali membuat keributan, Adikku tercinta?" kata ku penuh penekanan.
Bibir kecilnya bergetar. Dia meremas gaunnya dengan erat, tapi masih menatapku dengan penuh kebencian.
/PLAK/
/PLAK/
/PLAK/
"Berani-beraninya kau mengabaikan perkataan ku dan menatap ku seperti itu."
"Ck, memuakkan," gumam ku.
/SRAK/
Aku menarik rambutnya ke atas sekencang mungkin.
"Tatap mataku, dan katakan maaf sekarang."
Dia mendengus dan menggertakkan gigi karena kesal.
"Shasa, jangan membuatku melakukan apa pun yang bisa menghapus suara dan penglihatan mu untuk selamanya."
Dia pun berbalik menghadap wajahku.
"Ma-ugh..."
"Hmm..."
"M-maaf, aku minta maaf."
"Gadis pintar."
Lalu aku tersenyum lebar sambil menunjukkan gigi.
"A-astaga!!! Apa yang terjadi dengan telapak tanganmu?!"
Dengan lembut aku membelai telapak tangannya yang dipenuhi oleh bekas goresan benda tajam.
"Ah!"
Dia meringis kesakitan saat aku menekan luka lebar di tengah telapak tangannya.
"Aku-aku minta maaf, maaf aku tidak bisa menghentikan mereka melakukan ini padamu."
Aku mengatakan itu sambil memeluknya.
"Maaf, aku tidak bisa membuatmu berjalan seperti dulu lagi."
Aku mulai mengelus-elus punggungnya perlahan.
"Hiks, hiks..."
Dia menangis tersedu-sedu menyadari kenyataan yang begitu pahit.
Melihatnya tak berdaya seperti ini, membuat hatiku merasa puas. Sampai-sampai aku tak dapat lagi menyembunyikan senyum indah di wajahku.
"Tidak apa-apa, Shasa sayang, menangis lah. Aku ada di sini bersama mu."
"Hanya ada kita berdua sekarang. Ibu dan Ayah, sayang sekali mereka harus meninggalkan kenangan menyakitkan untuk kita selamanya."
"Coba bayangkan, jika saja mereka tidak saling berteriak di malam itu. Mungkin mereka masih bernapas hingga hari ini."
"Belliev," panggilnya, suaranya terdengar serak.
"Hmm..."
"Kau gadis jahat tanpa hati nurani."
"Aku sedih kau berpikiran seperti itu. Kau tahu Shasa, semua yang aku lakukan demi kebaikan kita."
---END--