Bian memilih diam, dan Reyna hanya menatap lurus kedepan. Rasanya sudah cukup menyenangkan berbicara lagi dengan Bian, dan melihat senyum itu lagi yang benar-benar Reyna rindukan.
"Lu turun mana rey?" Tanya Bian.
Reyna menatap Bian yang kini juga sedang menatapnya, namun tak lama dari itu Bian memalingkan wajahnya.
"Bentar lagi di lampu merah waktu dulu lu bantuin gua." Jawab Reyna.
"Oh yang lu teledor itu?" Tanya Bian dengan senyum miringnya.
Reyna memukul lengan Bian, melihat cowok di sebelahnya yang masih ingat hal itu juga.
"Eh itu anak SMP ngapain bawa celurit?" Tanya Gio sambil menunjuk ke arah sebrang dimana banyak anak berseragam sekolah yang dibalut jaket dan sweater berhamburan di jalanan.
Reyna mengikuti arah tangan Gio.
"Wah tawuran tuh.." ujar petugas BS yang berdiri di depan pintu keluar.
"Ada yang turun sini ga?" Tanya penjaga yang masih muda itu.
"Ada pak." Jawab Bian yang menatap Reyna.
"Agak depan aja ya, takut kenapa-napa nanti."
Reyna menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.
Melihat sekerumunan anak pelajar yang membawa senjata tajam berlarian kesana kemari.
"Gua juga turun, lu tenang aja rey. Ga akan kenapa-napa." Bian mencoba menenangkan gadis manis di sebelahnya.
"Pake jaket rey, biar ga dikira anak sekolah." Lanjut Bian.
Zikry dan yang lain masih fokus menatap beberapa pelajar yang saling mengejar, sampai membuat macet kendaraan.
"Gua ga bawa jaket yan, terus juga ini kan ro..."
"Roknya kan beda ini kotak-kotak ga akan mereka tau ini rok sekolah.." ujar Bian setelah berhasil memotong ucapan Reyna.
"Nih pake jaket gua." Lanjut Bian sambil melepas jaketnya, dan memasangkan jaket itu ke badan Reyna walaupun terlihat kebesaran.
Reyna hanya diam menerima jaket Bian yang sudah terpasang rapih di tubuhnya.
"Nah silahkan yang mau turun, hati-hati."
Reyna berdiri, ternyata bukan dia saja yang turun disana, tapi banyak dari sekolah lain yang turun.
Bian berdiri di belakang Reyna menunggu giliran keluar.
"Gua duluan ya." Ujar Reyna dengan senyum nya.
"Iya ati-ati ya bidadari, maaf abang tampan ga bisa anterin." Ujar Zikry.
"Dasar cemen, bilang aja lu takut kena bacok." Cerocos Riska.
Reyna hanya tersenyum dan menuruni tangga.
"Gua duluan ya." Ujar Bian, yang sudah berlalu setelah mengucapkan terimakasih kepada penjaga pintu BS.
"Lah Bian ngapain?" Tanya Zikry yang mulai panik.
"Nganter Reyna lah, emang lu yang penakut." Ledek Riska.
Zikry menahan kesalnya, tau begitu dia yang mengantar Reyna. Tapi dia juga takut jika tiba-tiba celurit mampir ke tubuhnya.
Zikry bergidik ngeri sendiri.
"Lu ngapa sih kecebong, bergidik gitu?" Ujar Gio.
"Gua lagi ngebayangin, celurit grepe-grepe badan gua."
Satu jitakan mendarat mulus di jidat Zikry.
"Grepe-grepe bahasa lu ambigu." Ujar Gio.
"Lagian ya celurit juga ogah grepe-grepe badan krepeng kaya lu buluk." Oceh Aryo.
Sedangkan Riska sudah tertawa terbahak sampai memegang perutnya.
Bagi Gio itu tidak lucu, tapi entah kenapa cewek berkacamata dihadapannya terkikik geli.
....
Semua pelajar dari sekolah-sekolah lain yang turun dari BS yang sama dengan Reyna berhamburan terbirit-birit menyalamatkan diri dari sekumpulan anak SMP dan SMA yang membawa senjata tajam.
Bian menggenggam tangan mungil Reyna membawa gadis itu menyelip menyusuri jalanan, agar tak terlihat.
"Woyyy... bangsat lo! Maju sini.."
Teriakan-teriakan itu membuat Reyna gemetar, rasanya iya ingin terbang dan tidak terjebak dalam tawuran yang tidak Reyna mengerti tujuannya apa.
"Eh.. itu tuh ada anak sekolah tangkep itu yang sama cewek." Teriak salah satu pelajar yang ditangannya sudah ada celurit yang tajam membentuk bulan sabit.
Bian panik, dengan cepat dia berlari. Menggenggam kuat jemari mungil Reyna agar tidak terlepas.
Jangan sampai dia tertangkap.
"Ayo rey kita harus cari angkot, biar aman." Ujar Bian.
Beruntung ada angkot yang sejurusan dengan arah rumah Reyna.
Reyna naik terlebih dahulu, disusul Bian.
Namun sial tangan Bian ditarik oleh orang itu, Bian memberontak.
Menendang orang itu hingga mundur beberapa langkah. Bian menaiki undukan angkot, namun sial perutnya ditusuk begitu saja.
Setelah cowok bertopi itu di gebuk oleh pelajar lain, akhirnya Bian bisa duduk dengan tenang di angkot.
Namun darah segar mulai menerobos dibalik kemeja putihnya.
Bian menahan rasa sakitnya.
"Kamu gapapa nak?" Tanya ibu-ibu berhijab ke arah Bian.
"Gapapa bu, cuma luka kecil aja." Jawab Bian.
Ya mereka yang di dalam angkot belum melihat di balik kemeja belakang laki-laki berwajah dingin itu.
"Tadi juga itu, anak saya kena keroyok. Padahal udah jelas bajunya beda sama mereka, sampe bonyok ga tega saya liatnya." Ujar salah satu penumpang di dalam angkot itu.
"Terus gimana bu keadaannya, kok bisa begitu?" Tanya salah satu diantara mereka.
"Lagi di motor, nunggu temennya tiba-tiba di serang dari belakang.."
Obrolan ibu-ibu di angkot tidak lagi Bian dengar, rasanya perut belakangnya perih.
Reyna menatap Bian yang duduk di dekat pintu yang menghadap belakang dari supir.
Bian memejamkan matanya mencoba menghilangkan rasa perih itu, sampai dia bisa mengantar gadis manis ini sampai rumahnya.
Beberapa menit di dalam angkot, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.
Reyna turun terlebih dahulu, membayar uang ke sopir angkot.
"Nak itu bajunya banyak darahnya."
Ucapan salah satu penumpang angkot membuat langkah Bian terhenti.
"Gapapa bu, luka kecil." Jelas Bian dan turun dari angkot itu.
Sedangkan Reyna yang mendengar itu langsung mendekati Bian.
Angkot itu melaju meninggalkan tempat itu.
"Perut lu kenapa yan?" Tanya Reyna dengan wajah paniknya.
"Udah gapapa, ke gores doang." Jawab Bian.
"Kita ke rumah sakit ya, gua takut lukanya dalem." Ujar Reyna sambil melihat perut belakang Bian yang sudah dipenuhi darah segar.
"Udah rey, ayo gua anter lu pulang. Habis ini gua pulang, badan gua pegel-pegel hehhe."
Reyna menatap Bian cowok dihadapannya memang sangat aneh, luka sampai darah dimana-mana masih saja dia anggap hal kecil.
"Ayo." Ajak Bian.
Reyna hanya diam mengikuti kemana cowok ini membawanya.
"Udah sampe gang rumah lu, gua pamit ya rey. Hati-hati di jalan." Ujar Bian.
Bian berlalu begitu saja, sedangkan Reyna diam mematung, entah kenapa rasanya sesak melihat Bian terlihat baik-baik saja padahal perut tergores begitu tajam.
"Biann!!" Teriak Reyna.
Bian tergeletak, membuat Reyna berlari menuju cowok itu yang sudah tergeletak begitu saja di jalanan.
Reyna meminta bantuan salah satu warga yang berada di sana untuk membawa Bian ke rumah sakit.
Di sepanjang jalan Reyna hanya menangis, melihat Bian yang memejamkan mata, dengan perutnya yang sudah memenuhi kemeja bawah laki-laki itu yang masih mengeluarkan begitu banyak darah.
Reyna menghubungi siapapun yang bisa di hubungin, untung saja hp Bian tidak di password jadi dia lebih mudah menghubungi keluarga Bian dan sahabat-sahabatnya.